Istri Yang Berjuang Sendiri

Istri Yang Berjuang Sendiri
Di Sita


__ADS_3

PoV Keyla 


Hari ini pekerjaanku lumayan banyak, teman-temanku yang lain juga pada sibuk. Terlihat Soni mampir ke ruanganku, dia bertanya dan meminta bantuanku cara menyelesaikan laporan. Kulihat Mita senyum-senyum


kepadaku. Entah apa maksudnya. Eh tapi aku malah deg degan dekat Soni, kulirik dia malah menatapku. Aku jadi ge-er nih. Ya beginilah diriku, istri yang kurang asupan gizi kasih sayang dari suami. Dan yang jomblo pun malah terlihat memberikan kode. Aku bisa apa dong? Lebih baik aku nikmatin aja yang ada sekarang. Dua jam kami berkutat dengan laporan akhirnya selesai juga. Kuserahkan laporan yang kami kerjakan kepada bos kami, bu Elsa. Beliau terlihat membolak-balikkan laporan dan tersenyum puas atas hasil kerja kami hari ini. Jam istirahat pun tiba. Soni terlihat menghampiriku. 


“Key, yuk makan di luar! Makasih ya tadi sudah membantuku mengerjakan laporanku,” kata Soni mengajakku makan siang. 


“Eh iya ayo. Sama-sama Son, nanti kalau aku ada kesulitan kan juga bisa minta bantuan kamu,” sahutku sambil menerima ajakan Soni. Wah lumayan kan di traktir Soni makan siang, menghemat uang belanjaku. 


Kami segera ke kantin belakang kantor, kantin mbak Titin. Kami langsung menghampiri duduk sambil membaca menu. Aku memesan nasi uduk lauk ayam goreng, sedangkan Soni memesan lalapan ayam. Minumnya kami berdua memesan dua gelas es teh dan dua botol air mineral. Kami berdua makan dengan lahap, efek kelaparan akibat tugas yang menumpuk. Hingga Soni membuka pembicaraan. 


"Key, maaf bukan ikut campur urusan rumah tangga kamu. Kudengar kamu ada mengambil pinjaman di bank ya?" Kata Soni bertanya. 


"Eh iya ada, Son. Memang kenapa? Kamu mau pinjam uang di bank juga ya?" Jawabku kaget. Tapi wajar aja sih Soni bertanya, mungkin dia pengen tahu tata cara dan persyaratan administrasi meminjam uang di bank. 


"Ya masih mikir sih, rencananya juga mau minjem. Nggak banyak. Yang penting bisa untuk modal dan mengembangkan usahaku. Kalau kamu minjem uang untuk modal usaha ya?" Tanya Soni balik. 


Waduh, mungkin dia selama ini mengira modal usahaku dari meminjam uang di bank. Padahal semua dari uang tabunganku yang kukumpulkan selama aku masih gadis. Dan tentu saja tabungan rahasia yang tidak diketahui bang Ardan. Suami macam dia tidak usah tahulah berapa jumlah uangku. Jawab jujur tidak ya. Kalau dijawab bohong nanti ketahuan juga sih, tapi kalau jujur aku belum akrab-akrab banget dengan Soni. 


"Se-sebenarnya uangnya untuk suamiku membeli mobil Son. Kalau modal usahaku selama ini dengan memakai uang hasil tabungan kerjaku." Jawabku terbata-bata. Yo wes lah, kuputuskan untuk jujur. Aku mungkin sudah tidak sanggup lagi menahan beban. Ya walau hanya segelintir sahabat dekatku yang tahu akan hal ini. Aku ingin tahu bagaimana tanggapan Soni sebagai laki-laki. 


Wajah Soni mendadak pias dan tentu saja dia tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Kami berdua terdiam beberapa saat. 


"Key, kamu itu seorang wanita. Seorang istri yang harusnya dimuliakan. Bukan menuruti keinginan suamimu untuk membeli barang mewah. Sebagai seorang lelaki aku merasa malu mendengarnya. Jatuh harga diriku seandainya aku melakukan tindakan yang sama persis dengan suamimu. Maaf Key, aku bukan mencampuri urusan rumah tangga kalian." Sahut Soni dengan lembut. 


