
“Wajahnya memang unik tapi kelakuannya juga unik, sih,” ucapnya sembari menghela nafas panjang.
Ia menatap kembali uang yang ia dapat barusan. Ia tahu jika uang tersebut akan tersisa banyak. Mau bagaimana lagi, ia telah berhutang budi dengan seseorang yang tidak akan ia temui lagi. Bagaimana ia membayar hutangnya itu, itulah yang ia pikirkan sepanjang jalan.
“Matanya yang unik, sepertinya aku pernah melihatnya tapi di mana, ya?” Matanya mulai berkeliaran ke mana-mana.
Ia yakin jika manik milik pria barusan sepertinya tidak asing baginya. Ia pernah melihatnya, sepertinya beberapa tahun yang lalu. Ia berusaha mengingat kembali sisa-sisa ingatannya. Seketika matanya membulat sempurna, ingatannya muncul. Ia pernah melihat seseorang yang memiliki mata yang mirip dengan pria barusan.
2 tahun yang lalu, di mana hidupnya masih baik-baik saja. Saat itu, matahari hampir tenggelam, Hana sedang berjalan pulang. Tak lama, terdengar suara dering ponsel dari saku seragamnya, ia segera menjawabnya.
“Halo?” Ternyata panggilan tersebut dari sang adik.
“Kakak ada di mana?” suara sang adik di seberang sana.
“Baru selesai les dan sekarang mau pulang. Kenapa?” jawab sang kakak.
“Hari ini ayah pulang, Kak. Kalau kakak masih di jalan, tolong beliin jajan, ya.”
“Oh, kakak lupa ayah pulang hari ini. Baiklah kalau begitu,” jawab Hana.
Hana langsung menutup panggilan tersebut dan langsung bergegas ke minimarket terdekat. Seketika senyuman lebar menghiasi wajahnya. Mendengar sang ayah pulang hari ini membuat dirinya bahagia tidak karuan. Bagaimana tidak, ayahnya selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.
“Selamat datang,” suara petugas minimarket yang menyambutnya.
Kakinya langsung menuju ke rak tempat barang ia cari-cari. Udara yang sangat dingin karena penyejuk ruangan serta bau khas dari minimarket, ingatan tersebut masih lekat di memorinya. Hana ingat betul dengan sesosok yang ia temui di minimarket tersebut, sosok yang mencuri perhatian Hana.
“Apa yang dia lakukan?” Hana kebingungan.
Orang tersebut memakai jaket hitam dan menutup wajahnya dengan jaketnya. Tak hanya itu, ia memakai masker hitam seakan-akan berusaha menutupi wajahnya. Gerak-geriknya sungguh mencurigakan. Tolehan kepalanya membuat Hana berpikir jika orang tersebut akan mencuri.
“Apa? Dia mencuri?” Hana benar-benar kaget.
Benar dugaannya, orang itu sedang mencari momen untuk mencuri. Tidak bisa dibiarkan begitu saja, Hana langsung mebdekati oran tersebut. Bukan untuk memergokinya, justru Hana memberinya keranjang. Seketika orang itu membeku, ia kebingungan melihat orang yang memergokinya malah memberinya sebuah keranjang berwarna hijau.
__ADS_1
“Kau bisa meletakkan apa yang kau inginkan di keranjang ini,” ucap Hana memperjelaskan niatnya.
“Jadi, kau tahu apa yang akan aku lakukan?” Orang itu malah bertanya. Hana mengangguk kepalanya dengan cepat.
“Lupakan itu dan ambil keranjang ini,” ucap Hana sambil tersenyum.
Awalnya orang tersebut masih ragu dengan kebaikan gadis aneh–yang telah memergoki dirinya–yang bisa dibilang tiba-tiba dan tidak dapat ditebak. Bukannya melapor dirinya yang hendak mencuri tapi gadis itu malah memberinya keranjang hijau itu.
“Semuanya dua ratus ribu, ya?”
Setelah melihat barang belanjaannya, ia sadar akan sesuatu. Untungnya, matanya langsung menangkap barang yang akan ia beli. Ia langsung menganbil makanan yang memang dijual untuk makan malam.
“Tambah ini sekali, Mbak,” kata Hana sembari mengeluarkan dompetnya.
“Baik,” jawab petugas minimarket. Hana langsung membawa keluar barang belanjaannya dan menemui orang aneh itu di luar minimarket.
“Ini barangmu,” kata Hana semabari memberikan salah satu kantong yang berisikan makan ke orang tersebut.
Ia juga memberikan makanan yang ia beli tadi. “Aku juga membelikanmu sedikit makanan untukmu. Dimakanlah selagi masih hangat,” kata Hana sembari memberikan makanan yang ia beli barusan.
