
Sekarang kehamilan Mia memasuki usia 34 minggu dan seharusnya hari ini Mia harus kontrol ke bidan. Tapi karena Mia sudah tidak memegang uang sama sekali jadi nya tidak pergi ke bidan tempat biasa Mia kontrol kehamilan nya. Semalam Mia sudah bicara dengan Asep suaminya . Tapi menurut Asep,ia tidak enak harus meminta uang kepada ibunya.
Ya akhirnya Mia hari ini tidak memeriksakan kehamilannya, padahal udah mendekati hari kelahiran anak pertama nya. Dan seperti ada air 'merembes' dari ************ nya pun masih terjadi. Yang Mia lakukan sekarang hanya bisa berserah diri kepada Tuhan.
Hari demi hari pun berlalu menginjak 36 minggu Mia mulai merasakan perut nya sakit.
Ibu mertua Mia menyarankan Mia banyak berjalan. Mia pun mengikuti nasehat ibu mertua nya. Ibu mertua nya juga bertanya kenapa tidak kontrol, setelah Mia bicara tidak memiliki uang buat cek kehamilan nya pun hanya diam. Tidak memberikan solusi.
Hari kemaren kedua orang tua Mia dan Adik nya berkunjung . Mereka bercerita bahwa adik pertama yang baru lulus sekolah menengah atas akan melanjutkan sekolah. Dan mereka berencana menjual tempat tinggal mereka untuk biaya kuliah adik Mia. Karena sayang katanya adik nya pintar. Memang adik Mia yang satu ini prestasi nya selalu stabil juara umum terus disekolah. Walaupun Mia dan adik nya yang kedua nya pun sama - sama anak yang berprestasi. Tapi tidak sepintar adik Mia yang pertama. Mia ikut bahagia atas pencapaian adik nya , walau ada sedikit rasa sedih karena harus kehilangan rumah masa kecil mereka, bahkan mungkin itu satu - satunya harta berharga mereka.
__ADS_1
Keluarga Mia tidak terlalu lama kalau sedang berkunjung kerumah mertua Mia , karena mereka tahu keluarga Asep kadang sibuk dengan jualan mereka.
Mia juga tidak bercerita apa pun tentang kondisi dan kesulitan nya . Mia tidak ingin orang tua nya banyak fikiran dan merasa sedih.
Mia sedang membantu merapikan rumah bersama teh Ana . Sedangkan Asep sedang membantu ibu nya membawa kue - kue ke kios mereka. Tiba-tiba perut Mia benar - benar merasa sakit. Mia berusaha bangkit dari duduknya sambil meringis menahan sakit. Mia berusaha bangun dan coba berjalan sambil melirik jam yang menempel di dinding. Mia berusaha menghitung berapa menit sekali perut nya sakit. Soalnya ibu Mia berpesan kalau mau melahirkan jangan panik dan tidak perlu teriak - teriak. Lihat jam berapa menit sekali, jika udah lima menit sekali, berart bayi benar - benar sudah mau keluar.
Melihat Mia malah jalan bolak balik, kakak ipar nya jadi kesal.
" perut Mia sakit, teh . " jawab Mia sambil meringis merasakan perut nya sakit lagi .
__ADS_1
" ya duduk atau minum air hangat, bukan mondar mandir tidak jelas begitu. " timpal teh Ana.
" kamu kan belum masak , sana minum air hangat. terus masak, biar ini teteh aja yang kerjain. " lanjut teh Ana , tidak menyadari apa yang akan terjadi.
" M - Mia kaya nya mau melahirkan , teh ."jawab Mia sambil terus mondar mandir dan mengusap - usap perut nya.
" Apa ". jawab teh Ana langsung bangun dari jongkok nya karena tadi sedang mengumpulkan sampah daun pisang , sisa bungkus kue lapis buatan teh Ana.
" Tapi jangan kasih tau dulu ibu , sakit nya kadang muncul kadang hilang. Kata ibu Mia kalau mules nya masih jarang, itu tanda nya masih lama. " jawab Mia sambil meringis menahan sakit yang kembali Mia rasakan. Mia melihat jam masih tiga puluh menit sekali mules nya terasa. Mia berusaha tenang dan terus berjalan bulak balik didalam rumah.
__ADS_1
" ya sudah , nanti kalau memang sudah tidak tahan sakit nya kasih tau teteh ya..." sahut teh Ana. Walaupun teh Ana belum hamil dan melahirkan bahkan belum menikah, tapi teh Ana pernah menemani adik nya Ani melahirkan. Jadi tau seperti nya melahirkan itu sakit, karena adiknya aja sampai teriak teriak , menjambak adik ipar nya yaitu siyanto suami Ani.
Akhirnya teh Ana buru buru membersihkan rumah dan ia juga yang memasak. Teh Ana membiarkan Mia mondar mandir , mungkin itu akan membantu Mia biar bayi nya gampang keluar nya. itu yang teh Ana tahu.