
PoV Keyla
Benar-benar aku sakit hati atas perkataan bang Ardan, maksudku aku hanya ingin memberikan pelajaran pada bang Ardan agar bertanggung jawab pada utang-utangnya. Tapi dia malah mengataiku istri kurang ajar, tak tahu diri, masih kurang kah pengorbananku selama ini. Aku selama ini menopang kehidupan rumah tangga dengan uang gajiku, mulai dari masih menjadi honorer hingga sekarang menjadi pegawai negeri yang katanya banyak orang sudah mapan. Baru aku akan menikmati uang gajiku sendiri eh malah di suruh berutang untuk membeli mobil. Andaikan ibuku tahu permasalahan rumah tanggaku pasti beliau akan menyuruhku berpisah.
Berpisah? Astaga baru terpikir di otakku. Kenapa aku tidak berpisah saja ya dari bang Ardan? Jujur aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya, kalau soal tidak menafkahi okelah aku masih maklum. Gaji dia tidak seberapa. Tapi kalau sikapnya yang kurang bersyukur itu dan malah berbalik menghinaku, maaf saja aku sudah muak. Oke, pelan-pelan akan kuturuti maumu bang untuk berpisah denganku. Kalau begitu aku akan main cantik, nikmati saja bang permainanku!
***
“Key, kita jalan yok. Udah lama nih kita nggak jalan. Daripada kamu suntuk di rumah mulu,” kata Mita sepulang kerja.
“Boleh deh kebetulan tadi aku kemari juga naik taksi online, lagi nggak mood aja naik sepeda motor,” jawabku. Ya aku lagi nggak mood memang karena kepalaku agak puyeng habis menangis tadi malam. Soal bang Ardan tadi malam dia nggak pulang, nggak tahu dia tidur dimana. Apa dia tidur di rumah orang tuanya. Entahlah. Kayaknya nggak mungkin! Soalnya melihat orangtuanya yang berpihak padaku, bang Ardan pasti sungkan untuk pulang ke rumahnya sendiri.
“Yuk Key, kok bengong. Nebeng aku aja ya,” kata Mita sambil mengajakku naik ke mobilnya. Aku langsung duduk di kursi sebelah kemudi. Mita memang mahir membeli mobil. Sebenarnya ini mobil suaminya saat bekerja dulu tapi mereka membeli mobil second dengan mengumpulkan uang dulu selama dua tahun. Mereka memang tidak gengsi memakai mobil setengah pakai ini, kulihat juga tampilan dan mesin mobil masih lumayan bagus.
Mita mengajakku ke Mall yang terkenal di kotaku. Dia langsung mengajakku berbelanja baju di sebuah butik.
“Key pilih aja baju yang kamu suka. Kamu terlihat pakai baju itu-itu terus.” Kata Mita membuatku kaget. Karena selama ini aku memilih untuk menabung daripada membeli baju.
Aku akhirnya memilih dress dan kemeja wanita berwarna pastel. Tapi Mita malah terheran-heran.
“Kurang tuh Key, ayo pilih lagi.”
__ADS_1
“Tapi Ta, uangku nanti nggak cukup kalau aku membeli baju banyak-banyak.”
“Ya ampun Key, siapa yang menyuruh kamu untuk membayar. Udahlah tenang aja, aku akan meneraktir kamu.” Jawab Mita dengan senang hati. Aku jadi merasa tidak enak. Selama menikah dengan bang Ardan, dia tidak pernah mengajakku jalan atau shopping seperti ini. Sedangkan Mita sahabat baikku malah meneraktirku. Padahal dia sudah mempunyai keluarga dan anak. Semoga Allah membalas kebaikanmu sahabatku.
Mita langsung memilihkanku beberapa kaos santai dan juga tunik motif bunga-bunga. Tak lupa celana dan beberapa kemeja untuk kerja. Mita langsung membawa barang-barang yang kami beli ke kasir dan dengan membayarnya dengan menggunakan kartu debitnya.
Setelah puas berbelanja baju, Mita mengajakku untuk makan di restoran Jepang dan Korea. Kami sepakat memilih menu All You Can Eat yang sedang trend itu, menu yang mengajak kita untuk makan sepuasnya dalam kurun waktu 90 menit tapi kalau tidak habis tidak boleh dibungkus untuk di bawa pulang, kami memilih menu barbeque. Aku mengambil dua piring daging sapi mentah yang diiris tipis dan berbumbu teriyaki dan pedas. Sedangkan Mita memilih sayur, otak-otak, tempura, sosis, dan pentol ayam. Pramusaji datang membawakan kompor kecil portable dan pinggan untuk memanggang makanan yang sudah kami pilih tadi, tak lupa dua buah mangkok nasi hangat dan dua gelas teh es. Hmm tak sabar lagi aku untuk memanggang dan makan. Pasti sangat enak.
Selama kami makan, aku pun akhirnya mencurahkan isi hatiku kepada Mita.
“Ta, gimana menurut kamu kalau aku berpisah dengan bang Ardan?”
Setelah beberapa saat, akhirnya Mita pun memberikan tanggapannya.
“Hmm bagus Key, keputusanmu sudah tepat. Aku mendukungmu. Selama ini dia hanya menjadi benalu aja dalam kehidupanmu. Kasian kamu, wanita secantik dan sebaik kamu, sebenarnya tidak pantas untuk mendampinginya. Aku yakin kamu pantas mendapatkan pria yang baik dan bertanggung jawab.”
“Makasih Ta.”
“Terus gimana langkahmu selanjutnya? Sebaiknya secepatnya saja Key, mumpung masih belum terlalu jauh dan kalian belum mempunyai anak.”
“Oke yang pertama bang Ardan tidak tahu kalau BPKB mobil atas namaku dan kusimpan dengan baik. Rencanaku akan kujual diam-diam mobil bang Ardan.”
__ADS_1
“Tapi kalau dia nanti ngamuk-ngamuk gimana Key.”
“Aku sudah siap Ta dengan segala konsekuensinya. Supaya memancing kemarahannya dan akhirnya dia menalakku.”
“Good job. Kalau kamu membutuhkan pengacara jangan lupa kabari aku ya. Kakakku kan seorang pengacara.”
“Mas Hendra maksudnya?”
“Nah kamu ingat tuh Key, udahlah soal bayaran kamu nggak usah mikirin. Yang penting kamu bebas dari parasit itu aja aku udah bersyukur banget. Kamu tahukan Mas Hendra itu pengacara handal dan sering memenangkan kasus. Apalagi kasus perceraianmu karena suami nggak menafkahi selama dua tahun dan malah menyuruhmu utang. Beuh udah jelas itu pasti kamu menang.” Ujar Mita dengan bersemangat.
“Tapi kalau bang Ardan meminta harta gono-gini gimana dong Ta?”
“Lah harta gono-gini yang mana Key? Dia aja udah nggak menafkahi kamu? Mobil? Kan hasil berutang di bank terus kan BPKBnya atas nama kamu. Terus rumah, kan kalian masih mengontrak. Syukur aja kemarin kalian belum membangun rumah.”
“Wah mantap Ta, makasih ya atas semuanya. Kamu emang sahabat sejatiku Ta. Yang selalu ada saatku sedang sudah maupun senang.”
“Sama-sama Key, aku senang juga bisa turut bantuin kamu.”
Kami menghabiskan makan kami dengan bercanda tawa. Belum pernah aku sebahagia ini. Setelah itu Mita mengantarkanku pulang. Kalau kalian punya sahabat terbaik, jangan lupa sayangi dia ya teman-teman!
(bersambung)
__ADS_1