
Arkana menyaksikan kejadian itu dengan Mata Menyipit. Bagaimana dia tidak terkejut? Sejak kapan Safira dan Rendy saling mengenal?
dan.... apa - apaan yang mereka lakukan itu?
"Apa yang kamu lakukan di sini? "tatapan mematikan itu spontan Arkana berikan pada Safira, yang membuat nya seketika menunduk. Arkana melihat pada sapu tangan di Safira yang baru mengelap pakaian Rendy, yang terkena tumpahan kopi.
Melihat itu Rendy tidak bisa untuk tidak menjelaskan sesuatu. " jangan salah paham dulu kan. ini tidak seperti yang kamu pikirkan. "Rendy mencoba menjelaskan agar Arkana tenang. " kami disini bertemu karena ada sesuatu yang penting berhubungan dengan Safira-"
Kamu enggak pernah menjelaskan" potong Arkana. Arkana memang berkata seperti itu namun Rendy ragu bila dia tak salah paham, karena sepertinya pria itu jelas salah paham. apalagi dia mulai tahu bagaimana Arkana memperlakukan Safira.
"Ikut aku pulang sekarang! "Ucap pria yang sedang marah itu kemudian.
pulang? Rendy juga baru sadar , kenapa Arkana tiba-tiba ada di sini?
Pria tinggi itu melihat ke sekeliling, dan ternyata, Ada Beberapa petinggi di perusahaan yang Arkana di ujung sudut, dan sepertinya mereka akan sore disini. Untungnya , tidak ada satupun dari mereka yang melihat kearah sini.
Tanpa basa basi Arkana langsung membawa tangan Safira pergi, melangkah mendahului Rendy yang tertegun. "Arkana! " Rendy tersadar dan mencoba memanggil Arkana lagi, namun pria itu Sudah membawa istri nya menjauh. meski di bawa Arkana, Rendy belum bisa tenang. "kenapa dia begitu marah sih? " pria itu bahkan tidak mau mendengar penjelasan dari Rendy.
Safira melihat Rendy, meminta maaf dari jauh dengan cara menunduk, ketika tangannya di bawa Arkana dengan punggung dinginnya itu. tak lama kemudian, mereka menghilang dari balik pintu kafe besar ini. semoga pria itu tidak salah paham... " Bagaimana pun ,Rendy tahu kenapa Arkana bisa seperti itu.
__ADS_1
\*\*\*\*\*
dengan satu tangannya dia membuka telponnya sambil berjalan cepat, mencoba menelpon seseorang. satu tangannya lagi membawa tangan Safira, mengenggam pergelangan tangannya dengan kuat , hingga sebetulnya Safira meringis kesakitan.
Dia takut mengeluarkan kalimat apapun, mengetahui sikap dan sikap suaminya yang temperamental, dia lebih baik tidak mengeluarkan suara apapun, hingga sampai di rumah Arkana nanti
Toh, dia sendiri tidak berbuat hal - hal aneh bersama Rendy.
Lagi pula mana mungkin Arkana sagara cemburu, yang paling cocok yang membuatnya marah adalah, pria itu takut wanita seperti dirinya mencampuri kehidupan pribadinya bersama teman-temannya. Ya ,pasti begitu? "
Halo dimas, tolong aturkan pertemuan lain kali lagi, hari ini semuanya cuma jamuan makan malam saja, biaya makan adalah tanggungan perusahaan. aku tiba-tiba ada urusan jadi harus pulang dulu. Ucap Arkana benar-benar terkesan tegas.
Hah... aku tidak melakukan sesuatu yang buruk kan?
sambil menutup telponnya dengan amarah, Arkana akhirnya membawa Safira tiba di samping mobil pria itu. Arkana segera membukakan pintu bagian penumpang untuk Safira dan menyuruhnya masuk kedalam. " Masuk! "
Tanpa menjawab apa - apa lagi ,Safira masuk.
__ADS_1
Setelah menyuruhnya masuk, Arkana berputar menuju pintu bagian sisi kemudinya, dan masuk kedalam mobil.
Blam!
Emosi membuat Arkana membanting pintu mobilnya keras keras.
pak Arkana saya tadi itu bertemu pak Rendy karena-"
"Diam! " Arkana menyentak tanpa melihat wajahnya. "kalau kamu mau pulang dengan selamat lebih baik kamu diam sepanjang perjalanan. kata - kata itu Safira pun jadi diam, tadinya dia pikir dia harus menjelaskan sesuatu sebelum sampai rumah karena Arkana sepertinya marah besar, namun ternyata dia salah. Mulutnya lebih baik diam sampai rumah. Arkana benar-benar sangat menakutkan banding dengan penampakan amarahnya sebelumnya , saat ini yang paling sangat mengerikan.
BRUUM!
Begitu mobil melaju, jantung Safira berdetak kencang. Arkana mulai membawa mobilnya dengan
wajah jelas tak bersahabat. dia ingin sepertinya marah saat ini juga, namun dia terpaksa menahannya.
tak!
Safira terkejut, karena mobil melaju sangat kencang.
Ya, ampun. pak Arkana tidak berencana membunuh kami berdua kan... ?
__ADS_1
Safira hanya bisa berdoa agar mereka dengan selamat, sampai kerumah.
*****