Jalan Hidup Pendekar Sejati

Jalan Hidup Pendekar Sejati
Episode 3. Serangan siluman kekelawar


__ADS_3

Kuda dipacuan dengan kencangnya, malam gelap gulita  tidak ada cahaya rembulan dilangit biru,


membuat mata hanya dapat memandang sejauh beberapa puluh meter saja.  Long - longan serigala terdengar sepanjang perjalanan, dan itu bukan serigala biasa itu adalah kawanan Siluman Serigala Api. Terlihat cahaya api seperti kebakaran hutan dari kejauhan, namun itu semua ialah api yang di keluarkan oleh tubuh Siluman Serigala Api.


Seorang perajurit yang meminpin jalan dapat melihat sayup – sayup itu adalah kawanan serigala api yang menghadang jalan pulang mereka.


“Jendral itu adalah Siluman Serigala Api !”.Teriak Prajurit.


“Prajurit ku semuanya. Mari kita terobos mereka, ada berapa banyak Siluman Serigala itu..”. Tanya Jendral Dian.


“Sekitar dua puluh Jendral !!”. Lapor Prajurit.


“Baiklah semuanya serbu bersama, kita akan sanggub menerobosnya”. Kata Jendral Dian, yang membuat para prajurit penuh semangat.


“Serang!!”.


Semua Prajurit menyerang benturan serangan antara dua puluh Siluman Serigala Api dengan 100 pasukan terbaik Kerajaan Awan membuat para siluman serigala, menerima luka - luka serius dan beberapa tewas, namun disisi lain belasan prajurit juga luka - luka, setelah penyerangan itu. namun hal itu tidak berdampak pada Amin yang pingsan digendong salah satu prajurit berkuda. Setelah itu tidak ada perlawanan berarti dari siluman hingga sampai diKerajaan awan.


**


Diruangan Kesehatan Istana Amin terbaring lemah, telah seminggu badannya penuh balutan lukanya amat parah namun masih belum merengut nyawanya, Amin berjuang antara hidup dan mati karna luka - luka yang dalam disekunjur tubuh, terkadang ia berteriak mengigau dalam tidur memanggil nama ibu dan ayahnya.


Seorang wanita pelayan tua istana bernama Bibi Yuna selalu mengontrol keadaanya, itu disebabkan Bibi Yuna berasal dari Lembah Bambu,  oleh karna itu ia melihat Amin adalah seperti sesosok terakhir dari tanah kelahirannya maka ia memohon kepada Raja mengizinkannya merawat Amin.


Amin membuka mata ia melihat sekelilingnya mendapati dirinya dalam ruangan, namun seluruh tubuhnya


tidak dapat digerakkan dengan leluasa.


“Dimana aku. apa aku telah mati ?”. Guman Amin.


Setelah seminggu koma, Bibi Yuna melihat Amin siuman dan membuka matanya,  Bibi Yuna kelihatan sangat senang, dan langsung mendekatinya. Mengamati raut muka Amin yang sebenarnya dapat dikatakan anak yang sangat tampan.


“Nak apa kau baik - baik saja ?”


“Dimana Aku? Siapa Bibi ini ?”


“Kamu berada di Istana Kerajaan Awan, Saya.. panggil saja Bibi Yuna”.


Sekilas Amin teringat ibunya yang masih berdiri bertarung dengan para Siluman Serigala Api


dengan gagah berani, tidak seperti dengan ayahnya yang pada saat itu kemungkinan besar telah gugur duluan.


“Bibi Yuna.. bagaimana keadaan ibuku..dan keadaan kampung ku?”.


Mendengar pertanyaan Amin Bibi Yuna terdiam sejenak, ia tahu bahwa semua orang di Lembah Bambu tidak


ada yang selamat. Namun, untuk memberitahukannya tidaklah mudah. Bibi Yuna sebenarnya juga bersedih dikampung itu seluruh keluarganya tinggal termasuk ibunya yang masih hidup kala itu berserta keluarga besar lainnya, hanya saja ia tidak kembali kekampung halamannya lebih dari sepuluh tahun.


“Nak ibumu dan warga lainnya sedang dalam pencarian, kalau dapat tentu akan dikabarkan lagi oleh


pihak Kerajaan”.


