
Di sebuah tempat yang biasa dikunjungi oleh anak-anak kecil di sore hari bersama keluarga kecilnya, terlihat seorang anak berjaket merah dengan kamera digitalnya. Ia sibuk mencari tempat serta media yang bisa dijadikan karyanya. Seperti secepat angin, ia memotret seekor kucing hitam putih yang tak sengaja lewat di hadapannya.
"Yah... Kucingnya lari," ucapnya sedih.
Jaket merah dengan rambut pendeknya yang mirip seperti laki-laki yang dilengkapi kamera digital khasnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Lily yang sibuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan karyanya . Di sisi lain, tujuannya dia di taman itu adalah mengisi kebosanannya di saat kakaknya sibuk mencari uang.
Siapa saja yang tidak betah tinggal sendirian di rumah sedangkan penghuni rumah lainnya akan pulang sekitar jam malam. Selain mengisi kebosanannya, ia jadikan momen ini sebagai wadah untuk dirinya mengembangkan bakatnya dalam memotret. Ternyata sedari tadi Lily menunggu kedatangan seseorang.
"Kau datang juga," kata Lily sambil menghampiri orang yang ia tunggu itu.
"Maaf, ya. Tadi lagi ada urusan dikit di cafe,” ucap orang itu beralasan.
"Nggak apa-apa, kok," jawab Lily. Kemudian, kedua sosok itu berjalan dan duduk di sebuah ayunan.
"Bisa aku lihat kameramu?" tanya pria itu.
Lily bukan sosok yang tidak memberi orang lain menyentuh benda kesayangannya. Jadi, ia memberikan kameranya ke orang itu. Orang itu langsung melihat hasil yang dijepret oleh kamera tersebut. Namun, ia menyadari sesuatu.
"Tapi, bolehkah aku bertanya?" tanya orang itu.
"Tentu, dong. Mau nanya apa?" jawab Lily.
"Kita sudah lumayan lama berkenalan tapi sampai sekarang kita belum pernah menanyai nama kita satu sama lain," ucap orang itu.
Jika dipikir-pikir apa yang dikatakan orang itu memang ada benarnya. Mereka sama seklia belum pernah menanyakan siapa nama mereka. Uniknya, selama ini mereka berkomunikasi selayaknya teman yang dekat tanpa mengetahui nama sama sekali.
"Oh, begitukah? Kalau begitu, kau bisa memanggilku Darent," kata pemuda itu.
Namun, Lily menyadari sesuatu. Selama ini orang-orang menganggapnya sebagai anak laki-laki mengingat bahwa penampilannya seperti seorang anak laki-laki. Ia tidak bisa mengenalkan dirinya sebagai Lily dan ia ingin menyembunyikan identitasnya sebagai seorang gadis. Mau tak mau, ia harus mengenalkan dirinya dengan namanya yang terdengar seperti seorang laki-laki.
“Siapa namamu?” tanya Darent yang tak kunjung dijawab oleh Lily.
“Namaku Chandra,” jawab Lily takut.
“Nama yang cocok untukmu,” jawab Darent yang sama sekali tidak mencurigai Lily. Mendengar itu, Lily langsung menghembuskan nafasnya lega.
Untuk menutupi kekhawatirnya, Lily langsung menanyakan dengan topik yang sedikit berbeda tapi masih ada hubungannya. “Omong-omong, berapa umurmu? Kau terlihat lebih tua dariku,” tanya Lily.
__ADS_1
"Tidak perlu memanggilku dengan sebutan "kak". Panggil nama, aja,” jawab Darent. Namun, hal itu membuat Lily kaget bukan main. Apakah Darent bisa membaca pikirannya, pikirnya.
"Kok tahu?" tanya Lily kaget.
"Tidak usah dijelaskan. Kalimatmu merujuk ke sana," jawab Darent dengan santai.
"Jawabanmu sudah terlihat jika kau seorang pria dewasa," ucap Lily.
“Pria dewasa, ya?” tanya Darent. Namun, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sedikit membuat Lily bertanya-tanya.
“Kenapa?” tanya Lily penasaran.
“Tidak ada apa-apa kok,” jawab Darent sambil menunjukkan senyumannya. Secara tak sengaja, kecanggungan serta keheningan menemani di antara mereka. TIba-tiba, Darent memanggil Lily dengan nama lainnya yang membuat kecanggungan dan keheningan itu hancur seketika.
"Apa?" Lily langsung menatap ke arah Darent dengan cepat.
"Aku penasaran dengan isi fotomu. Kenapa isinya begini semua?" tanya Darent penasaran.
