
Makan malam telah selesai, Hana sudah berganti pakaian. Ia sedang bersiap-siap untuk belajar. Tak lama Lily menghampiri dirinya sambil membawa kamera miliknya. Hana yang belum mulai pun memilih untuk menjawab panggilan dari sang adik.
“Kak?” panggil Lily.
“Iya, ada apa?” jawabnya.
“Ada yang ingin aku sampaikan. Tapi, kakak jangan marah, ya?” kata Lily.
“Iya, Lily. Bilang aja,” ucapnya sambil mencari buku yang akan dia gunakan nanti.
“Tadi Bu Tania datang buat minta uang sewa,” ucapnya dengan hati-hati.
Mendengar itu, Hana tidak kaget. Itu bagaikan angin kecil yang menerpa dirinya. Hembusan nafas terdengar jelas dari bibirnya. Ia memandangi sang adik dengan wajah yang serius, melihat sang adik dengan lekat.
“Kamu jawab apa, Lily?” tanya Hana sambil memasang wajah serius.
Bukannya menjawab pertanyaan sang kakak, Lily justru membahas hal yang seharusnya tidak dibahas lagi. Hal itu membuat sang kakak geram. Namun, Lily tetap keras kepala. Ia tidak mau mengalah dari kakaknya.
“Apa yang kau bicarakan? Sudah kakak bilang, jangan bahas ini lagi,” ucap Hana sambil mengendalikan emosinya.
“Kita belum bayar uang sewa selama 3 bulan, lho. Tadi pemilik rumah datang dan meminta uangnya, Kak. Kita tidak bisa tinggal diam, Kak,” jawab Lily.
“Lily, dengarkan kakak. Kakak berjanji akan berusaha keras untuk mencari uang. Jadi jangan khawatir, ya?” kata Hana berusaha meyakinkan sang adik.
“Kita jual aja kamera ini buat bayar uang sewa. Pemilik rumah tidak akan menagih kita seperti ini lagi dan urusan selesai, bukan?” kata Lily.
Apa yang dikatakan Lily memang ada benarnya. Ia sempat untuk menjual kamera itu agar segera membayar uang sewanya yang sudah tertunggak itu. Namun, ia urungkan niatnya itu. Kamera itu adalah hadiah dari sang ibu, tidak mungkin ia menjual barang pemberian dari ibunya.
“Hanya karena uang sewa rumah yang belum dibayar, kakak nggak mau menjual impianmu. Kau harus menggapai impianmu, Lily,” Hana beralasan lain.
“Lily tidak masalah jika harus menguburkan impian sekali pun. Lily hanya ingin membantu kakak. Maafkan Lily, Kak, ” kata Lily. Air matanya tak sengaja jatuh dan membasahi pipinya.
Melihat sang adik menangis di depan matanya, membuat hati ini terasa sesak. Ia langsung memeluk sang adik dengan erat. Hatinya benar-benar hancur melihat sang adik menjatuhkan air matanya karena masalah yang seharusnya diselesaikan oleh orang dewasa.
“Jangan ngomong seperti itu lagi, ya? Kamulah yang membuat kakak kuat. Terima kasih, Lily. Maafkan kakak juga, ya?” ucap Hana sembari menahan sesak di dadanya. Ia semakin mempererat pelukannya.
“Harusnya aku yang berterima kasih, Kak,” jawab Lily. Kini Hana melepaskan sang adik dari pelukannya.
“Ya sudah. Kalau begitu kita berdua aja. Biar adil,” ucap Hana yang membuat adiknya tertawa kecil.
__ADS_1
****
Pagi hari, cuaca yang tidak terlalu mendung tapi bisa diprediksi jika sebentar lagi hujan akan turun. Tidak punya banyak waktu, Hana serta adiknya harus segera bersiap-siap. Kini mereka berada di ruang tamu sembari menghabiskan makanan, acara yang tidak pernah mereka lewati.
“Kamu sudah kerjakan PR, ‘kan?” Sang kakak memulai pembicaraan.
“Tenang, Kak. Adikmu ini pintar, lho,” jawab Lily yang membuat Hana geleng-geleng kepala.
“Kakak nanya kamu udah kerjakan PR atau belum, Lily. Bukan kamu pintar atau bukan,” jawab Hana.
“Lily sudah menyelesaikan semua tugas yang seharusnya dikumpul minggu depan. Hehe,” jawab Lily.
Hana tersenyum melihat tingkah laku adiknya itu. Ia takut jika dirinya kehilangan Lily yang ceria dan banyak tingkah ini karena keadaannya sekarang. Ternyata tidak, Lily tetap menjadi dirinya. Itu sedikit menghilangkan kekhawatirannya.
“Baiklah kalau begitu. Cepat dihabiskan makananmu itu, takut hujan turun. Kelihatannya bakalan lebat,” suruh Hana.
“Baik, Bos!” jawab Lily dengan semangat.
Lily memang seorang anak pada biasanya. Ia sangat ceria tapi itu hanya topeng semata, ia menyimpan sesuatu dari kakaknya. Lily memiliki perawakan seperti anak laki-laki, rambutnya pendek dan gaya pakainannya mirip seperti anak laki-laki. Karena keunikannya itu, ia dijauhi oleh teman-temannya. Itulah rahasianya.
“Aku berangkat dulu!”
