Istri Yang Berjuang Sendiri

Istri Yang Berjuang Sendiri
PoV Ardan 2


__ADS_3

"Dan, itu mobil merah depan rumah punya siapa? Punya kantor, punyateman kamu, atau punya kamu?” Tanya mamah beruntun. Sebenarnya sudahdua kali aku membawa mobil ini ke rumah mamah, tapi beliau hanya diam saja. Baru kali ini beliau bertanya. Mungkin beliau kepo karena ini kali ketiga, aku membawa mobil tersebut ke rumah mamah.


“I-itu mobil Ardan mah,” jawabku gugup. Wah bakalan di introgasi mamah nih aku beli mobil ini pakai apa.


“Loh memang kamu punya banyak uang nak? Bukannya uang yang mamah kasih untuk kamu dan Keyla sewaktu sesudah kalian nikah itu untuk membangun rumah itu kan nggak sampai seratus juta. Maksud mamah uang itu pasti kurang untuk membeli rumah. Nah tinggal kamu dan Keyla menambahkan dengan menyisihkan uang gaji kalian


untuk membangun rumah. Terus uangnya kamu belikan mobil? Mana cukup? Apa Keyla punya tabungan untuk membeli mobil?” Omel mamah panjang lebar.


Aku hanya diam saja, karena bingung mau menjawab apa. Tapi kalau mamah sudah mengomel seperti ini artinya sudah mau tamat riwayatku. Apakah aku harus berbohong pada mamah atau aku harus berkata jujur? Tapi kalau aku berbohong, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga.


Karena mamah sudah seperti orang intel saja. Pandai mengorek informasi di mana-mana! Kalian pernah mendengar kan kalau wanita itu sudah kepo abis, sampai lubang semut pun di cari tahu. 


“Dan, jawab mamah dong! Kamu dengar atau nggak sih?” Kata mamah seperti orang kesurupan. Duh Gusti, aku harus bagaimana. Setelah berbagai macam pertimbangan di otakku, akhirnya aku beranikan diri untuk bercerita kepada mamah tentang masalah yang kuhadapi dalam


rumah tanggaku kepada Keyla. Kalau aku tidak cerita bisa-bisa malah tambah runyam. 


“M-Mah, sebenarnya itu memang mobil Ardan. Tapi belinya kredit di bank mah,” jawabku ketakutan. Aku sudah pasrah saja mamah mau berkata apa, toh semua sudah terjadi. Percuma membohongi beliau hanya akan menambah

__ADS_1


masalah lagi.


“Terus berapa cicilannya di bank berapa Dan? Kamu ini punya otak nggak dipakai apa? Kenapa kamu malah beli mobil dulu bukannya beli rumah?”


Tanya mamah makin berapi-api. Ibarat api yang disiram bensin. Semakin menjadi kemarahan mamah.


“Dua juta dua ratus lebih mah selama lima belas tahun,” jawabku takut. Takut dikatain b*go sama mamah.


“APA? Dasar bodoh kamu Dan! Terus minjam di bank dengan menggadaikan SK istrimu?” Tanya mamah lagi. Tuh kan kok bisa sih mamah tahu dari menggadaikan SK-nya Keyla. Apa jangan-jangan mamah dukun yah bisa


menebak dengan benar gitu.


pegawai negeri.”


Aku hanya diam tertunduk, aku tak mampu berkata lagi.


“Oke gini ya Dan, memang sudah rahasia umum di kalangan pegawai negeri itu meminjam uang di bank dengan menggadaikan SK tapi dilihat-lihat juga untuk keperluan apa. Kalau untuk membangun rumah atau biaya

__ADS_1


pendidikan anak, bolehlah masih dimaklumi. Ini kamu beli hanya untuk dilihat orang wah, iya kan Ardan?” Kata mamah sambil berkacak pinggang.


“Kalau untuk menambah membangun rumah sih nggak apa-apa tapi kalau untuk membeli mobil, mamah rasa sangat berlebihan, belum biaya bensin, ganti oli, perawatan dan servisnya, kamu pikir uang dari mana Dan, otomatis kalau seperti ini uang untuk kebutuhan rumah tangga kamu juga berkurang kan, kamu ini mikirin rumah tangga nggak sih, mamah bingung dengan pola pikir kamu yang pendek ini.” Sambung mamah lagi, tuh kan kalau sudah ngomel panjang lebar, merembet kemana-mana, memang ciri khas ibu-ibu mungkin.


“Tapi mah, kalau punya mobil kan otomatis mendukung kinerja Ardan juga kan, kemana-mana dan ke kantor juga nggak kepanasan dan kehujanan.” Sahutku membela diri dan tak mau kalah dari mamah.


“Loh bukannya rumah kamu dari kantor dekat aja, cuma perlu waktu lima belas menit! Naik mobil bukannya tambah lambat, belum lagi kalau macet!”


“Udahlah mah, kalau gini kan Ardan pusing, makan Cuma tahu tempe, udah gitu si Keyla nggak pandai masak. Mana sesudah mengambil hutang ini, dia jadi nggak ngurusin suami lagi.”


“Hahaha, wajar dong Keyla masak tahu tempe doang. Kan pemasukkan kalian sudah sedikit. Itu pun harusnya kamu berpikir Dan, untung masih bisa makan. Banyak tuh orang di luar sana karena kebanyakan utang jadi nggak bisa makan. Kamu itu sebagai kepala keluarga harusnya berpikir panjang. Cari usaha sampingan kek. Jangan cuma ongkang-ongkang kaki dan nongki dengan teman-temanmu yang nggak jelas itu!” Mamah berbicara sangat memojokkanku. Duh kok mamah malah balik membela Keyla sih, kalau gini kan aku lama-lama yang tersudut.


“Sudah Dan, mamah pusing.” Kata mamah sambil memegang dahinya yang kayaknya mulai berdenyut. Ini mamah ada uang satu juta, tolong diberikan Keyla ya, siapa tahu dengan uang ini bisa membantu Keyla menyicil uang di bank atau untuk kebutuhan rumah tangga kalian. Mamah kasihan dengan Keyla. Gara-gara kamu semua ini, awas loh kalau nggak kamu kasih Keyla.”


“Iya mah, beres. Mamah tenang aja.” Jawabku pelan, aku tidak berani lagi berkata panjang lebar, takut darah tinggi mamah kumat lagi dan telingaku sepertinya sudah panas mendengar ocehan mamah yang entah kapan habisnya. Kalau aku melawan, bisa-bisa omelan mamah sampai


beberapa jam. Dipikir-pikir, kalau uang sejuta titipan mamah kalau dikasihkan Keyla semua keenakan dia dong. Ah kukasih separonya aja. Toh dia ada bisnis frozen food juga. Lumayan yang lima ratus ribunya untuk nongki-nongki

__ADS_1


mala mini. Hehehe. Mudah banget Keyla dibohongin, jadi pegawai tuh harusnya lebih cerdas dikit dong!


(Bersambung) 


__ADS_2