
Pov Keyla
Perkembangan bisnis pulsa dan kuota internetku alhamdulillah berjalan dengan lancar. Kecuali pulsa ada sedikit kendala, kadang teman-teman kantorku dan juga teman baiknya masih ada yang ngebon. Ya paling ada satu dua orang yang terlambat membayar. Aku maklumi. Aku juga tidak mungkin menagih utang mereka secara paksa. Mereka baik semau kepadaku.
Bosku alias kepala divisi, ibu Elsa mempercayakan kepadaku untuk memegang dan mengelola keuangan yang akan direncanakan untuk pengelolaan tanaman apotik hidup di beberapa kelurahan di kotaku yang akan di kelola oleh ibu-ibu PKK. Wah aku sangat senang bisa terlibat kegiatan ini. Selain menambah pengetahuan, siapa tahu juga bisa menambah penghasilan. Kabarnya dari tanaman apotik hidup seperti jahe, kunyit, kencur, lengkuas dan lain-lain, para ibu akan membuat unit usaha kecil seperti membuat jamu tradisional. Nah ini bisa jadi ide untuk bisnisku selanjutnya.
Ketika aku sedang mengetik beberapa laporan bulanan, bu Elsa ke mejaku. Aku kaget karena terlalu fokus pada pekerjaanku dan tidak menyadari keberadaan beliau. Secepatnya aku langsung menguasai keadaan.
"Ibu Keyla, nanti bisa kan ke ruangan saya? Ada yang ingin saya bicarakan." ucap bu Elsa dengan tegas.
"Oh iya bu." jawabku dengan santun.
Setelah pekerjaanku selesai, aku ke ruangan beliau. Aku pun mengetuk pintu dan beliau langsung mempersilakanku masuk.
"Maaf bu Elsa, ada yang ingin anda bicarakan dengan saya?" tanyaku dengan penuh sopan.
"Saya mempercayaimu untuk memegang dan mengelola keuangan yang akan kita gunakan dalam kegiatan tanaman apotik hidup yang akan di kelola ibu-ibu PKK di beberapa kelurahan. Tugas kamu mencatat dan mengatur seberapa besar pengeluaran yang digunakan pada kegiatan tersebut. Jangan lupa ya dibuat laporannya karena nanti akan diminta oleh pemerintah kota." Terang bu Elsa dengan jelas tapi penuh wibawa.
__ADS_1
"Iya bu, insya Allah siap saya laksanakan." Jawabku mantap.
"Saya memilih kamu karena saya percaya kamu bisa mengelola keuangan dengan baik dan saya perhatikan beberapa bulan setelah kamu bergabung dengan kami, kinerja kamu juga baik dibandingkan staf yang lain." Kata bu Elsa sambil tersenyum.
"Ah ibu bisa saja. Saya juga masih banyak kekurangan. Mohon bimbingannya ya bu. Jangan sungkan tegur saya bila saya melakukan kesalahan." Sahutku tersipu malu karena pujian bu Elsa.
Bu Elsa hanya tersenyum. Beliau memberikanku uang sejumlah beberapa juta secara langsung. Aku kaget biasanya kan uang diberikan dalam bentuk ATM. Kata bu Elsa sekalian tadi beliau mengambil untuk keperluan gaji karyawan honorer dan anggaran belanja kebutuhan kantor.
Dengan hati-hati aku membawa uang ini ke rumah. Rencananya besok aku akan menyetor uang ini ke bank. Karena sepulang kantor sudah jam tiga sore tidak sempat lagi ke bank. Dan aku juga sudah lelah akibat pekerjaan di kantor yang menumpuk tiada habisnya.
Setibanya di rumah, aku langsung menyimpan uangku di laci lemari kamarku dan kukunci. Nanti gawat kalau ketahuan bang Ardan, bisa dikiranya aku banyak uang. Eh dia enak-enak bisa malas-malasan. Kucabut kunci tersebut dan kuletakkan di dalam tas kantorku. Mudahan dia tidak curiga. Aku pun langsung memasak, makan, mencuci piring, mandi dan beristirahat. Masalah bang Ardan, terserah dia saja sudah. Mau bilang aku istri pembangkang dan tidak melayani suami lagi ya terserah dia. Dia aja mangkir dari tanggung jawab tidak pernah menafkahiku. Masa aku harus ngoyo mengurus keperluan dia. Ogah ah! Biar aja dia mengatai-ngataiku, memangnya aku takut.
