Jangan Salahkan Garis Takdir

Jangan Salahkan Garis Takdir
Bab 5 : Kesepakatan


__ADS_3

Kini Hana telah berada di minimarket tempat ia bekerja. Sejak menjadi pekerja tetap, ia bekerja dengan sangat serius sehingga membuat atasannya terkesima dengan kemampuannya bekerja. Tak hanya itu, sang atasan benar-benar terkesima saat melihat Hana yang tetap belajar meski sibuk bekerja. Sekilas ia menjadi yakin jika Hana sedang berada di kondisi yang tidak baik-baik saja.


“Kamu belajar sambil bekerja?” tanya sang pemilik minimarket.


Hana yang sibuk menyusun barang pun langsung menoleh ke arah sumber suara. “Iya. Sebentar lagi ujian, saya tidak mau nilai saya jatuh,” jawab Hana.


Mendengar itu sang atasan langsung kaget bukan main. Ia belum pernah melihat orang bekerja sambil belajar bahkan kinerjanya lebih baik dari dirinya. Pilihannya memang tepat, ia memilih orang yang berbakat untuk bekerja di minimarketnya.


“Semoga berhasil di ujian kamu nanti. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil,” kata sang atasan yang menyemangati Hana.


“Terima kasih, Pak.” Hana tersenyum lebar. Dia senang mendengar orang lain menyemangati dirinya mengingat bahwa dirinya selalu berjuang sendiri tanpa ada orang yang menghargainya atau menyemangatinya.


Kini tinggal sehari menuju ujian. Tentu semua murid khawatir dirinya sendiri, semuanya sibuk mencari cara agar pembelajaran yang dipelajari digunakan dengan maksimal saat hari ujian nanti. Semuanya akan sia-sia jika semua materi yang dipelajari tidak digunakan dengan baik saat ujian nanti.


Ia tidak bisa menyia-nyiakan waktunya bahkan sedetik pun. Bahkan dalam perjalanan menuju ke kelas pun ia tetap membaca buku. Dengan mata yang tak berpaling dari bukunya, ia berjalan menuju ke mejanya. Kebetulan Zegran menyadari itu dan melihat ke arah Hana yang sudah duduk di tempatnya. Namun, maniknya menangkap sesuatu di seragam Hana.


“Ada apa dengan seragamnya? Berlubang?” batinnya.


Zegran memerhatikan seluruh seragam yang dikenakan Hana saat itu. Untungnya saat itu sang pemilik sibuk membaca bukunya, ia tidak menyadari jika seseorang menatapnya dengan lekat. Setelah dilihat lebih detail, ia melihat lubang yang lumayan besar di saku seragam Hana.


“Seragamnya lusuh sekali bahkan ada lubang di sakunya. Kenapa dia tidak membeli baru saja?” Zegran bermonolog dengan dirinya sendiri. Seketika adegan Hana yang sering dijahili oleh Gina terlintas di pikirannya. Dari Gina yang sengaja menabraknya bahkan mengata-ngatai-nya.


“Apa dia tidak punya uang untuk membeli seragam baru?” Zegran kebingungan. Sayangnya, Hana menyadari jika ada tatapan yang sedang menatapnya.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Hana.


“Tidak ada apa-apa, kok,” jawab Zegran.


Zegran berusaha untuk tetap dingin meski ia jelas-jelas tertangkap basah. Hana melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tanpa mencurigai apapun. Tak lama, Zegran menatap Hana sekali lagi. Seketika senyuman penuh arti itu terlihat jelas di wajahnya.

__ADS_1


“Hana,” panggil Zegran.


“Apa?” jawab Hana tanpa berpaling dari bukunya.


“Apa kau punya waktu sepulang sekolah nanti?” tanya Zegran waspada.


“Kenapa?” Hana menatap Zegran dan menghentikan aktivitasnya.


“Ada yang ingin aku omongkan. Kalau kau punya waktu, temui aku di taman sekolah sepulang sekolah nanti,” jelas Zegran.


Hana langsung mengangguk kepalanya. Entah apa yang sedang dipirkan, Hana langsung menyetujui ajakan Zegran tanpa menanyakan alasannya terlebih dahulu. Namun, hal ini dimanfaatkan oleh Zegran.


Seperti yang dijanjikan, Hana berjalan menuju area belakang sekolah untuk menemui Zegran di sana. Di bawah pohon besar nan rindang, terlihat sesosok yang ia cari-cari sedang berdiri menunggu dirinya. Ia segera menghampirinya.


