
"Seriusan elo mau nikah?"
Natasya memelototkan matanya saat Shilla mengatakan bahwa dirinya akan menikah sebentar lagi. Ia begitu tak percaya dengan kabar Shilla akan menikah, setahunya Shilla adalah wanita yang mandiri, suka dengan kebebasan dan sekarang? Menikah?
"Lo nggak hamidun kan?"
Shilla langsung saja menggeleng, mana mungkin dia hamil duluan, temannya saja hanya dengan buku dan kopi.
"Lah terus kenapa Lo tiba-tiba nggak ada angin nggak ada badai tiba-tiba udah mau nikah?"
Natasya semakin dibuat penasaran, ia lalu menyeruput coffe ice nya dengan sangat cepat seolah tak ingin melewatkan sepatah katapun dari mulut Shilla.
"Gue dijodohin, sama putra keluarga Chandradewantara."
Natasya ingin sekali menyemburkan es kopi yang ada di dalam mulutnya, ia begitu kaget hingga ia tersedak minumannya sendiri.
Uhuukk
"Elo beneran? sama siapa? Delvano? atau sama si misterius?"
Dahi Shilla sedikit mengkerut saat mendengar sebutan Natasya barusan.
"Apa tadi Lo bilang? si misterius?"
ucapan Shilla langsung mendapat anggukan kepala dari Natasya. Natasya lalu mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Shilla, seolah tak ingin ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.
"Iya, si misterius, putra kedua keluarga Chandradewantara. Namanya Ayano Chandradewantara, usianya 26 tahun, tapi ada gosip yang bilang kalo dia itu sebenernya... jelek."
Shilla lalu bergegas menyentil kepala Natasya agar sedikit lebih jauh darinya.
"Gosip dari mana itu?"
"Ah elah, elo nggak tau aja, menurut informasi, Ayano itu orang yang tertutup, bahkan nyampe biodatanya di internet kaga ada woy."
gadis itu merasa memang ada yang aneh dari keluarga Chandradewantara, bagaimana tidak, sejak awal perjodohan ia bahkan belum dipertemukan dengan sosok Ayano.
"Terus gue harus apa dong.."
"Yaudah elo terima nasib aja haha."
"Sialan Lo Nat!"
......................
Hari demi hari, waktu berlalu begitu cepat hingga kini tibalah waktu upacara pernikahan yang akan diadakan secara tertutup di sebuah gereja kecil.
"Kamu gugup ya Nak?"
Nyonya Rossa lalu memegang tangan putri keduanya dan berusaha menyalurkan energi agar putrinya tetap kuat menghadapi kenyataan.
"Kenapa harus secepat ini sih."
gumam Shilla lirih, ia tak menyangka beberapa menit lagi ia akan menjadi seorang istri.
__ADS_1
Shilla lalu berjalan beriringan dengan Tuan Adrian menuju altar pernikahan, disana Shilla melihat dengan jelas sosok pria bertopeng hitam yang sedang menunggunya. Ia melihat sosok Ayano yang selama ini misterius, Shilla lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah Ayano.
Sampai di samping Ayano, Tuan Adrian melepaskan genggaman tangan Shilla dan diberikan kepada Ayano.
"Jaga dia Nak Ayano.. Dia putri saya yang paling saya sayangi."
Ayano hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dipikiran Shilla, Ayano merupakan sosok yang dingin dan tegas, mungkin juga kejam.
'Tuhan.. semoga dia pria yang baik.'
Shilla lalu menghadap ke arah Ayano dan Ayano juga sama, menghadap ke arah Shilla. Tatapan Ayano dan Shilla sangat berbeda, jika Shilla menatap Ayano dengan senyuman maka Ayano berbeda, ia menatap Shilla dengan dingin tanpa ekspresi.
Setelah mengucapkan sumpah janji setia dihadapan Tuhan, Shilla dan Ayano berjalan bersama meninggalkan Altar. Shilla langsung dibawa menuju ke kediaman Ayano yang berada di tempat terpisah dengan kediaman utama.
"Ini dimana?"
Shilla menatap kearah jendela luar, disana ia memasuki gerbang menuju ke satu jalan yang di kanan dan kirinya adalah pepohonan Cemara.
Shilla menatap Ayano yang berada disebelahnya, namun pria itu bahkan tidak menoleh ataupun menggubris perkataan Shilla. Ayano hanya terdiam membisu seraya pandangan matanya mengarah kedepan.
"Ayano, Aku berbicara denganmu ya.. Kenapa kau diam saja? kau ini manusia kan? bukan manekin?"
bahkan sindiran Shilla masih tak mempan, Ayano bahkan hanya melirik sedikit ke arah Shilla lalu pandangannya kembali lagi ke depan.
"Ayano!"
