
PoV Soni
Keyla, wanita yang mengisi hatiku beberapa bulan ini. Aku dan dia kebetulan lulus tes CPNS di instansi yang sama namun berbeda divisi. Dia bagian keuangan dan aku bagian IT. Sudah lama aku memperhatikan dia, walaupun hanya sebatas tegur sapa. Awalnya aku kira dia masih gadis tapi ternyata sudah menikah.
Sayang sekali, aku tidak punya kesempatan untuk mendekatinya. Entahlah aneh juga perasaanku, kok aku malah suka dengan istri orang. Padahal banyak gadis-gadis yang berusaha mendekatiku. Tapi aku malah mengabaikan mereka. Bukannya aku sebagai pegawai merasa jumawa di dekati gadis-gadis. Karena tak ada satupun dari mereka yang menarik perhatianku. Mamiku bahkan berusaha menjodohkanku dengan anak gadis teman beliau, namun aku menolaknya. Walaupun sempat membuat mami marah.
Suatu ketika aku melihat dia di kantor sedang sibuk mengurus administasi. Para pegawai terutama ibu-ibu sudah berbisik-bisik. Aku pun pura-pura mengamati dan mendengarkan apa yang para ibu itu bicarakan. Oh ternyata Keyla ingin mengajukan pinjaman di bank. Aku heran untuk apa dia meminjam uang di bank? Setahuku suaminya juga bekerja dan mereka belum mempunyai momongan. Apakah untuk membeli rumah?
Beberapa hari kemudian usulan pinjaman Keyla di setujui atasan kami. Dan semakin ramailah gosip di kantor. Dari yang aku ketahui katanya Keyla meminjam uang di bank untuk membeli mobil. Tapi kok membeli mobil, mobilnya tidak dipakai ke kantor? Ternyata suaminyalah yang memakai. Astaga, laki-laki macam apa itu menyuruh istrinya untuk berutang dan membeli mobil demi kesenangannya, dasar benalu. Aku yang laki-laki saja gregetan, masa Keyla cuma pasrah aja! Bucin sih boleh tapi dilihat dulu lah suaminya macam apa!
Aku yang kepo, lalu bertanya kepada bu Vera salah satu teman kami. Ya aku sebenarnya paling tidak suka bergosip. Itu kan kerjaan perempuan! Tapi jiwa kepo ala emak-emakku meronta. Jadi daripada ketinggalan info aku bertanya saja. Katanya suami Keyla sudahnya benalu tidak menafkahinya pula. Astaga, sudah dipelet suaminya kah si Keyla itu jadi manut-manut saja. Kasihan Keyla. Mulai dari saat ini aku pun berniat untuk menyelematkan Keyla dari kezoliman suaminya. Keyla haruslah sadar, kalau dia seorang wanita cantik, baik, dan kuat. Tentu saja dia berhak mendapatkan pria yang benar-benar tulus mencintainya, mudahan takdir baik berpihak padaku. Tentunya harus diiringi dengan niat baik pula. Masa bodo dengan orang-orang yang nanti bakal menyebutku pebinor!
Hingga Mita bercerita padaku kalau Keyla sedang kesusahan keuangan, pasti gara-gara suaminya yang kepar*t itu. Aku dan Mita sebenarnya teman lama, tapi baru kali ini kami akrab karena satu kantor. Aku memang mempunyai bisnis jualan pulsa dan kuota. Sebenarnya mami dan papi menawariku untuk mengurus bisnis mereka yaitu mengelola hotel dan restoran. Tapi aku lebih memilih untuk mengikuti tes pegawai negeri. Awalnya kedua orangtuaku tidak setuju karena menganggap PNS gajinya sedikit. Aku terus saja meyakinkan mereka. Alhamdulillah mereka luluh. Kan PNS kerjanya lebih santai berbeda dengan mengelola hotel dan restoran harus dikejar target setiap bulan.
Tanpa aku mintapun mami dan papi setiap bulan masih saja mengirimiku uang bagi hasil bisnis mereka. Sebagian kutabung dan sebagian lagi untuk modalku bisnis jualan pulsa dan kuota. Aku memang menjalani bisnisku dari nol. Sekarang aku sudah mempunya sepuluh toko penjualan pulsa, kuota, maupun gawai. Aku pun ingin membantu Keyla, jadi aku tawarkan dia untuk ikut dalam bisnisku. Awalnya dia merasa malu dan sungkan kepadaku. Mungkin dia belum pernah berteman dengan laki-laki. Tapi sekarang dia sudah terbiasa dan tidak canggung lagi berteman denganku.
Aku pun mulai mengirimkan sinyal-sinyal kalau aku benar-benar mencintainya. Akupun tahu dari sorot matanya sebenarnya Keyla pun tertarik padaku. Hingga akhirnya aku sudah tidak tahan lagi memendam hasratku untuk menyatakan cinta kepadanya. Aku pun nekat dengan menyodorkan sebuah cincin. Aku nekat karena Mita sudah membocorkan kepadaku kalau Keyla akan bercerai dengan suaminya yang benalu itu. Tapi yang terjadi malah ibunya memergoki kebersamaan kami. Akupun mengompori ibunya agar Keyla secepatnya menggugat cerai Ardan. Yes, untungnya ibunya mendukungku. Lagian buat apa sih lelaki brengs*k macam gitu dipertahankan. Keyla terlalu baik buat dia. Lebih baik kalau lelaki itu tidak sanggup untuk bertanggung jawab, Keyla buat aku saja. Aku akan mencintainya setulusnya. Takkan pernah kusakiti dia. Okelah kalau nanti dia jodohku, kuizinkan saja dia untuk berkarir. Tapi berbisnis mungkin aku saja yang menjalankan. Tugas dia hanya berkarir, mengandung, dan membesarkan anak-anakku.
