Jangan Salahkan Garis Takdir

Jangan Salahkan Garis Takdir
Bab 6: Menerimanya


__ADS_3

Di sebuah tempat yang dipenuhi buku-buku, Zegran yang sedang mencari buku yang berguna untuk ujian besok. Saat akan membayar buku tersebut, secara tak sengaja ia menangkap sebuah momen mengharukan dari seorang anak dengan ibunya.


Ia memerhatikan mereka dari meja kasir, sang anak yang menolak ajakan ibunya yang hendak mengajaknya untuk makan malam di luar dengan alasan bahwa ia harus fokus untuk ujian yang berlangsung besok pagi. Namun, pada akhirnya sang anak menerima ajakan tersebut berkat usaha sang ibu. Zegran yang melihat itu hanya bisa tersenyum simpul.


“Terima Kasih,” kata Zegran sebelum meninggalkan toko buku tersebut.


Beralih ke Hana yang telah pulang dari tempatnya bekerja. Kini ia sedang duduk dan siap untuk mengorbankan sisa waktunya untuk besok. Seperti adegan di film-film,  kepalanya menayangkan kembali kejadiannya bersama Zegran. Ia dirundung oleh rasa bingung dan tentunya bimbang. Tidak mungkin ia mengorbankan usahanya selama ini hanya sebuah uang.


“Aku butuh uang buat bayar uang sewa tapi aku tidak mau menjual usahaku selama ini. Kepalaku sangat pusing,” ucapnya sembari mengusap gusar wajahnya.


Ia menghembuskan nafasnya secara berkala, kepalanya benar-benar pusing. Ia meletakkan kepalanya yang berat itu di atas bukunya, memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan isi kepalanya yang hampir meledak. Tak lama, matanya terbuka dan menangkap foto yang terpanjang di atas mejanya belajar.


Foto itu berisikan dirinya bersama keluarga lengkapnya. Ia tersenyum, foto itu diambil disaat keluarga mereka sedang baik-baik saja. Ayahnya belum kehilangan perusahaannya serta dikejar-kejar rentenir, ibunya masih berada disisinya serta hidupnya masih baik-baik saja.


“Saat itu ibu dan ayah sudah berjanji akan membawaku ke pantai,” ucapnya bersedih.


Tidak mungkin ia tidak merindukan momen-momen hangat tersebut. Meski ia tahu hidupnya hancur karena kedua orang di foto tersebut yang telah melarikan diri dari tanggungjawab mereka sebagai orang tua serta orang dewasa. Seketika butiran bening itu jatuh dari sarangnya dan membasahi pipinya.


“Maafkan aku, Ibu, Ayah,” ucapnya sambil menyeka air matanya.


Keesokan harinya, Hana Berangkat ke sekolah lebih awal. Ia masih bingung dengan kesepakatan yang sempat ia bahas bersama Zegran kemarin. Pilihannya menghantui pikirannya setiap saat dan di mana pun ia berada. Ia langsung menhampiri Zegran yang sedang sendirian di ruang kelas.


Ia sedikit heran melihat Zegran yang tiba lebih awal, biasanya dialah orang terakhir yang tiba di kelas. Ia berpikir jika Zegran sanggup tiba lebih awal karena menunggu jawaban dari Hana yang selalu tiba paling awal. Ia duduk di kursinya yang bersebelahan dengan Zegran.


“Zegran,” panggil Hana.


“Apa?” jawabnya.

__ADS_1


“Aku akan melakukannya,” kata Hana dengan percaya diri.


Seketika Zegran menatap Hana dengan cepat, matanya membulat membesar serta otaknya yang berhenti bekerja sejenak. Ia masih belum percaya jika Hana benar-benar menerima kesepatan yang ia buat.


“Kau yakin untuk melakukannya?” tanya Zegran memastikan.


“Iya. Selagi ada balasannya, aku akan melakukannya,” jawab Hana dengan penuh percaya diri.


Kini Hana menatap Zegran yang telah menatapnya sedari tadi. Wajah Hana benar-benar serius. Berbeda dengan Zegran yang menatap Hana dengan wajah yang sedikit bahagia terlihat dari pupilnya yang membesar. Tak lama, ia tersenyum lebar.


“Kau memilih pilihan yang tepat,” kata Zegran sebelum meraba isi tasnya.


