
Arkana tak bisa menutupi emosi berkiprah di kepalanya. ada ingatan - ingatan yang sangat nostalgia, yang membakar seluruh amarahnya hari ini. nostalgia menyedihkan, yang ingin dia kubur dalam - dalam. mengingat itu kembali , dia mengencangkan kedua jari jemarinya pada roda setirnya , dan tindakannya itu di lihat oleh Safira.
Dari cengkraman itu, jelas Arkana sangat marah. Safira hanya bisa berdoa dalam hati karena arkana membawa mobil dengan kecepatan tinggi, karena mereka memasuki tol kota.
hampir beberapa kali dia harus menelan ludah,karena takut arkana khilaf , namun dia tidak bisa berkata apa - apa.
dia hanya bisa berharap untuk sampai dirumah dengan segera, masalah bila pria itu mau meledak disana atau tidak.
*****
Syuuuuut!
akhirnya mobil sampai tepat di depan pekarangan rumah milik arkana sagara. syukurlah, Mereka sampai tujuan. namun, begitu mesin berhenti. pria itu langsung turun dari mobil nya, dan dengan cepat dia berputar menuju sisi pengemudi dimana Safira berada.
Dak!
pintunya terbuka dan tangan wanita lagi - lagi di tarik Arkana. Sekali lagi dia harus menutup mata, karena iya benar-benar akan menjadi bulan-bulanan Arkana lagi. Tanpa banyak bicara dia mengikuti Arkana.
"Sore Pak.. " bik Ratih baru saja akan menyapa, melihat Arkana memegang tangan Safira dengan raut wajah tak menyenangkan, langsung beralih
pada wanita yang ada di belakangan, yang ditariknya.
Dari milik mukanya bik Ratih sepertinya hendaklah Bertanya. " ada apa lag" . namun, dalam posisinya ini, tentu wanita muda itu tidak bisa menjawab.
dia juga tak bisa menyapa bik Ratih, karena situasinya tidak memungkinkan. tangan tegang yang memegang nya tak memungkinkan hal itu terjadi.
dan pria itu terus membawanya, sepertinya hendak masuk Kekamarnya.
pria itu membawa Safira Kekamarnya, kamar pribadinya.
ke, kenapa kesini ? Safira menelan ludah. tepat pintu terkunci, Arkana melepas pegangannya pada Safira. dia tidak tahu bekas pegangannya itu membuat bekas merah pada pergelangan tangannya saking kuatnya dia memegang. karena sebetulnya sakit Safira spontan memegang pergelangan tangannya sembari takut - takut melihat Arkana yang sedang bertolak pinggang di hadapannya. Arkana belum berbicara namun segera dia membuka jasnya dan melemparkannya ke sembarangan tempat.
jatuhnya jas itu menandakan pertanyaan - pertanyaan neraka arkana, akan mulai dari sekarang.
" Sejak kapan kamu dekat sama Rendy? " Ya, pertanyaan itu keluar dengan hawa panas itu mulai menyelimuti suasana kamar yang harusnya dingin.
" Saya... sejujurnya saya tidak kenal dengan pak Rendy. pak Rendy berhubungan langsung dengan kampus saja jadi saya... oleh karena itu saya butuh sesuatu pada pak Rendy. jadi kami mengobrol sebentar tadi. " jawab Safira pelan - pelan.
" Butuh? kalau kamu butuh kenapa tidak bilang sama aku" lipatan kening itu menyeramkan, Safira sampai harus memalingkan muka karena takut.
" Saya... itu.....saya.. "
Biar aku peringatkan kamu sekali lagi. jangan pernah coba mendekati teman temanku ! " arkana punya alasan yang kuat untuk melarang Safira mendekat.
"Saya bukannya berniat untuk mendekati teman-teman bapak... tapi tadi itu memang saya..
saya perlu bicara dengan pak Rendy! " tak tahu lagi dari mana Safira harus menjelaskan.
Bicara? kamu pikir saya buta? " jelas -jelas arkana melihat wanita itu sepertinya ingin melakukan pendekatan pada Rendy dengan cara yang basi. Menumpahkan kopi ? hahaha! lucu sekali.
__ADS_1
Safira tidak berani berkata apa - apa . sepertinya menjelaskan apapun pada arkana tidak akan gunanya. untuk apa juga dia bercerita tentang beasiswa yang dia dapatkan dari perusahaannya Rendy? Dia tidak akan peduli. Pria itu pedulikan dia harus mendengarkan kata- katanya saja .tapi, pasti pada salah paham padanya karena dia membeberkan pernikahan mereka bukan?
Bapak tenang saja, tadi itu pembicaraan nya bukan tentang pernikahan saya sama bapak.. saya tidak tahu kenapa pak Rendy tahu tentang pernikahan saya sama bapak, tapi sungguh.. pembahasannya bukan tentang itu" dalam pikiran Safira, arkana pasti Menjaga dirinya menyebarkan rumor tentang pernikahan mereka berdua.
sungguh... saya sama sekali tidak memberitahunya. "
Tiiiiiiin!
Tepat saat dia berhenti bicara , dia mendengar suara mobil dari bawah. mendengar dari bunyi klaksonnya. arkana tahu siapa yang datang itu pasti mobil mamanya. arkana lantas menghentikan kemarahannya dan kembali melihat Safira. "Turun dan temui mama di bawah dan bilang saya sedang mandi. " Ucap pria itu yang kemudian menghentikan
amarahnya.
mendengar itu Safira mengangguk pelan.