Kata Bibi Yuna membuat alasan yang sebernarnya sudah tidak adalagi yang tersisa.


“Bibi !. Sebenarnya sebagian dari warga melompat kejurang Lembah Bambu, namun apakah ibuku juga melakukan


hal yang sama, aku akan mencari ibuku, kemungkinan besar ia menerima tawaran Raja siluman Serigala Api untuk melompat ke jurang Lembah Bambu,”. Kata Amin seraya mencoba berdiri namun langsung ditahan oleh Bibi Yuna.


“Nak !. Dengarkan aku, para prajurit sedang melakukan pencarian dan kemungkinan besar apabila ditemukan ibumu akan dibawa kemari”. Jelas Bibi Yuna menenangkan.


“Baiklah Bibi Yuna, sekarang aku merasakan tubuhku sudah dapat kegerakkan, tolong bantu saya untuk keluar ruangan ingin menghirup udara segar di pagi hari”. Pinta Amin yang mencoba bangkit dan langsung di papah oleh Bibi Yuna.

__ADS_1


“Kita mau kemana nak..”. Tanya Bibi Yuna bingung.


“Keluar Bibi !. Kenamapu Juga boleh”.


“Baiklah, Bibi akan mengantarkan mu ke halaman belakang istana, disana tempat yang sejuk”. Kata Bibi Yuna dengan senyum.


Setelah keluar dari istana, Amin dapat melihat betapa besar dan indahnya istana serta dihiasi taman bunga begitu indah, yang selalu dirawat oleh belasan tukang kebun.


Di jalan menuju kehalaman belakang terdapat Para Dayang berumur belasan tahun dengan wajah cantik rupawan mereka nampak bercanda ria di pondok indah menikmati hangatnya teh, sesekali terdengar senda gurau mereka.


Jauh ke belakang Istana namun semakin indah pemandangannya, bunga dan bebatuan ditata dengan rapi. Seorang Anak Perempuan yang sangat cantic, pakaian mewah terbuat dari sutra jauh lebih mewah dari pada yang digunakan oleh para Dayang dan Muda - Mudi yang ditemui sebelumnya. Anak perempuan itu duduk bersila di atas sebuah batu dibawah pohon kabut awan seribu warna, matanya terpejam seolah ia tidak memperdulikan orang - orang yang melihatnya. Wajahnya indah dibiarkan saja disinari cahaya pagi, siapapun yang melihat pasti dapat menduganya bahwa ia adalah Putri tunggal Kerajaan Awan, Putri Daria Sang Dewi Pelangi.


Bibi Yuna memperhatikan Amin memandang Putri Daria dengan lama lalu dia batuk pelah, yang membuat lamunan Amin terpecahkan.


“Nak apa yang kamu pikirkan ?”.


“Bibi Aku, Aku dapat menduga bahwa itu Putri Daria yang amat terkenal, bukan begitu bibi..?”. Tanya Amin, sambil duduk disebuah batu yang jauhnya sekitar dua puluh meter dari tempat Putri Daria.


“Benar Nak. dan ingat baik - baik Tuan Putri walaupun ia anak yang baik namun juga ia sangat kejam, dan ia tidak segan - sengan mengesekusi orang - orang yang bermasalah dengannya”. Kata Bibi Yuna dengan wajah serius.


“Terimakasih banyak Bibi, Sekarang saya akan duduk disini beristirahat”. Kata Amin duduk bersila dan memejamkan matanya dan mulai merasakan energi alam dan menyerapnya untuk mempercepat pemulihan luka tubuhnya.


“Baiklah kalau begitu aku akan meninggalkan mu disini bibi akan membuatkan obat untuk mu”. Kata Bibi Yuna dan iapun meninggalkan Amin di sana.


Setelah satu jam Amin memejamkan mata menyerap energi alam, Amin dapat mulai merasakan energi di alam sekitar dan mengalir kedalam tubuhnya, ia dapat merasakan orang berjalan disekitarnya dalam radius puluhan meter darinya.  Lalu amin neningkatkan panca indranya mencoba merasakan lebih jauh dan ia dapat menemukan kupu - kupu yang terbang, serta dapat merasakan alam sekitarnya dalam belasan meter dengan akurat dan sempurna bahkan tanpa melihat.


