Jangan Salahkan Garis Takdir

Jangan Salahkan Garis Takdir
Bab 3: Pertama Kalinya


__ADS_3

“Ark!” Hana menjerit karena kaget.


Tubuh Hana di tarik ke belakang oleh seseorang berwajah unik. Karena penuh kejutan, Hana tidak menyangka jika dirinya akan terjatuh di atas tubuh orang tersebut. Kepala Hana jatuh tepat di atas lengan kiri orang tersebut. Melihat posisi dirinya di atas tubuh seorang pria, ia bergegas menjauh.


“Kau siapa?” tanya Hana.


“Apa kau gila?!” Orang itu tiba-tiba menaikkan nada bicaranya.


Namun, Hana terpana dengan wajah orang yang tiba-tiba menyebutnya gila. Ia memiliki wajah yang unik bahkan orang lain belum tentu mempunyai wajah yang sama sepertinya. Hana menatap pria tersebut dengan raut wajah yang bingung.


“Apa kau sudah gila sampai nekat mau loncat?!” marah orang itu.


“Bukan begitu. Ini bukan seperti yang kau bayangkan,” ucap Hana dengan sedikit panik.


“Kalau begitu, kenapa kau berdiri di sana kalau bukan mau loncat?!” tanya orang itu dengan nada yang tinggi.


“Tujuan awalnya memang begitu tapi aku berubah pikiran!” Hana juga menaikkan nada bicaranya karena tidak mahu kalah.


“Benar, ‘kan? Tujuan awalmu memang ingin loncat, ‘kan?” Pria itu tetap yakin dengan pendiriannya.


“Memang tujuanku untuk loncat tapi itu hanya tujuan. Aku tetap tidak bisa melakukan itu,” jawab Hana. Nada bicaranya mulai merendah.


Hana berusaha untuk menjelaskan keberadaannya di tempat itu. Ia memang memiliki kebiasaan aneh bahkan bisa dibilang buruk. Seketika terdengar jelas suara hembusan dari mulut pria itu. Namun, Hana berterima kasih ke pria unik itu. Meski ia tidak memiliki niat untuk melompat dari bangunan itu.


“Namamu siapa?” tanyanya. Pria berwajah unik itu berusaha untuk ramah.


“Hana,” jawab Hana dengan cepat.


“Walaupun hidup ini sekeras apapun, kau tidak bisa menyerah begitu saja!” seru pria itu tiba-tiba. Hal itu membuat Hana kaget bukan main, pria itu sedang memarahinya.


“Kau sedang memarahiku?” tanya Hana bingung.


“Tidak, aku sedang menasehatimu,” jawabnya.


Pria itu langsung berdiri. Setelah itu, Hana juga ikut berdiri. Orang itu benar-benar aneh. Hana tidak pernah menyangka akan kedatangannya. Lalu ia datang dengan alasan menyelamatkan dirinya. Tak hanya itu, orang itu jelas-jelas memarahinya tapi mengaku menasehati dirinya.


“Jelas-jelas kau memarahiku. Kau menarikku secara tiba-tiba dan sekarang kau malah memarahiku,” jelas Hana.


“Aku menyelamatkan dirimu, lho,” ucap pria itu.

__ADS_1


“Bukan itu yang aku maksud. Aku langsung tidak mengenal dirimu tapi kau memarahiku seakan-akan sudah mengenaliku,” jawab Hana sambil memasang raut wajah sedih.


Melihat orang yang ia selamatkan malah mempermasalahkan rasa bimbangnya, membuat ia sedikit geram. Siapa saja tidak khawatir jika melihat orang yang hendak mengakhiri hidupnya. Sudah tentu ia akan menyelamatkan orang tersebut dan berusaha menyadarkannya.


“Ah! Sudah!” ucap pria unik itu.


“Lihat kau memarahiku lagi! Dasar orang aneh!” Hana ikut menaikkan nada bicaranya.


“Aneh tapi sudah menyelamatkan dirimu, ‘kan?” tanya pria itu. Dari pembicaraan mereka, sepertinya perang dunia yang ke-3 akan segera dimulai.


“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” jawab Hana tiba-tiba. Orang itu langsung menatap Hana. Ia cukup kagum melihat gadis yang ia bantu akhirnya berterima kasih karena pertolongannya.


“Kau sudah menanyai namaku. Jadi, siapa namamu?” tanya Hana.


“Darent. Cukup itu saja,” jawabnya.


