
Beberapa hari kemudian, aku kaget bang Ardan memberikanku ganti uang kantor utuh sebesar yang dia ambil. Aku bingung dia dapat uang dari mana, toh selama ini kan gaji dia hanya cukup untuk kebutuhannya. Apa dia meminjam uang kepada kedua orangtuanya?
"Dek, ini abang balikin ya uang yang sempet abang pinjam kemarin?" Kata bang Ardan sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.
"Ah bener ini bang," mataku berbinar menerima amplop coklat itu. Dalam hatiku akhirnya insyaf juga ini suamiku. Dapat hidayah dari mana ya dia?
"Ya bener dong dek, kapan abang nggak nepatin janji ke adek," sahut bang Ardan santai banget.
"Halah biasanya juga nggak pernah nepatin janji. Katanya mau bantuin aku membayar cicilan mobil. Ini udah beberapa bulan abang nggak pernah bantuin! Gimana adek mau percaya dengan abang!" Jawabku sengit.
"Sabar dek, nggak usah diungkit-ungkit hal itu. Pusing kepala abang. Ini aja abang mutar otak tujuh keliling supaya mendapatkan uang ini."
"Emang abang dapat uang darimana sih?"
"Ah itu bukan urusan kamu dek. Yang penting uangnya udah balik. Kan kamu seneng. Coba kalau nggak abang balikin, pikirkan gimana nasibmu!"
"Hahaha pikirkan nasibku? Aku jual mobil kamu kalau kamu macam-macam bang!" kataku sambil tertawa garing.
"Iya dek, gitu aja jangan marah dong!"
* * *
Alhamdulillah acara kegiatan ibu-ibu PKK di beberapa kelurahan berjalan dengan lancar. Bahkan aku juga mendapatkan ilmu cara membuat jamu tradisional. Kapan-kapan nanti kupraktikkan cara membuat jamu. Siapa tau bisa menambah penghasilan. Bosku pun mengapresiasi hasil kerjaku dan memberiku pujian. Ah bosku memang berlebihan. Karena ini juga merupakan tanggung jawabku sebagai pegawai yang mengemban tugas dan amanah negara.
"Ibu Keyla, terima kasih atas kerja keras kamu selama ini. Sehingga kegiatan kita berjalan dengan baik." Kata bu Elsa memanggilku ke ruangannya untuk membicarakan hasil kegiatan yang kami lakukan.
__ADS_1
"Sama-sama bu Elsa, ini memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami selaku pengelola keuangan. Oh iya, ini laporan keuangan yang ibu minta." Kataku dengan sopan sambil menyerahkan laporan keuangan yang sudah aku selesaikan kemarin.
Ibu Elsa membolak-balik dan membaca dengan saksama laporan yang sudah kubuat. Beliau kemudian tersenyum puas.
"Oke, kerja bagus bu Keyla. Laporannya saya terima ya. Ini ada sejumlah uang lembur untuk kamu, ya walau jumlahnya tidak seberapa. Saya harap kamu menerimanya." Kata bu Elsa sambil menyodorkan amplop putih panjang yang aku terawang jumlahnya cukup banyak.
"Ah tidak usah repot-repot bu, lagipula saya melakukannya memang tulus ikhlas."
"Sudahlah bu Keyla, terima saja. Itu juga sisa dari anggaran belanja kita." Sahut bu Elsa dengan lembut.
Dengan gemetar aku menerimanya. Belum pernah aku menerima bonus sebanyak ini. Alhamdulillah, bisa untuk tabunganku.
"Terimakasih bu." Kataku dengan lembut juga.
* * *
Beberapa hari kemudian, aku baru saja pulang kerja dan berganti baju rumah. Sedangkan bang Ardan belum pulang. Ada dua orang laki-laki berpostur besar dan berotot bertandang ke rumahku. Apa mereka berdua debt kolektor? Bathinku. Aku tidak pernah berutang kepada siapapun apalagi rentenir. Utangku hanya kepada bank. Itupun pembayaran dipotong uang gajiku. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk menunggak pembayaran.
"Halo, selamat siang. Ini dengan ibu Keyla?sapa salah satu laki-laki itu dengan ramah.
"Iya benar dengan saya, ada apa m-mas? Tanyaku kaget. "Mmm silakan masuk dulu mas, kita bicara baik-baik di dalam rumah." Kataku takut-takut. Aku tidak membuatkan minum untuk kedua orang tersebut, karena di meja tamuku sudah ada beberapa gelas air mineral dan dua toples biskuit.
Dua lelaki itu masuk dan langsung saja duduk.
