
Siluman Burung Gagak berjumlah besar terbang di langit Kerajaan Awan. Membuat Dunia terasa gelap gulita. Kengerian terpancar di mata merah miliknya. Siluman Gagak kini siap menyerang warga di Kerajaan Awan.
Seorang perajurit bergegas meniup terompet perang yang sangat nyaring bunyinya, hinggga terdengar kepelosok - pelosok negeri.
Puuuuuuuuuaaahhhhhh Puuuuuuuuaaaaahhhh
Tanda perang dibunyikan, semua prajurit dan pendekar semua bersiap untuk menyamput peperangan besar dengan siluman gagak.
“Semua Prajurit siapkan panah..!!”. Kata Jendral Dian,
Semua Prajurit menyiapkan panah dan tombak serta berbagai peralatan perang lainnya. Semangat mereka mulai agak gentar ketika melihat jumlah gagak yang tak berujung.
“Apakah hari ini akhir dari kerajaan awan ?”. Tanya seorang Prajurit pada temannya.
“Walaupun ini akhir dari Kerajaan Awan, kita harus memberikan mereka perlawanan yang sengit !!”
Raja Siluman Gagak meraung – raung di udara dengan ringikan yang sangat mengerikan.
Aaaaaaaakkkkkkkk !!!! AaaaaaaaaKKKKKKK !!!,
Suara menggelega sama besar dengan suara terompet perang istana, seluruh siluman gagak mulai menukik dan menyerang manusia secara bersamaan.
Ank.. Ank… Ank.. Ank..
Ank.. Ank… Ank.. Ank..
Peranganpun pecah, Siluman Gagak menyerang warga tanpa pandang bulu. Prajurit menggunakan panah menyerang ke langit, sebagian menggunakan tombak. Para pendekar menggunaka berbagai senjata untuk bertempur.
Namun dalam sekejab suara Detuman Mengelegar.
Droooooommm Drooooommmmm
Suara itu adalah benturan kekuatan antara pendekar ahli, Raja Diyu dengan Raja Siluman Gagak. Raja Diyu mengeluarkan Pedang Pusaka.
“Hari ini Kau Raja Gagak, akan kupastikan hari ini kematianmu !!”. kata Raja Diyu mengerahkan tenaga dalam yang kuat kedalam pedang.
“Hahahaha ”.Siluman Gagak Tertawa Mengejek, “Malah aku yang berfikir kalian semua akan kumusnahkan kali ini..”. kata raja siluman gagak.
Siluman gagak mengeluarkan api hitam dalam mulutnya dan menyemburkan dengan cepat, api hitam itu sangat berbahaya, selain bisa menyebabkan keracunan api hitam akan memmbakar jiwa seseorang.
“Api Roh !!”. teriak Raja Diyu dan meloncat mundur.
“Kupastikan Api Roh akan melahap kalian semua..”. kata Raja Siluman Gagak.
Raja Siluman Gagak langsung menerjang menggunakan paruh dengan kecepatan tinggi, bahkan pedang pusaka Raja Diyu tidak dapat melukai paruhnya itu.
Raja diyu dan gagak bertarung dengan sengitnya dengan kekuatan yang berimbang.
Dihalaman belakang Para Dayang dan Pelayan banyak yang telah tewas, ratusan Para Perajurit Istana dan Para Pendekar datang membantu. Taman belakang berisi Keluarga Kerajaan, dengan jumlah ribuan siluman gagak menyerang daerah itu, membuat banyak para Pendekar dan Prajurit gugur.
Namun yang menarik perhatian, seorang Kakek Tua dikeroyok ratusan Siluman Burung Gagak yang membuatnya amat kewalahan dalam menghadapi Siluman Gagak dengan tingkat pejuang sebanyak itu,
“Aku Sufi !!, Pendekar Tongkat Sakti hari ini akan kubuktikan kesaktian tongkatku !!”.
Kata Guru Sufi sembari menancapkan tongkatnya ketanah dan mengeluarkan getaran yang menggema (Shock wave) sehingga siapa pun dalam radius 20 meter dekat dengannya akan mendapatkan efek yang mematikan, Siluman Gagak Biasa akan jatuh dan terluka parah, sebagian mati. Sementara Siluman Gagak Tingkat Pejuang yang mencoba mendekat sebagian besar mengalami luka dalam.
Namun serangan itu menarik perhatian Siluman Gagak Tingkat Batu dan Siluman Tingkat Timah, Seekor Gagak Tingkat Batu meraung - raung di angkasa.
Aaaakkkkk.. Aaaakkkk.. Aaaakk…
Langit diatas istana semakin gelap, semangat bertarung Guru Sufi telah memudar, melawan ribuan tingkat batu itu amat mustahil, apalagi ada Tingkat Timah. Kekuatan Siluman Tingkat Timah bisa lebih kuat dari manusia Tingkat
Besi. Ribuan gagak tingkat kayu terus menukik menyerang taman belakang Istana.
