
PoV Keyla
Mataku membelalak sempuna. Dan ternyata yang memergokiku adalah wanita yang selama ini sangat kucintai.
“I, ibu,” jawabku gugup. “Kenapa ibu ada di sini?”
“Hei Keyla, harusnya ibu yang bertanya, kenapa kamu ada di sini? Mana Ardan? Kok kamu malah jalan sama cowok lain.” Omel ibu merepet.
Kulirik sekilas wajah Soni seketika langsung memerah dan menunduk karena malu. Aku pun menjawab dengan gelagapan.
“Ma, maafkan Key bu. Dengar dulu penjelasan Key. Key belum sempat cerita semuanya ke ibu. Maafkan Key selama ini menutupi dan membohongi masalah rumah tangga Key kepada ibu.” Seketika tangisku pecah dan langsung memeluk ibu. Ibu pun menyambutku dalam pelukannya. Mengusap-usap punggung dan kepalaku.
“Nak, kamu masih jadi istri orang. Kamu salah jika kamu jalan dengan cowok lain. Jujur, ibu sudah ada firasat kalau rumah tanggamu dengan Ardan sedang tidak baik.” Jawab ibu lembut tapi sangat menenangkan.
“Tapi secepat mungkin Key pasti akan menceraikan bang Ardan bu. Insya Allah, beberapa hari lagi Key akan memasukkan beberapa berkas ke pengadilan.” Balasku di antara isak tangisku yang sudah beberapa bulan ini tertahan. Menumpahkan perasaan dengan tangis, seolah seperti self-healing yaitu penyembuh luka bathin yang menyesakkan dadaku.
Aku dan ibu akhirnya duduk kembali, sedangkan Soni sibuk dengan gawainya sendiri. Entah hanya pura-pura saja atau apa, aku tak tahu.
“Mengapa bisa nak kamu mau berpisah dengan Ardan? Sedangkan Ardan, ibu rasa pria yang baik dan bertanggung jawab.” Kata ibu. Ya aku maklum ibu masih membela bang Ardan karena ibu tidak tahu kejadian yang sesungguhnya. Selama ini aku selalu menutupi kelakuan buruk bang Ardan. Semata-mata karena aku tidak mau membuat ibuku khawatir terhadapku. Namun ternyata itu salah. Andaikan aku sudah bercerita ke ibu dari awal mungkin aku tidak akan begini.
“Bang Ardan sebenanrnya nggak pernah memberi uang nafkah kepada Key bu. Alasannya uang gaji dia selalu kurang bahkan untuk keperluan dia sendiri. Katanya uang gaji Key lebih, masa tega sih meminta uang lagi sama bang Ardan.” Kataku berusaha menjelaskan. Mudah-mudahan ibu bisa menerima penjelasaku.
“Apa?” Terpancar rasa kaget dari raut wajah ibu. “Jadi selama dua tahun ini Ardan tidak pernah memberikan uang gajinya ke kamu.”
“Boro-boro ngasih uang gaji bu, untuk jajan dan keperluan pribadi Key aja nggak pernah. Apalagi untuk keperluan rumah tangga, seperti makan sehari-hari, bayar listrik, dan bayar air. Semua Key yang bayar.” Sahutku mengeluarkan semua uneg-unegku yang terpendam.
“Astaga Key, kenapa kamu nggak pernah bilang dari dulu. Andai saja kamu cerita lebih awal, sudah ibu suruh kamu ceraikan si Ardan benalu itu!” Kata ibu menahan marah.
“Maaf saya ikut campur bu, kenalkan saya Soni. Teman sekantor Keyla.” Kata Soni sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan pada ibu.
__ADS_1
“Nama saya ibu Mona. Senang bertemu dengan kamu.” Jawab ibu sambil membalas jabat tangan Soni. “Kamu jangan-jangan awalnya hanya teman dekat Key saja kan, tapi lama-lama kamu terpincut dengan Key. Ya, bisa saya maklumi. Tapi kamu juga salah mengajak anak saya jalan-jalan, kan dia belum resmi bercerai dari suaminya.” Tegas ibu pada Soni.
“Maafkan saya bu Mona, saya tahu saya khilaf. Tapi saya kasihan dengan wanita sebaik dan secantik Keyla disia-siakan suaminya. Bukan maksud saya ikut mengompori masalah rumah tangga Keyla dan Ardan. Tetapi beberapa bulan lalu, Keyla mengajukan dan mengambil pinjaman di bank untuk membelikan Ardan mobil. Sehingga gaji Keyla menipis karena potongan cicilan bayar utang di bank. Saya kasihan lalu saya ajak Keyla untuk bergabung dengan bisnis saya.” Jelas Soni panjang lebar.