"Perkenalkan saya Badri dan ini teman saya Tio. Kami bagian marketing dari perusahaan pembiayaan Semua Sejahtera. Apakah benar seseorang yang bernama Ardan Aditama adalah suami ibu?" Kata Badri memperkenalkan diri. Sementara temannya yang bernama Tio itu hanya diam saja dan berwajah datar. Lebih mirip seperti tukang pukul
__ADS_1
"Iya benar, dia suami saya." Jawabku tegas dan penasaran apa maksud dari kedatangan dua orang tersebut.
"Baik, suami ibu sudah tiga bulan ini menunggak pembayaran cicilan sebesar enam juta rupiah di perusahaan pembiayaan kami. Kami sudah berusaha menghubungi beliau tapi selalu saja ditolak atau gawainya di nonaktifkan. Tidak ada kepastian dari beliau kapan akan membayar dan melunasi cicilan sebanyak dua juta rupiah perbulan tersebut selama enam bulan. Karena suami ibu menulis nama ibu di orang penjamin, jadinya kami menghubungi ibu." Sahut Badri menjelaskan.
"Oh maaf mas, saya tidak tahu menahu soal itu." Aku kaget bagai disambar petir di siang bolong. Ternyata uang yang diberikan bang Ardan untuk mengganti uang kantorku yang dia ambil ternyata meminjam di perusahaan pembiayaan. Berani juga ya dia ternyata. Karena setahuku meminjam uang di pembiayaan itu bunganya cukup besar, lebih besar daripada meminjam uang di bank.
"Kalau ibu tidak tahu soal itu. Kami jelaskan bahwa suami ibu meminjam uang ke perusahan kami sebesar sepuluh juta rupiah dengan jaminan sepeda motor bebek. Apabila tidak ada itikad baik dari anda berdua. Terpaksa kami sita sepeda motor anda." Terang Tio yang sedari tadi diam saja. Nada bicaranya lebih tegas daripada Badri.
Hah, sepeda motor bebek? Itukan punya bang Ardan. Kalau aku kan selama ini pakai sepeda motor matic. Dan dia pakai sepeda motornya sejak sebelum menikah denganku. Untung saja dia tidak menjaminkan sepeda motorku. Jelas dia tidak bisa menjaminkan sepeda motorku. Karena surat BPKB motorku kan ada di rumah ibuku, mana dia berani mengambilnya di rumah ibuku. Bisa disemprot habis-habisan dia.
"Maaf mas, bukannya saya mau angkat tangan. Tapi suami saya tidak pernah berkata dan berunding kepada saya soal dia meminjam uang tersebut. Kalau begitu, silakan saja anda ambil sepeda motornya saja kalau dia tidak bisa dihubungi. Dan maaf saya tidak punya uang sejumlah enam juta rupiah seperti yang mas minta." Jelasku panjang lebar.
"Kalau begitu kami beri waktu dua hari. Bila dua hari, tidak ada pembicaraan maupun pembayaran selama tiga bulan. Maka sepeda motornya akan kami sita. Dua hari lagi kami akan datang kemari dan mengambil sepeda motor milik pak Ardan." Tegas Tio.
"Oh, silakan saja mas Tio. Saya tidak keberatan sama sekali. Apalagi itu sepeda motor bang Ardan. Dia yang berutang dia yang bertanggung jawab. Apalagi saya sebagai istri tidak diberitahu oleh suami saya sendiri."
"Baik, kalau begitu kesepakatannya, kami permisi. Kami harap tidak ada perdebatan kalau nanti kami kemari dan menyita sepeda motor milik pak Ardan."
"Baik mas. Saya tunggu." Jawabku dengan mantap. Toh sepeda motor dia, ngapain aku ambil pusing kalau diambil. Biarkan saja.
Dua orang bertampang sangar itupun berlalu. Apakah aku harus memberitahu bang Ardan soal kedatangan dua orang itu? Ah tidak usahlah, biar ini jadi kejutan buat bang Ardan. Kalau kuberitahu nanti dia memaksaku untuk membayar cicilannya yang tertunggak tiga bulan itu. Enak di dia dong, sakit di aku. Anggap saja bang ini awal pembalasanku untukmu. Tunggu pembalasanku di episode selanjutnya. Jadi tak sabar dua hari lagi melihat reaksi bang Ardan mengetahui sepeda motor dia disita. Aku jadi tertawa membayangkannya.
(Bersambung)
Terima kasih buat kalian para pembaca setiaku yang sudah like, komen, dan subscribe ceritaku.❤️ Maaf kalau tokoh Keyla lemot, memang begitu aslinya. Hehehe. Apalagi Ardan, bikin gregetan ya. Next mau PoV Ardan atau Keyla nih?
__ADS_1