
Namaku adalah Rosalinda. Mirip dengan nama tokoh wanita telenovela jadul tahun 90-an itu ya. Orang-orang memanggilku bu Ros. Suamiku bernama pak Iwan. Aku seorang ibu rumah tangga dan suamiku seorang pensiunan pegawai negeri. Walau hanya ibu rumah tangga, sebenarnya aku juga mempunyai usaha karet di desa asalku. Anak-anakku tidak ada yang tahu. Karena usaha karet tersebut untuk tabungan di masa tuaku bersama
suamiku. Yang terpenting aku sudah merawat dan membiayai ketiga anakku hingga mereka sarjana dan mempunyai pekerjaan. Anak-anak perempuanku memiliki usaha sendiri dan sudah lumayan besar
karena mereka tidak mau melamar pekerjaan, jadinya mereka kuberikan sejumlah uang modal untuk membuka usaha. Dan akhirnya mereka pun bersuamikan laki-laki yang sukses. Tapi aku heran dengan anak laki-lakiku
satu-satunya, dia adalah Ardan, apa karena dia anak bungsu. Salahku dan suamiku juga sih terlalu memanjakannya, apa yang dia minta selalu kami turuti.
Sejak zaman sekolah dia selalu malas belajar dan
mengerjakan tugas. Kerjaannya hanya main playstation.
Hingga berlanjut ketika dia kuliah. Kuliah pun asalnya dia tidak mau. Tapi karena papahnya terus memaksa. Masa dua kakak-kakaknya kuliah dia tidak, lagipula dia anak laki-laki. Bagiku anak laki-laki maupun perempuan sama saja. Tetapi tanggung jawab ketika mereka sudah berkeluarga pasti dibebankan oleh anak laki-laki. Aku tidak mau kalau Ardan tidak bertanggung jawab kepada keluarganya. Setelah dibujuk papahnya akhirnya dia mau kuliah. Itupun kuliah dia masih mempertahankan sifatnya yang malas-malasan. Aku bingung mau jadi apa dia nanti. Kuliah pun kalau tidak hampir DO, dia tidak mau menyelesaikan
skripsi. Entahlah apa tujuan dia berkuliah, kerjaannya hanya main game dan nongkrong. Setelah lulus kuliah aku pikir dia langsung mencari dan melamar pekerjaannya. Ternyata tidak. Dia hanya malas-malasan. Dan kalau dia
jenuh dia keluar main dengan temannya. Kami pun malu pada tetangga dan keluarga besar kami, masa sudah kuliah mahal-mahal tapi tidak juga nekerja. Ketika ada penerimaan CPNS dia pun gagal.
Karena sudah kadung jengkelnya, kami sepakat memodali dia untuk membuka usaha franchise ayam goreng tepung. Lagi-lagi aku harus mengurut dada dengan kelakuannya yang aneh-aneh itu. Ketika aku menanyakan berapa untung yang dia dapatkan. Dia malah berkata tiap hari bosan menunggu pembeli. Eh ayam goreng tepungnya yang seharusnya dijual sepuluh buah per hari itu malah dimakan semua dan disuguhkan ke teman-temannya ketika mampir ke rumah! Ardan kalau kayak gini terus mamah papahmu bisa bangkrut! Kamu kira membeli franchise itu harganya murah. Harganya loh belasan
juta.
__ADS_1
Hingga suatu ketika, kudengar Ardan berdebat dengan papahnya.
“Pah, gimana nih usaha Ardan malah gulung tikar. Ardan minta uang lagi dong untuk modal.” Kata Ardan merengek ke papah.
“Kan kamu sendiri yang bikin bangkrut! Papah dan mamahmu ini sudah memberikan kamu modal uang yang tak sedikit. Kurang apa lagi sih kamu? Uang papah habis berjuta-juta tapi apa hasil yang kamu dapat! Papah dan mamah nggak pernah sedikitpun minta keuntungan dari kamu. Tapi kamu sungguh membuat kami kecewa!” Sahut papah dengan sengit.
“Iya deh pah, Ardan minta maaf. Ardan janji nggak akan mengulangi kesalahan Ardan lagi, tapi Ardan butuh uang untuk modal pah. Ardan malu dikatain temen-temen Ardan pengangguran. Atau kalau papah mau, papah tolongin Ardan dong carikan kerjaan. Di kantor juga nggak
masalah. Daripada Ardan bengong nggak punya pekerjaan kek gini.” Jawab Ardan dengan muka memelas. Entah itu dia sedang bersandiwara atau jujur. Ekspresi Ardan memang sulit ditebak. Tapi sadar juga akhirnya dia, kalau nggak punya pekerjaan itu malah bikin dia malu. Huh, apakah anak itu beneran insyaf. Atau Cuma tobat sambel, biar papahnya kasihan dan mau mencarikan pekerjaan untuknya.
Papah terdiam sejenak, mungkin sedang berpikir. Kalau untuk memberi modal untuk Ardan kurasa tidak. Karena uang tabungan kami sudah terkuras cukup besar.
dengar?” Kata papah dengan bijak menasihati Ardan.
“I-iya pah, Ardan janji.” Janji Ardan pada papah.
Singkat cerita akhirnya Ardan diterima sebagai pegawai honorer di Dinas Pendidikan. Alhamdulillah kinerja dia selama bekerja di sana lumayan baik. Dia termasuk pegawai yang datang waktu. Meski aku kerap kali mengomel tiap pagi untuk membangunkan Ardan. Karena anak itu memang susah di suruh bangun pagi. Sudah kusuruh dia memasang alarm tapi alarmnya malah dimatikan. Rupanya alarm omelanku lebih mempan daripada jam wekernya itu!
