
Satu bulan sudah Mia berhenti bekerja , tujuan nya agar bisa lebih banyak istirahat karena kondisi badan nya yang mudah lelah setelah memasuki bulan ke tujuh kehamilan nya.
Tapi semenjak dirumah Mia , bukan nya bisa lebih banyak istirahat , tetapi seperti dibuat seperti pembantu.
Sebelum subuh Mia harus bangun untuk membantu menyiapkan kue - kue untuk jualan. setelah semua kue siap dan dibawa ke tempat jualan , Mia harus merapikan rumah dan memasak. Sedangkan dulu ibu nya Mia tidak pernah memaksa anak - anak nya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Tetapi Mia dan adik-adiknya selalu berganti untuk membantu ibu mereka. Sehingga pekerjaan mereka tidak terlalu berat.
Delapan bulan sudah usia kandungan Mia, Mia belum membeli perlengkapan bayi.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Mia baru selesai membantu menyiapkan bahan - bahan untuk membuat kue besok pagi , kue yang sudah jadi sudah Mia rapihkan di tempat yang tertutup. Dan tinggal dibawa besok pagi nya ke kios.
Setelah bersih - bersih Mia masuk kamar , tidak lama suaminya menyusul masuk ke kamar yang mereka tempati.
'Mungkin ini waktu yang tepat, untuk membicarakan persiapan melahirkan ' batin Mia.
" a " panggil Mia pada suaminya.
" hmm " sahut Asep. sambil merebahkan badannya di samping Mia yang sedang duduk ditengah tempat tidur sambil berusaha mengurut - urut kaki nya yang terlihat bengkak.
__ADS_1
" kita belum beli perlengkapan bayi " . ucap Mia
" ya , beli lah " jawab nya enteng.
Mia narik napas yang dalam agar meredam kekesalan nya terhadap suami nya ini.
" kamu udah ada uang untuk membeli perlengkapan bayi dan melahirkan. " lanjut Mia
Selama pernikahan Mia tidak pernah diberikan uang belanja oleh Asep. Karena menurut Asep, ia tidak bekerja dan Mia juga kerja. Uang upah membantu ibunya berjualan buat beli rokok dan kopi.
" Aku uang dari mana , aku bantuin ibu jualan cuma dikasih buat beli rokok dan kopi. kamu kan udah gak ngasih ibu uang buat belanja. Jadi aku udah gak dikasih uang lebih sama ibu. timpal Asep sambil duduk menatap istrinya.
"kamu sie pake berhenti kerja . Memang kamu udah gak ada tabungan? " lanjut Asep .
" ya dah lah , lagian juga percuma ngebahas itu dah terjadi." jawab Asep seenaknya.
"kamu ada tabungan tidak ? itu juga kamu punya kalung sama cincin kawin dari aku, jual aja dulu " lanjut Asep enteng.
" aku masih ada tabungan hanya sedikit . itu aku simpan untuk keperluan kalau bener - benar dah kepepet." jawab Mia sambil menatap suaminya dengan rasa kesal yang di tahan.
__ADS_1
" ya sudah pakai itu aja dulu ". ucap Asep
" iya , a ... besok anter Mia ke pasar buat belanja ." jawab Mia lagi.
"ngapain sih mesti repot kamu yang kepasar dah uang nya kasih ibu saja, nanti ibu yang belanja. kamu juga belum paham apa saja yang harus dibeli. "
" besok pagi aku ambilkan uang nya di ATM , sore kan ibu kepasar untuk keperluan jualan. Biar sekalian dibelikan ibu. " lanjut Asep.
" ya " jawab Mia pendek , sambil merebahkan tubuhnya yang lelah.
" Mana kartu ATM nya , aku pegang " ujar Asep
" besok aja, a " jawab Mia . Mia sudah hapal kalau suami nya itu jika memegang uang langsung keluar kumpul bersama teman - temannya.
" kamu sama suami sendiri , ketakutan di colong duit nya. berapa sih isi nya ? " lanjut Asep
Mia tidak menimpali lagi suami dia pura - pura tertidur , dengan memejamkan mata nya.
karena tak ada jawaban dari istri nya , Asep pun merebahkan tubuh nya didampingi istri nya. sambil memiringkan badannya membelakangi istri nya.
__ADS_1
Tak lama terdengar dengkuran , tak terasa air mata Mia keluar dengan sendirinya.
Harapan dengan menikah mendapatkan kasih sayang dan perhatian , tetapi yang terjadi malah sebaliknya.