__ADS_1
Pukulan Getaran Tenaga Dalam (shok wave), sudah tidak berarti di tingkat ini, Guru Sufi memutar tongkatnya dan menerjang menyerang ribuan Siluman Gagak.
Drooooom…. Droooommm
Tabrakan kekuatan tenaga dalam Guru Sufi dengan Ribuan siluman Gagak membuat guru sufi terpental jauh dan memuntahkan darah.
Aaakkkk
“Seranganku rupanya sama saja dengan bunuh diri !!”. kata Guru Sufi batuk darah.
Dua pendekar lain mencoba melindungi Guru Sufi, dari serangan kedua, namun dengan satu serangan beberapa Siluman Gagak kedua Pendekar itu juga menerima nasib yang sama dengan Guru Sufi.
Aakkkk
Lalu sesosok bayangan putih bergerak dengan cepat berkelabat kearah Guru Sufi.
Buk.. Buk..
Dua tendangan kaki kecil telah memukul mundur dua siluman gagak tingkat kayu yang mencoba menyerang dua pendekar yang terluka parah.
“Guru aku datang membantu..”. Teriak Gadis mungil enam tahun mulai melompat menerobos ke dalam kawanan Siluman Gagak penyerang gurunya itu.
“Tuan Putri Daria, Jangan ceroboh !! Cepat bersembunyi..”. Seru Guru Sufi itu yang mulai khawatir.
Putri Daria tidak menggurisnya. Tanpa berkata sepatah katapun, Putri Daria mengangkat kedua tangan seketika dua pedang panjang melebihi panjang tubuhnya, muncul tiba – tiba dari tangan.
Semua pendekar yang ada di sana langsung dapat merasakan tekanan aura pedang itu, Aura pedang yang begitu menakutkan, beberapa Siluman Gagak Tingkat Biasa langsung jatuh pingsan.
Dalam seketika Putri Daria menjadi pusat perhatian semua mata, baik prajurit maupun pendekar yang ada disana, begitu juga para mahluk siluman.
“Sepasang Pedang Maha Dewi”.
Kakek tua itu seketika terkejut bukan main, ia telah berkelana di dunia ilahi lebih dari Setengan Abad, namun ia tidak pernah melihat dua pusaka surga ada ditangan Putri Daria. Lebih jauh ia tidak melihat
“Tuan Putri Daria dari mana kamu mendapatkan dua pusaka Surga ?”.
“Guru !!, Bukan saatnya berbicara mari kita kalahkan siluman - siluman ini dulu”. Kata Putri daria, Tanpa mendengar Jawaban dari gurunya ia langsung menyerang siluman dengan membabi buta.
Sepasang Pedang ditangan Putri Daria menjadikannya bagai Singa Betina Yang Haus darah, terus menebas Siluman Gagak dalam sekali serang, dan tidak ada siluman yang bertahan hidup setelah kena tebasan sepasang padang pusaka surga itu.
Pedang pertama disebut “Pedang Dewi Matahari”, berwarna merah darah yang memancarkan cahaya merah, bila terkena tebasan walaupun tergores sedikit saja, maka pendarahan tidak dapat dihentikan, serta luka
sangat sulit disembuhkan, serta dapat menebas mahluk sekebal apapun, kemampuan lain masih misteri.
Kedua disebut “Pedang Bidadari”, Pedang berwarna biru dapat meningkatkan tenaga dalam, serta dapat memberi efek beku pada tebasannya, kemampuan lain juga masih belum diketahui.
Putri Daria terus menebas dengan cepat. Tubuh mungil dengan sepasang pedang ditangan dimainkan dengan cepat membuatnya sangat anggun, ditambah putaran pedang membentuk biasan sinar warna - warni yang membentuk pelangi di sekelilingnya.
Semua mata yang memandang tanpa sadar menyebutnya dengan spontan.
“Dewi Pelangi”.
Tebasan tanpa ampun Sang Dewi Pelangi membuat terkejut Guru Sufi.
“Anak ini dalam waktu singkat telah membunuh puluhan siluman gagak, sehingga siluman Gagak Tingkat Pejuang sudah kehilangan niat bertarung dengannya, kelak anak ini benar - benar mengerikan”.
Para Prajurit dan Pendekar bagaikan mendapat semangat baru dengan kedatangan Dewi Pelangi, hati para pendekar tergerak semangat mereka mulai tersulut kembali.
“Ayo bangkit dan serang !!, bantu tuan putri !!”.