“Wah ada apa dengan ku”


Amin terkejut panca indranya dapat merasakan benda - benda, di sekelilingnya. ‘apakan ini disebabkan luka


tubuhnya seringga membuka gerbang panca indra ke enamnya’. Batin Amin,


“Dari mana perasaan ku muncul, aura intimidasi yang kuat dari arah langit, dan ini bukan hanya perasaanku tapi aku dapat merasakannya dengan jelas”. Gumam Amin.


Tiba - tiba tekanan kuat lainnya muncul namun tak sekuat tekanan yang berada dilangit, namun tekanan muncul dari arah belakangnya lalu Amin menoleh kebelakang, betapa terkejut Amin melihat seorang kakek berusia 90 tahun, masih puluhan meter jauh darinya, dan merjalan mendekatinya, kakek itu tidak lain ia Guru Sufi.


Guru Sufi nampak tersenyum ketika beradu pandang dengan Amin, lalu Guru Sufi pun mendekatinya, karna sebelumnya berkat obat Guru Sufi pula yang mengobati luka - lukanya.


“Nak bagaimana keadaanmu sekarang?”


“Baik Kakek, saya sudah baikan”.


Guru Sufi memegang lengan Amin, memeriksa keadaan tubuhnya, mukanya mengkerut lalu ia tersenyum sambil menganguk – nganguk.


“Siapa namamu Nak..?”


“Amin kek”.


“Nak kamu memiliki tulang biasa, namun memiliki otot yang unik dapat meregenerasi sel – sel mu dengan cepat, artinya apabila luka maka kamu akan cepat sembuh, namun karna tulangmu tulang biasa bukan tulang pendekar, walaupun dapat ditingkatkan itu tidak akan meningkat banyak, karena itu saya pikir kamu akan sulit untuk menjadi pendekar hebat, dan sekarang kamu sudah berumur tujuh tahun bukan?”. Tanya Guru Sufi sambil mengelus - elus janggut panjangnya.


“kek apa maksunya dengan tulang pendekar”


“Begini tingkat kepadatan tulang itu beda, tulang biasa, tulang pendekar, tulang satria, dan tulang dewa, setiap tulang memiliki 10 tingkat kepadatan, tentunya di kerajaan ini hanya ada tingkat tulang satria, itupun hanya dua orang”. Kata Guru Sufi tanpa menyebutkan nama pemiliknya.


“Oh, Begitu ya kek”. Jawab amin singkat karna iapun tidak mengetahuinya apa maksut tulang - tulang


itu.


“Dengarkan Kakek !!. kamu mungkin akan sulit jadi pendekar besar namun, selama kau giat berlatih maka tidak ada yang mustahil, dan untuk kedepan berlatihlah dengan giat agar kamu bisa menerobos ke tingkat pejuang”. Kata Guru Sufi dengan senyum tipis.


“Terimakasih Kakek, Saya akan berusaha”. Kata Amin memberi hormat.

__ADS_1


Tiba - tiba Amin merasakan sesosok bergerak mendekatinya Sesosok yang kuat namun tidak sekuat Guru Sufi lalu Amin dengan cepat menoleh kearah sosok itu, sosok itu tidak lain adalah Putri Daria.


“Siapa kamu ?,kenapa kamu berada di tempat latihan ku ?”. Tanya Putri Daria dengan tatapan dingin.


Membuat suasana jadi canggung, semua orang tahu bahwa Putri Daria paling marah apa bila ada orang yang menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan keinginannya. Hal itu juga terlihat di wajah Guru Sufi yang tahu betul wataknya yang keras itu.


Amin membunkukan kepala sedikit memberi hormat.


“Oh. Tuan Putri, saya tidak tau karna baru pertama saya kemari”. Jawab Amin seadanyan.


“Hm, Apa orang tuamu tidak mengajarkan bahwa sebelum mendatangi rumah orang harus mengerti sopan


santunnya”. Pernyataan Putri Daria tentu ingin memancing kemarahan anak tujuh tahun itu, hal itu disadari oleh Guru Sufi.


“Tuan Putri bukan begitu, anak ini dia masih benar - benar bodoh karna adat diluar istana agak berbeda..”. Jawab Guru Sufi cepat.