Mendengar jawaban itu, Hana menghembuskan nafasnya dengan gusar. Ternyata ada manusia yang sangat menyebalkan di dunia. “Kau benar-benar, deh,” ucap Hana.


“Benar-benar apa?” Pria itu masih belum terima.


“Tidak ada apa-apa, kok,” jawab Hana.


Ia sudah menyerah untuk meladeni orang yang ada di depan matanya itu.


“Terima kasih sudah membantuku. Aku pamit pergi dulu,” ucapnya sebelum pergi.


“Baiklah. Aku juga mau pergi,” kata Darent.


Akhirnya mereka meninggalkan tempat bersejarah itu. Keberuntungan tidak memihak pada Hana hari ini. Lift yang akan mereka naiki sedang rusak. Untung bangunan itu tidak terlalu tinggi sehingga tangga yang harus dilewati tidak begitu banyak.


“Kau tinggal di sini?” tanya Hana. Ia hanya ingin memecahkan suasana canggung.


“Iya, aku penghuni apartemen ini,” jawab Darent.


“Oh, begitukah? Di tingkat berapa?” tanya Hana penasaran.


“Tingkat dua,” jawabnya dengan dingin.


“Oh, begitukah?” kata Hana.

__ADS_1


Sayangnya, suasana tetap canggung. Untung suara telapak kaki mereka yang sedang menuruti anak tangga menutupi kecanggungan di antara mereka. Namun, Hana bingung melihat pria berwajah unik itu malah mengikuti.


“Kenapa kau mengikutiku? Bukannya rumahmu di tingkat dua?” tanya Hana bingung.


“Rumahku memang di sana. Tapi, aku takut jika kau kembali ke atas dan meloncat,” jawabnya.


“Apa?” Hana menghentikan langkahnya dan menatap pria itu dengan tatapan tidak terima.


“Sudah cepat jalan sebelum hari semakin malam,” suruh orang itu.


Hana tetap mengikuti apa yang dikatakan orang itu. Akhirnya mereka tiba di depan bangunan apartemen tersebut. Tak lama, orang itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.


“Ini sudah ketiga kalinya aku berterima kasih. Terima kasih sudah membantuku, menghalangiku dan menghantarku,” kata Hana. Setelah itu, Hana memutuskan untuk pergi tanpa menunggu pria itu menjawab ucapannya.


“Kau mau ke mana?” tanya Darent. Hana menghentikan langkahnya.


“Pulang. Kenapa?” jawabnya.


“Aku sudah memesankan kamu taksi,” katanya.


“Tidak usah. Aku bisa naik bis, kok.” Hana berusaha menolak dengan sopan.


“Ini sudah hampir malam. Lagian taksinya sedang menuju ke sini,” katanya.


Hal tersebut membuat Hana harus berpikir dua kali. Ia tidak ingin berhutang pada orang itu. Mau tak mau Hana menurut. Kini, Hana sudah duduk di dalam taksi yang dipesan oleh orang aneh itu.


“Hei, tunggu sebentar,” panggil pria itu.


Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya ke Hana. Hana yang melihat itu tentu kaget bukan main. “Aku tidak tahu kau mau ke mana, jadi terima uang ini. Itu cukup, ‘kan?”


“Tidak perlu memberiku uang. Aku bisa membayarnya sendiri,” kata Hana berusaha untuk menolak uang tersebut.


“Jangan menolak dan terima saja,” kata pria itu.


Pria itu menatap wajah Hana dengan tatapan menyeramkan. Mau tidak mau, Hana terpaksa menerima uang tersebut meski hatinya benar-benar ingin menolak pemberian tersebut. Akhirnya mobil berwarna kuning itu bergerak ke tempat sesuai tujuannya. Ia menatap lekat uang pemberian orang aneh tadi.


“Tunggu sebentar.” Karena bertengkar dengan orang aneh itu sehingga tidak sadar dengan wajah unik milik orang tadi.


“Namanya Darent, bukan? Jika diingat lagi wajahnya benar-benar unik. Lagi-lagi lukanya yang ada wajahnya,” ucapnya berusaha mengingat wajah pria unik tadi.

__ADS_1


Orang tadi memiliki wajah yang unik, berbeda dari kebanyakan wajah pada umumnya. Ia memiliki luka besar di alis yang panjang ke bawah hingga pipinya. Bahkan warna mata kirinya berwarna putih tempat luka tersebut berada.


“Wajahnya memang unik. Tapi kelakuannya juga unik, sih,” ucapnya.


__ADS_2