*
Hari ini hari yang menegangkan sekaligus hari yang menyenangkan buatku. Keyla akhirnya dengan mantap akan bercerai dengan Ardan. Aku menemaninya ke kantor pengadilan agama untuk mengantarkan berkas-berkas perceraian. Untung saja bu Elsa mengizinkan kami.
Keyla pun duduk di sampingku, aku masih deg-degan. Oh inikah rasanya jatuh cinta. Umurku padahal sudah kepala tiga. Tapi masih saja aku merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta.
__ADS_1
“Key, sudah sarapan belum nih?” Tanyaku pada Keyla. Kalau dia belum sarapan, aku tak mau dia nanti malah lemas dan sakit.
“Belum Son, tadi aku buru-buru juga dari rumah. Bang Ardan sudah pulang ke rumah. Aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali supaya bang Ardan nggak terlalu curiga karena aku membawa berkas-berkas lebih banyak daripada biasanya.” Kata Keyla menimpali.
“Oke kalau gitu kita mampir saja yuk ke warung jualan bubur ayam langgananku.” Ajakku karena akupun juga sudah lapar.
“Baik Son.”
Kami pun tiba di warung kecil milik bi Asih. Kami langsung saja memesan dua porsi bubur ayam hangat dengan berbagai toping. Ada irisan ayam, telur ayam dadar, telur puyuh, hati dan kacang. Begitu menghangatkan perut di pagi hari. Rasanya pun nikmat. Aku memesan jeruk hangat sedangkan Keyla memesan teh hangat melati.
Setelah habis makanan kami. Kami pun bergegas ke pengadilan karena kami sudah membuat janji dengan mas Hendra, kakaknya Mita. Mas Hendra pengacara yang handal, banyak kasus yang sudah dia menangkan. Semoga saja suami Keyla tidak banyak membantah atau bahkan tidak usah hadir sama sekali. Supaya cepat proses perceraian mereka. Pokoknya setelah masa iddah selesai, aku harus secepatnya melamar Keyla dan menikahinya, jangan sampai Keyla di rebut cowok lain!
Ternyata mas Hendra sudah menunggu kami. Dengan mengenakan baju kemeja dan celana panjang rapi. Tubuh mas Hendra yang tegap dan aroma parfum mahal begitu menguar. Benar-benar tampilan pria berkelas dan elegan.
“Apa kabar kalian hari ini?” Sapa mas Hendra dengan ramah.
“Alhamdulillah, baik mas.” Jawabku sampil menepuk bahunya.
“Hmm, bagaimana Keyla sudah dipersiapkan semua berkasnya?” Tanya mas Hendra memastikan kalau Keyla benar-benar sudah melengkapi berkas-berkas yang harus dipenuhi
“Sudah beres mas.” Balas Keyla dengan mantap.
“Bagus, baiklah nanti aku bantu kalian untuk memasukkan berkas ke bagian administrasi. Insya Allah kalau alasannya suami tidak pernah memberi nafkah cepat dikabulkan hakim.” Jawab mas Hendra dengan tegas.
__ADS_1
Keyla hanya manggut-manggut saja.
“Kalau suamimu tidak hadir, maka akan cepat diputuskan cerai oleh pengadilan. Namun kalau dia nanti ngotot soal harta gono-gini, maka saya akan berbicara kalau tidak ada harta gono-gini dalam pernikahan kalian.
Berkas-berkas gugatan cerai Keyla pun diterima oleh bagian administrasi pengadilan. Dan nanti persidangan perceraian akan diadakan dua minggu lagi. Mengingat banyak pasangan suami istri yang juga mengajukan gugatan cerai. Kuharap Ardan tidak macam-macam, supaya proses perceraian mereka berjalan dengan lancar.
“Bagaimana dengan surat panggilan perceraian?” Tanya mas Hendra.
“Dikirimkan ke alamat kantornya bang Ardan saja mas.” Jawab Keyla dengan cepat.
“Baik, itu urusan gampang.”
*
Setelah urusan dari kantor pengadilan selesai, kami pun pulang.
“Son, gimana kalau aku kabur saja dari rumah. Jujur aku sudah nggak tahan lagi dengan bang Ardan.” Kata Keyla. Aku yang sedang menyetir mobil hampir saja buyar konsentrasiku.
“Emangnya kenapa Key? Nanti dikira aku malah mengajak lari istri orang?” Tanyaku sambil mengernyitkan kening.
“Pokoknya aku mau keluar dari rumah itu besok! Carikan aku rumah kost atau kontrakan yang dekat dari kantor kita Son. Aku sudah muak dengan sikap bang Ardan, di kasih hati eh malah minta jantung.” Balas Keyla dengan geram.
Keyla pun mengambil sesuatu dari tas tangannya, segera dia menunjukkan dua barang itu kepadaku. Aku meliriknya dan berhasil membuat jantungku hampir copot. Bagaimana perasaan Keyla yang masih sah sebagai istri Ardan yang menemukan dua benda itu? Oh malangnya nasibmu Keylaku sayang!
__ADS_1
(bersambung)