Istri Yang Berjuang Sendiri

Istri Yang Berjuang Sendiri
Bisnis dengan Soni


__ADS_3

PoV Keyla


Hari ini juga setelah mendengar saran Mita untuk berjualan pulsa dan kuota, ketika istirahat siang nanti kami sepakat untuk menemui Soni. 


Soni yang tengah duduk-duduk di depan kantor tengah asyik memainkan gawainya. Entahlah dia sedang berbalas pesan dengan siapa. Dengan pacarnya mungkin. Kulihat dia sambil senyam-senyum memandangai layar gawainya. Lah kenapa aku jadi mikirin Soni chat dengan siapa? Itukan bukan urusanku. Kan wajar, toh dia masih bujangan. Mau chat sama siapa aja itu hak dia. Atau mungkin dia sedang main game? Tapi emang orang main game sambil senyum sih? Yang ada kan orang kalau lagi main game mukanya tegang. 


"Hei Soni, kamu sibuk nggak? Ini ada hal yang mau kita bicarakan sama kamu," tanya Mita dengan ramah. 


"Eh, nggak nih. Cuma lagi santai aja hehe. Oh iya ada apa nih?" jawab Soni dengan santai. 


"Ini Son, Keyla mau ikutan gabung bisnis kamu. Kamu kan jualan pulsa dan kuota. Siapa tahu dengan jadi reseller kamu, Keyla juga bisa menambah penghasilan," sahut Mita dengan tenang. 


"Wah kebetulan nih kalau ada yang mau gabung. Aku juga sedang memerlukan bantuan nih. Maklum sedang rame-ramenya orang membeli kuota. Pokoknya tenang aja, bisnis ini nggak bakalan bangkrut kok! Asal kitanya rajin dan juga pandai mempromosikan dagangan kita dengan harga sedikit miring dibandingkan toko lain. Nggak akan ada matinya deh jualan pulsa dan kuota internet. Karena semakin hari, kebutuhan masyarakat akan internet malah semakin besar. Yang ada kita malah kewalahan memenuhi permintaan pelanggan," kata Soni dengan penuh bersemangat. 


"Wah beneran Son? Kalau gitu, bisnis ini peluangnya sangat menjanjikan ya," jawab aku tertarik dengan kata-kata Soni. 


"Ya jelas dong. Nggak usah mikir panjang Key. Kapan kamu ada waktu luang? Sore atau malam ini? Nanti aku jelaskan cara mainnya. Dan sekalian aku antarkan barang yang akan kamu jual. Masalah modal nanti aja lah kamu pikirkan, yang penting barang daganganku laku dulu kamu jual. Baru deh kamu setor ke aku." sahut Soni seolah dia tahu isi hatiku. 


"Alhamdulillah, makasih Son. Kamu memang teman yang baik. Kalau gitu gimana nanti malam aja kita ketemuan. Tapi dimana?" tanyaku balik. 


"Di kafe Ceria aja gimana? Kutunggu ya jam 7 malam." 


"Oke deh, Son. Sampai jumpa nanti malam."

__ADS_1


* * *


Syukurlah Soni menyetujui aku gabung dengan bisnisnya. Gimana ya nanti malam aku hanya berdua saja ketemuan dengan Soni? Ya mau gimana lagi? Mengajak Mita untuk menemaniku? Ya nggak mungkin juga. Dia kan punya suami dan anak. Atau mengajak bang Ardan? Nggak mungkin banget. Dia mah orangnya bosenan denger bisnis seperti ini. Tapi kalau urusan duitnya dia malah nomor satu! Ada ya gitu mau dapat duit tanpa usaha


Ngimpi kali. Ah paling nanti malem dia juga nggak ada di rumah seperti biasa. Biasanya juga jalan atau ke rumah orangtuanya. Sudahlah ngapain jadi mikirin dia. Wong dia aja nggak ada mikirin aku. 


* * * 


Malam hari pun tiba, dengan mengendarai sepeda motor aku menemui Soni di kafe Ceria. Untung kafe ini tidak terlalu jauh dari rumahku. Mengenai bang Ardan nggak usah ditanya. Bener kan tebakanku. Sore sehabis pulang kerja dia langsung istirahat sebentar, kemudian mandi. Dan pergi lagi bersama teman-teman kesayangannya itu. Silakan aja kamu bang main dengan teman-temanmu itu. Toh biasanya teman modelan gitu cuma mau senangnya aja, kalau susah mana mau dia menolong kamu. Hahaha. Buktikan aja nanti ucapanku ini. Teman terus sono yang kamu bela. 


