Jangan Salahkan Garis Takdir

Jangan Salahkan Garis Takdir
Bab 8: Ketahuan


__ADS_3

Seperti yang telah dijanjikan, mereka akan bertemu di taman sekolah tempat kesepakatan itu disampai oleh Zegran. Hana langsung ke tempat tujuan setelah kembali dari perpustakaan dan melihat sososok di nawah pohon rindang itu.


"Maaf, aku sedikit telat," ucap Hana meminta maaf.


“Tenang, kau tidak membuatku harus menunggu,” jawab Zegran. Tak lama, ia mengeluarkan sebuah amplop putih dari seragam sekolahnya. Hana langsung tahu, itu adalah uang hasil kesepakatan mereka.


"Cukupkan uangnya?" tanya Zegran. Hana langsung melihat isinya lalu mengangguk dengan cepat.


"Iya," jawab Hana.


KIni, urusan mereka telah selesai. Apa yang diinginkan Zegran telah ia dapat, begitu juga dengan Hana yang telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan. Karena itu, Zegran memutuskan untuk meninggalkan tempat itu segera sebelum ada yang melihat keberadaan mereka berdua. Namun, ia ditahan oleh Hana yang tiba-tiba menarik tangannya.


"Tunggu sebentar,” ucap Hana. Tangannya memegang erat tangan milik Zegran.


"Aku masih bingung. Kenapa kau melakukannya ini?" lanjutnya dengan penuh kebingungan.


Zegran dikenal sebagai anak yang pintar di kelas. Tak hanya itu, ayahnya yang bekerja sebagai seorang pengacara sedangkan ibunya seorang dokter membuat ia dihormati dan disegan oleh banyak orang yang ada di sekolahnya. Mengapa Zegran harus melakukan ini semua, itulah pikirnya.


"Kalau begitu, aku juga masih bingung. Kenapa kau menerima kesepakatan ini?" Bukannya menjawab, ia malah menanyakan pertanyaan yang seharusnya ia jawab.


"Kenapa kau bertanya kembali?" tanya Hana bingung.


Tidak ada jawaban dari kedua pihak, membuat suasana menjadi canggung dan dingin. Kedua insan itu saling tatap berusaha mencari di mana letak jawaban yang berusaha di simpan itu. Kemudian, Zegran mulai membuka topik yang baru.


"Oh iya. Aku sudah muak dengan tugas-tugas sekolah. Apa kau bisa melakukannya untukku?" tanyanya dengan nada yang sedikit tegas.


"Tugasmu?" Hana bingung. Apakah ini kesepakatan yang lain, pikirnya.

__ADS_1


"Iya, aku tetap akan membayarmu," ucap Zegran. Hana tidak terkejut lagi karena ia tahu ke mana arah pembicaraan mereka.


"Baiklah. Aku akan melakukan itu," jawabnya langsung.


Memang benar apa kata orang, percobaan pertama memang sulit. Namun, setelahnya akan terasa lebih mudah. Hana sudah tidak lagi ragu untuk menerima kesepakatan itu lagi. Itu karena imbalan yang berupa uang. Kalau bukan karena uang, ia tidak akan mau untuk melakukan hal yang bisa saja menjadi masalah baginya.


Seluruh penjuru sekolah menjadi saksi bisu bagi mereka. Tempat-tempat yang dianggap jauh dari kerumunan telah mereka gunakan sebagai tempat transaksi. Berkali-kali pula Hana menerima kesepakatan yang dibuat oleh Zegran. Namun, kita bisa menyembunyikan api tapi tidak dengan asapnya. Lambat laun, transaksi mereka dicium oleh orang lain. Suatu hari, nama Hana dipangil oleh Pak Beni wali kelasnya.


"Hana, Pak Beni memanggilmu di ruang BK,” ucap siswa itu.


"Saya?" Hana bingung. Kenapa namanya tiba-tiba dipanggil oleh wali kelasnya. Tak hanya itu, ia harus menemui wali kelasnya di ruang BK yang di mana tempat itu terkenal sebagai ruangan untuk siswa yang bermasalah.


"Iya, Pak Beni sudah menunggumu di sana," jelas siswa itu.


"Baiklah kalau begitu," jawab Hana. Meskipun hatinya merasakan hal yang tidak enak, ia langsung menuju ke tempat Pak Beni berada. Ia tidak ingin membuat wali kelasnya menunggu kedatangannya.


