
matanya mengerjap, namun dengan segera dia menatap kebawah, takut - takut hal barusan di sadari arkana.
"sebetulnya aku tidak butuh persetujuanmu , hanya memberitahumu... "Dia menghela napas, tampaknya dia belum selesai bicara tempat kamunya. " di sana Kamu bebas, aku tidak akan datang ke sana sampai waktu pulang Nanti, aku sendiri yang akan menjemputmu." Ucap arkana, terkesan acuh tak acuh
"Ya, baik pak" sudah seperti menjawab atasannya sendiri, Safira tak berani menatap arkana .
Satu lagi, selagi kita pergi nanti kamarmu akan di buatkan. jangan tidur di tempat anakku lagi " ucap pria itu.
Anakku lagi... kata - kata itu pengingat bagi Safira yang adalah orang asing untuk arkana.
Iya pak... " wanita itu jadi serba salah, karena dia sendiri di kamarnya, dia harus tidur di kamar arkana. Tapi kalau dia ketahuan tidur di kamar tamu oleh keluarga arkana lainnya, arkana akan di marahi berikut arkana juga yang akan memarahinya karena tidur di tempat lain.
" sungguh rumah ini benar-benar tempat di mana dia tidak bisa leluasa bergerak, kecuali dapur dan juga kamar anaknya arkana ini.
Baru beberapa minggu mereka menikah, suasana nya lebih mengerikan daripada hidupnya setahun ini terakhir ini. Hampir setahun ini dia bekerja magang di tempat- tempat yang sebetulnya tidak diketahui teman-temannya dan juga paman dan bibinya. dia pernah bekerja sebagai sales counter parfum mahal, bekerja di restoran, dan juga bekerja sebagai SPG .
Tapi kebanyakan adalah SPG yang normal dimana dia menggunakan jeans. dan jenis hidup itu lebih baik untuknya di banding berada dirumah seorang pria yang membencinya.
Menikahi seorang pria kaya, tidak terlintas dalam kepala Safira. Dibanding menikah dengan pria kaya, dia lebih baik menikmati hidupnya sendiri, bekerja lebih giat. memang benar, mana ada pria yang mau Menerima wanita miskin sepertinya?
"Contohnya sudah jelas bukan? dia dan arkana.
__ADS_1
Itu saja yang ingin kusampaikan... "
Baik Pak arkana "
Dengan begitu arkana pergi begitu saja, meninggalkan Safira di bawah dan menaiki tangga Menuju kamarnya. Empat hari disana dia memang bisa melakukan sesuatu, kembali mau buka - buka buku kuliahnya ,dan juga relaks.
Adalah hal yang menyenangkan juga, ketika tahu arkana tidak ada ditempat. Setidaknya keadaan tidak berjalan kaku diantara mereka dan tegang. ya, bila pria itu ada disekitarnya dia jadi takut dan tegang.
Baru saja dia hendak melangkah pergi, dia mendapatkan telpon. smartphone yang dia taruh sebelumnya disaku celananya dia rogoh dan ambil. Dia melihat nama yang menelpon. sebelum dia mengangkat nya, dia dihadapkan pada kenyataan bahwa terakhir kali bibinya menelpon adalah untuk meminta uang. Dia menghela napas panjang, mau tidak mau dia harus mengangkat telpon dari mantan walinya itu. " Halo assalamu'alaikum.. "
Walaikumsalam.. " Jawab tantenya di telpon sanah. " fira, Tante gak mau basa - basi lagi ngobrol nya sama kamu begini mana nih uang yang kamu janjikan sama tante. tante juga udah butuh duit ini untuk uang bulanan... kapan kamu mau ngasih tante? Ya minimal sepuluh juta lah per bulan. Kamu kan nikahnya sama orang kaya gak mungkin kamu gak punya uang..? " Culas sang tante di ujung telpon sana.
Arkana ,yang dari kamarnya hendak turun lagi , terhenti di tengah - tengah. dia melihat wanita itu sepertinya sedang menelpon. Safira membelakanginya , sehingga dia tidak bisa melihat kehadiran arkana dari tangga.
Tante Safira lagi gak ada.... kalau segitu banyak, Jujur Safira lagi gak ada.. " Jawab wanita itu, Apa tantenya berpikir kalau dengan menikahi arkana,dia mendapatkan banyak uang darinya? Wanita bernama Alma itu saja tahu kalau arkana terlihat membencinya, dan hal itu terlihat ketika akad dilakukan waktu itu.
Kalau Safira sudah ada duit pasti saya pilih kasih sama tante... Saat ini saja Safira tidak punya uang" bagaimana pun, itu adalah penghargaannya kepada wanita yang telah membesarkan dirinya bertahun-tahun . Tujuan Safira kuliah dan terus mencari prestasi adalah untuk bisa mengangkat derajat kehidupannya. meski kadang tak pernah mendapat perlakuan yang adil. dia berniat untuk membalas budi pada omnya, Gilang setiawan dan istrinya Alma anisa. Namun untuk saat ini, dia sama sekali tidak punya uang sebanyak itu." Safira kirimkan dulu Tante dua juta aja ya, di tabungan Safira tidak banyak tante" Ucap Safira kemudian.
Jangan banyak omong kosong kamu. tante tahu kamu lagi banyak uang, kamu tinggal di tempat nyaman banyak AC dan makanan - makanan yang enak. Kamu pikir tante tidak tahu kalau kamu menyembunyikan semuanya? ingat Fira kamu besar dari tante sama om... sudah seharusnya kamu balas budi"
__ADS_1
Ya tante , Safira tau banget posisi Safira tapi mohon tunggu dulu ya. tunggu sampai Safira punya uang"
"Hmmmh , Pokoknya bulan depan tante sudah mau dapat uang, kalau kamu nggak dapat, Tante akan minta sama suamimu "
Jangan tante , tolong jangan. Biar saya saja yang minta... Biar saja tante.." Saya kira tidak tahu bagaimana lagi harus menghadapi arkana, kalau tantenya sendiri yang meminta uang padanya. Dalam posisinya yang seperti ini saja dia sudah bingung menghadapi arkana, apalagi kalau tantenya yang minta uang sendiri pada pria itu. Bukan saja tidak disukai, dia bahkan di benci oleh pria itu. Posisinya akan tambah sulit lagi di rumah ini.
mendengar itu, arkana lantas memberinya tatapan dingin.
Safira sendiri selesai menelpon, lalu kemudian dia pergi ke kamarnya untuk kembali tidur di kamar Keisha.
" Pada akhirnya dia sama saja. " gumam arkana pada dirinya sendiri, menatap pintu itu dengan penuh tatapan dingin.
\*\*\*\*\*
__ADS_1