“Kenapa kau memanggilku kemari? Penting banget, ya?” tanya Hana langsung.


“Hana,” panggil Zegran. Angin yang tak terlalu kuat itu menabrak mereka yang membuat suasana menjadi sedikit berbeda.


“Menurutmu akan sesulit apa ujian besok?” tanya Zegran tiba-tiba.


“Ujian besok?” Hana sedikit kaget.


Awalnya Hana berpikir jika siswa yang sedang di hadapannya sedang bercanda. Namun, wajahnya mengatakan lain. Hal itu membuat Hana menjadi yakin bahwa Zegran sedang tidak bercanda.


“Kenapa kau bertanya begitu? Sudah tentu aku tidak tahu,” jawab Hana.


Hana benar-benar bingung. Menanyakan seberapa sulit ujian yang akan dilaksakan besok. Apakah hanya ini yang ingin dibahas oleh Zegran? Ia akan sangat kecewa jika hal itu benar terjadi.


“Hanya ini yang mau kau bicarakan?” tanya Hana sedikit kesal. Namun, tidak ada jawaban dari Zegran. Hal itu membuat Hana kesal tentunya.

__ADS_1


“Aku tidak punya banyak waktu. Jadi cepat katakan apa yang kau mahu,” kata Hana yang berusaha menahan rasa kesalnya.


“Bisakah kau gagal ujian hanya untukku?” tanya Zegran.


Tubuhnya seakan-akan tidak bisa bergerak, ia masih belum percaya dengan kalimat yang barusan ia dengar. Hana benar-benar kaget mendengar itu. “Hah? Kau tidak sedang bercanda, ‘kan?”


“Aku bertanya apakah kau bisa gagal di ujian kali ini?” tanya Zegran sekali lagi.


Hana tertawa setelah mendengar pertanyaan dari Zegran. Apa karena dia seperti orang murung yang tidak mempunyai teman dan suka menyendiri, dia berhak melakukan dirinya seperti itu. Ia menghela nafasnya gusar, memegang kepalanya yang pusing dengan pikirannya itu.


“Hanya karena aku seperti ini, bukan berarti kau bisa menyuruhku begitu,” kata Hana.


Kini ia tidak bisa menahan dirinya. Itulah kenapa ia memilih untuk menjadi anak yang suka penyendiri mengingat beban yang ia pikul sendirian. Karena kesal, Hana langsung meninggalkan Zegran di sana.


“Aku akan membayarmu. Bukankah kau membutuhkanku uang?” Seketika Hana memberhentikan langkah kakinya.


“Apa maksudmu?” tanya Hana sembari mendekat ke arah Zegran kembali.


“Aku akan membayarmu sebagai balasannya. Kita saling menguntungkan, bukan? Kau mendapatkan apa yang kau mau setelah melakukan apa yang aku mau,” jelas Zegran.


Hana terdiam mendengar penjelasan tersebut. Hal itu berhasil membuat dirinya bimbang. Ia memerlukan uang untuk membayar uang sewa yang tertunggak selama 3 bulan itu. Namun, ia tidak ingin menjual kerja kerasnya selama ini.


“Bagaimana? Besok sudah ujian dan kau masih mempunyai waktu sehingga besok pagi untuk memikirkan pilihanmu. Aku tetap menunggumu,” kata Zegran yang berusaha meyakinkan Hana.


“Benarkan kau akan membayarku setelah kau mendapatkan apa yang kau mahu?” tanya Hana memastikan. Ia dilanda rasa bimbang dan bingung dengan pilihannya.


“Sudah tentu aku akan membayarmu. Jadi terimalah kesepakatan ini karena kita saling menguntungkan, bukan?” Zegran benar-benar berusaha sekuat mungkin untuk meyakinkan Hana.


Tiba-tiba Hana menundukkan kepalanya, hal itu membuat Zegran kebingungan. Apakah Hana telah memilih pilihannya, pikirnya. Namun, semuanya berkata lain saat melihat Hana yang tertawa dengan kepala yang masih menunduk.

__ADS_1


“Selama ini aku berjuang sendiri dan aku mengorbankan segalanya apa yang aku punya hanya untuk itu. Sekarang kau menghampiriku dan berusaha mengambilnya dengan kesepakatan tidak masuk akal itu? Apa kau gila?” Hana benar-benar kesal. Ia tidak bisa menjual kerja kerasnya begitu saja.


“Kalau kau mau aku menerima kesepakatan itu, maaf aku tidak punya waktu untuk menerima kesepakatan itu,” kata Hana sebelum meninggalkan Zegran di sana.


__ADS_2