Jalan Hidup Pendekar Sejati

Jalan Hidup Pendekar Sejati
Episode 9. Kehilangan


__ADS_3

Putri Daria tersenyum lebar melihat Amin yang buta berbadan kurus berdiri untuk jadi pasak pukulannya, tidak berotot hanya tulang berulang dapat dikatakan tengkorak dari pada pasak manusia.


Putri Daria tersenyum membatin “Dewi Bidadari Langit, dan Kau Si bodoh Dewa Petir, Lihatlah keturunan mu yang


menyedihkan ini, mata buta, kurus kerempeng, dan sekarang menyerahkan nyawanya padaku, apa kalian mempermalukan diri kalian sendiri !, Atau kalian berpikir aku tidak mempu membunuh seorang budak!?, Kalian salah!, Aku Dewi Penlangi membunuh ribuan orang tanpa berkedip, apalagi untuk membunuh seorang seperti keturunan kalian yang menyedihkan ini, aku hanya butuh satu pukulan tangan saja”.


Amin hanya berdiri tidak bergerak tidak terlihat sedang mempersiapkan untuk menahan pukulan, Putri Daria terlihat sangat bersemangat, dulu untuk mengalahkan nenek moyangnya dia tidak berkutik sama sekali sekarang setidaknya dapat membalaskan dendam pada keturunannya.


“Nisa!, Ishal!, kalian akan mengaku kalah, jika aku dapat membunuh sitolol ini bukan?” Gumam Ratu Daria.


“Buta !!, bersiaplah aku akan melakukan pukulan” kata Putri Daria seakan nafsu membunuh nya meluap - luap.


“Baiklah” kata Amin yang hanya berdiri saja dan tidak bersipa mengeraskan badan.


Hiakkk….


BRUUUKKK


Amin kena pukulan lalu terpental jauh, Putri Daria menggunakan 10 persen tenaganya.


Amin mengeluarkan banyak darah dimulutnya sepertinya beberapa tulang rusuknya bergeser, Amin masih dapat berdiri dan dia maju untuk menahan pukulan selanjutnya.


“Bagaimana jika aku memukulmu lebih keras” Tanya Ratu Daria  dengan senyum sinis.


“Tidak masalah Tuan Putri” Jawab Amin sembil tersenyum pahit.


Melihat senyuman Amin membuat Putri Daria semakin marah ia teringat dengan nenek moyangnya yang begitu sombong, lalu Putri Daria tidak menahan diri untuk memukul tengkorak itu.


BrooooooookK,


Sebuah tinju dengan tangan kecil Putri Daria, membuat Amin terbang jatuh tersungkur terbentur dinding seketika itu juga tulang rusuknya patah dan ia tidak sadarkan diri.


“Dasar sampah” Gumam Putri Daria.


Para pengawal bawakan dia ke kandang kuda yang kosong disana, latihan untuk hari ini sudah cukup walaupun aku tidak puas sama sekali.

__ADS_1


Dua pengawal membawa Amin dan meletakkannya di atas jerami dalam kandang kuda, Amin mengalami patah tulang rusuknya dan luka dalam yang serius.


Malamnya Amin tersadarkan, Amin mendengar suara kuda disekeliling lalu ia sadar dia dikandang kuda, Amin


merasakan nyeri yang sangat sakit karena 3 tulang rusuknya patah, dia mencoba meraba - raba, namun tubuhnya sangat lemas.


Amin merasakan lapar sudah 2 hari tidak makan, memang lapar 2 hari pernah dirasakan, namun tidak sesering sekarang waktu dia tinggal di Kerajaan Awan.


Ia meraba - raba mencari bajunya, setelah dia dapatkan baju tak jauh darinya, Amin mengambil lengan bajunya yang panjang lalu dikoyak jadilah seperti sebuah tali, Amin mengikat perutnya dengan lengan baju untuk merigankan rasa laparnya.


Amin mencoba duduk, tangan kiri memegang dada yang sakit, kemudia dia keluar dengan meraba raba dengan tongkat perlahan lahan ia pergi ketepi sungai belakang istana, rembulan bersinar terang namun tidak berpengaruh dengan matanya yang buta, baginya dunia gelap.


Setelah berada dekat tepi sungai perlahan ia menyeduk air yang jernih itu dengan tangannya lalu dia meminumnya untuk menghilangkan rasa laparnya.


Dari jendela kamar Putri Daria di Istana dapat melihat seluruh taman belakang dengan sempurna karna kamarnya berada di lantai lima.


Di malam hari dengan sinar rembulan terang Putri Daria, duduk didepan jendela menatap langit terkadang rindu kembali kemasa lalu namun hal itu tidak mungkin, karna dia telah terlahir dimasa yang berbeda, kelanjutan ceritanya hanya dapat dia baca melalui buku - buku.


Putri Daria tiba – tiba dengan sesosok orang berjalan keluar dari kandang kuda dia tidak lain ialah Amin, ia melihat Amin berjalan sedikit terhuyung - huyung dan terbungkuk - bungkuk ke sungai, dia terus mengamati dari jendelanya.


