
Shilla dan Bulan berjalan bersama menuju ke arah belakang Mansion, sejenak pandangannya menatap lurus kedepan dimana terdapat sebuah lahan kosong.
"Apa aku bisa menggunakannya Moon?"
Bulan lantas memperhatikan lahan itu dengan cepat. Itu adalah lahan bekas lapangan tenis yang sudah tidak digunakan karena Delvano memutuskan untuk berkuliah di luar negeri.
Bahkan setelah Delvano kembali ke Indonesia, putra terakhir keluarga Chandradewantara itu memilih tinggal di sebuah rumah minimalis sederhana yang terletak di daerah Bogor.
"Memang Nyonya ingin membuat apa dengan lahan itu?"
"Aku ingin menyulapnya menjadi sesuatu yang berguna Moon. Setidaknya aku tidak sakit mata saat melihat pemandangan menyeramkan didepan sana."
Shilla berniat akan menjadikan lahan itu sebagai kebun bunga mini miliknya, setidaknya jika Ayano tidak perhatian padanya, ia bisa menikmati indahnya bunga-bunga.
"Tapi bagaimana jika Tuan muda tidak mengijinkan Nyonya untuk memakai lahan itu?"
semua hal yang ada di Mansion bahkan aktivitas mereka di atur oleh Tuan muda yang terkenal dengan sikap monster nya. Shilla langsung bergidik ngeri saat membayangkan jika dirinya harus meminta ijin kepada Ayano.
"Tapi aku ingin ada ruang privasi untuk diriku sendiri Moon, Mansion ini bahkan sudah seperti istana kematian kau tahu, suram seperti pemiliknya."
saat berkata demikian Shilla celingukan kesana kemari karena tak ingin ada orang lain yang mendengarnya. Ia lalu memutuskan untuk berjalan ke arah lahan kosong bekas lapangan tenis itu, ia sudah memiliki pandangan mengenai taman bunga yang akan menjadi tempatnya berdiam diri.
"Nyonya muda.."
sebuah suara mengagetkan mereka berdua, Shilla dan Bulan langsung menoleh ke belakang dan mendapati Bibi Delila tersenyum simpul.
"Bibi.. Ada apa?"
"Tuan muda memanggil anda Nyonya."
decakan kesal terdengar dari mulut Shilla, bukan ia tak patuh pada suami, tapi sekarang dirinya sedang mengamati lahan yang akan menjadi rumah kedua untuknya.
"Sekarang?"
"Lebaran gajah Nyonya."
candaan Bulan membuat Shilla terkikik geli, ia tahu jika Ayano sudah memerintah dirinya sudah pasti harus saat itu juga dilakukan.
Shilla lalu berjalan menuju ke kamar Ayano diikuti oleh Bulan dan juga Bibi Delila, saat sudah sampai di depan kamar, Bulan mencekal lengan Shilla.
"Semangat Nyonya!"
Shilla langsung melirik tajam ke arah Bulan, memangnya dia ingin berperang dengan Ayano? bahkan hanya untuk memandang wajah Ayano saja seperti enggan.
"Kau kira aku ingin perang? aku juga tak mau mati muda Moon."
kenop pintu kamar itu dibuka oleh Shilla, sejujurnya ia sangat takut berhadapan dengan suaminya sendiri, tapi ia mencoba untuk tegar dan harus menjadi tahan banting agar bisa mengimbangi sifat Ayano.
Saat masuk, Shilla melihat Ayano sedang membaca buku dengan posisi duduk di kursi yang berdekatan dengan kaca balkon.
__ADS_1
"Ada apa?"
sudut mata Ayano melirik ke arah Shilla, ia lantas menarik nafas panjang.
"Pakai saja lahan itu. Tapi ingat! jangan membuat hal aneh di rumahku."
kedua alis Shilla bertaut, ia bingung dengan ucapan Ayano.
"Dari mana anda tahu jika aku menginginkan lahan itu?"
Ayano dengan santai menunjuk balkon hingga membuat Shilla melangkah ke sana.
"Oh ternyata dia melihatku dari sini."gumam Shilla dengan lirih.
balkon kamar Ayano mengarah langsung ke arah lahan kosong. Ternyata Ayano sudah mengamati Shilla sejak tadi dia melangkah menuju ke arah lahan kosong bersama Bulan.
Shilla lantas berbalik ke arah Ayano yang masih berada di posisi semula yaitu membaca buku.
cup
"Suamiku.. terimakasih ya.."
Shilla senang bukan main hingga langsung mendaratkan kecupannya ke pipi Ayano. Tentu saja Ayano langsung kaget dan langsung menatap Shilla dengan tajam, gadis itu berani sekali menyentuhnya dan melewati batasan.
