Jalan Hidup Pendekar Sejati

Jalan Hidup Pendekar Sejati
Episode 5. Mata Dewa Petir


__ADS_3

Kerajaan Awan menjadi pusat penyerangan Siluman Gagak. Serangan itu membuat panik rakyat Kerajaan Awan, semua orang menyelamatkan diri, kecuali beberapa pendekar saja yang berjuang. Tabrakan kubah pelindung di lagit terdengar dengan sangat menggelega.


BROOOOOMMMMM


Seorang anak berusia 7 tahun duduk bersila diatas batu terkejut mendengarnya,


“Rupanya Siluman Gagak !!”.


Dengan sigab Amin langsung mengambil tongkat, dan berlari ke arah istana kerajaan awan, untuk mencari perlindungan.


Tiba - Tiba Seekor Siluman Gagak Tingkat Kayu melihat amin lari, lalu berencana menghadang amin, Siluman itu terbang menukit dari angkasa dengan kecepatan tinggi. Amin menyadari ada aura mengikutinya lalu ia membalikan badan bersiap dengan jurus satu - satunya.


Akhirnya Benturan tidak dapat terelakan.


“Tenaga Dalam Bidari !!, Pukulan Ganda !!”.


BAAAAM, BAAAAM


Siluman Gagak terpental jauh terkulai mati dalam sekali serang. Amin terkejut. "Bukankan siluman gagak tingkat kayu harusnya dapat membunuh ku dengan cepat,?". Batin amin.


Amin penasaran dengan pukulannya, sehingga ia memeriksa bekas pukulannya terhadap siluman gagak itu. Alangkah terkejut Amin rupanya pukulan hanya mengenai telinganya saja, dan langsung mati tanpa cacat,


“Berarti pukulan jurusku amat efektif melawan siluman sagak, kelemahan siluman gagak rupanya ada di telinga. Aku mengerti sekarang”. Batin amin dalam hatinya.


Seekor siluman gagak sebesar lembu tingkat timah, melihat kematian siluman tingkat kayu dibunuh oleh seorang bocah, membuatnya amat murka, Dia terbang menukit dan menyerang dengan tusukan paruh yang mematikan, Amin dapat merasakan keberadaan siluman gagak tingkat timah yang membahayakan nyawanya.


Amin berbalik badan untuk kedua kalinya serta langsung menyerang dengan kekuatan penuhnya.


“Tenaga dalam bidari !!. Pukulan ganda !!”.


Baaaaammm Baaaaammm


Siluman gagak seperti tidak percaya gendang telinganya meledak, otaknya sebagian hancur, langsung jatuh dan tak bergerak lagi dua siluman telah mati.


Amin semakin terkejut, disisi lain dunia semakin gelap dengan raungan yang sangat mengerikan dilangit.


“Kelihatannya mereka menyerang anggota keluarga Kerajaan Awan, Aku harus bergegas kesana”. Kata amin, bergegas pergi,


BooooM, BoooM,


Amin mendengar ledakan dari tempat dayang dan muda - mudi biasa minum teh, karena getaran ledakan kuat membuat Amin terhempas jauh.


Seketika amin melihat pedang biru bercahaya di dekatnya, seekor gagak siluman berencana merebutnya, dengan cepat Amin meraih pedang biru itu. Ketika gagang pedang terpegang, sesuatu menjalar keseluruh tubuhnya.

__ADS_1


Amin tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, sebenarnya hukum es mengalir di urat nadi. Tubuh menjadi sangat bertenaga, hukum es telah menjalar ke seluruh tubuh hingga terasa dingin, ketika mengalir hukum sampai mata tiba - tiba beradu dengan hukun lain yaitu hukum petir.


Hukum petir muncul dimatanya, membuat Amin mampu melihat jarak jauh dan dapat bergerak dengan sangat cepat serta dapat melayang bebas.


Amin merasakan tubuh baru itu sangat berbeda, tubuh lebih kuat, lebih bertenaga, pedang biru dapat berinteraksi dengan tubuhnya. Pedang dimaksud tidak lain pedang milik putri Daria dikenal dengan Pedang Bidadari.


Amin melihat ribuan siluman gagak menyerang dengan dahsyatnya ke arah Putri Daria dan Guru Sufi,


sementara Guru Sufi telah terbaring lemah. Putri Daria berdiri bertongkatkan pedang merah, serta mengeluarkan darah segar dari mulut. Sementara siluman gagak hanya jauh dua meter di hadapannya.


Amin dengan kekuatan barunya, dapat meluncur dengan dahsyatnya seolah waktu berhenti, ia dapat bergerak secara bebas  dengan satu gerakan langkah saja ia telah sampai tepat di depan Putri Darian.


“Tenaga Dalam Bidadari !! Serangan Ganda !!”


BROOOOMMMM. BROOOOMMMM


Bentuaran dahsyat. Semua siluman gagak yang kena pedang biru, bukan saja mati namun


berubah beku jadi es, selanjutnya dengan kekuatan mata petir telah menayambar semua siluman gagak lain, karna serangan petir itu mengikuti kata hati amin. Debu terus mengempul ke angkasa sehingga menutupi jarak pandan selama beberapa detik.