Di ruang kelas, anak-anak sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Diluar sedang hujan lebat yang mendukung suasan kelas. Hana baru kembali dari kamar mandi dan bergegas duduk di tempatnya untuk melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Saat tangannya meraba kolong meja untuk mencari bukunya, selembar uang jatuh dari kolongnya.
Ia langsung melihat ke arah sekelilingnya, apakah ada yang melihatnya. Untungnya tidak ada yang melihat uang itu jatuh dari mejanya. Matanya membulat besar, tingkahnya menjadi aneh. Sebuah ide muncul dari benaknya.
“Hana, ini kesempatanmu,” batin Hana.
“Jangan ambil, Hana. Kau tahu apa yang akan terjadi, bukan?” Di sisi lain, Hana berpikiran untuk tidak mengambil uang tersebut.
Hana masih menatap uang tersebut. Namun, Zegran datang secara tiba-tiba. Mau tidak mau Hana harus mengambil uang tersebut. Ia memasukkan uang itu di saku seragamnya dan berpura-pura tidak tahu. Ia langsung melanjutkan kegiatannya agar menutupi kejadian sebelumnya.
“Kau kenapa?” Zegran sadar dengan wajah panik Hana.
Sayangnya, Gina muncul secara tiba-tiba. Wajah Hana semakin panik saat mengetahui jika siapa pemilik dari uang yang ada disakunya itu. Ternyata uang itu adalah milik Gina. Gina muncul untuk mencari di mana uangnya jatuh.
“Di mana uangku, ya?” kata Gina.
“Kau kehilangan uang?” tanya Fora penasaran. Gina mendekati meja Zegan dan mencari di sekitar sana.
__ADS_1
“Kau melihat uangku tidak? Aku yakin jika uangku jatuh di sini, deh,” tanya Gina.
“Tidak,” jawab Zegran dingin dan cepat. Mendengar jawaban itu, Gina langsung menatap Hana, tentu Hana semakin panik.
“Ini uangnya?” batin Hana.
“Hana, bilang kepadanya jika kau menemukan uang ini bukan mencuri,” bantinnya.
Siapa yang tahu, apa yang terjadi saat itu hanya sebuah rencana dari Gina. Ia memang sengaja meletakkan uang tersebut di meja Hana. Dan sekarang rencana buruknya itu terlaksanakan dengan baik.
“Benar-benar menghilang, ya?” Gina pura-pura tidak tahu.
“Tidak mengapa. Anggap saja kau sedang berbuat kebaikan,” ucap Fora yang ikut mengerjakan Hana.
Hana mengurungkan niatnya untuk mengembalikan uang tersebut. Baginya, semuanya akan sia-sia dan mereka tidak akan mempercayai dirinya. Hana benar-benar kesal dengan dirinya. Ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak terguncang karena uang itu.
“Hana, anggap saja jika uang ini tidaklah kotor tapi dirimulah yang kotor. Dengan begitu, semuanya akan baik-baik saja.”
.......
Sejak setahun yang lalu, hidupnya benar-benar kalut. Perusahaan ayahnya bangkrut, hutangnya berlilit dan sekarang ia dikejar-kejar oleh rentenir. Sedangkan sang ibu meninggalkan dirinya serta sang adik tanpa alasan yang jelas. Sekarang ia harus berjuang sendirian untuk mencari uang demi dirinya serta sang adik.
Meski ia kelihatan baik-baik saja, nayatanya ia menyimpan banyak sekali tekanan di dirinya. Ia selalu mencari tempat yang cocok untuk melepas segala tekanannya. Namun, kebanyakan tempat yang ia kunjungi tidaklah umum. Kini, ia berada di atas sebuah bangunan, berdiri di atap bangunan tersebut.
“Kenapa semua ini terjadi? Aku hanya ingin hidup seperti orang lain. Dari banyak orang di dunia ini, kenapa harus diriku?”
Hana berdiri di atas batu pembatas. Memejamkan matanya sambil merasakan angin-angin yang menabraknya. Namun, kepalanya memikirkan hal yang liar. Ia berpikir bagaimana jika ia membiarkan tubuhnya jatuh dan apa yang akan terjadi?
“Jangan melakukan itu, Hana. Kau masih punya Lily,” ucapnya yang akan menyadarkan dirinya.
“Jangan membuat Yuzuru Lily.” Ia langsung membuka matanya.
Ia sadar jika mengakhiri hidupnya bukan jalan terbaik. Ia tidak mau jika adiknya akan tersiksa karena mengalami apa yang ia alami. Mungkin hidup adiknya akan jauh lebih berat daripada dirinya. Ia tidak bisa meninggalkan Lily di dunia yang tidak adil ini.
“Dingin sekali. Aku harus pergi bekerja,” ucapnya sambil membenahi rambutnya yang berserakan karena tiupan angin.
Ia melihat jam di tangannya, masih ada waktu untuk menikmati angin yang tidak terlalu keras ini. Ia memenjamkan matanya, berharap segala beban dipundaknya ikut terbang bersama angin yang menabraknya. Aneh, angin tidaklah begitu kuat sehingga mampu membuatnya terjatuh, tubuhnya seakan ditarik ke belakang.
Benar, ia tubuhnya ditarik ke belakang. Angin bukanlah tersangkanya, seorang pria berwajah unik adalah dalangnya. Tangan kanannya ditarik, membuat tubuhnya terjatuh di atas tubuh pria berwajah unik itu. Saat itu waktu terasa seakan berhenti bergerak. Begitulah ia bertemu dengan orang yang akan mengubah takdirnya.
__ADS_1