"Kenapa dia dipanggil?" tanya Zegran ke siswa tersebut. Sayangnya, siswa itu hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu. Kini, Hana telah tiba di ruang BK. Dan benar saja, Pak Beni sudah menunggunya di sana.


"Ayo masuk, Hana," kata Pak Beni menyuruh orang yang ia cari untuk masuk ke ruangan tersebut.


Hana langsung duduk di sofa yang ada di sana sambil menatap Pak Beni yang sudah menatapnya dengan tatapan yang tajam. Nafasnya mulai memberat, sepertinya ia tahu apa yang akan dibahas oleh wali kelasnya. Namun, ia berusaha untuk berpikir positif. Pasti wali kelasnya memanggil dirinya bukan karena kesepakatan itu, pikirnya.


"Kenapa Bapak memanggil saya ke sini?" tanya Hana.


"Saya dengar kamu dekat dengan Zegran, ya?" Seketika jantung Hana seperti berhenti bergerak. Ia semakin khawatir jika ia dipanggil karena kesepakatan yang mereka lakukan bersama.


"Kami hanya teman sebangku saja, Pak. Jadi, belum bisa bilang sebegitu akrab," jawab Hana yang berusaha tenang. Pak Beni mengangguk pelan. Namun, hal itu membuat Hana merasa janggal.

__ADS_1


"Kenapa bapak bertanya begitu?" tanya Hana.


"Ibunya Zegran melaporkan bahwa terdapat banyak sekali uang yang ditarik dari rekening Zegran. Saya jadi takut jika dia diperas oleh teman-temannya.” Hana langsung kaget mendengar itu. Apakah rahasianya bersama Zegran telah sampai di telinga pihak sekolah, apakah setelah ini ia akan dihukum karena kesepakatan tersebut, itulah yang menganggu pikiran Hana sampai-sampai tidak kuat untuk bersuara.


"Kamu tidak memerasnya, 'kan?" tanya Pak Bani. Hana terdiam, ia takut bagaimana ia harus menjawab pertanyaan tersebut. Namun, Pak Beni mendekati Hana sambil menunjukkan layar ponselnya.


"Ada yang memposting foto ini di forum online sekolah," kata Pak Beni.


Pak Beni langsung menunjukkan sebuah foto dari layar ponselnya. Hana menjadi benar-benar kaget setelah melihat foto tersebut. Seseorang telah memfoto dirinya yang sedang menerima uang dari Zegran, yang terlihat seakan-seakan sedang memeras uang milik Zegran.


"Kamu harus menjelaskan semuanya, Hana," suruh Pak Beni. Hana tak menjawab dan memilih untuk membungkam. Hal itu membuat wali kelasnya menjadi emosi.


"Saya di sini sebagai guru kamu. Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara baik-baik. Jadi, tolong jelaskan semuanya,” kata Pak Beni.


Ia benar-benar menahan amarahnya.


Hana masih ragu dengan pilihannya, apakah ia harus jujur atau tidak. Jika ia memilih untuk jujur, semuanya akan semakin rumit. Ia akan dihukun begitu juga dengan Zegran. Namun, jika ia memilih untuk tetap diam, ia akan dicurigai telah memeras uang milik Zegran. Hana terdiam dalam waktu yang lumayan lama. Hal itu membuat Pak Beni yang telah sabar menunggunya habis dibakar api amarah.


"Tetap duduk di sana sampai kamu mau menjelaskan semuanya,” ucapnya dengan kesal. Pak Beni dengan emosi memutuskan untuk keluar meninggalkan Hana.


"Tunggu, Pak!" jerit Hana. Wajahnya berkeringat hebat, matanya memerah karena menahan air yang telah membendung.


"Akan saya beritahu semuanya!" Hana memilih untuk jujur. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain untuk memberitahu segalanya. Ia mencoba menurunkan amarahnya. Setelah itu, Pak Beni kembali duduk di hadapan Hana dan menunggu anak muridnya untuk menjelaskan segalanya.


"Kami melakukan kesepakatan, Pak,” kata Hana dengan nada yang bergetar.


"Kesepakatan?" Hana menceritakan semuanya mengenai kesepakatan yang mereka lakukan tanpa meninggalkan sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2