Tunggu apa lagi? "
Dengan cepat Safira beranjak dari tempatnya, ketika dia turun ke bawah dia melihat Keisha berlarian kearah neneknya dan juga nenek buyutnya.
Safira turun menuju tangga dan kemudian memberi salam pada nenek moyang dari arkana dan juga Maminya. " assalamu'alaikum ma.. " sapa Safira pada nenek arkana dan juga, maminya arkana.
"Waalaikumsalam nak...!
Nenek dan juga mami melihat Safira dari atas sampai bawah, Rasanya ada yang kurang di mata mereka ketika Safira turun. Safira masih saja menggunakan celana jeans dan juga kaos . dia seakan-akan memang masih berstatus orang mahasiswa saja, bukan seorang nyonya. Mami dan nenek buyut saling ber pandangan lalu kemudian mami pun berkata pada Safira. "Safira di mana Arkana? "
" pak Arkana lagi di atas bu... barusan bilangnya mau mandi" Jawab Fira.
"Aah, itu... Maksudnya mas Arkana mi" ya lupa kalau ada mami nama panggilan pak Arkana harus Berubah menjadi mas Arkana.
"Hehehehehe... pengantin barunya juga masih seminggu lebih, masih bingung manggil mas atau pak. " Neneknya arkana terkekeh dengan senyumnya memperlihatkan gigi kuningnya. Meski sudah tua, gayanya masih terlihat modis. dan pastinya, hal itu terpengaruhi oleh anaknya sendiri yaitu Mami arkana.
"Nanti setelah arkana selesai mandi ngobrol bareng ya...? " Ucap Mami , sekali lagi dia melihat gaya pakaian Safira dari atas sampai bawah.
\*\*\*\*\*
Air mengucur deras menyesap keseluruh tubuh Arkana hingga basah kuyup di bawah shower miliknya, kenangan lama melintas kembali dalam pikirannya ketika melihat adegan Safira dan Rendy
bersama tadi. sahabatnya,
arkana memang tidak punya perasaan apa - apa pada Safira, dia malah membencinya. tapi apa yang di lakukan Safira saat ini sebagai istrinya yang terlihat dekat dengan Rendy kembali memicu nostalgia lamanya yang muncul di hadapannya. Dulu Kanaya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, Mario. Entah apapun yang terjadi pada mereka saat ini dia juga tidak peduli. Tapi yang di lakukan Safira benar-benar membuatnya geram.
apa karena tidak mendapatkan perhatianku
lantas dia mencoba menggoda Rendy?
__ADS_1
pria itu menyapu rambut basahnya yang tersapu oleh air , dengan berat. apa Safira memang gadis seperti itu?
wajahnya menatap siluet dirinya di kaca.
menatap dirinya sendiri, sebelum akhirnya, dia selesai mandi dan mengelap dirinya lalu memakai baju.
Tepat ketika dia masuk ke dalam kamarnya dan hendak mengganti baju tiba-tiba ketukan pintu berbunyi. dari caranya mengetuk di tahu ketukan itu adalah ketukan dari Safira. " Ada apa? "Tanggapnya dengan acuh tak acuh.
Ibu Mami... Euh ... mami mau bicara dengan pak arkana.... dan saya"
arkana terdiam sejenak.
mengabaikan nya sejenak dengan kaku, lalu berkata. aku akan turun tunggulah. "
"Baik... "wanita itu kemudian berbalik pergi, tanpa Melihat arkana lagi dan menutup pintu.
Amarah arkana terendam, setidaknya karena maminya dan eyang datang , dia mungkin marah - marah lagi.
*****
Arkana sudah segar dan wangi ketika dia turun. Tidak ada lagi wajah arkana yang terlihat berat di Matanya, ketika Safira melihatnya saat dia memotong kue di dapur. seandainya pria itu tidak marah - marah dengannya? Tapi...kapan dia tidak akan pernah marah - marah ?
sekali lagi, Safira melihat wajah tampan Arkana yang akhirnya memberi salim pada eyang dan juga Maminya.
Waah, beda ya kalau sudah ada yang ngerawat? " Eyang berceloteh , dengan tawanya.
Safira kembali berbalik ke belakang, tak mau melihat reaksi arkana . dia tahu pria itu tidak terlalu bisa menyembunyikan perasaannya lewat ekpresi apa yang dia alami.
" Ada yang perlu eyang dan Mami bicarakan sama kalian... "Eyang bersuara.
" Bik Ratih yang baru saja selesai memotong cake tape di dapur, memberikan piring yang berisikan cake tape itu pada Safira. Ya, bagaimana pun Safira yang harus mengantarkan cake itu. dia segera membawanya mendekat dan menaruh cake tape itu tepat di depan meja ruang tengah. seperti biasa , arkana sama sekali tak memandangnya.
Safira, duduk sayang ... " Ucap sang Mami dan mendengar perintah itu Safira pun duduk setelah meletakkan cake favorit Mami dan eyang itu. Entah kenapa Safira tak nyaman, kalau dia dan Arkana di dudukan seperti ini, apalagi dia samasekali tak bisa melihat Arkana di sudut sanah.
"Ini..... " Eyang menyerahkan sebuah kunci.
Arkana yang duduk dan memegang kedua tangannya, pelan - pelan terkejut lalu melihat kembali pada eyangnya. " Ini.... " Arkana sepertinya tahu apa yang di maksud dengan neneknya.
Iya... " Eyang tersenyum melihat Mami , lalu berbalik melihat pada Arkana kembali. " Kamu kan belum bulan madu... ini hadiah nenek buat kalian.. "
*****
__ADS_1