“Tidak usah,” jawab Hana.
“Tapi ini banyak, lho. Beneran tidak apa-apa?” tanya orang itu.
“Dimakan, ya?” Hana malah tersenyum ke arah orang itu alih-alih menjawab pertanyaan tersebut.
“Ternyata dia cowok,” batin Hana.
Ada yang mencuri perhatian manik indah milik Hana yaitu mata milik orang yang ia bantu itu. Hana memandangi mata yang bersinar terang meski tempat tersebut minim akan cahaya, warnanya terang bagaikan air laut jernih. Namun, pemilik mata unik itu membalas tatapan mata Hana. Tanpa disadari mereka bertatapan dalam waktu yang cukup lama.
“Terima kasih atas makanannya,” kata orang itu sebelum mengalihkan wajahnya dengan cepat.
Begitu juga Hana yang seketika sadar dan ikut mengalihkan wajahnya dengan cepat. Karena tidak ada urusan lagi, Hana memutuskan untuk pergi dari sana. Ia langsung pergi meninggalkan orang itu. Namun, ia memberhentikan langkah kakinya dan membalik tubuhnya.
__ADS_1
“Sekeras apa pun dunia ini, kau tidak bisa menyalahkan takdirmu. Jadi, terus berusaha dan tetap tersenyum, ya?” kata Hana sambil tersenyum ke arah orang yang ia bantu.
Tidak ada balasan dari orang tersebut. Ia bingung dengan kalimat yang dilontar oleh gadis yang membantunya itu. Setelah mengatakan hal itu, Hana langsung pergi dengan senyuman yang tidak memudar.
“Apa-apaan ini? Dia memergokiku tapi menasehatiku,” ucapnya sembari melihat kepergian gadis itu.
Ia langsung pergi meninggalkan tempat itu setelah melihat gadis itu hilang dari penglihatannya. Ia membuka masker hitamnya dan menghembus nafasnya dengan gusar. Ia melihat kembali barang yang seharusnya ia curi.
“Apa yang harus aku jelaskan ke mereka tentang ini? Si Rambut Kepang itu pasti menertawaiku jika aku menceritakan yang sebenarnya,” gumam orang itu kesal.
Kembali ke Hana yang sedang berada di dalam taksi, ia menghela nafasnya setelah mengingat kenangan tersebut. Ia masih belum yakin sepenuhnya jika pria yang ia temui barusan adalah orang yang sama yang ia temui 2 tahun lalu. Hana begitu yakin jika orang yang ia temui 2 tahun yang lalu tidak mempunyai luka di wajahnya seperti pria yang ia temui barusan.
“Hanya karena matanya yang sedikit mirip bukan berarti dia orang yang sama, bukan?” Dia berusaha meyakinkan dirinya.
Namun, ia masih belum yakin dengan pendapatnya sendiri. “Kenapa aku belum yakin kalau mereka bukan orang yang sama? Ini aneh,” ucapnya bingung.
“Jangan bilang dia kembarannya?! Katanya manusia punya 7 kembaran, bukan?!” ucap Hana sambil menunjukkan wajah yang kaget.
“Waktu tidak pernah berhenti berjalan. Siapa tahu dia memang orang yang sama. Kalau memang benar dia orang yang sama itu berarti kamu memang sudah ditakdirkan untuk bertemu dengannya,” kata supir tiba-tiba.
Hana menatap sang supir denganwajah yang tidak percaya. Apa benar begitu, pikirnya. Kalau semisalnya benar, kenapa dia harus ditakdirkan untuk bertemu dengan pria dengan wajah yang unik itu.
“Bapak pernah diposisi saya sekarang?” tanya Hana penasaran.
“Tidak, belum pernah,” jawab sang supir.
“Terus, bagaimana Bapak bisa tahu?” tanya Hana lagi.
“Masa depan itu misteri, tidak ada yang tahu seperti apa nantinya. Buruk atau baik, tidak ada satupun yang akan tahu. Terkadang kita diberi petunjuk yang tidak jelas tapi begitulah kehidupan. Sekarang pilihan kamu hanya satu yaitu jangan pernah menyalahkan garis takdirnya yang sudah ditentukan,” jawab sang supir.
Kini pembicaraan mereka telah usai. Hana memandangi luar jendela dengan tenang tapi isi kepalanya masih memikirkan ucapan sang supir barusan. Tidak mungkin dia ditakdirkan untuk bertemu dengan pria itu mengingatkan dia tidak punya hubungan dengan pria itu sama sekali.
Hana masih belum selesai dengan urusannya.
__ADS_1
“Pria berwajah unik itu ditakdirkan untuk bertemu denganku? Apa yang akan terjadi nanti?”