Zegran langsung mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih ke arah Hana. Dengan hati yang penasaran, Hana langsung mengambil dan segera membukanya. Ia kaget bukan main, sejumlah uang telah ia pegang dengan tangannya sendiri.


“Aku akan membayarmu setengahnya terlebih dulu. Sisanya akan aku berikan setelah hasil ujian keluar,” jelas Zegran.


Hana langsung memasukkan amplop tersebut ke dalam tasnya. Ia tidak ingin amplop putih itu terlihat oleh orang lain. Sekali ia lengah, mereka berdua akan terjerumus dalam masalah yang serius.


“Kau tidak bisa melewati 90 di semua nilaimu,” jawab Zegran.


Zegran tahu jika Hana merupakan murid yang pintar di kelasnya bahkan beberapa nilainya lebih rendah dari milik Hana. Ia tetap tidak tidak bisa menjadi lebih baik sekeras apapun ia berusaha untuk melewan gadis yang ada di sampingnya, itulah kelemahannya.


“Hanya itu, ‘kan?” tanya Hana memastikan.


“Iya,” jawabnya dengan cepat.


Ia telah terjatuh terlalu dalam di dalam kegelapan yang entah kapan usainya. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain membiarkan dirinya semakin jatuh ke dalam kegelapan itu. Ia bingung mungkin bahkan ia tidak tahu bagaimana caranya ia keluar dari kegelapan tersebut. Semakin ia menyadari, semakin jauh dirinya terjatuh.

__ADS_1


Satu per satu ujian telah mereka lewati. Seperti ia mereka sepakati, Hana berusaha untuk tidak melewati 90 di semua ujiannya dengan menjawab dengan salah secara sengaja. Kini minggu yang menyiksa bagi semua murid telah dilewati dengan baik, yang ditunggu-tunggu telah di depan mata.


"Seperti biasa, Bapak akan memberikan hasil ujian kalian," ucap Pak Beni, sang wali kelas. Semua murid mengeluarkan perasaan yang selama ini mereka tahan.


"Coba tebak siapa mendapat peringkat pertama di kelas kita?" tanya Pak Beni. Entah kenapa pertanyaan tersebut membuat semua murid membuang mukanya dengan kesal.


"Seperti biasa Zegran menduduki peringkat pertama di kelas!" kata Pak Beni dengan semangat.


Berbeda dengan semua anak muridnya, mereka memasang wajah tidak suka. Namun, berbeda dengan Hana yang kelihatan sungguh sedih. Zegran menatap Hana yang sedang menunduk, hanya dirinya yang sadar akan hal itu. Setelah itu, Zegran langsung menuju ke depan untuk mengambil kertas yang berisikan hasil nilainya.


“Untuk semuanya, tidak apa-apa jika sekarang nilai kalian belum memuaskan. Jadikan momen kali ini untuk menjadi pembelajaran untuk kalian di ujian berikutnya. Terutama untuk Hana, saya tahu kamu sedang di masa yang sulit tapi bukan berarti kamu harus menyerah begitu saja,” kata Pak Beni. Namun, hal itu membuat semua murid menatapnya dengan bingung.


“Berarti nilainya turun? Bagaimana bisa?” tanya salah satu teman sekelasnya.


“Bagiku dia lebih pintar dari siswa terpintar di kelas ini. Aku juga tidak percaya jika kali ini dia mendapat nilai tinggi di ujian kali ini,” jawab teman sebangkunya.


Bagi Hana, hal seperti itu sudah biasa bagi dirinya. Ia tidak mempunyai hak untuk melarang mereka mengutarakan pendapatnya, itulah yang membuatnya menahan untuk selama ini. Begitu juga dengan Zegran, ia mendengar pembicaraan teman sekelasnya barusan.


"Hana,” panggil Zegran.


"Apa?" jawab Hana.


"Temui aku di taman saat waktu istirahat nanti," suruh Zegran. Ia berusaha berbisik agar tidak didengar oleh orang lain.


"Iya, aku tahu," jawab Hana dengan dingin.


Suara lonceng mengisi seluruh bangunan sekolah itu. Suara itu berarti pembelajaran pertama telah dimulai. Seorang guru masuk ke kelas yang masih kacau dengan nilai ujian yang baru saja mereka dapatkan.

__ADS_1


"Simpan kertas tersebut dan keluarkan bukunya sekarang. Kita akan segera belajar," suruh guru tersebut.


"Baik, Bu." Semua murid menjawab secara serentak.


__ADS_2