Lalu Putri Daria melihat Amin minum air sungai, dan terkadang ia mengambil Daun Teratai Musim Semi, dan ia lipat - lipat sebesesar dua jali, lalu ia mengunyahnya, dan daun itu tidak dikeluarkan lagi Amin menelannya, namun Amin melakukan hal yang sama tiga kali, kali ketiga baru dia keluarkan di oles di tulang rusuknya yang patah.


Putri Daria tersenyum “Keturunan terhebat, sekarang menjadi sampah yang menyedihkan, Aku harus mengakhirinya, besok hari terakhirmu sampah!, Kurasa tanpa kubunuh pun dia mati besok sebabkan racun teratai musim semi ” Kata Putri Daria, sambil tersenyum dingin.


Disisi lain Amin merasa bersyukur, hari ini dia masih diberikan hidup, sehingga ia dapat merasakan hidup lebih lama.


Amin mengingat - ngingat nasehat ibunya “Hidup tidak mudah, dalam hidup terkadang berbagai cobaan akan kita hadapi namun itu semua ujian, bila kita lulus menjalani baru bisa dikatakan pendekar sejati, Pendekar bukan hanya hebat dalam ilmu bela diri, tapi disebut pendekar orang berbuat ikhlas dan tulus tanpa mengharap balasan. Jalan yang benar memang akan sakit namun jalan selalu terbuka jika kita menjalankannya dengan benar” Amin tersenyum mengingat kata - kata ibunya seakan ia berkata sendiri didalam kepalanya.


Amin merasa kesakitan hebat di perutnya, sakit patah tulang dan sakit perut yang hebat membuatnya tidak


berdaya, ia tidak dapat menahan rasa sakit amat dasyat itu, ia membiarkan semuanya mengalir, Amin berbaring terlentang tanpa mengeluarkan desah sakit sedikit pun tidak lama setelah itu, Amin pun tak sadarkan diri di tepi sungai.


Putri Daria semula senyum dingin namun begitu melihat Amin tergelatak tidak bergerak lagi.


Putri Daria sedikit melebarkan matanya

__ADS_1


“Mati” Batin Putri Daria


Seketika merasakan sesuatu pada dirinya, jantungnya berdetak kencang, pikiriannya sedikit kacau, lalu Putri Daria menutup jandela dan ia pergi tidur tidak memperdulikannya.


“Sial ! Kenapa sih !, teringat Sitolol Itu, biarkan, biarkan saja diamati” Kata Putri Daria memberontak melawan pikirannya sendiri.


Putri Daria benar - benar tidak bisa tidur, dia sangat kesal sibudak bodoh itu mengusik pikirannya, akhirnya setelah dua jam keresahan makin menjadi – jadi, akhirnya menjelang subuh dia lari ketepi sungai untuk melihat Amin, namun Amin sudah tidak ada disana.


“Aduh siapa yang menculik manyatnya,” kata Putri Daria semakin panik


lalu dengan cepat dia berlari kerumah para budak, “pasti si tua Bibi Yuna itu mengambil jasadnya” Batin Putri Daria


Putri Daria langsung mendorong pintu rumah para budak tanpa mengetuk pintu dan memeriksa Amin di rumah mereka, namun tidak ada kemunculan Amin sama sekali, semuanya yang ada di ruangan itu terbangun.


“Tuan Putri ada apakah ini?” Tanya Bibi Yuna.


“Bibi Yuna !! apa kau ada melihat Amin?” Tanya Putri Daria dengan wajah tidak menentu.


“Tidak Tuan Putri!, Memengnya Amin dimana?” Tanya Bibi Yuna dengan nada penasaran dan khawatir.


“Aaahh!,” Kata Putri Daria kesal, dengan wajah murung,


Tiba - tiba terlintas dikepalanya “Mungkinkah dia jatuh kesungai?” Gumamnya, putri daria, lalu dirinya terus berlari menyelusuri sepanjang tepi sungai.


Perasaannya sudah tidak menentu, namun jalan kakinya menuntunnya untuk pulang, Putri Daria merasakan suatu kehilangan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata – kata.


Matahari sudah keluar diufuk timur, Putri Daria melewati gedung latihannya, mengenang janji sibudak itu akan terus menunggunya disana dari subuh sampai siang hari untuk jadi pasak.


Putri Daria membuka pintu gedung latihan, Putri Daria terkejut bukan main perasannya campur aduk, sesosok orang buta berbadan kurus dengan perut terikat dengan kain, terlihat disela – sela bajunya yang sobek dengan sedikit membungkuk menahan rasa sakit patah tulang berdiri disana.


Air mata amin terus mengelir dengan sendirinya karna rasa sakit yang amat dahsyat dideritanya namun mencoba tetap tegak berdiri seperti janjinya.


Putri Daria benar - benar tidak tau harus melakukan apa perasaannya benar - benar bercampur aduk, ia tidak bisa berucap satu kata pun, kelelahan pikiran yang dihadapi lebih melelahkan daripada latihan silat.


“Lebih baik aku pulang dan istirahat” kata Putri Daria berlalu dengan wajah murung,

__ADS_1


__ADS_2