
Rela memikul seluruh masalah yang menerpa dirinya dan selalu tampil baik-baik saja, itulah Hana. Bukan hanya dirinya yang dipanggil oleh wali kelasnya karena kesepakatan yang ia sepakati dengan Zegran diketahui oleh pihak sekolah, ternyata ada satu masalah yang lebih serius menimpa dirinya tepat di malam hari sebelumnya.
Waktu terus berjalan tanpa henti, sudah beberapa hari setelah Hana ditetapkan sebagai pekerja tetap di minimarket yang lumayan jauh dari rumahnya. Jaraknya yang tak jauh dari sekolah serta sang atasan yang sangat ramah dan baik membuat Hana sangat nyaman bekerja di sana. Hana yang sudah berganti pakaian dan akan segera pulang, tiba-tiba atasannya memanggil dirinya.
“Hana,” panggilnya.
“Ada apa, Pak?” jawab Hana lekas.
Banyak sekali makanan yang ia lihat di atas meja kasir, kemudian sang atasan memasukkan makanan-makanan tersebut ke dalam kantong putih yang lumayan besar. Ternyata kantong tersebut dibagikan ke dirinya, tentu Hana kaget dan kebingungan.
“Ini ambil. Dimakan, ya? Soalnya kadaluarsanya hampir habis,” kata atasannya. Hana langsung mengambil sekantong makanan yang hampir tidak bisa dimakan karena kadaluarsanya.
“Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya pulang dulu,” Ia berpamitan dengan sang atasan sebelum pulang ke rumahnya.
Seketika, benaknya langsung teringat dengan kedatangan pemilik rumahnya yang mendesak untuk menyuruhnya membayar uang sewa rumah. Jika ia menambahkan uang yang ia kumpul dari hasil kesepatan dengan Zegran dengan upahnya, uang sewa yang tertunggak selama 3 bulan itu bisa segera dibayar. Tanpa berpikir panjang, ia masuk ke minimarket itu kembali.
“Kenapa masuk lagi?” tanya sang atasan kebingungan.
“Ada yang ingin saya sampaikan,” ucap Hana.
“Apa yang mau disampaikan? Bilang saja, jangan segan,” kata atasannya sambil melanjutkan kegiatannya.
“Kalau kita bicara di tempat yang sedikit tertutup bisa tidak?” pinta Hana.
“Tentu dong,” jawabnya dengan cepat.
Untungnya, atasannya langsung mengiyakan permintaannya tanpa berpikir panjang. Itu membuat cahaya harapan miliknya semakin bersinar terang. Akhirnya mereka menuju ke tempat yang sedikit jauh dari keramaian. Hanya ada satu alasan ia membawa sang atasan ke tempat lumayan jauh, ia hanya takut orang lain mendengar pembicaraan mereka.
“Ayo katakan saja.” Kini hanya mereka berdua di sebuah jalan yang kosong.
“Gini, Pak,” kata Hana yang ingin memulai tapi masih takut dan khawatir. Ia masih ragu untuk memberitahu ke atasannya.
__ADS_1
“Santai saja,” ucap atasannya yang berusaha menenangkannya.
Hana menghembus nafasnya, berusaha mengatur nafasnya yang sempat terburu-buru karena kekhawatirannya. Akhirnya, ia membuka suaranya. “Kemarin pemilik rumah saya datang dan meminta uang sewa. Jadi, saya meminta upah di awal bisa tidak, Pak?” tanyanya dengan hatii-hati.
Mendengar itu, tentu atasannya kebingungan. “Orang tuamu mana?”
“Tidak ada,” jawab Hana dengan cepat.
“Kamu punya wali?” tanya sang atasan.
Hana menggelangkan kepalanya dengan cepat. “Tidak ada juga.” Terlihat sang atasannya yang terdiam mematung. Entah apa artinya, Hana mengubah pikirannya.
“Saya tarik kembali kata-kata saya barusan, Pak. Anggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi.” Hana langsung membungkukkan tubuhnya sedikit dan berbalik badan untuk pergi. Ia telah terburu-buru dan gegabah dalam mengambil keputusan, pikirnya.
“Hei, tunggu sebentar.” Mendengar itu, Hana langsung berhenti dan mendekati sang atasan kembali.
“Ada apa, Pak,” kata Hana dengan kepala yang sedikit menunduk. Melihat atasannya mengeluarkan dompetnya, Hana semakin bimbang. Kini, ia telah merepotkan orang lain.
