Jangan Salahkan Garis Takdir

Jangan Salahkan Garis Takdir
Bab 10: Menolong dan Menyalahkan


__ADS_3

Di saat dirinya terjatuh ke dalam kegelapan, ia melihat secercah cahaya yang datang mendekat. Ia membuka matanya untuk melihat cahaya yang mendekat itu. Dan seketika cahaya itu membangunkan dirinya. Ia bisa melihat secercah cahaya itu tepat di depan matanya.


“Kau tidak apa-apa, ‘kan?” ucapnya.


Cahaya itu datang dan membantu Hana dari cekikan yang hampir membuatnya hampir kehilangan kesadarannya. Orang itu berulang kali menanyakan apakah gadis yang ia bantu baik-baik saja, Hana langsung mengangguk untuk menjawab di akhir pertanyaannya. Hanya satu yang ia ingin tanyakan ke orang yang telah menolongnya.


Dengan mata yang masih buram serta kesadarannya masih belum pulih ia bertanya, “Siapa kau sebenarnya?”


“Orang yang telah ditakdirkan untukmu, Hana.”


Dalam beberapa saat, penglihatannya kini kembali norma. Meski tempat itu minim akan cahaya, ia bisa melihat siapa sosok cahaya yang membantunya barusan. Ia mengusap matanya, berusaha meyakinkan dirinya saat melihat sosok itu. Ia masih belum memercayai matanya itu, berpikir jika dirinya sedang bermimpi atau semacamnya.


“Darent, kenapa harus dirimu?” batin Hana bingung.


“Siapa kau?!” Tiba-tiba sang atasan langsung menjerit. Sang atasan terjatuh karena pukulan keras dari Darent. Merasa tak terima dirinya diperlakukan begitu, ia berdiri dan berusaha melawan kembali. Mengangkat genggaman tangannya dan melontarkannya ke arah Darent cepat. Sayangnya, kekuatannya tak sebanding dengan anak muda, ia kalah dalam sekejap.


“Dasar orang tua cabul!” jerit Darent. Namun, ia malah memukul di bagian wajahnya tanpa henti dengan penuh emosi. Hana yang khawatir langsung menghentikannya.


“Cukup!” suruh Hana yang khawatir. Lantas, Darent langsung menghentikan pukulannya. Untung, atasannya masih bisa bergerak bahkan masih bisa bicara dan memaki meski hidungnya telah berdarah-darah karena ulah Darent barusan.


“Hana, ayo lari!” kata Darent.


Darent langsung menggenggam tangan Hana dan mengajaknya kabur dari sana. Mereka meninggalkan sang atasan yang sudah babak belur dengan hidungnya yang terus mengeluarkan cairan merah pekat. Mereka tak memerdulikan sang atasan yang sudah memaki dan mengancam akan melaporkan mereka berdua.


Hana hanya diam dan mengikuti Darent yang berlari sambil mengenggamkan tangannya. Matanya tak lepas dari Darent yang ada di depannya itu, isi kepalanya sibuk memikirkan apa yang pernah ia bahas bersama supir taksi tempo hari. Kini, kesadarannya kembali, ia melihat dirinya yang telah jauh dari tempat kejadian. Ia menarik tangannya dengan kuat yang membuat Darent berheti seketika.


“Ada apa?” tanya Darent dengan kebingungan.


“Apa yang kau lakukan?!” tanya Hana dengan penuh amarah. Tentu hal tersebut membuat Darent keheranan.


“Kau malah menambah beban hidupku!” jerit Hana dengan mata yang memerah. Lantas, Darent tersentak melihat Hana yang berteriak ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Kini, tangisan Hana pecah sejadi-jadinya.


“Dia sudah melecehkan dirimu! Bukankah dia pantas mendapatkan itu?!” ucapnya.

__ADS_1


“Kau baru saja menambah beban hidupku! Kau tahu tidak?!” balas Hana lagi dengan nada yang semakin meninggi. Cairan bening itu terus jatuh dari sarangnya dan membasahi pipinya.


“Apa maksudmu?” tanya Darent kebingungan.


“Kau memukulnya sehingga hidungnya berdarah-darah! Kapan pun dia bisa melaporkan kejadian ini ke pihak polisi! Kalau itu benar-benar terjadi, apa yang harus aku lakukan?!” jelas Hana.


“Apa kau gila? Dia sudah melecehkan dirimu!” jawab Darent yang mulai tersalut emosi. Ia telah menyelamatkannya, namun orang yang ia selamatkan itu malah menyalahkan dirinya.


“Aku tidak punya kuasa maupun uang!” Seketika Darent terdiam mendengar itu. Hana menyeka seluruh air matanya yang tersisa di wajahnya menggunakan tangannya, kepalanya hampir meledak saat itu.


“Aku tidak akan menang melawan orang yang mempunyai kuasa dan uang. Kenapa kau malah menolong diriku tadi?” lanjut Hana. Kini, nadanya merendah. Justru kalimat yang baru saja keluar dari bibir Hana membuat Darent keheranan.


