Istri Untuk Tuan Muda Ayano

Istri Untuk Tuan Muda Ayano
BAB 6 Sarapan bersama


__ADS_3

Shilla memutuskan untuk tidur di samping suaminya, rasa kantuk yang luar biasa tak bisa ia tahan hingga membuat gadis itu terlelap. Bibi Delila, Era dan juga Bulan yang masih menunggu Shilla diluar semakin khawatir karena Shilla tidak kunjung keluar juga padahal sudah lewat tengah malam.


Mereka khawatir dengan nasib Nyonya mudanya, mereka takut Ayano akan marah dan membunuh istrinya sendiri.


"Bibi, apa tidak sebaiknya kita ketuk saja pintunya? saya khawatir dengan keadaan Nyonya."


Bulan risau karena Shilla tak kunjung keluar.


"Sebaiknya kita kembali saja, jika memang terjadi apa-apa dengan Nyonya sudah pasti dia akan berteriak minta tolong bukan?"


Bibi Delila mengajak semuanya untuk segera kembali ke tempat masing-masing serta beristirahat karena hari bahkan sudah berganti dan sebentar lagi pagi


Di pagi hari, Shilla membuka matanya, ia sedikit mengerutkan keningnya saat melihat kondisi kamar yang tak seperti kamarnya.


Ia lalu berbalik dan mendapati Ayano berada tepat di depan wajahnya. Ia kaget, namun itu hanya sebentar, Shilla lalu menormalkan kembali ekspresinya dan menatap Ayano dengan intens.


"Berhenti melihatku atau ku tutup paksa matamu itu!"


kedua kelopak mata Ayano terbuka lebar dan berhasil menangkap ekspresi keterkejutan Shilla.


Shilla yang merasa kaget dan juga gugup langsung bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah pintu, ia harus cepat-cepat pergi dari sana sebelum Ayano mengamuk atau melakukan hal yang tidak-tidak.


"Aneh!"


Ucap Ayano saat Shilla sudah keluar dari kamarnya.


......................


Shilla kembali ke kamarnya dengan jantung yang berdebar-debar, ia barusan gugup saat bersitatap dengan Ayano dengan jarak yang begitu dekat.


"Nyonya."


"ASTAGA JIN!"


suara Bulan mengagetkan Shilla yang baru saja menutup pintu kamar itu. Bulan lantas nyengir kuda dan meminta maaf kepada Shilla.


"Saya bukan Jin Nyonya, saya Bulan hehe, lagipula mana ada Jin yang cantik seperti ini."


Shilla lantas menepok jidatnya sendiri melihat kelakuan asisten barunya itu.


"Bagaimana tadi malam Nyonya?"


kerutan di dahi Shilla langsung menyambung, ia bingung dengan ucapan Bulan.


"Bagaimana apanya? aku bahkan seperti orang yang akan mati!"


Shilla lantas berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Bulan yang melihat tingkah Nyonya barunya itu hanya menggelengkan kepalanya, ia juga berdoa semoga dirinya tidak ikut stress menghadapi kelakuan Shilla.

__ADS_1


Pagi hari yang cerah ini, Shilla bersama dengan Ayano sarapan pagi, Shilla terlebih dahulu turun setelah Bibi Delila menjemputnya untuk menyambut Ayano di meja makan.


"Selamat pagi, suamiku."


Shilla menyapa Ayano yang berjalan mendekat ke arah meja makan, namun sayangnya, Ayano justru tak menghiraukan keberadaan Shilla dan langsung duduk begitu saja seolah Shilla adalah seonggok patung selamat datang.


Shilla yang diabaikan itu lantas melirik ke arah Ayano yang dengan santainya meneguk segelas susu hangat.


"Selamat Pagi.. Suamiku!"


Sengaja Shilla berbicara di dekat Ayano agar pria itu merasa tersindir. Namun rupanya prediksi Shilla salah besar, Ayano hanya melirik sedikit ke arah Shilla, dan kembali menatap makannya. Ia lebih memilih makan dari pada meladeni Shilla yang sudah seperti patung selamat datang karena diabaikan oleh Ayano.


Bibi Delila lantas menyuruh Shilla untuk duduk saja dan makan dengan tenang, kepala pelayan itu tak mau terjadi keributan di pagi hari yang menyebabkan mood Tuan mudanya itu jelek.


PRANGGGG


Ayano tiba-tiba melempar piring makannya ke sembarang arah hingga pecah dan berserakan dimana-mana. Semua pelayan bahkan terlalu takut untuk mengambil serpihan-serpihan piring terbang Ayano.


