Istri Untuk Tuan Muda Ayano

Istri Untuk Tuan Muda Ayano
BAB 5 Aturan dan Peraturan


__ADS_3

Pelarian Shilla berakhir di dalam kamarnya sendiri, ia menjatuhkan diri di lantai dekat ranjang. Ia masih terngiang ucapan Ayano yang mengatakan kalau dirinya adalah wanita murahan.


"Aku bahkan bisa berada disini karena Kak Ara.. harusnya kak Ara yang ada disini bukan aku!"


Memang harusnya Okiara lah yang berada disini, di Mansion yang mengerikan ini bukan Shilla.


TOK


TOK


"Maaf Nyonya ini saya, Bulan. Apa saya boleh masuk Nyonya?"


diluar kamar, Bulan begitu khawatir dengan kondisi Shilla, Nyonya barunya itu bahkan belum mengetahui seluk beluk Mansion Ayano yang memiliki hawa negatif itu.


Shilla lalu menghapus jejak air matanya, ia tak ingin Bulan melihat dirinya menangis, walaupun sejak di pantry tadi Bulan sudah melihat mata Shilla yang berkaca-kaca. Shilla lalu bangkit dari lantai dan duduk di tepi ranjang.


"Masuk saja Moon."


Bulan lantas masuk dengan perlahan dan kembali menutup pintu kamar itu rapat-rapat.


"Nyonya, apa nyonya baik-baik saja?"


Bahkan tanpa bertanya sekalipun, Bulan sudah tahu kalau Nyonya barunya itu habis menangis setelah melihat betapa kejamnya sifat Ayano.


"Aku baik-baik saja."


Shilla lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah jendela kamar yang langsung disambut oleh indahnya pepohonan Cemara.


"Pemandangannya bagus, tapi tidak dengan Mansion ini."


kedua tangan Shilla bersidekap, ia lantas mengalihkan pandangan matanya ke arah Bulan. Ia ingin bertanya lebih jauh lagi mengenai Ayano pada asisten pribadinya itu, Bulan pastilah tahu semua yang terjadi di Mansion ini termasuk sifat Tuan mudanya itu.


"Moon, bisa kau jelaskan padaku bagaimana sifat suamiku itu? apa memang dia sekejam tadi? apa gosip yang beredar di luar sana benar adanya?"


Bulan sempat bingung harus menjawab apa, mendeskripsikan sifat Ayano adalah hal yang tabu dilakukan di Mansion ini.


"Setidaknya aku sebagai istri harus tahu sikapnya Moon!"


Dengan keraguan, Bulan menceritakan semua hal mengenai Ayano tanpa ada yang terlewat sama sekali.


"Jadi benar? suamiku seorang monster?"


Shilla membayangkan nasib pernikahannya dengan Ayano yang bahkan sudah seperti berada di jalur kerak neraka.


"Sebetulnya menjelaskan sifat Tuan muda adalah hal yang sangat tabu Nyonya, jika ketahuan Tuan muda, saya bisa saja dihukum mati, saya tidak ingin mati muda Nyonya."


kedua alis Shilla langsung bertaut, ia memandang Bulan dengan tatapan aneh.


"Memangnya siapa dia? gampang sekali mengucapkan kata bunuh membunuh! dikira nyawa orang itu setara nyawa semut?"


Bulan sangat tahu bagaimana kondisi Mansion selama ini, banyak hal yang Shilla tidak ketahui termasuk sifat monster Ayano yang bisa saja kumat kapanpun dan dimanapun.


"Aku ingin mandi sebentar Moon, tolong siapkan bajuku."

__ADS_1


Asisten pribadi Shilla itu segera menyiapkan baju dan sedikit membersihkan kamar majikannya itu.


TOK


TOK


sebuah ketukan pintu mengagetkan Bulan yang masih menyiapkan baju untuk Shilla. Bulan lantas membuka pintu kamar Shilla dan mendapati Bibi Delila berdiri di depan pintu.


"Dimana Nyonya muda Bulan?"


"Sedang mandi Bibi Del.."


Jawab Bulan tanpa bertanya sedikitpun maksud kedatangan Bibi Delila, ia tak ingin penasaran.


"Baiklah. Aku akan menunggunya disini, kau lanjutkan saja pekerjaanmu."


Bulan lantas mengangguk dan kembali menyiapkan pakaian Shilla. Tak lama kemudian, Nyonya muda itu sudah selesai mandi dan memakai pakaian yang sudah Bulan berikan.


"Nyonya."


sapa Bibi Delila saat melihat kedatangan Shilla dari kamar mandi.


"Siapa anda?"


kerutan di dahi Shilla seolah menunjukkan bahwa ia sedang bingung dengan sosok yang berhadapan dengannya saat ini.


"Perkenalkan, saya Delila. Anda bisa memanggil saya Bibi Del.. Saya kepala pelayan di Mansion ini Nyonya muda."


Shilla langsung manggut-manggut, ia lantas menanti apa yang akan Bibi Delila katakan, tidak mungkin jika kepala pelayan itu mau repot-repot datang ke kamarnya hanya untuk menyapanya.


