
Menjelang subuh di Taman Belakang Istana.
Amin duduk diatas sebuah batu dengan sebatang tongkat ditangan, Amin merasakan hawa dingin di menyelimuti tubuhnya, musim dingin disertai kabut tebal sehingga jarak pandang yang tidak jauh di kerajaan awan, efek juga dingin dirasakan semua kakyat.
Seorang kakek tiba - tiba mendatangi Amin, ia kasihan atas kejadian yang menimpa nasib Amin beberapa hari lalu, namun sejenak dia berhenti di kejauhan.
“Seharusnya anak itu didik dengan oleh kerajaan awan, bisa jadi dia akan menjadi pilar kerajaan. Namun mereka menghancurkannya tanpa alasan apapun, selain memusnahkan budidaya mereka juga mengambil roh mata dengan paksa. Ya, biarpun aku tahu muribku pelakunya, namun bila Raja dan yang lainnya tidak mendukung maka hal itu tidak akan terjadi” Batin Guru Sufi.
“Kakek Sufi kemarilah” Kata Amin datar sebuah senyum simpul terlihat diwajah bocah 7 tahun itu, seakan ia baik baik saja.
Kakek Sufi terkejut, bangai mana bocah ini bisa mengetahui saya, berjarak 20 meter darinya diam – diam tidak membuat keributan, 'apa dia bisa melihat' Batinnya.
Guru Sufi datang mendekatinya, dan memandang dengan seksama, mata Amin terbuka lebar namun semuanya putih, tidak ada pupil hitam disana seolah dihapus dari matanya. Namun wajah tampan penuh kesabaran tetap terpancar disana.
“Nak Amin maafkan sikap muribku padamu, nak” kata kakek Amin menyesal, pada saat sidang dia dalam perawatan dan sakit tidak tahu menahu tentang kejadian yang menimpa Amin.
“Tidak mengapa kakek, Ibuku selalu mengajariku untuk bersyukur kepada Tuhan, maka ujian dari tuhan selalu datang, bila kita lulus maka kita akan jadi pemenangnya” Kata Amin.
walaupun Amin berkata demikian namun hati Guru Sufi itu tetap merasakan kekecewaannya terhadap pihak kerajaan yang terlalu semena - mena.
“Saya minta maaf atas semua yang menimpa mu nak !, Saya tidak bisa membantu” Kata kakek Amin merasa bersalah, bagaimanapun jika bukan Amin menyelamatkannya maka ia telah tewas sekarang.
“Tidak ada yang salah kakek, saya akan baik - baik saja”
Tidak lama kemudian, berkelabat sesosok yang lain dia berada di tingkat kayu, dan mengintip sejauh 25 meter, kakek Amin tidak meyadari dia terus berbicara.
Amin tersenyum “Kakek Sufi !, Putri Darian berada di belakangku” Kata Amin dengan senyuman menghiasai wajahnya.
Guru Sufi mencoba mencari - cari dengan sudut mata tidak melihatnya, tidak lama kemudaian ia dapat melihat gaun lengan baju Putri Daria dibalik pohon. Guru Sufi menghela nafas panjang, lalu menoleh pada Amin yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
‘Apakah anak ini memiliki pendengaran yang sangat tajam’ Batin Guru Sufisambil menapat Amin yang tetap duduk tidak berpengaruh.
“Tuan Putri keluarlah!” Suruh Guru Sufi.
__ADS_1
Karena persembunyiannya telah bocor, dengan malu Putri Daria keluar, lalu berjalan mendekati Amin dan gurunya.
“Bua!!, berdiri jangan duduk disana!, sedangkan Guruku berdiri berbicara dengan mu” Bentak Putri Daria.
Kakek Sufi terkejut dengan sikap kasar muribnya itu, namun Amin, nengambil tongkat dan berdiri pelan - pelan, seperti seseorang sakit di sekunjur tubuhnya.
Putri Daria, baru teringat bahwa, itu pasti efek jarum perak yang digunakan padanya secara paksa, seberkas senyum senang terhias di wajah Putri Daria.
“Kenapa kau tidak lumpuh saja”
“Putri Daria cukup!, tidakkah kau bersyukur kalau bukan karena dia menyelamatkan nyawamu, apakah kau masih bisa bicara dan sombong begini didepannya ?” Kata Guru Sufi marah.
Perkataan gurunya seperti menusuk hati Putri Daria dengan kuatnya, mukanya jadi merah melihat Amin seakan ia ingin menelan Amin bulat – bulat.
Seorang Pelayan Istana berlari kebelakang istana ketempat mereka, “Guru Sufi!, Anda di panggil oleh Raja, Ada sesuatu yang mau dibicarakan !?”
