Istri Untuk Tuan Muda Ayano

Istri Untuk Tuan Muda Ayano
BAB 11 Shilla Vs Nyonya Mayu


__ADS_3

"Mengapa Mama tidak menghargai suamiku? Dia juga putra Mama kan?"


Ayano langsung mengalihkan pandangannya ke arah Shilla dan menatap istrinya itu dengan tajam.


"Lancang sekali kamu! Dia ibuku!"


Ayano bahkan membentak Shilla hingga gadis itu menggelengkan kepalanya. Shilla bahkan tidak percaya jika Ayano masih saja membela Nyonya Mayu yang seperti tak menghargai anaknya sendiri.


"Lihatlah kelakuan istrimu! Tak punya sopan santun!"


Ayano tertunduk diam, bahkan ia menerima semua umpatan yang keluar dari mulut Nyonya Mayu walaupun hatinya terasa perih.


"Maaf Bu."


"Dasar! Kalian berdua sama saja! Tak punya etika dan tata krama! Ternyata kalian pasangan yang cocok. Ku kira tak akan ada wanita yang mau menikah denganmu, tapi kini kau bahkan menemukan cerminan dari dirimu sendiri. Bodoh, idiot, tak punya sopan santun bahkan penyakitan."


Nyonya Mayu tersenyum miring, ia menatap kedua manusia yang berada di depannya itu dengan pandangan jijik.


"Mengapa anda bilang seperti itu? Dia putra anda. Kalau anda hina saya, saya pun tak masalah. Tapi ini Ayano, anak anda sendiri, tidak bisakah anda bersikap layaknya ibu yang menyayangi anaknya?"


"Diam Shilla!"


Ayano masih membentak Shilla dengan keras, namun rupanya gadis itu bermental baja dan tak mau kalah. Seorang Ibu melahirkan dengan susah payah, mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anaknya, tapi kini apa yang Shilla lihat membuat otaknya bahkan tak mampu berpikir.


"Kenapa aku harus diam? Disaat suamiku diinjak-injak bahkan oleh ibu kandungnya sendiri. Apa itu hal yang normal?"


Shilla dengan berani menantang Nyonya Mayu, hingga membuat ibu dari Ayano itu berdecak kesal. Nyonya Mayu bahkan langsung memicing dan pergi dengan sorot penuh amarah, ia memasuki mobilnya untuk kembali ke kediaman utama.


Shilla merasa puas setelah mengalahkan ibu mertuanya yang seperti iblis itu. Ia lalu menatap Ayano dengan penuh semangat. Shilla lalu mendekati Ayano dan mengajaknya untuk makan.


Plakkk


Satu tamparan mendarat di pipi Shilla, ia tak menyangka kalau Ayano akan senekat itu untuk menampar pipinya.


"Kenapa kau malah menamparku?"


Shilla memegangi pipinya yang terasa berdenyut, ia lalu menatap Ayano dengan tatapan tajam. Bahkan para pelayan serta Era dan juga Bulan terkaget melihat sikap Ayano pada Shilla.


"Masih bertanya? Tidak seharusnya kau bicara seperti tadi pada ibuku!"


Ayano begitu menghargai ibunya meskipun Nyonya Mayu tidak menghargai dirinya, ia bahkan tidak peduli dengan semua kata pedas yang beliau ucapkan.


"Apa kau tidak merasa kalau ibumu saja tidak pernah menganggap mu?"


Mata Shilla berembun, ia tak menyangka jika Ayano memang sebodoh itu. Bahkan matanya seolah buta saat berhadapan dengan ibunya.

__ADS_1


Tiba-tiba Ayano memegang kepala dengan kedua tangannya. Ia merasakan sakit yang berdenyut, tubuhnya bergetar dan luruh seketika. Shilla yang melihat itu semua segera menangkap tubuh Ayano yang bahkan lebih besar dari tubuhnya sendiri.


"Era! kemari! cepat bawa dia Era!"


Era dan beberapa pelayan lelaki lainnya turut mengangkat tubuh Ayano yang pingsan. Shilla memutuskan untuk mengikuti mereka, ia juga merasa bersalah karena sudah berdebat alot dengan suaminya itu.


Era membawa tubuh Ayano kembali ke kamarnya dan menyuruh semua orang untuk pergi termasuk Shilla.


"Kenapa kau menyuruhku pergi? Aku ingin menemaninya disini! Dia suamiku!"


bentak Shilla dengan lantang, ia tak mau pergi begitu saja, ia begitu khawatir dengan Ayano. Pria itu kini terbaring lemah bahkan keringatnya bercucuran.


"Tapi Nyonya, Tuan muda akan mengamuk jika dia tahu Nyonya ada disini."


Era sangat tahu bagaimana sikap Ayano setelah pingsan begini, Tuan mudanya itu pasti akan mengamuk jika ada orang yang masuk kamarnya sembarangan.