Ia sangat kaget saat melihat isi dari kemera milik Lily itu. Biasanya kamera digunakan untuk memoteret sesuatu yang bisa menggerakkan hati seseorang dengan keindahan serta makna dari sebuah jepretan. Berbeda dengan Lily, ia lebih memilih untuk memotret hewan-hewan yang sudah mati bahkan telah menjadi bangkai kering.
"Aku ingin menunjukkannya ke kakakku,” jawab Lily dengan wajah yang sedikit murung.
"Bukan. Aku hanya khawatir dengannya," jawabnya dengan nada yang sedih. Darent tidak menjawab, ia membiarkan Lily untuk melanjutkan kalimatnya..
"Kebelakangan ini aku sering melihat kakakku menenggelamkan wajahnya di wastafel kamar mandi. Sejak saat itu aku mulai khawatir jika ia memiliki niat untuk mengakhiri dirinya," jelas Lily lagi. Wajahnya menunduk, tapi Darent tahu betul kekhawatiran yang Lily rasakan.
"Apa hubungannya dengan foto-foto ini?" tanya Darent waspada.
"Aku ingin menunjukkan bagaimana betapa mengerikan kematian itu,” jawab Lily lagi.
"Bagiku, kau adalah adik yang baik. Kau keren sekali. Memahami orang lain itu tidaklah mudah," puji Darent. Mendengar itu, Lily langsung menatap Darent dengan lekat.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kakakmu, aku yakin jika dia memang ada yang sedang dipikirkan. Dia melakukan itu karena merasa tertekan sehingga mau menenggelamkan wajahnya. Aku berharap dengan foto-foto ini ia menyadari itu," jelasnya yang ditutup dengan senyuman hangatnya. Tak lama, Darent mengembalikan kamera tersebut ke sang pemilik.
"Karena membahas mengenai ini, aku jadi mengingat suatu kejadian," ucap Darent yang mulai membuka topik baru.
"Kejadian apa itu?" tanya Lily penasaran.
__ADS_1
"Kemarin, aku melihat seorang gadis yang ingin meloncat dari bangunan apartemen tempat aku tinggal. Tentu saja aku langsung mencegahnya," lanjutnya lagi.
"Bagaimana setelahnya?" Kini, Lily semakin penasaran dengan lanjutan ceritanya.
"Pada akhirnya dia tidak jadi untuk meloncat berkat diriku. Tapi, aku menyadari sesuatu dari gadis itu," ucap Darent.
"Kenapa dengan gadis itu?" Lily semakin penasaran.
"Dia seperti tidak ada niat untuk mengakhiri hidupnya tapi mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Kau mengerti maksudku, 'kan?" Darent berusaha menjelaskan dengan kata-katanya paling terbaik agar Lily bisa memahami apa yang ia maksudkan. Untung, Lily langsung mengerti.
"Iya, aku mengerti. Aku rasa dia melakukan itu karena ragu untuk meninggalkan seseorang," jawab Lily. Wajahnya benar-benar serius.
"Iya, aku juga berpikir begitu,” jawab Darent yang ikut setuju.
“Sepertinya aku pernah melihatnya tapi lupa di mana,” kata Darent.
“Benarkah?” kata Lily. Setelah itu, suasana di sana menjadi hening. Lily sibuk mengotak-atik kameranya sedangkan Darent hanya termenung entah memikirkan apa.
"Membahas tentang kakakmu, aku jadi penasaran dengan sosok kakakmu." Akhirnya Darent membuka pembicaraan yang baru.
"Kau mau aku kenalkan dengannya?" tanya Lily. Wajahnya berubah menjadi sangat semangat. Akhirnya ada orang yang ingin menemui kakaknya, pikirnya.
"Kalau kau mau," jawab Darent. Sepertinya ia benar-benar penasaran siapa kakak dari Lily.
"Tenang. Kakakku baik, kok.” Lily berusaha meyakinkan Darent.
"Bukan begitu. Aku hanya belum bersedia saja," jawab Darent. Namun, hal itu membuat Lily berpikir hal yang lain.
"Kenapa? Kau tidak percaya diri atau bagaimana?" tanya Lily.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak yakin," jawab Darent.
"Apa yang kau maksudkan dengan tidak yakin?" tanya Lily. Darent langsung berdiri alih-alih menjawab pertanyaan Lily.
"Chandra, ayo ke cafe. Mereka sudah berkumpul di sana," ucap Darent.
"Suka betul bikin orang lain penasaran,” kata Lily. Tak lama, ia mengikuti Darent yang beberapa detik lalu meninggalkan taman bermain itu. Akhirnya mereka berdua bergegas pergi ke sebuah cafe yang sempat dibahas oleh Darent.
__ADS_1
“Kau bukan orang yang aku temui sebelumnya. Tatapan matamu berbeda dengan orang yang pernah aku temui dulu. Kau berubah.”