Guru Sufi beranjak pergi tidak menghiraukan perkara kecil, dia bergegas mengikuti pelayan untuk menghadap raja.
“Aku beri kau dua pilihan, jadi budak atau kau akan keluar dari kerajaan awan” Tanya Putri Daria.
“Aku akan keluar dari kerajaan ini” Kata Amin datar.
“Baik dengarkan aku !, aku selalu melatih pukulanku, setiap latihan aku selalu butuh pasak manusia, untuk menahan pukulanku, dan para perajurit tidak akan menerima pukulanku, mereka yang harus menerima adalah budak, budak tidak ada kekuatan hukum dikerajaan ini” Kata Putri Daria.
“Saya Tidak tertarik jadi pasak!” kata Amin.
“Iya kamu tidak tertarik, kan kamu bukan budak, tetapi Bibi Yuna terpaksa tertarik!, dia adalah orang tua yang cocok untuk latihan” Kata Putri Daria.
Amin seketika keluar keringat dingin, Amin tidak mau apa yang menimpa dirinya meninpa pula Bibi Yuna, karena bibi itu telah banyak membantunya jadi dia tak ingin menyusahkan Bibi Yuna lagi.
“Bagai mana caraku agar bisa menebus Bibi Yuna, agar tidak lagi jadi budak ?” Kata Amin Serius.
“Aku ingin kau bersedia menjadi budakku, namun untuk menebus Bibi Yuna masih belum cukup, apa yang bisa diperbuat anak buta sepertimu?” Kata Putri Daria.
__ADS_1
“Tapi aku akan mengkuti segala perintahmu dengan patuh selama tidak dengan keyakinanku” Kata Amin.
“Apa itu!!” Tanya Putri Daria.
“Menyuruhku untuk ingkar ketuhanku, membunuh, atau perbuatan lainnya yang merugikan orang lain” kata Amin.
“Baik lah, aku akan membebaskan Bibi Yuna, namun sebagai uji coba selama lima tahun dan kau siap melakukan apa yang ku suruh, dan aku jamin tidak merugikan orang lain. selama 5 tahun kau bertahan maka Bibi Yuna akan aku bebaskan sebagai budak. Namun kau akan seterusnya jadi budakku mulai hari ini!, bagaimana ?”
Tanya Putri Daria, dengan senyum lebar ‘Pendekar petir aku memang tidak bisa membunuhnya dulu, namun aku akan menunggu tubuhnya menghasilkan tetanga dalam bidadari es yang kutanam pada tubuhnya selama 5 tahun aku akan memanen tenaga dalam itu, setidaknya elemen yang tidak dapat ku kuasai maka dapat kurebut seperti mata petir, dan keturunan mu akan kubuat mati perlahan – lahan’ Batin Putri Daria.
“Baiklah kalau begitu” Kata Amin menundukkan kepalanya.
kamu siap - siap di dalam ruang gedung latihan ku, buka bajumu, dan berdiri disana setiap hari dari subuh sampai siang, aku tidak mau dengar kau sakit atau lainya”. Kata Putri Daria.
“Baiklah jika tidak ada halangan” Kata Amin.
“Mulai sekarang kau budakku, persiapkan dirimu aku akan kesana sekarang, dan membawa padamu surat perjanjian” Kata Putri Daria.
Sebuah gedung amat besar serta luas di belakang istana genung itu dikenal dengan gedung latihan, disini para keluarga kerajaan melakukan latihan rutin. Para anggota kerajaan mereka menggunakan budak sebagai pasak penahab pukulan. Hal itu legal dikerajaan awan, karena budak tidaklah memiliki hak apapun.
Di tengah ruangan gedung latihan Putri Daria, Amin terlihat berdiri tanpa memakai baju, hanya celana panjang tua dengan sebatang tomgkat di tangannya, Amin berbadan kurus jelas telihat tonjolan tulang rusuknya, karena kekurangan makan, serta ditambah lagi Amin pemalu untuk meminta makanan kepada orang lain, apalagi seseorang seperti Bibi Yuna selama ini yang telah dijadikan budak, bahkan untuk hidupnya saja sulit.
Tidak lama Putri Daria datang dengan dua bilah pedang dilengannya, dan selembar surat penjannjian budak.
Amin dapat merasakan kehadirannya, namun ia hanya diam saja.
“Buta !!, kau tanda tangan kertas ini sebagai perjanjian” Kata Daria, dengan senyum lebar.
Putri Daria memberikan sebatang Pena pada Amin, lalu Amin menandatanganinya, surat tidak dibacakan, namun bagi Amin seorang pendekar pasti memegang erat janjinya.
“Penukaran sesuai perjanjian sudah di lakukan sekarang kamu jadi milikku” kata Putri Daria,
“Budakku”.
__ADS_1