Debu akhirnya sirna, tumpukan bongkahan es yang menghitam bercampur merah bertebaran kemana - mana, sesosok bocah berumur tujuh tahun bediri diantara bongkahan es itu.


Semua mata memandang dengan takjub. Seorang bocah lelaki tujuh tahun dengan sebilah pedang biru ditangan kanan dan mata memancarkan kilatan pertir yang menyengat setiap tumpukan bongkahan es,


“Siapa anak itu ! Kemana Putri Daria ?”.


“Apakah dia seorang pendekar ahli yang menyamar ?”.


“Entahlah !. Namun kekuatanya Setidaknya berada ditingkat perak !”.


“Benarkah berati kemungkinan besar kita akan selamat kali ini”.


Semua prajurit terus berkata dengan segenap harapan, namun disisi lain Guru sufi bertanya pada dirinya. “Tenaga macam apa itu ?”.


Namun jauh di luar dugaan Guru Sufi. Putri daria dapat menjawab pertanyaan Guru Sufi. “Itu Pecahan Mata


Dewa Petir musuh bebuyutan para leluhu. Heh !!, bukan itu saja !! bocah itu mengmiliki salah satu tehnik tenaga dalam bidadari, Pasti ia keturunan satu - satunya dari Dewi Bidadari Langit, dengan naluri dia yang kuat ia dapat mengunakan pedang leluhurnya dengan baik”. Sekilas tatapan dingin terlihat dimata Dewi Pelangi, menyebab kan Guru Sufi bingung sendiri.


“Apa ?. Bagaimana Tuan Putri tau itu ?”.


“Guru malas sekali membaca !”. kata Putri Daria.


Guru Sufi tersedak, dan mukanya merah karna malu.

__ADS_1


Amin terus bergerak memukul mundur seluruh siluman gagak di halaman belakang Istana, Sesuatu sangat mengembirakan bagi prajurit dan para pendekar. Amin bagai singa mengamuk membabi buta menyerang siluman gagak tanpa ampun.


Di luar istana terlihat banyak bendera para bangsawan dan organisasi datang membantu dengan membawa


pendekar terbaiknya, untuk membebaskan istana dari serangan siluman gagak,


“Organisasi Dewa Pil Dunia datang membantu,”. Seru seorang pendekar dengan bendera lambang pil dunia, membawa puluhan pendekar tingkat kayu ke atas, dengan berbagai senjata lengkap, baik pendekar pemanah dan pendekar pedang.


“Kami dari Asosiasi Ahli Kitab Benua Timur datang membantu !!”. Bendera warna putih berlambang roda, serta membawa puluhan pendekar dengan dengan baju jirah besi, serta busur panah otomatis.


“Kami dari Perguruan Dewa Pedang, datang membantu”. Mereka membawa bendera warna putih bergambarkan pedang, mereka juga membawa puluhan pendekar.


“Kami dari Perguruan Golok Langit dantang membantu”. Puluhan Pendekar datang bergabung.


“Kami dari Perguruan Dewi Pedang Suci datang membatu”. Puluhan Pendekar terdiri dari para wanita bergabung membantu.


Begitu juga dengan perguruan lain, sehingga ribuan pendekar datang membantu sehingga siluman gagak mulai berkurang sebagian memilih mundur.


Raja Siluman Gagak sedikit unggul dengan Raja Diyu, karena api hitamnya. namun sekarang, Amin bergerak bagaikan kilat bertempur bersama Raja Diyu, menyerang Raja Siluman Dalam Beberapa Jurus Raja siluman terdesak dan kalah, Raja Siluman Gagak kali ini menelan kekalahan telak.


“Tenaga Dalam Bidadari !!, Pukulan Gandan”.


BAAAAMMM  BAAAAMMM


Telinga Raja Siluman Gagak pecah, dan terhuyung huyung jatuh, Raja Siluman murka namun bagai manapun ia telah kalah, akhirnya Raja Siluman Gagak bersuara keras terdengar seluruh negeri.


Aaaakkk Akkkkk,


Sehingga seluruh siluman gagak serempak terbang mundur, Raja Siluman Gagak dengan linlung terbang keluar kubah pelindung Kerajaan Awan.


Semua prajurit bersorak gembira, namun korban yang paling banyak berada di istana Raja Diyu, ratusan prajurit. pendekar serta pelayan pelayan kerajaan gugur.


Jenral Dian sendiri mengalami luka serius karna dia berhadapan dengan beberapa siluman gagak setingkat dengannya, andaikan dia tidak memiliki baju jirah besi maka kemungkina tipis dia bisa selamat.


Ratu berserta sebagian pelayan istana lainnya mereka bersembunyi didalam kamar istana, sehingga mereka aman dari serangan kawanan siluman gagak.


Para tabib, dari Organisasi Dewa pil Dunia, Datang membagikan pil peringan rasa sakit, dan pil obat lainnya.


Raja Diyu Berdiri diantara tumpukan manyat manusia yang telah gugur, matanya tertuju kearah Amin barada.


Amin berdiri agak jauh dari kerumunan sedang menatap kelangit.


“Kenapa ada pendekar sehebat itu tidak terdengar di dunia persilatan?”.

__ADS_1


__ADS_2