
Amin merasakan lapar yang tidak dapat dibayangkan, tangannya gemetar tidak dapat menompang tubuhnya,
seketika Amin melihat kedalam sungai ia melihat Daun Teratai Musim Semi, Daun Teratai beracun.
“Ya Tuhan, hanya Daun Teratai ini yang dapat saya jadikan penganjal perut yang lapar, saya tau ini beracun, saya berharap ini tidak membunuh” Setelah Amin makan satu Daun Teratai beracun ia merasakan sakit perut hingga kepalanya jadi pusing dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Amin tersadar beberapa saat kemudian meraba raba dada, rupanya racun itu tidak merengut nyawanya, dan
dia merasa waktunya sudah mendekati subuh dengan tertatih - tatih dia berjalan ke arah gedung latihan sesual dengan janji yang dibuatnya.
Amin menahan rasa sakit, tongkat digunakan untuk meraba – raba arah jalannya, dengan gigih akhirnya sampai di Gedung Latihan dan dia menanti kedatangan Putri Daria di sana untuk jadi pasak latihan tinjunya.
Tidak lama dia berdiri menunggu, dia merasakan pintu Gedung Latihan di buka, dari wanginya langsung tau bahwa itu Putri Daria yang datang, dengan sakit yang diderita ia mencoba menegakkan badannya.
Amin mau menggerakkan mulutnya untuk menyepa, namun dia tidak memiliki tenaga untuk itu, Putri Daria
hanya berdiri didepan pintu tidak masuk, sesaat kemudian Putri Dari balik badan dan pergi.
“Ah mungkin ini masih terlalu subuh untuk latihan tinjunya,” Kata Amin pelan, dengan menahan agar tidak terbatuk karna tulang rusuknya yang patah jika terbatuk akan dirasakan kesakitan yang tiada tara.
Dengan tongkat ditangannya ia menompang tubuhnya agar berdiri tegak.
Putri Daria masuk kekamarnya ingin beristirahat setalah lelah semalaman mencari Amin dengan lelahnya, sesampai dia dikamar.
Putri Daria belum sempat beristirahat seseorang mengetuk pintu kamarnya, dengan berat Putri Daria membuka pintu, seseorang diluar adalah Jendral Dian.
“Tuan putri aku menemukan sebuah Peta Pusaka, dan mungkin ini sangat penting, coba Putri lihat?” kata Jendral
Dian memperlihatkan.
Putri Daria melihat dengan seksama,
“Ini reruntuhan Kerajaan Kerdil Kuno, Ini tidak jauh dari kita, namun di sini terlihat jelas, ini sebuah makam, didalamnya banyak terdapat jebakan, kalau kita kesana kita musti membawa budak banyak” Kata Putri Daria.
“Tapi Tuan Putri” kata Jendral Dian agak ragu.
Jendral Dian tahu para budak akan dijadikan sebagai tumbal jebakan saja, di Kerajaan hanya budak yang tidak ada hukum diatasnya, sehingga pemanfaatkan budak lebih efektif dari pada seorang biasa, namun mengorbankan mereka tanpa perhitungan juga akan sia - sia.
__ADS_1
“Tidak masalah di istana ada sekitar dua ratus budak kita hanya butuh sekitar 20 saja, untuk itu buat saja undian, siapapun yang jadi terpilih kita akan membawa mereka untuk melacak jebakan dan itu semua tergantung pada nasibnya”. Kata Putri Daria
Jendral Dian menganguk setuju, setelah mengatur strategi dengan matang akhirnya Jendral Dian pergi
untuk menjalankan rencananya.
Dihalaman belakang istana.
Sebuah lonceng besar di dibunyikan enam kali, menandakan para budak istana untuk segera berkumpul, tanpa kecuali Aminpun dengan tertatih – tatih pergi untuk berkumpul.
Bibi Yuna tidak sengaja melihat keadaan Amin dalam keadaan sangat buruk, Bibi Yuna mendatangi Amin
yang agak jauh darinya berdiri, dengan spontan Bibi Yuna langsung memeriksa keadaannya. Selama ini Bibi Yuna jarang jumpa dengan Amin karna dia dipekerjakan ditempat yang jauh selama berhari - hari.
“Nak kenapa dengan lukamu nak?” Kata Bibi Yuna, merasakan kasihan, tubuhnya sangat kurus ditambah lagi dengan dengan luka menbuat Amin seperti manyat.
“Bibi saya tidak apa - apa, Saya akan baik - baik saja, Bibi Yuna jangan menangis!!, Saya ini anak laki – laki saya sangat kuat” Kata Amin sambil memperlihatkan biseb tangannya seolah kekar padahal hanya tulang saja.
Namun Bibi Yuna hanya bisa menagis terisak melihat kerabatnya bernasib menyedihkan.