"Diam! Kau cerewet sekali!"
"Maaf, aku hanya bertanya."
Nihil, tak ada pergerakan apapun dari Ayano, hingga membuat Shilla pasrah dan memilih untuk melihat pemandangan sendirian.
'Dia ini sebetulnya manusia apa alien sih? sangat susah ditebak! Dia.. seperti kulkas 10 pintu dingin sekali.'
Racauan Shilla dalam hati hanya bisa ia pendam sendirian hingga mobil Rolls-Royce phantom itu berhenti tepat di depan sebuah kastil besar.
Disana ada beberapa orang pelayan menyambut kedatangan Ayano dan juga Shilla.
"Selamat datang kembali Tuan Muda Ayano dan Nyonya Shilla."
ucap salah seorang pria yang sama tingginya dengan Ayano, Shilla bisa mengira jika dia adalah asisten pribadi Ayano.
"Perkenalkan, nama saya Eraferro Nyonya, saya asisten pribadi Tuan muda Ayano."
Shilla lalu manggut-manggut, hingga Ayano melangkah dan berbalik.
"Kau akan tidur terpisah denganku!"
Shilla lantas mengernyitkan dahinya, ia bingung dengan tingkah Ayano kali ini.
"Kenapa? bukankah aku ini istrimu?"
Hening, tidak ada jawaban apapun yang terlontar dari mulut Ayano, pria itu bahkan langsung pergi dari hadapan Shilla, Shilla lantas menatap Eraferro dengan penasaran seolah mencari jawaban.
__ADS_1
Eraferro yang ditatap begitu lantas menganggukkan kepalanya. Asisten pribadi Ayano itu lantas mengantar Shilla menuju ke kamar yang berada tak jauh dari kamar Ayano tepatnya antara ujung dan ujung.
"Kenapa kamarku jauh sekali dengan Ayano?"
Eraferro hanya tersenyum tanpa memberitahukan detilnya pada Shilla.
"Maaf, saya hanya mengikuti perintah Tuan muda Nyonya.. Sebentar lagi asisten pribadi anda akan datang ke kamar anda."
Eraferro lantas pamit undur diri setelah mendapat persetujuan dari Shilla.
Shilla lantas masuk ke dalam kamar yang ia nilai sebagai kamar yang sangat mewah. Ia begitu mengagumi interior kamarnya yang seperti kamar seorang princess.
Tok Tok
"Masuk."
Seorang perempuan muda yang Shilla taksir usianya sama dengannya masuk dan memberi salam sopan padanya.
"Maaf Nyonya, perkenalkan, nama saya Bulan saya asisten pribadi anda yang akan melayani segala keperluan yang anda butuhkan."
Shilla lantas menatap asistennya dengan mata yang menyipit seolah sedang menilai seseorang, ia menatap Bulan dari atas hingga ke bawah.
"Bulan?"
"Iya Nyonya."
"Kenapa kau tidak ke langit saja menemani bintang? kenapa kau malah disini menemaniku?"
gurauan Shilla lantas dihadiahi tatapan kaget perempuan bernama Bulan itu. Bulan kaget karena Shilla yang ia kira akan cuek dan dingin sama seperti Tuan mudanya kini malah terlihat berbeda.
"Santai saja Bulan.. saya tidak akan memakan kamu. Saya ini sukanya daging sapi, kadang kambing juga suka, kalau manusia saya tidak suka."
Bulan sontak terbelalak hingga matanya ingin copot, baru kali ini ia menjadi asisten seorang nyonya yang begitu menyenangkan.
"Nyonya ternyata pandai sekali stand up komedi rupanya."
Bukan lantas nyengir kuda dan tersenyum dengan riang.
"Tenanglah, aku tidak seperti Tuan mu itu yang seperti kulkas 10 pintu. Aku ini seorang perempuan yang ceria, dan tak suka kedinginan, kau tau kan maksudku?"
Bulan lantas mengangguk, ia bisa membandingkan sifat Tuan mudanya dan Nyonya sangatlah bertolak belakang. Jika Ayano sangat dingin, cuek dan tidak peduli dengan orang lain maka Shilla berbeda, dia bahkan ceria, selalu penasaran, dan bahkan bisa mencairkan suasana.
"Hey Moon.. kemari."
Shilla memanggil Bulan dengan sebutan Moon. Bulan pun lantas mendekat ke arah Shilla hingga tiada jarak di antara mereka.
"Apa aku boleh berkeliling kastil ini Moon?"
Bulan lantas tertawa dan mengangguk.
"Tentu boleh Nyonya, Nyonya kan istri Tuan muda."
Bulan lantas menemani Shilla jalan-jalan berkeliling kastil yang sangat besar dan dipenuhi dengan pilar-pilar menjulang.
__ADS_1