Shilla memutuskan untuk mengamati saja, apa yang akan Ayano lakukan selanjutnya, bahkan untuk menegur suaminya saja ia enggan.


"Apa ada masalah Tuan muda?" ucap Bibi Delila.


Ayano menatap pelayannya satu persatu dengan tajam.


"Kenapa makanan ini tidak enak! Pecat semua pelayan yang ada disini!"


"Maaf Tuan muda.."


PYARRRRR


Ayano tiba-tiba saja melempar gelas berisi air kosong itu ke arah para pelayannya.


"Suamiku! Kau ini kenapa sih? hanya masalah sepele apa harus semarah itu?"


Bahkan wajah para pelayan itu ketakutan karena ucapan Nyonya baru mereka termasuk Bulan.


Bulan bahkan berancang-ancang untuk sujud di kaki Ayano jika Tuan mudanya itu mencekik atau bahkan melukai Shilla.


Ayano lantas memicingkan matanya ke arah Shilla, dengan cepat ia meraih dagu Shilla dan ia naikkan ke atas.


"Apa kau sudah lupa? Jangan campuri urusanku!"


tangan Ayano mencekik leher Shilla dengan kuat hingga membuat gadis itu kesakitan dan tidak bisa bernafas.


"Tuan muda tolong hentikan.. Anda tidak boleh melukai istri anda."


Bulan bersimpuh di kaki Ayano berharap agar pria itu mau melepaskan cengkraman tangannya dari leher Shilla.

__ADS_1


Ayano lalu melepaskan cengkraman itu dan pergi begitu saja meninggalkan Shilla yang masih terpaku di tempatnya.


Shilla bahkan terbatuk-batuk karena cekikan yang amat kuat. Bibi Delila berinisiatif untuk mengambilkan segelas air untuk Shilla minum. Ia juga kembali mewanti-wanti Shilla agar tak membuat Ayano marah, setidaknya agar dirinya tetap aman.


...----------------...


"Apa perjalanannya masih lama?"


Kei Kiyota yang baru saja mendarat di Indonesia langsung jengah dengan jalanan yang mengalami kemacetan. Di Jepang sana, ia bahkan jarang menemui kemacetan bahkan di Tokyo sekalipun.


"Tidak lama lagi Tuan muda."


Kei lalu memutuskan untuk bersandar dan menutup matanya, ia juga sudah menghubungi sahabat-sahabatnya yang tak lain adalah Ayano, Delvano dan juga Taka.


Delvano dan Taka langsung antusias saat Kei mengatakan bahwa dirinya sudah sampai di Jakarta sementara Ayano tak menanggapi apapun karena memang dari sejak dulu, Ayano memang orang yang tertutup dan jarang bicara.


"Berhenti di SPBU pak Sam. Saya mau kencing."


ujar Kei kepada Pak Sam, sopir keluarga ibunya.


"Tapi toilet disana kebanyakan kotor Tuan muda."


"Tak masalah."


Saat mobil memasuki pelataran SPBU, Kei yang menahan kencing sedari tadi turun dan langsung masuk ke dalam toilet. Saat ia masuk dan kencing, pandangan matanya langsung tertuju pada seekor serangga terbang yang banyak ditakuti oleh banyak orang.


"Gokiburi !"


Kei menjerit saat melihat kecoak yang akan terbang ke arahnya hingga membuat seorang yang sedari tadi menunggu di depan pintu toilet karena antre pun kaget.


"Hei yang didalam. Kau sedang apa! cepat keluar! gantian!"


Seorang gadis berambut panjang berwarna hitam legam nampak kesal karena toilet yang sedari tadi ia antre belum juga menunjukkan tanda-tanda terbuka.


"Maaf.. I-ini ada kecoak."


gadis itu mengernyitkan dahinya, terdengar jelas bahwa yang di dalam sana merupakan suara seorang pria, tapi kenapa perkara kecoak saja sampai harus menjerit-jerit.


Pintu toilet pun terbuka menampilkan Kei yang basah kuyup karena berperang dengan kecoak.


"Ma-maaff Nona. sebaiknya nona gunakan toilet lain saja, toilet ini ada kecoak nya."


sang gadis itu justru menggelengkan kepalanya, ia lantas masuk kedalam dan mencari dimana hewan kecil itu berada.


Plakkk


gadis itu langsung melumpuhkan kecoak itu hanya dalam satu tamparan sepatunya.

__ADS_1


Ia lantas menutup pintu toilet dan membiarkan Kei yang terbengong dengan aksi pembunuhan kecoak tadi.


__ADS_2