
Pada tahun 2015
Pagi yang cerah ditambahi suara kicauan para burung membuat pagi ini benar-benar hidup. Orang-orang berpakaian rapi, anak-anak tertawa riang sambil menjinjing tasnya. Di jalan yang tidak pernah sepi ini, hanya ada satu yang terlihat berbeda. Pakaiannya lusuh, surai hitamnya berantakan dan napasnya tersengal-sengal. Wajahnya berkeringat panik. Sayangnya, tidak ada satu pun yang berani melirik ke arahnya. Satu kalimat terlintas di benaknya, dia membenci dengan mata-mata itu.
Dengan seragam yang lusuh, seorang gadis berlari tergesa-gesa menuju ke suatu tempat. Membiarkan surai panjangnya berantakan demi mencapai tujuannya. Jika saja bis yang dinaikinya tidak mogok, bisa saja ia tidak akan telat di hari pertama masuk sekolah pada tahun keduanya.
Kini bangunan yang telah ia injak sepi seperti tanpa penghuni. Sial, ia terjatuh saat menaiki anak tangga, seorang siswa secara tak sengaja menabraknya. Siswa yang menabraknya malah pergi alih-alih membantu dan meminta maaf. Ia hanya menghembus nafasnya dengan gusar, harinya benar-benar kacau.
“Ah... Sakit sekali.” Dia merintih kesakitan saat melihat luka di lututnya.
Tak lama, seseorang muncul di hadapannya sambil mengulurkan tangannya. Meski hal itu lumrah di kebanyakan orang tapi berbeda dengan dirinya.
“Kau tidak apa-apa, ‘kan?” Siswa itu berkata sambil menyodorkan tangannya.
Aneh, ia lebih memilih untuk berdiri sendiri alih-alih menerima uluran tangan tersebut. Baginya, di saat begini sebuah kata “bantu” itu sangat menyedihkan.
“Cih, pantesan kau tidak punya teman,” kata siswa itu sebelum pergi meninggalkannya.
Ia langsung masuk ke sebuah ruangan yang sudah diisi oleh siswa-siswi yang siap menempuh pendidikan. Di hadapan sana, terlihat seorang guru yang sudah menatapnya dengan tatapan tajam. Meski begitu, ia berusaha untuk tidak memperdulikan tatapan tersebut dan menuju ke mejanya.
__ADS_1
“Kau sudah telat di hari pertama masuk sekolah!” Guru itu menjerit yang membuat dirinya langsung tersentak.
“Tetap berdiri di sana sampai waktuku selesai!” Mau tak mau, ia harus menuruti perintah guru tersebut.
Tak lama, pintu terbuka dan muncul seseorang. Tentu kehadirannya membuat seisi kelas menoleh ke arahnya.
“Kamu juga berhenti di sana!” Guru itu memerintah siswa yang baru tiba itu.
Guru itu melihat kembali buku absen yang ia bawa dan mencari siapa identitas siswa yang baru datang itu. Seketika wajahnya berubah drastis. Wajahnya berbinar-binar lantas memanggil nama siswa itu.
“Kamu Zegran Jovandav Glarenth, ya?” tanya sang guru.
“Benar itu saya, Pak.” Siswa itu langsung membenarkan ucapan tersebut.
“Baik, Pak,” jawab Zegran dengan sopan. Sebelum ke mejanya, ia memandang siswi yang ada di sampingnya dengan senyuman di wajahnya.
“Apa-apaan ini?” Siswi itu menatap mereka dengan bingung.
Berbeda dengan dirinya. Guru itu memperlakukan dirinya benar-benar berbeda dan tidak adil. Hal itu membuat dirinya terlihat sangat menyedihkan.
__ADS_1
“Siapa namamu?” Guru itu bertanya.
“Hana, Pak.” Ia menjawab.
“Nama panjangmu?” Guru itu masih belum puas.
“Hana Armeta Luna, Pak,” jawab siswi itu dengan kepala yang tertunduk.
“Oh... Ternyata itu kamu,” ucapnya.
Jika bisa jujur, dia sangat membenci dirinya. Benci dirinya yang berada di dalam ketidakadilan. Ia selalu berharap, ia tidak perlu menundukkan kepalanya lagi seperti sekarang.
“Cepat pergi duduk di tempatmu. Hari ini kamu beruntung,” kata guru itu dengan sedikit kasar.
“Baik, Pak,” jawab gadis yang bernama Hana itu.
Siswa malang itu bergegas menuju ke tempat duduknya yang kebetulan di samping Zegran. Ia melihat sekeliling kelasnya, ia sadar bahwa hanya dirinya yang berbeda dari yang lain. Ditambah posisinya di ujung pojok, hal itu membuat dirinya seperti diasingkan.
“Halo semuanya. Sekarang saya adalah wali kelas kalian selama tahun kedua ini,” jelas wali kelasnya.
__ADS_1
“Namaku Hana Armeta Luna, seorang gadis berumur 17 tahun yang harus menghadapi berapa kerasnya dunia ini. Satu tahun yang lalu, hari di mana hidupku benar-benar hancur. Wanit ayang aku sebut Ibu meninggalkan diriku tanpa alasan dan perusahaan ayahku bangkrut. Ayahku terlilit hutang dan dikejar-kejar oleh rentenir. Karena itu, ayahku pergi dan tidak pernah kembali lagi.”
Kenapa semua ini bisa terjadi? Sampai sekarang aku masih belum mengerti. Dari sekian banyak manusia yang ada di dunia ini. Mengapa harus diriku? Aku hanyalah seorang gadis remaja yang malang.