Hingga dua tahun dia bekerja di sana, kulihat Ardan mulai berpacaran dengan seorang gadis. Selama ini aku tidak pernah melihat Ardan berpacaran dengan siapapun. Ya sisi baiknya Ardan dia bukan lelaki yang senang mempermainkan perasaan anak gadis orang. Tetapi sifat malasnya itu yang susah diubah. Akhirnya dia memperkenalkan calon istrinya dengan kami yang bernama Keyla, kedua kakaknya tidak setuju karena alasannya sama-sama pegawai honerer seperti Ardan. Mereka maunya adiknya mendapatkan calon istri yang seorang pegawai negeri. Karena kalau sudah pegawai negeri katanya enak, sudah sukses.
Sedangkan aku tidak setuju pada awalnya bukan karena pekerjaan Keyla yang masih pegawai honorer. Tapi karena aku kasihan dengan Keyla, mengapa dia mau saja berpacaran dengan Ardan. Kulihat Keyla gadis yang
__ADS_1
manis, cerdas, dan juga pekerja keras. Aku yakin suatu saat dia pasti menjadi orang sukses. Berbeda dengan Ardan. Karena Keyla kurasa juga sudah terlanjur cinta tanpa melihat sisi buruk dan kekurangan Ardan.
Akhirnya mereka sepakat menikah. Sebelum menikah aku berpesan kepada Keyla agar selalu menasihati dan mengingatkan Ardan apabila ia salah langkah. Aku percaya dengan menikahi Keyla, sifat Ardan dapat berubah.
Aku sengaja mempersiapkan akad dan resepsi pernikahan Ardan dan Keyla dengan sederhana saja. Maksudku agar uang yang ada tidak di hambur-hamburkan untuk pesta sehari saja. Lebih baik uangnya di simpan untuk membangun rumah masa depan mereka. Kemudian aku pun memberikan uang yang tidak digunakan untuk pesta kepada Ardan untuk membangun rumah, ya walau tidak banyak. Kalau kurang mereka kan bisa saja menambahkan dan mengumpulkan dari hasil gaji mereka berdua.
Dua tahun setelah mereka menikah, mereka mengikuti tes CPNS. Keyla berhasil lulus dengan peringkat tertinggi, sedangkan Ardan tidak lulus. Sudah kuduga karena aku paham bagaimana kemampuan dan motivasi Ardan. Selama ini kuperhatikan tidak ada pembicaraan mereka akan membangun rumah. Apakah mereka sama-sama sedang mengumpulkan uang? Mau bertanya dengan Keyla jelas saja aku tidak enak. Dikira nanti ikut campur. Sampai saat ini mereka belum memberikanku cucu, aku sih tidak
mempermasalahkan karena dari hasil pemeriksaan dengan dokter kandungan mereka baik-baik saja. Mungkin Tuhan nanti memberikan mereka momongan di waktu yang tepat. Dan aku bersyukur mendapatkan menantu seperti Keyla yang baik dan pekerja keras. Itu sudah lebih dari cukup buatku. Lagi pula aku sudah mempunyai empat cucu dari kedua anak perempuanku.
Hingga suatu hari, aku mendapati Ardan ke rumah kami dengan mengendarai mobil, sekali dua kali aku diam saja. Ah mungkin dia meminjam mobil kantor. Tapi kok mobil kantor sepertinya baru. Ardan pun jadi sering makan di rumah, ada gerangan apa ini? Apakah dia ada masalah rumah tangga dengan Keyla. Hingga kali ketiga aku tanyakan pada Ardan. Akhirnya Ardan mengakui kalau dia
membeli mobil dengan meminjam uang di bank menggadaikan SK PNS Keyla. Ya Allah, seumur hidup aku tidak pernah mengajari anakku untuk berutang demi berfoya-foya. Kalau untuk membeli rumah atau modal usaha masih bisalah kumaklumi. Aku ingin menanyakan kemana uang yang kuberikan beberapa tahun lalu ketika selesai acara pesta resepsi pernikahan mereka. Namun
tidak sempat. Karena aku sudah terlanjur marah karena sikap Ardan yang menurutku zolim kepada istrinya. Pasti utang untuk membeli mobil itu tanggungannya sampai belasan tahun karena jumlahnya yang tak sedikit. Tidak tertahan lagi amarahku pada Ardan, kusemprot dia habis-habisan. Biar tahu rasa. Aku sudah tidak peduli lagi tanggapannya apa kepadaku. Meluapkan rasa marah
membuat energiku terkuras banyak hingga kepalaku tiba-tiba pusing, aku memijit keningku. Ruapanya darah tinggiku kumat! Semua ini gara-gara kebodohan Ardan! Kenapa juga sih Keyla tidak cerita dulu kepadaku. Bukannya sebagai mertua aku mau ikut campur. Aku hanya ingin memberikan solusi yang terbaik. Aku tidak mau Keyla juga ikut-ikutan susah karena Ardan. Tapi kalau sudah seperti ini mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya aku memberikan Ardan uang sejuta perbulan
agar Keyla tidak telalu terbebani untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Semoga saja uangnya benar-benar diberikan kepada Keyla sepenuhnya dan tidak ditilep oleh Ardan!
(Bersambung)
__ADS_1