Istri Yang Berjuang Sendiri

Istri Yang Berjuang Sendiri
Terbongkar


__ADS_3

PoV Keyla 


Sehari sesudah kedatangan para penagih hutang tersebut. Aku lihat tidak ada tanda-tanda bang Ardan akan berbicara tentang soal dia berhutang kepada perusahaan pembiayaan. Aku hanya diam saja. Lagipula tekatku sudah bulat, bahwa aku tidak mau memberi tahu tentang kedatangan Badri dan Tio. Nanti malah tambah runyam. 


Malam hari ketika selesai makan malam, terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah kami. Dan tak berapa lama rumah kami diketuk. Setelah kubuka ternyata kedua mertuaku lah yang datang. 


"Assalamualaikum apa kabar Key," mamah mertuaku mengucapkan salam. 


"Wa'alaikumussalam," jawabku dan bang Ardan serempak. 


"Eh mamah dan papah, silakan masuk. Apa kabar mah pah, udah lama banget kita nggak ketemu. Maaf kalau Keyla belum sempat mengunjungi mamah papah." Sapaku kepada mamah dan papah bang Ardan dengan ramah. Tapi ada perasaan tidak enak karena sudah beberapa bulan aku tidak mengunjungi mereka dikarenakan aku sekarang lebih disibukkan dalam urusan bisnisku. Aku sibuk berbisnis juga kan karena bang Ardan! Andai dia tak menyuruhku berutang, pasti tak akan seperti ini jadinya! Kulihat mereka membawakan kami martabak telur dan beberapa camilan yang asin dan gurih. Ah kedua mertuaku memang paling mengerti makanan kesukaanku. Berbeda sekali dengan bang Ardan, boro-boro mau membawakan makanan kesukaanku. Di suruh membelikan makanan saja, sudah mengomel duluan. Padahal belinya pun pakai uangku. 


"Alhamdulillah kabar kami baik," jawab papah sambil tersenyum. "Keyla dan Ardan sehat juga kan. 


"Alhamdulillah sehat." Jawabku. Kulihat bang Ardan hanya duduk diam sambil mengecek gawainya. Mukanya terlihat ditekuk. Apa jangan-jangan dia sudah mendapat pesan dari pihak pembiayaan kalau besok sepeda motornya akan disita. Biar saja mau disita! Apa juga peduliku. Dia saja tidak mau peduli juga dengan kebutuhan rumah tangga kami. 


Aku bergegas ke kulkas mengambil empat buah teh botol. Aku selalu menyediakan beberapa teh botol untuk tamu-tamu spesialku. Untung bang Ardan tidak terlalu hobi minum teh. Kalau dia hobi, tentu saja aku tidak bisa menyetok teh botol! 

__ADS_1


Aku membawa beberapa teh botol dingin dengan nampan menyuguhkan kepada kedua mertuaku. Sambil menikmati martabak telur jumbo. Uh nikmat sekali. Walau sudah makan, aku tetap lahap memakan. Kulihat bang Ardan daritadi pun tidak berselera makan. Biarian aja. Hahaha. 


Di tengah-tengah obrolan kami yang ringan, berbicara seputar masalah kantor dan apa yang sedang menjadi trending topik saat ini. Kulihat raut wajah mamah mertuaku terlihat ingin mengatakan sesuatu. 


"Key, mamah minta maaf ya gara-gara Ardan ingin punya mobil jadinya kamu sampai rela menyekolahkan SK pegawaimu di bank. Sekarang pun kebutuhan kalian tidak terpenuhi semua dan mamah dengar kalian pun jadi makan seadanya." Kata mamah sambil berkaca-kaca. 


Mendengar mamah mertuaku minta maaf, tentu saja aku tidak tega. Harusnya kan bang Ardan yang minta maaf padaku. Ini malah seolah-olah ia tidak mendengar, asyik saja dengan gawainya. 


"Ah mamah, jangan merasa tidak enak begitu. Tidak apa-apa kok mah, alhamdulillah kebutuhan kami lancar-lancar saja. Lagipula Keyla masih ada uang tunjangan kok. Jumlahnya juga lumayan." Jawabku menutupi kalau sebenarnya aku juga ada bisnis. Tapi aku harus merahasiakan dari bang Ardan dan mertuaku. Kalau mertuaku tahu nanti mereka akan semakin tidak enak dan kasihan padaku. Alhamdulillah, bisnisku semakin berkembang dan saat ini aku punya tiga toko kounter penjualan kuota dan pulsa. Aku memperkerjakan orang lain untuk menjaga tokoku. Tugasku hanya mengontrol saja. Jadi aku tidak perlu lagi mengantarkan kuota ke toko-toko lain. Semua juga berkat bantuan Soni. Kalau ingat Soni kenapa tiba-tiba hatiku bergetar. Entahlah perasaan apa ini. 