"Aku tidak peduli!"


Bahkan jika Ayano mengamuk dan mulai menggila Shilla merasa tak peduli, ia tidak takut dengan keselamatannya sendiri.


"Bahkan jika aku mati sekalipun, tiada yang peduli lagi! Jadi sebaiknya kau saja yang keluar."


Era tak punya pilihan lain, asisten pribadi Ayano itu langsung membungkuk dan pamit undur diri. Ia merasa Shilla dan juga Ayano sama-sama memiliki persamaan yaitu keras kepala dan tak bisa dibantah.


"Saya akan berjaga di luar Nyonya."


Setelah Era keluar, Shilla melangkah menuju ranjang Ayano, ia mengamati wajah suaminya yang berkeringat. Shilla lalu berinisiatif menyeka keringat itu dengan handuk kecil yang selalu ada di sisi ranjang sebelah kiri.


Shilla lalu duduk di tepi ranjang dan bersandar di kepala ranjang. Ia mengingat betapa buruknya ibu Ayano yang bahkan seolah tidak peduli dengan anaknya sendiri.


"Kenapa kau bernasib seperti ini?"


wajah Shilla lantas berpaling dan memilih untuk memandang langit yang mulai menggelap. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu hingga membuat bintang-bintang mulai bermunculan.


Shilla mulai mengantuk dan mulai terlelap begitu saja, ia bahkan tak peduli jika Ayano bangun dan kaget melihat dirinya ada disana.


......................


Ditempat lain, Nyonya Mayu yang kesal dengan tingkah menantunya itu kini melemparkan tas ke atas ranjang. Ia menghembuskan nafas dalam-dalam dan mencoba untuk tenang.


"Kurang ajar.. berani sekali dia melawanku!"


Nyonya Mayu lantas mengambil ponsel dari dal tasnya, ia begitu ingin mengadukan semua itu pada suaminya yaitu Tuan Dewandaru.


Ia pun mencoba menelfon suaminya itu dan menceritakan semuanya setelah panggilan itu terjawab.

__ADS_1


Nyonya Mayu bahkan sampai membuat agar suaranya terlihat parau seperti habis menangis, padahal aslinya ia begitu geram dan ingin mengamuk.


"Setelah ini akan aku beri pelajaran padamu Shilla!"


lirih Nyonya Mayu dengan kata yang mampu membuat orang merinding. Tercetak jelas di wajahnya kalau dia begitu menyimpan dendam pada menantu barunya itu.


Kembali ke Mansion Ayano, pria itu kini tengah mengerjapkan matanya, kepalanya begitu terasa berdenyut.


"Shilla.."


Dengan suara lirih bahkan hampir tak terdengar, Ayano melirik ke arah samping ranjangnya.


Ia mengamati wajah istrinya yang kini tertidur walau masih dalam posisi bersandar di kepala ranjang.


"Sudah bangun? Bagaimana kondisimu? apa masih sakit? atau mau ke rumah sakit saja?"


gerakan Ayano membuat Shilla tersadar dan langsung berdiri dengan cepat. Ia tak ingin membuat suaminya itu mengamuk atau bahkan mencelakai dirinya jika masih berada di atas ranjangnya.


"Kau cerewet sekali."


Ayano lantas bangkit dan bersusah payah menuju ke kamar mandi.


"Mau aku temani?"


Shilla menggapai lengan Ayano namun dengan gerakan refleks, Ayano menangkis tangan Shilla hingga gadis itu terjatuh.


Brukkk


"Ma-maaf. Harusnya kau tidak usah menyentuhku. Aku bisa membuatmu celaka."


ucap Ayano sembari tertunduk.


"Tidak masalah, itu hanya gerakan refleks mu saja. Aku bisa mengerti, tapi tolong jangan halangi aku untuk merawat mu."


Dengan terpaksa, Ayano mengangguki ucapan Shilla. Pria itu lantas masuk ke dalam kamar mandi dan menyuruh Shilla untuk menunggunya saja di luar.


"Aku akan menunggumu disini."


ucap Shilla, ia lalu menyiapkan baju untuk suaminya dan duduk sembari membaca buku-buku Ayano yang berada tak jauh dari balkon kamar.


"Ternyata suamiku kutu buku." lirih Shilla sembari tersenyum simpul, ia terus membaca buku hingga Ayano selesai mandi.


"Ini buku apa?"


Shilla bergumam sendiri saat mendapati sebuah buku yang bersampul biru laut dan tertuliskan My Note. Shilla ragu ingin membukanya atau tidak, ia celingukan ke arah kamar mandi untuk memastikan apakah Ayano sudah selesai mandi atau belum.

__ADS_1


Shilla lalu memutuskan untuk membaca saja buku itu dan ia pun terkejut melihat sebuah potret yang ada di antara selipan buku.


__ADS_2