Aku tidak bisa menahan rasa dan mataku mulai berkaca-kaca, jangan sampai aku menangis. Aku hanya diam, tak mampu berkata apa-apa lagi. Oh Tuhan, salahkah aku bercerita kepada Soni. 

__ADS_1


"Key, kalau kamu tidak sanggup lagi karena semua beban berat ada di pundakmu. Pikirkan ulang pernikahanmu. Kamu berhak menjadi wanita yang bebas, diayomi. Dan mampu mencari kebahagiaanmu sendiri." Kata Soni sambil tersenyum. 


Hatiku meleleh mendengar kata-kata Soni. Ya pikirkan ulang pernikahanku yang kurasa semakin hari semakin tidak sehat ini. Memang orangtua bang Ardan mau membantuku membayar jumlah utangku ke bank. Tapi jumlahnya tidak sampai setengahnya. Entahlah. Tuhan, kuatkan aku. Tunjukkan jalanMu menuju kebenaran. 


Jam istrirahat kantor telah habis dan Soni langsung membayarkan makan siang kami. 


"Makasih ya Son," kataku lirih. 


"Sama-sama Key, nanti kalau kamu tidak sibuk. Kita jalan-jalan yuk mengusir kejenuhan." Ajak Soni yang membuatku kaget. Aku masih istri orang. Tapi kenapa dia berani mau mengajakku jalan-jalan. 


"Iya," jawabku singkat. 


Pulang ke rumah aku langsung merebahkan diri di kasur empuk kesayanganku. Sambil termenung. Sedangkan bang Ardan ada di kamar sebelah sedang main game online. Benar juga ya apa kata Soni. Toh beberapa bulan ini, khususnya semenjak bang Ardan membeli mobil. Tidak ada lagi yang namanya kata-kata dan sikap romantis yang ditunjukkan bang Ardan kepadaku. Kalau begini mana bisa mau mempunyai momongan. Sedangkan dia sendiri asyik dengan dunianya. Komunikasi kami pun sudah jarang. Apabila aku menuntut supaya dia menunjukkan sisi romantisnya. Dia malah beralasan capek lah, sibuk kerja lah. Sudah lama menikah katanya. Ngapain masih ngegombal kayak muda-mudi yang baru menikah. Buang-buang waktu. Padahal aku sebagai wanita normal, juga memiliki hasrat untuk dimanjakan dan diperlakukan istimewa. Entahlah, kemana sifat bang Ardan yang dulu. Semua menguap gara-gara mobil merah sial*n itu! 


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Kudengar suara pintu di ketuk dengan kerasnya. Jangan-jangan si penagih utang dari perusahaan pembiayaan itu datang mau mengambil sepeda motor milik bang Ardan. Aku langsung tergopoh-gopoh membuka pintu.


"Eh, mas Badri dan mas Tio." Kataku menyapa. 


"Ya, sesuai dengan janji kita beberapa hari lalu kami kemari berniat untuk menyita sepeda motor bebek milik pak Ardan karena tidak ada niat sedikitpun dari pak Ardan untuk menyicil utang-utangnya. Dengan di sitanya motor. Artinya lunas sudah utang pak Ardan. Oleh karena itu kami minta ibu Keyla untuk menandatangani perjanjian penyitaan sepeda motor di lembaran perjanjian ini. Kami minta bukti hitam di atas putih, agar suatu saat pak Ardan tidak bisa menuntut kami. 


"Baik mas," kataku mantap. Bang Ardan, sebentar lagi permainan akan dimulai. Baik aku hanya mengikuti saja alur permainanmu. 


Tanpa membaca dan tanpa basa-basi aku langsung menandatangi beberapa surat perjanjian itu. Dan aku bergegas ke kamar mengambil STNK sepeda motor tersebut dan kuncinya. Untung selama bang Ardan memakai mobil, sempat kuamankan STNK dan kuncinya. Langsung saja kuserahkan dengan mas Badri. Kulirik mas Badri dan mas Tio tersenyum puas karena aku bisa diajak bekerja sama. Kulihat bang Ardan keluar dari kamarnya. Baru berani ya keluar kau, Bang. 