"Jangan melewati batas!"
ucapan Ayano begitu tajam dan menusuk seolah sedang mengintimidasi shilla, namun gadis itu justru tak peduli dan tetap tersenyum riang, ia lalu pamit pada Ayano seraya melambaikan tangannya.
Ayano menggerutu dan mengumpati sikap istrinya yang bar-bar, ia ingin melanjutkan bacaan bukunya namun ia teringat dengan kecupan hangat Shilla di pipinya. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani dan terang-terangan mengecup pipinya. Ayano lantas meraih pipinya dan sedikit menarik bibirnya.
sementara itu Shilla yang senang dengan keputusan Ayano langsung saja menyuruh para pelayan di Mansion itu untuk membantunya membuat sebuah rumah bunga. Meskipun akan memakan waktu yang cukup lama, tapi Shilla dengan semangat menyelesaikan pekerjaannya.
"Nyonya, apa sebaiknya kita istirahat dulu?"
Bulan tak ingin Nyonya barunya itu keletihan hingga jatuh sakit hanya karena membuat taman bunga. sementara itu di atas balkon Ayano memperhatikan tingkah Shilla dan hanya menggelengkan kepalanya, Bulan yang menangkap adanya Ayano segera berbisik ke telinga Shilla bahwa pria itu sekarang ada di balkon dan sedang memperhatikan dirinya.
"Nyonya.. ada Tuan muda di balkon."
Shilla lantas menoleh dan memang ada Ayano disana, ia lalu bergegas melambaikan tangannya dan berteriak kencang.
"SUAMIKU!!!"
Para pelayan yang melihat tingkah Nyonya mereka hanya saling tepok jidat, nyonya baru yang sungguh sangat bar-bar.
Ayano yang di teriaki Shilla seperti itu langsung berbalik dan berjalan kembali ke dalam.
Saat hendak masuk, tiba-tiba kepala Ayano berdenyut hebat ia ambruk begitu saja hingga membuat Shilla kaget dan langsung berlari dari halaman belakang menuju kamar Ayano.
Brukkkk
__ADS_1
Shilla bahkan menabrak Era yang sedang berjalan menuju ke kamar Ayano.
"Maafkan saya Nyonya."
Shilla tak memperdulikan Era dan langsung berlari menuju ke kamar Ayano.
"Era! cepatlah Ayano ambruk di dalam! sepertinya dia kumat lagi"
mata Era terbelalak, ia langsung berlari juga ke sana, dia bersama Shilla masuk ke dalam.
"Ayano!"
"Tuan muda!"
Mereka kaget melihat Ayano yang pingsan di depan kaca balkon, Era segera mengangkat tubuh Ayano dan membaringkannya ke ranjang.
"Kenapa dia bisa begini Era? Dia sakit apa?"
Namun Era hanya bungkam, ia bingung, jawaban apa yang harus dia berikan.
"Era! Jawab aku! Aku ini istrinya!"
hembusan nafas terdengar dari Era, dia lantas memandang Shilla dengan tatapan kosong.
"Tuan muda, sakit keras Nyonya, dia mengalami kerusakan pada sistem saraf di kepalanya, maka dari itu Tuan muda sering pingsan bahkan kesakitan luar biasa."
tangan Shilla langsung menutup mulutnya sendiri, seketika itu dia berjongkok dan menangis. Shilla tak menyangka jika Ayano memang sakit parah, dan bahkan menurut gosip yang beredar Ayano kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Kenapa dia tidak dibawa ke rumah sakit saja? Dia sudah sakit parah kan? harusnya dia dirawat intensif oleh dokter, bukan disini."
Harusnya memang Ayano mendapat perawatan medis, tapi itu sangat tidak mungkin mengingat keluarga Chandradewantara yang seolah sengaja menutupi keberadaan Ayano dari khalayak umum.
Era juga tak bisa berkata banyak, ia bahkan harus tutup mulut soal urusan itu karena menyangkut nama besar Chandradewantara.
Arrghh
Ayano membuka matanya dan langsung berteriak kencang hingga membuat Shilla spontan berlari ke arah suaminya.
"Sakit!"
tubuh Ayano bahkan bergetar hebat serta matanya mulai memerah, ia menahan kesakitan yang luar biasa.
"Era! bawa suamiku ke rumah sakit sekarang!"
Era bahkan tidak beranjak dari tempatnya walau hanya sejengkal.
"Tidak bisa Nyonya. Kita tidak bisa membawa Tuan muda ke rumah sakit."
Shilla lantas menggeram dan menuju ke arah Era, asisten pribadi Ayano.
__ADS_1
Plakkk
"Kau setuju atau tidak bawa SUAMIKU ke rumah sakit! Jika kau tak mau aku bisa lebih gila lagi! kau mengerti!"