Shilla mengernyitkan dahinya, aturan dan aturan, selalu kata itu yang tergambar saat ia melangkahkan kakinya di Mansion Ayano.


"Aturan? apalagi? coba anda jelaskan secara rinci kepada saya." Jawab Shilla dengan ketus dan tak bersahabat.


"Saya akan menjelaskan mengenai Tuan muda. Tuan muda sudah sakit sejak kecil Nyonya, dia akan sering mengamuk jika dia merasa tidak nyaman, dan selama ini tidak ada siapapun yang berani menyentuhnya karena beliau sendiri yang meminta."


"Tunggu.. apa maksudmu dengan mengamuk? apa dia gila?"


ada sedikit hal aneh yang mengganggu pikirannya ketika Bibi Delila mengatakan Ayano akan mengamuk ketika merasa tidak nyaman.


"Tidak Nyonya, Tuan muda tidak gila, hanya saja sedikit tempramental."


Shilla lantas mendelik tajam ke arah Bibi Delila. Sedikit? bahkan Shilla melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Ayano itu sangat tempramental bahkan seperti monster.


"Dan juga anda harus bisa menjaga sikap anda di depan Tuan muda, jangan membantah apapun yang beliau ucapkan, ini demi keselamatan anda sendiri Nyonya. Dan lagi anda harus segera ke kamar Tuan muda karena Tuan muda jatuh pingsan setelah anda tampar tadi Nyonya."


"APA??"


Shilla lantas melangkah menuju ke kamar Ayano dengan sangat cepat, ia harus memastikan kondisi Ayano sekalipun dia ta menyukai pria itu.


"Nyonya!"


Era membungkuk hormat pada Shilla saat Shilla sudah sampai di depan kamar Ayano.

__ADS_1


"Bagaimana kondisinya Era! dia baik-baik saja kan?"


Era lalu menggelengkan kepalanya, ia sendiri melihat bagaimana Ayano kesakitan setelah ditampar oleh Shilla dan membawanya ke kamar untuk makan dan minum obatnya.


"Minggir!"


tanpa menunggu kalimat Era, Shilla merangsek masuk ke dalam kamar meskipun semua orang yang ada disana mulai khawatir dengan keselamatan Nyonya baru mereka.


Shilla bergerak masuk ke dalam kamar yang gelap tanpa dipenuhi cahaya, ia bahkan tidak bisa melihat dimana keberadaan Ayano.


pandangan mata Shilla semakin awas saat suara kesakitan itu muncul.


"Ayano.."


Shilla memberanikan diri mendekat ke arah ranjang dimana tubuh Ayano tergeletak tak berdaya disana.


"Kau kenapa? apa yang sebenarnya terjadi padamu? tidak mungkin hanya karena tamparan ku kan?"


Dalam jarak yang amat dekat, Shilla mengamati wajah Ayano yang masih memakai topeng hitam. walau tampak samar karena kegelapan ruangan, Shilla bisa melihat bahwa Ayano memiliki hidung yang mancung dan bibir yang indah.


Terpesona, satu kata yang bisa mendeskripsikan apa yang Shilla rasakan kali ini. Ia terpaku memandangi tubuh Ayano.


"Astaga. Kenapa aku ini?"


pandangan matanya ia alihkan ke arah kemeja putih Ayano yang seperti terkena noda.


"Ini? darah?"


Shilla yakin dengan apa yang ia lihat. Kemeja Ayano itu penuh dengan noda darah.


'Apa yang sudah terjadi padamu Ayano? Sakit apa yang membuatmu menjadi seperti ini?'


Shilla bernarasi dalam hati, ia yakin jika firasatnya mengatakan bahwa Ayano sedang tidak baik-baik saja.


Ditengah lamunannya, tiba-tiba sebuah tangan bergerak dengan sangat cepat mencekik leher Shilla dengan kuat.


"A-Ayano.. le-pas."


Ayano semakin menggeram saat mengetahui ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa seijinnya.


"I-ini aku Shi-Shilla.. Le-pas."


setelah mendengar nama Shilla, Ayano merenggangkan cekikannya dan malah menarik Shilla ke atas ranjang.


"Berani sekali kau kemari! kau ingin mati?"


Ayano semakin mendekap tubuh Shilla dengan kuat hingga gadis itu merasa ketakutan dan disisi lain Shilla juga merasakan perasaan yang tidak bisa ia gambarkan, baru kali ini ia dipeluk oleh seorang pria yang merupakan suaminya sendiri.


'Jadi begini rasanya di peluk suami. Nyaman..'


Suara petir dan hujan tiba-tiba terdengar hingga membuat suasana yang awalnya hangat menjadi dingin sedingin sifat Ayano.


"Maaf. Aku sudah menamparmu tadi."

__ADS_1


Hening, tak ada sahutan apapun Ayano. Shilla lantas menengok ke arah suaminya itu yang ternyata sudah menutup kembali matanya.


__ADS_2