Keesokan harinya, pagi sekali aku sudah sarapan dan bersiap akan berangkat kerja. Tapi sebelum berangkat, aku berencana mampir ke bank dulu untuk menyetor uang kantor daripada disimpan di rumah karena menurutku kurang aman. Aku izin dengan bu Elsa kalau mampir ke bank dulu dan agak terlambat datang ke kantor. Dan untungnya beliau mengizinkanku.
Ketika aku akan membuka kunci laci lemariku, aku kaget karena uang dari bu Elsa hilang. Padahal setahuku, cuma aku yang tahu kuncinya. Bang Ardan kan nggak punya kunci serepnya. Atau aku lupa kalau kuncinya ada tiga buah. Seingatku biasanya kunci laci lemari hanya ada dua buah. Langsung saja aku tanya bang Ardan, kenapa bisa uangku hilang. Siapa lagi malingnya kalau bukan dia! Maling dari luar? Nggak mungkin deh kayaknya. Komplek yang kutempati ini aman-aman saja kok.
"Bang, kamu lihat nggak sih uang yang ada di laci lemariku?" Tanyaku berapi-api.
__ADS_1
"Oh uang di laci itu? Udah kupakai buat servis mobil dan sisanya lumayan kan buat aku jajan." Jawab bang Ardan dengan santainya.
"Bang.. Gimana sih? Itu uang kantorku. Kenapa kamu nggak tanya dulu sih?"
"Lah ngapain tanya-tanya? Itu kan di laci lemari kamu, berarti kan uang kamu juga. Bebas dong, mau aku pakai buat apa. Uang kamu, uang aku juga kan."
"Aduh bang! Itu yang kantor dan untuk keperluan kantor juga. Kalau uang aku bebas kamu mau pakai. Tapi gimana nanti aku menggantinya? Aku udah nggak ada tabungan lagi. Terus kalau aku dimutasi karena penggelapan uang kamu mau?" Ancamku tanpa takut.
"Hedeh, udahlah dek. Ya maaf, aku kan nggak tau kalau itu uang kantor kamu. Ya udah, beri aku waktu beberapa hari untuk mengganti uang kamu. Kamu tenang aja."
"Iya, awas loh kamu bang kalau tidak mengganti! Bisa-bisa habis aku dimarahin bosku. Kalau aku dimutasi sih mending. Kalau aku dipecat dan diberhentikan secara tidak hormat bagaimana nasib kita? Kemudian aku di penjara. Kamu mau mobil kamu itu ditarik bank? Karena aku tidak bisa membayar cicilan?" Semburku dengan murka.
"Iya, iya. Aku akan carikan penggantinya." Kini wajah bang Ardan jadi ketakutan. Mungkin takut kalau aku dipecat. Ah mana mungkin. Lebih tepatnya takut mobilnya ditarik bank.
"Kamu harus janji loh bang. Acaranya seminggu lagi. Kamu mau dapat duit darimana itu bukan urusanku. Mau minjem kek, utang kek, mencuri kek. Yang penting, aku tahunya dalam waktu seminggu uang kantorku harus balik. Kalau kamu nggak mau aku kena masalah di kantorku." Tegasku, pokoknya sebisa mungkin harus kulawan bang Ardan. Aku sudah capek ditindas terus. Tunggu tanggal mainnya bang.
"Oke, sabar dek. Aku akan memikirkan caranya mengembalikan uang kantormu." Janji bang Ardan.
__ADS_1
Aku tersenyum kecut, entah harus percaya lagi atau tidak padanya. Aku sudah muak. Oke kita buktikan dalam tempo seminggu lagi. Aku butuh bukti keseriusan dia mengembalikan uang kantorku. Bukan janji-janji palsu yang selama ini dia ucapkan. Kalau aku kena masalah di kantor gara-gara uang tersebut. Dia pasti akan kena imbasnya. Rasakan kau bang. Emang enak?
(bersambung)