Semua Prajurit bangkit maju menyerang dengan semangat, dan berhasil menumbakan ratusan Siluman Gagak dengan cepat. Hal itu menarik perhatian Siluman Gagak Tingkat yang lebih tinggi.
Seekor Siluman Gagak Tingkat Perunggu, yang memantau di angkasan melihat banyak gagak yang talah tewas di halaman belakan istana, membuatnya murka.
__ADS_1
KWwwwaaaaakkk KWwwaaaakkk, Suara Parau Gagak Tingkat Perunggu Itu telah menarik perhatian seluruh siluman gagak di barbagai penjuru.
“Habisi bocah perempuan, bersama tua bangka itu..”. Seru Siluman Gagak Tingkat Perunggu pada
bawahannya.
Dengan komandonya semua gagak terbang menyerang ke dua kakek dan cucu itu, sekuat apapun mereka pasti tidak dapat berkutik dengan serangan sekuat itu.
“Putri Daria Mundurlah, atau kita akan terlambat,”. Pinta Guru Sufi dengan wajah pucat melihat ribuan gagak dengan berbagai macam tingkat, dengan perbandingan sepuluh kali lebih banyak dari sebelumnya.
Putri Daria menyadari hal itu namun untuk mundur sudah terlambat. “Guru cobalah bertahan untuk mundur sudah tidak ada waktu lagi”.
Guru Sufi sejenak melihat wajah Putri Daria yang masih sangat bocah, Jika dia mati disini sungguh disanyangkan.
“Putri Daria bersembunyilah dibelakangku aku akan menahan mereka, setelah itu carilah peluang untuk menyelamatkan diri.”. Ujar kakek tua itu, dengan wajah khawatir.
“Guru.. Tidak !! tidak ada waktu !!, Sekarang mari kita bertahan”.
Putri Daria sengara memutarkan pedang dengan cepat membentuk perisai Dewi Pelangi Sejati. Dirinya telah siap untuk menghadapi benturan serangan dengan Silumam Gagak.
Para pendekar kehilangan semangat bertarung ketika melihat ribuan siluman gagak menyerang ke arah mereka, lalu mata mereka tertuju kearah Dewi Pelangi dan Kakek Tua yang sedang terluka parah.
“Dewi Pelangi, seorang bocah yang mencoba mempertahankan kerajaan, namun kekuatan kami tidak lagi tersisa”. Kata seorang perajurit yang telah jatuh kehabisan tenaganya.
“Bertahanlah Tuan Putri”. Prajurit Lainnya juga berteriak dengan putus asa.
Akhirnya benturan dahsyat tak terelakkan, benturan dahsyat menyapu segalanya di area tersebut dan membuat getaran hebah hingga merobohkan bagunan – banguan disekitarnya.
Guru Sufi dan Putri Daria terpental jauh dan mengeluarkan darah segar, Putri Daria bangkit dengan terhuyung – huyung, tubuhnya sudah sangat lemah, kedua pedang terpental jauh, sedangkan Guru Sufi sudah tidak
dapat menggerakkan tubuhnya lagi.
Ratusan Siluman Gagak juga terluka dan sebagian tewas akibat benturan tadi, di angkasa suara parau Siluman Gagak Tingkat Perunggu masih mengaung - ngawung bertambah murka.
KWwwAaaaakkkkk, KWAaaakkkk,
Mendengar jeritan itu, dengan seketika Siluman Gagak dalam jumlah ribuan kembali lagi menyerang Putri Daria dan Guru Sufi.
Guru Sufi dan Putri Daria telah tak sanggub lagi bertarung, ia memandang gurunya, yang kelihatan lebih tidak berdaya darinya.
“Guru, hari ini kita akan mati bersama..”. kata Putri Daria, dan batuk mengeluarkan darah segar.
“Tuan Putri Maafkan Gurumu yang tidak bisa melindungi mu..”.kata Guru Sufi dengan memejamkan matanya bersiap untuk menghadapi kematian.
Siluman Gagak meluncur dengan kecepatan tinggi sehingga benturan tak terelakkan untuk kedua
kalinya.
DROOOOOOMMMMMMM, DROOOOOOMMMMMMM
Benturan lebih Dahsyat dari yang pertama yang menghancurkan tembok dan tanah disekelingnya, membuat debu berterbangan sehingga tidak terlihat apapun didalam tabrakan kekuatan itu yang dahsyat itu.
Semua pendekar dan perajurit menjerit, mereka tidak sanggub menahan air mata.
Sebagian mereka mulai berteriak dan menangis histeris,
“Tuan Putri…!!!”.
“Tuan Putri..!!!”
Didalam debu yang masih berterbangan yang begitu pekat, tersdengar sebuah suara harapan.
“Tenaga Dalam Bidadari,!! Pukulan Ganda !!”.
__ADS_1