Tiba - tiba Seorang prajurit berdiri, di depan sebuah pentas tinggi dan berteriak dengan keras.
Hal itu diketahui oleh semua orang yang telah lama tinggal di istana atau yang telah lama berkerja disana, mereka digunakan untuk hal - hal yang sangat berbahaya seperti memburu siluman, atau dijadikan tumbal berburu, pada umumnya mereka yang dapat bertahan hidup hanya 1 % saja.
Semua budak nampak gugup, tidak terkecuali Bibi Yuna, namun Amin jelas tidak begitu memperdulikannya.
“Semuanya!! di sini ada nama kalian didalamnya, dan saya akan mengambil didalam botol ini nama siapapun yang terpilih dia akan dibawa untuk jadi peserta” kata prajurit memperlihatkan botol.
Lalu prajurit memanngil satu - persatu peserta, setiap peserta yang terpilih mereka menjerit histeris, Amin bisa mendengar setiap nama yang dipanggil mereka seperti kehilangan semangat hidup.
Pada panggilan ke 15 Bibi Yuna terpanggil, Bibi Yuna histeris dan gemetar, tubuhnya seakan tidak percaya dirinya yang dipanggil.
“Tenagkan dirimu Bibi” Kata Amin namun.
Bibi Yuna terlalu syok lalu Ia pun jatuh pinsan, namun datang beberapa prajurit hendak membawanya secara paksa walaupun Bibi Yuna pingsan.
“Jangan, aku akan ikut kalian sebagai penggantinya, bawakan aku saja” Amin meraba - raba dengan tongkatnya dan berjalan kedepan.
“Bagaimana ini apa ini diperbolehkah” Tanya Seorang Prajurit kepada temannya.
__ADS_1
“Tentu saja diperbolehkan bawakan saja dia” kata Prajurit itu.
Seorang Prajurit menarik tongkat Amin, dan Aminpun mengikuti, semua yang terpilih menjadi histeris, mereka dapat merasakan mautnya.
Amin dan rombongan dirantai dilehernya bersama dengan budak lain dalam satu untaian rantai sehingga tidak bisa melarikan diri.
Mereka berjalan dalam satu barisan, jika saja ada satu teman yang jatuh maka semuanya akan terhambat, Amin luka dalam dan patah tulang terkadang merasakan nyeri yang amat menyiksa. Sementara Amin peserta termuda dengan usia belum genap delapan tahun.
Seekor kuda berjalan didepan menarik rantai leher para budak, seperti seseorang menarik lembu, dan Putri Daria dan Jendral Dian dalam kereta kuda berjalan paling depan, dikawal oleh puluhan Prajurit Istana.
Putri Daria dilibatkan karena dia merupakan orang terjenius yang pernah ada dikerajaan awan, dia mengerti setiap peta dan juga bisa membaca tulisan tulisan kuno, sehingga bisa dikatakan Putri Daria adalah orang terpenting dalam operasi ini.
Sesampai di sebuah Reruntuhan Kerajaan Kerdil Kuno, Putri Daria, turun dan membaca cara buka pintu gerbangnya, setelah dipelajari lama rupanya pintunya di segel dengan pola kuno, dalam bahasa Orang Kerdil.
Putri Daria bisa membuka segel itu dengan mudah, dia menggigit telunjuknya hingga mengeluarkan darah lalu dia mulai menbuka segel, dalam hitungan menit sebuah pintu besar terbuka, terlihat didialam ruangan banyak rangka manusia yang bergelimpangan.
“Jendral Dian berkata, lepaskan para budak!! Suruh masuk mereka kedalam,”
Seketika terdengar jeritan ketakutan para budak untuk masuk keruangan gelap tek berujung, namun mereka terpaksa masuk.
Putri Daria mulai dari Istana ia tidak perduli dengan budak yang dibawa para prajuritnya, itu sama saja mereka tetap budak, para budak terdengar ribut - ribut saling mendorong tidak ada yang mau masuk.
“Penggal saja mereka semua!!” Teriak Putri Daria kesal.
“Tunggu !!, Aku akan jalan didepan, kalian semua ikutlah aku dari belakang!!”
Suara yang tidak asing di telinga putri Daria, Suara pukulan tongkat ditanah terdengar jelas, seperti detakan jantung Putri Daria,
Tak tok tak tok Tak tok
tak tok
Seorang bocah buta masuk pertama kali kedalam gua itu.
Putri Daria terkejut, Ia membentak Prajurit yang merekrut para Budak.
“Kenapa kalian berani membawa Budak Pribadiku ketempat ini ?!”Teriak Putri Daria marah,
Namun bocah buta itu telah hilang jauh dalam kegelapan gua bersama beberapa budak lainnya.
__ADS_1