"Begini Key, untuk meringankan beban kebutuhan rumah tangga kalian, mamah dan papah berniat untuk membantu kalian setiap bulan. Beberapa hari lalu, mamah menitipkan uang satu juta kepada Ardan. Kamu sudah menerimanya belum Key." Kata papah yang membuatku terkejut. Iya, memang ada sih bang Ardan memberiku uang yang katanya dari mamah, tapi jumlahnya hanya lima ratus ribu. Kemana lima ratus ribunya lagi? Apa jangan-jangan di tilep bang Ardan. Kulirik bang Ardan, mata kami bertemu. Mendadak wajahnya pias. Akankah kali ini kubongkar kebohonganmu bang! Kulihat bang Ardan mengedipkan mata sebelah memberi kode kepadaku agar aku menjawab kalau memang aku diberi satu juta oleh bang Ardan. Enak saja kamu bang! Kali ini akan kubongkar kelakuan burukmu. Maaf saja kali ini aku tidak akan takut sama sekali memperjuangkan hakku. Kalau mamah dan papah mau membantu kami kuterima saja. Itukan kewajiban beliau. Gara-gara bang Ardan, aku harus memutar otak buat mendapatkan uang lebih. Buat apa aku gengsi menerima pemberian uang dari mertuaku. Toh uang hasil bisnisku sebagian lebih baik ditabung dari pada aku harus diperas oleh suami yang nggak bertanggung jawab macam bang Ardan! Enak di dia dong, kalau dia tahu selama ini aku berbisnis. Dia saja tidak berniat untuk mencari tambahan uang. Masa semua beban harus diberikan di kedua pundakku. 


Kini kedua mertuaku yang terperanjat. Dikiranya anaknya ini amanah dan sayang istri. Pasti sebentar lagi mamahnya bang Ardan akan mengomel. Wow pertunjukkan gratis ini. 


"Ardan... Apa-apaan sih kamu!" teriak mamah. "Mamah memberikan kamu uang itu buat kalian pakai bersama, harusnya kamu kasihkan kepada Keyla dong uangnya. Masa yang setengahnya lagi kamu tilep, Dan! Masih kurangkah uang gajimu! Harusnya kami bersyukur Dan!  Mamah dan papahmu ini ada uang lebihan. Kalau tidak punya uang bagaimana nasibmu! Buat makan sehari-hari aja kalian susah. Ini kamu malah nilep uang dari mamah untuk kamu berfoya-foya dengan teman-temanmu yang nggak jelas itu!"


Kulihat bang Ardan tertunduk lesu. Tak sanggup lagi berkata apa-apa. Biarkan saja. Bukan urusanku untuk membelanya. 

__ADS_1


"Ardan dengar mamah nggak? Kalau begitu bulan depan mamah akan langsung memberikan uangnya kepada Keyla." Omel mamah. 


"I-iya. Iya mah, Ardan salah." Jawab bang Ardan ketakutan. 


"Keyla, nanti kirim nomor rekeningmu lewat pesan ke mamah ya, kamu jangan khawatir ya nak. Mamah dan papah akan berusaha supaya kebutuhan kalian terpenuhi. Maaf kalau mamah hanya bisa membantu dengan jumlah yang seberapa." Kata mamah dengan lembut kepadaku.


"Siap mah," jawabku sambil tersenyum. Siapa sih yang bisa menolak kalau diberi uang? Lumayan kan untuk tambah-tambah kebutuhan dapur. Sebenarnya sih aku agak malu juga. Harusnya kami yang memberi uang kepada mertua. Ini malah jadi beban buat mertuaku. Ini kan penyebabnya juga karena ulah anaknya. Toh yang penting, berkat bisnisku aku bisa memberikan uang untuk ibuku di sana. Ah ibu, aku jadi rindu! 


"Harusnya kamu sebagai suami bertanggung jawab Dan supaya kebutuhan rumah tangga kalian terpenuhi. Bukan malah nilep uang mamah. Papah merasa malu Dan atas sikapmu. Papah dan mamah merasa gagal mendidikmu." Kata paoah dengan penuh rasa penyesalan. 


Bang Ardan hanya diam tak mampu berkutik. Karena malam mulai beranjak larut, akhirnya kedua mertuaku pamit pulang dari rumah kontrakan kami. Walaupun kulihat masih ada rasa penyesalan di wajah mertuaku. 


"Hati-hati ya mah, Key banyak berterimakasih kepada mamah karena sudah membantu kami. Key jadi merasa nggak enak." Kataku sambil mencium tangan mamah dan cium pipi kiri dan kanan beliau. 


"Sudahlah Key tidak usah dipikirkan. Yang penting sekarang kamu fokus kerja saja ya. Jangan sampai gara-gara utang kinerja kamu menjadi turun." Kata mamah menasihatiku. 


"Oke mah, Key akan selalu ingat pesan mamah. Key juga akan sering nanti berkunjung ke rumah mamah dan papah. Maaf kalau Key akhir-akhir ini sibuk karena pekerjaan Key yang menumpuk." Jawabku panjang lebar. 

__ADS_1


"Semangat ya Key, kalau begitu kami pamit pulang," kata papah sambil melambaikan tangan. 


Papah dan mamah pulang. Akupun segera menutup pintu rumah. Kulihat bang Ardan sudah tidur. Akupun juga ingin segera merebahkan diri. Rasanya penat sekali. Dan besok bersiaplah bang, hartamu akan diambil oleh debt kolektor. Hehehe. Tidur yang nyenyak ya, supaya karena besok kamu akan membutuhkan banyak energi! 


__ADS_2