"Mas Badri dan mas Tio. Tolong jangan sita sepeda motor saya dong. Beri saya waktu beberapa hari lagi." Kata bang Ardan sambil meremas rambutnya. Tanda dia frustasi. 


"Loh kami sudah memberi anda waktu, tapi anda malah mengabaikan peringatan dari kami." Jawab mas Tio dengan sengit. 

__ADS_1


"Tapi mas saya mohon, itu harta saya dan saya membelinya dengan hasil jerih payah saya sendiri." Sahut bang Ardan memelas. 


"Hei, kami harus pakai bahasa apalagi pak Ardan!! Bukannya bapak sendiri yang tidak ada niat baik untuk membayar dan ini sudah lewat beberapa bulan." Kata mas Badri marah. 


Mas Tio langsung mengambil sepeda motor bang Ardan yang terparkir. Bang Ardan memegang bagian belakang sepeda motornya. Mungkin dia mau mencegah agar sepeda motornya tidak diambil dua lelaki sangat tersebut. Tapi tidak berhasil, karena mas Badri langsung menepis tangan bang Ardan. 


"Sudahlah pak Ardan, jangan sampai habis kesabaran kami," teriak mas Badri. 


"Key, kamu kok jadi istri nggak becus sih. Bukannya kalau suami kesusahan harusnya kamu nolongin dong, bukannya malah membiarkan sepeda motorku di sita!" Bentak bang Ardan kepadaku. 


"Ngapain aku nolongin kamu bang! Kamu aja nggak tanggung jawab bayarin utang-utang kamu. Enak di kamu dong jadinya kalau aku bayarin!" Balasku ngotot tak mau kalah. 


"Kamu tuh ya Key dasar istri nggak berguna, buat apa kamu jadi istri. Uang kamu banyak. Tapi kamu malah dzolim luar biasa sama suami. Dasar istri durhaka." Teriak bang Ardan kini sudah tidak terkontrol lagi


Mas Badri dan Tio langsung pergi sambil membawa sepeda motor bang Ardan. Rasakan kau bang, ini baru awal. 


"Oh gitu. Silakan kamu mau ngatain aku istri dzolim, istri durhaka. Toh selama ini kamu juga nggak ada memberi uang nafkah hasil kerjaku ke aku! Buat apa kali ini aku kasihan ke kamu," jawabku dengan marah. Bisa-bisanya dia mengatakan aku istri durhaka. Sedangkan dia sendiri tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai suami, selama ini aku sudah memaklumi. Tetapi malah ini balasannya. Selama ini pengorbananku nggak ada harganya di matanya. 


"Kan uang kamu banyak Key, kamu nggak ada hak untuk meminta uang dari suami. Sedangkan kamu tahu suamimu gajinya lebih sedikit. Dasar kamu istri serakah, sudah tahu gaji suaminya dikit malah diminta. Aku kebagian apa dong kalau kamu minta gajiku. Aku makan apa, jajan apa. Belum uang buat beli bensin. Gitu aja dibahas terus! Tega ya kamu Key, udah mulai berani itung-itungan!"


"Oh iya, mulai sekarang urusi hidup kita masing-masing bang. Kalau kamu selama ini bisa nggak nafkahi aku. Oke. Jangan harap aku akan menjalankan tugasku lagi sebagai istri. Keterlaluan kamu bang, nggak pernah mikirin gimana perasaanku. Gimana capeknya aku banting tulang untuk memenuhi kebutuhan mewahmu. Boro-boro memanjakan istri, berkata lembut aja nggak pernah lagi!"


"Heh, istri macam apa dulu yang harus dimanja. Istri yang dimanja itu istri yang menurut kata suami dan membantu suami disaat kesusahan! Bukan menjerumuskan suami seperti ini. Sadar diri kamu Key! Sudahlah aku tambah pusing ngadepin kamu, istri yang nggak tau diri macam kamu! Lebih baik aku cari angin di luar!"


"Bang, aku belum selesai ngomong tahu!"


Bang Ardan tak menggubrisku dan langsung mengambil kunci mobil dan buru-buru keluar. Mungkin mau nongkrong. Ah peduli amat! Ngapain diurusin! Urusanku aja masih banyak. Terserah dia mau pulang atau nggak! 

__ADS_1


(Bersambung) 


__ADS_2