“Tidak usah, Pak,” jawab Hana. Tentu ia menolak dengan keras.
“Nggak apa-apa. Lima ratus ribu cukup, ‘kan? Bayar dulu uang sewamu, saya beneran tidak apa-apa,” kata atasannya sambil memberi uang tersebut.
Hana tetap menolak uang tersebut. Namun, sang atasannya berusaha meyakinkannya untuk mengambil uang pemberiannya. Mau tak mau, ia terpaksa mengambil uang tersebut.
“Saya benar-benar berterima kasih, Pak. Terima kasih banyak-banyak, Pak,” ucap Hana dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Tidak ada kata lain yang bisa ia katakan ke atasannya yang baik hati ini. Hana membungkuk ke arah atasannya. Matanya berkaca-kaca karena kagum melihat sosok atasannya yang baik hati itu. Ia menggenggam kuat uang yang telah ia pegang itu.
“Aku menemukan orang dewasa yang baik hati.”
“Apakah aku bisa menjadi orang dewasa yang keren seperti dirinya?”
__ADS_1
Matanya memerah dan berkaca-kaca, ia tidak bisa menahan tangisan bahagianya saat itu. Ia merasakan sesuatu yang akan meledak dari matanya. Dan benar saja, air itu jatuh dari sarangnya.
“Ya ampun. Sini-sini mendekat.” Atasannya berusaha mendekati Hana dan memeluknya. Ia mengelus pelan punggungnya, Hana menangis di pelukan tersebut.
“Sungguh gadis malang,” ucapnya.
Tangan yang hampir keriput karena faktor usia itu mengusap pelan pungungnya. Terasa hangat sekali, membuat pemilik punggung itu menjadi nyaman. Namun, kehangatan itu tidak berlangsung lama, tangan pria yang hampir menua itu semakin bergerak ke bawah melewati garis yang seharusnya tidak di lewati. Siapa yang tahu, ia dilecehkan oleh atasannya sendiri.
“P-pak?” Hana menjadi risi dan kaget dengan aksi atasannya itu. Hana semakin menggeliat, berharap dilepaskan dari pelukan atasannya. Hana semakin takut saat atasannya semakin menjuah dari batas seharusnya. Dengan kasar, Hana langsung menolak atasannya sehingga terjatuh ke tanah.
“Arkk!!” jerit Hana.
Hana benar-benar kaget dan bingung apa yang harus dilakukannya. Ia tidak bisa berdiam diri dan menyerah begitu saja tapi di satu sisi ia berhak untuk melawan. Melihat sang atasannya yang meringis kesakitan, ia hanya diam dan melihat.
“Dasar anak kurang ajar! Aku sudah membantumu dan kau malah mendorongku! Aku sudah memberimu uang, lho!” Atasannya dengan emosi yang membara-bara mendekati dan langsung memegang erat kerah baju Hana. Atasannya memarahi Hana, sedangkan Hana berusaha untuk melepaskan genggaman tersebut dari dirinya.
“Lepaskan, Pak!” kata Hana dengan ketakutan
“Aku sudah memberimu uang! Kau malah mendorongku! Dasar anak kurang ajar!” Kini, genggaman tersebut beralih ke leher milik Hana, sang atasan berusaha untuk mencekik Hana.
“Siapapun tolong aku.”
Wajahnya sudah memerah karena genggaman tersebut yang telah menghambat pernafasannya. Tangannya sudah tak kuasa untuk mencoba memberontak lagi. Pemandangannya juga mulai memudar. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menyerah.
Di saat dirinya terjatuh kedalam kegelapan, ia melihat secercah cahaya yang datang mendekat. Ia membuka matanya untuk melihat cahaya yang mendekat itu.Dan seketika cahaya itu membangunkan dirinya. Ia bisa melihat secercah cahaya itu tepat di depan matanya.
“Kau tidak apa-apa, ‘kan?” ucapnya.
Cahaya itu datang dan membantu Hana dari cekikan yang hampir membuatnya hampir kehilangan kesadarannya. Orang itu berulang kali menanyakan apakah gadis yang ia bantu baik-baik saja, Hana langsung mengangguk untuk menjawab di akhir pertanyaannya. Hanya satu yang ia ingin tanyakan ke orang yang telah menolongnya.
Dengan mata yang masih buram serta kesadarannya masih belum pulih ia bertanya, “Siapa kau sebenarnya?”
__ADS_1
“Orang yang telah ditakdirkan untukmu, Hana.”