Setelah lama memmbungkam mulutnya, akhirnya Darent bersuara. “Jadi kau mau dia melecehkan dirimu?”


Hana yang mendengar itu langsung kesal bukan main. “Jaga ucapanmu! Kita baru ketemu, ya. Jadi, jangan menganggap kita sudah kenal satu sama lain, ya.”


“Aku hanya ingin membantumu! Apa masalahmu?!” ucap Darent kesal. Hana benar-benar hancur. Belum menyelesaikan masalahnya dengan Zegran, dan sekarang masalah baru muncul. Ia terduduk lemas sambil menangis.


“Kau tahu betapa takutnya diriku jika ini menjadi masalah yang besar?” lanjut Hana. Kini, Darent tak menjawab.


Matanya mulai memerah, tak lama cairan bening itu jatuh untuk kesekian kalinya. Ia hanya seorang gadis malang yang harus berjuang sendirian di kerasnya realita dunia dan harus menjadi sosok “dewasa”. Tak lama, Darent ikut duduk bersama Hana yang sedang menangis. Belum sempat ia ikut bergabung, Hana langsung berdiri sambil menyeka air matanya.


“Kau mau ke mana?” tanya Darent.


“Kau telah menambah sialku,” jawab Hana cepat. Hana langsung pergi meninggalkan Darent yang sedang kebingungan. Namun, langkahnya terhenti seketika.


“Aku tidak akan lupa dengan kebaikanmu kemarin. Aku akan membayar uang ongkos taksi itu. Jadi setelah ini anggap jika kita tidak pernah bertemu lagi,” ucapnya sebelum meninggalkan Darent.


“Kenapa dia begitu keras kepala? Padahal aku hanya membantunya,” kata Darent. Ia menghembuskan nafasnya gusar, kebingungan sekaligus keheranan melihat Hana yang menyalahkan dirinya.


.....


Kini, ia telah tiba di rumahnya. Ia menjadi seorang kakak yang memiliki senyuman lebar dan hangat, begitulah Hana saat ia berpijak di rumah kecilnya itu. Ia sengaja melakukan itu agar sang adik tidak khawatir akan dirinya. Cukup dirinya yang hancur, begitulah pikirnya.

__ADS_1


“Kakak sudah pulang?” tanya sang adik. Hana berusaha memasang senyuman lebar nan hangat di wajahnya. Namun, sang adik tetap mengetahui mata sang kakak yang terlihat bengkak.


“Kakak nangis, ya?” tanya sang adik. Hana menggelengkan kepalanya berbohong.


“Kapan kakak nangis? Kakak nggak apa-apa, kok. Tadi lewat di taman yang banyak bunganya,” jawab Hana yang langsung menuju ke kamar mandi tanpa memandangi sang adik.


“Aneh, dia tidak pernah ada penyakit alergi dengan sari bunga,” gumam Lily.


“Untung dia tidak mencurigaiku,” kata Hana yang sudah berada di dalam kamar mandi.


Baginya, sang adik telah memercayainya begitu saja. Setidaknya ia lega jika mengetahui adiknya tak mengkhawatirkan dirinya. Namun, sang adik malah beranggapan lain. Kakaknya sedang tidak baik-baik saja, pikir sang adik.


Hana sedang melihat isi kamera milik adiknya. Namun, isi kamera tersebut berhasil membuat Hana kaget dan keheranan. Karena waktunya habis digunakan untuk mencari uang dan belajar, ia menjadi tidak memiliki waktu untuk menghabiskan waktunya bersama sang adik. Mungkin, ini adalah kali pertamanya memegang dan melihat isi dari kamera sang adik.


“Kenapa semua fotonya begini?” tanya Hana penasaran.


Bukannya menjawab, Lily malah bertanya, “Kenapa? Itu mengerikan, bukan?”


“Iya, ini sangat mengerikan,” jawab Hana. Siapa yang tidak takut melihat ada kodok yang mati karena tertindas mobil.


“Tiada alasan lain selain menyukai hal begitu. Itu hal baru, bukan?” jawab sang adik.


“Mungkin. Tapi, ini benar mengerikan dan menjijikkan. Aku tidak bisa melihatnya lagi,” kata Hana. Hana meletakkan kembali kamera tersebut ke atas meja. Ia kembali membuka buku untuk belajar.


“Setiap hari belajar terus. Tidak capek, Kak?” tanya Lily.


“Tidak, kok,” jawabnya sambil menggelengkan kepala.


“Kepala Lily bisa berasap kalau terlalu banyak berpikir,” ucap Lily dengan ekspresi yang membuat sang kakak tertawa kecil.


“Karena itu kau lebih memilih kamera daripada buku, ‘kan? tanya Hana.


“Kok tahu?” jawab Lily bingung. Apakah kakaknya bisa membaca pikirannya, pikirnya.

__ADS_1


Benar, dunia itu memang misteri. Tidak seperti matematika yang memiliki jawaban yang pasti.


__ADS_2