Lima belas menit kemudian aku sudah sampai di kafe Ceria. Kulihat dia sedang menungguku. Dia mengenakan baju kaos dilapisi jaket hitam kulit, serta celana jeans dan juga sepatu kets ala anak muda. Tak lupa gaya rambut yang rapi, tubuhnya langsing dan tegap. Penampilannya di luar jam kantor, tampak lebih muda usianya. Padahal usianya sudah tiga puluhan. Aku yang melihat jadi terpesona. Tapi aku langsung ingat tujuan utamaku hanya untuk berbisnis. Aku pun langsung menghampiri Soni. 


"Halo Soni, sudah lama ya datang. Maaf kalau aku telat," sapaku pada Soni. 


"Ah baru lima menit juga sampe. Oh iya kamu mau pesen apa nih Key," kata Soni tersenyum ke arahku. 


"Key, kok melamun. Ada yang salah ya," tegur Soni mengagetkanku. Sial! Aku jadi melamun gara-gara bang Ardan. Ah masa di depan cowok sekeren ini masih sempat-sempatnya sih aku melamun. 


Aku memandang buku menu. "Aku pesan jus alpukat dan mi goreng seafood aja deh Son. Kalau kamu apa?" tanyaku sambil bolak balik membalik menu makanan. 


"Aku pesan jus mangga dan nasi goreng bakso aja." 


Pelayan laki-laki langsung menghampiri kami. Dan mencatat menu pesanan kami. Beberapa menit kemudian. Datanglah makanan dan minuman pesanan kami. 

__ADS_1


Kami memakan makanan dengan lahap, kulihat Soni pun juga begitu. Mungkin dia kelaparan hehe. Kudengar dari teman-teman kantor Soni tinggal sendiri menyewa rumah. Orangtua dan keluarganya tinggal jauh di kota lain. Soni bukan orang yang suka berpangku tangan. Padahal gaji kami lebih dari cukup, tapi dia tetap menjalankan bisnis. Benar-benar pria idaman. 


"Nah begini Key kuajari kamu ya cara mengisi top up pulsa. Bisa lewat rekening bank." kata bang Soni menjelaskan secara detail cara top up pulsa dan mengirimkan pulsa kepada pelanggan. Aku pun manggut-manggut tanda mengerti. Penjelasan Soni sangat jelas dan enak dipahami. 


"Untuk pebisnis pemula, kamu mengantarkan saja ya ke kounter ponsel. Kamu tanya apakah mereka memerlukan kuota atau distributor gitu. Nanti kamu jual dengan harga lebih dari harga modal yang aku jual ya. Atau kamu bisa juga sewa toko. Masalah yang menjaga bisa kamu sendiri atau kalau kamu sibuk bisa cari orang lain buat jaga. Kamu jual dengan harga yang miring ya daripada toko lain. Nggak apa-apa mulanya keuntungannya sedikit. Tapi nanti kalau orang-orang sudah kenal dengan toko kita. Insya Allah, toko kita jadi langganan mereka." Terang Soni dengan bersemangat. "Oh iya ini kotak isinya beberapa kuota internet dari beberapa operator yang berbeda. Ini kamu aku pegangin lima ratus paket ya. Semangat Key." 


"Iya, makasih banyak ya Son. Kamu sangat membantuku."


"Sama-sama Key. Sesama teman wajib membantu." 


Setelah itu kami bersiap untuk pulang. Kulihat Soni ke kasir sambil menyerahkan kartu debitnya kepada petugas kasir. 


"Keyla nggak usah bayar ya, sudah aku bayarkan semua." Kata Soni dengan lembut. 


"Tapi aku nggak enak sama kamu, Son. Kamu udah baik banget ke aku."


"Ah nggak apa-apa. Udah biasa aja."


Kami pun pulang ke rumah masing-masing. 


* * *


Keesokan harinya, setelah pulang kerja. Aku langsung menemui beberapa kounter ponsel dan menanyakan apakah mereka membutuhkan distributor. Alhamdulillah beberapa kounter ponsel menerimaku karena dinilai harga paket kuota internet yang kutawarkan jauh lebih murah dan mereka mau menjalin kerjasama berlangganan denganku. Hanya beberapa jam lima ratus kuota internet dari Soni ludes semua. Akupun mengantongi keuntungan yang lumayan. Uang modal besok kusetor ke Soni. 

__ADS_1


Beberapa hari kemudian. Usahaku udah balik modal. Mengenai makan sehari-hari masih seadanya. Kalau bang Ardan protes atau minta uang, aku bilang nggak ada uang lebih. Biarin aja dia mau makan dimana. Bukan urusanku. Aku jadi begini kan gara-gara dia. Masa aku sudah capek-capek usaha hanya untuk menyenangkan perutnya. Mending uangnya kutabung saja. Lebih berguna kan. 


(Bersambung) 


__ADS_2