Aku tahu sih maksud Soni baik. Tapi kenapa dia pakai mengadukan soal mobil bang Ardan dengan ibu? Waduh bisa tambah ruwet dong masalahnya.
Mendadak ibu geram dan langsung saja mengoomel.
“APA?? Mau-maunya kamu menggadaikan SKmu di bank hanya untuk kepentingan Ardan! Otak kamu dimana Key! Dia sudah tidak mau menafkahimu! Kenapa kamu malah memanjakannya sih? Bucin boleh Key! Tapi diliat dulu tipe suami kita seperti apa! Kalau dia bertanggung jawab dan sayang okelah. Kalo begini gimana dong! Kamu sudah mati-matian berjuang ikut tes CPNS tapi akhirnya malah SKmu digadaikan. Ya Allah, Ardan. Salah besar dulu aku menerima lamaranmu terhadap Key.” Ibu langsung menangis tergugu sambil memegangi dadanya.
Soni juga menangis, ada raut penyesalahn karena sudah ikut campur dengan masalah ini.
“Bu, tenang bu.” Kata Soni mengusap punggung ibu. Semua sudah terjadi. Sekarang bagaimana caranya kita harus membantu Keyla untuk keluar dari masalah ini bu.”
“Iya nak Soni ibu tahu, tapi ibu nggak pernah menyangka kalau Ardan setega itu pada Keyla. Sedangkan ibu sebagai ibu kandungnya Keyla yang melahirkan dan membesarkan Keyla hingga menjadi orang sukses seperti ini, nggak pernah terlintas sedikitpun dalam benak ibu untuk meminta uang kepada Keyla.”
Kami bertiga larut dalam tangis dan kesedihan untuk beberapa saat.
“Kalau kamu mau menggugat cerai suamimu, kamu harus kumpulkan bukti-bukti seperti Ardan tidak pernah memberi nafkah kepadamu, soal pinjam uang di bank, dan juga nota pembelian mobil. Untuk surat BPKB mobil atas namamu kan?” Tanya Soni menjelaskan.
“I,iya Son atas namaku. Lagipula kami nggak ada harta gono-gini. Rumah pun masih mengontrak.”
“Oke bagus. Lusa kita izin pada bu Elsa untuk ke pengadilan agama. Aku akan menemanimu mengurus perceraian. Aku nggak mau lagi melihat kamu bersedih dan menderita Key.” Kata-kata Soni begitu membuat hatiku meleleh.
“Terimakasih nak Soni atas bantuan dan perhatian kamu kepada Keyla, ibu nggak tahu lagi harus berkata apa.” Sahut ibu pada Soni.
“Sama-sama bu Mona. Sudah seharusnya bu kita tolong-menolong. Semua kita lakukan demi kebaikan Keyla agar dia bisa hidup bebas dan berbahagia.” Jawab Soni sambil tersenyum.
“By the way, ibu ke sini dalam rangka apa bu,” tanyaku pada ibu. Karena aku heran kok tumben sih ibu ke pantai.
__ADS_1
Ibu langsung menepok jidatnya. “Astaga, ibu lupa. Ibu ke sini bersama teman-teman senam zumba ibu. Ibu bosan di rumah sendiri. Jadi ibu ikutan senam zumba deh.”
“Oalah bu, bagus dong ibu jadi ada kegiatan positif, hehe.” Kataku sambil tertawa kecil.
“Kalo gitu sudah dulu ya, ibu mau menemui teman-teman ibu lagi. Ibu takut ketinggalan bus.”
Ibu langsung menyalami kami dan memeluk kami berdua. Ibu dan Soni langsung akrab. Seperti menantu dan mertua. Eh!
Ibu pun pamit dan melambaikan tangan.
“Kalo Key ada waktu nanti ke rumah ibu.” Aku berteriak kepada ibu. Ibu pun langsung menunjukkan jempolnya tanda oke.
Tinggal lah aku berdua dengan Soni.
“Yang tadi gimana Key?”
“Yang tadi, yang mana?”
“Halah, jangan pura-pura lupa?” Soni mengerlingkan mata padaku.
“Oh itu, gimana ya. Beri aku waktu ya Son.” Kataku memelas.
“Tapi jangan terlalu lama ya, aku nggak bisa kalo harus menunggu lama.”
Aku pun menggangguk.
Hari sudah mulai beranjak senja. Indah sekali pemandangan matahari terbenam di pantai ini. Seindah perasaanku yang mulai lega dan mulai ada jalan keluar dari permasalahan hidupku dengan bang Ardan. Bismillah, aku mantap bercerai dengan bang Ardan.
Akhirnya kami pun pulang ke rumah dan Soni mengantarkanku sampai rumah. Karena besok kami harus bekerja kembali, memberikan sumbangsih dan pengabdian bagi bumi pertiwi.
__ADS_1
(bersambung)
Mau PoV siapa setelah ini?