Putri Daria hanya tersenyum sinis, lalu ia membalikkan tubuhnya dan pergi, dengan sekali loncat ia telah meninggalkan tempat itu, wajahnya sedikit terasa marah dan entah apa yang dipikirkannya hanya tuhan yang tahu.


**


Diruangan utama Kerajaan


Awan banyak perdana mantri dan para jendral berkumpul mereka membahas tentang keamanan Kerajaan Awan, penyerangan siluman secara terus menerus selama ini, Raja Diyu kelihatan pusing dengan keadaan yang dihadapi ia meminta pendapat para perdana mentri tentang solusi.


Perdana Mentri Ruli ialah mentri pertahanan yang cerdas, ia selalu dianggab memiliki banyak ide - ide cemerlang walaupun dibalik itu semua terkadang untuk kepentingan pribadinya.


“Yang mulia, hamba punya usul, bagaimana kalau kita mengirim prajurit dan ahli – ahli untuk memburu Siluman, Yang banyak membunuh kita akan memberikan hadiah, dan sebaliknya untuk setiap batu mustika yang diperoleh siluman itu akan kita beli dengan harga yang pantas.” Jelas Mentri Ruli.


Lalu Jendral Dian bangun memberi hormat menghadap Raja Diyu.“ Yang Mulia, hamba sedikit keberatan


dengan ide itu, menimbang sekarang setiap gerombolan siluman di sekitar kubah pelindung sekarang paling tidak mereka di tingkat kayu sampai dengan tingkat timah, dan itu sama saja kita bunuh diri, lagipula senjata dan baju jirah kita sangat minim, itu bukan hanya mencelakankan para perajurit, tetapi juga para ahli, di mana kita sangat membutuhkan tenaga mereka untuk melatih kader masa depan”.


Raja Diyu menganguk - nganguk, menimbang - nimbang, “Atau begini saja semua bangsawan mengirim kan saja seratus budak atau pasukan kelas rendahnya untuk mengurangi siluman di sekitar Kerajaan saja, dan itu tidak begitu membawa kerugian besar andaikan mereka tewas bukan?”.


Hai itu dengan cepat disetujui oleh Mentri Ruli, karna orang seperti Mentri Ruli budak terlalu banyak ia miliki, lain halnya dengan Jendral Dian yang tidak punya budak sama sekali, paling hanya pelayan dirumahnya dan penjaga rumahnya saja yang tidak tega dikorbankan begitu saja.


Namun keputusan Raja telah bulat bagaimanapun caranya siluman di sekitar Kerajaan harus dimusnahkah, walau hanya yang memburu adalah orang biasa atau tingkat pejuang yang pada dasarnya kesempatan pulang hidup - hidup hanya sepuluh persen saja.


Tiba – tiba ruangan menjadi gelap gulita, semua orang dalam ruangan menjadi panik.


“Kenapa matahari menjadi gelap..?”


Mereka berlari berhamburan keluar istana, yang mendapati langit dipenuhi oleh siluman burung gagak, dan mereka mencoba menerobos kubah pelindung kerajaan.


BROOOMMMMM  DROOOMMMMMM


Suara ledakan besar di atas kubah pelindung, semua rakyat jadi panik dan berlari berhamburan keluar rumah - rumah mereka menyaksikan apa yang terjadi,


“Gawat !! perisainya berhasil ditembus!!”. Seru prajurit istana dengan panik.


Tiba – tiba Gagak Hitam Raksasa Tingkat Perunggu Sebesar Dengan ukuran mencapai 6 Meter berusia 200 tahun, serta ratusan ribu Siluman Gagak lainnya sebesar kambing jantan, umumnya siluman Tingkat Pejuang dan Kayu, dan puluhan Tingkat Batu belasan Tingkat Timah. Aura pembunuh yang dikeluarkan sangatlah mengerikan, sehingga lagit menjadi gelap.


Raja Diyu keluar menatap langit dan beradu pandang dengan Raja Siluman Gagak yang berhasil


menerobos Perisal Kubah pelindung.


“Raja Siluman Gagak”.Kata Raja Diyu


Raja Siluman Gagak mengeluarkan suara melengking – lengking mengeluarkan perintah kepada para Siluman Gagak bawahannya.


“Habisi Semua Manusia”.

__ADS_1


__ADS_2