Jangan Salahkan Garis Takdir

Jangan Salahkan Garis Takdir
01: Kondisinya


__ADS_3

Menunduk dan terus menunduk, itulah kebiasaan barunya. Dikucilkan, direndahkan bahkan dijauhi oleh orang lain adalah makanan sehari-harinya. Hanya karena urusan orang dewasa yang rumit, ia dijauhi oleh semua orang. Tak kenal tempat, kesepian selalu menemaninya.


Dengan kepala yang tertunduk, Hana memasuki ruang di mana orang-orang mengisi perutnya. Sepanjang ia berada di sana, ia merasa ada banyak sekali mata yang sedang menatapnya. Perutnya sudah memberi peringatan untuk segera diisi. Ia tidak bisa membiarkan peringatan itu.


Kini, ia sudah duduk di meja yang tentunya jauh dari siswa-siswi lainnya. Tak lama, ia mengeluarkan sebuah tempat makanan dari balik seragamnya, mengeluarkannya dengan hati-hati sambil memerhatikan sekelilingnya. Tangan harus lebih lincah dari penglihatan.


Tanpa diketahuinya, seseorang datang dan sengaja menabrak dirinya. Hal itu membuat tempat makanan serta isinya terjatuh dan bertaburan di lantai kantin. Ternyata ia lengah. Masih ada yang lebih cepat dari kelincahan tangannya.


“Aduh... Maaf, ya.” Siswi itu meminta maaf. Namun, nadanya seakan-akan merendahkan dirinya.


Hana terdiam di tempatnya. Ia merasakan betapa menyedihkan dirinya. Meski begitu, ia lebih mengkhawatirkan nasib makanannya yang malang itu. Ia berjongkok dan mengutip kembali makanan yang terjatuh itu.


“Menyedihkan sekali.” Itulah kata terakhir siswi itu sebelum pergi meninggalkan Hana.


Masih ada sedikit waktu sebelum waktu istirahat selesai. Hana menghabiskan waktunya itu untuk mengerjakan tugasnya meski tugas itu dikumpulkan minggu depan. Bisa ditebak jika gadis itu adalah siswi yang tepat waktu.


“Teman sebangku mu itu bisu, ya? Aku tidak pernah melihatnya berbicara sama sekali,” tanya seseorang tiba-tiba.


Itu membuat Hana sekaligus Zegran menjadi hilang fokus. Namun, Zegran yang sibuk belajar pun sama sekali tidak menanggapi ucapan siswi itu, sehingga membuat teman siswi itu ikut bergabung bersama mereka. Meski Zegran dikenal karena kepintarannya, ia cukup menyebalkan.


“Dia memang aneh, sih. Tapi dia itu pintar, lho. Terutama di mata pelajaran matematika,” kata salah satu temannya. Mendengar itu, Zegran langsung terdiam dari aktivitasnya.


“Gina? Fora?” panggil Zegran memanggil kedua sosok yang mengganggunya.


“Apa?” Mereka jawab dengan serentak.


“Hanya ini yang mau kalian tanyakan? Membuang waktuku saja,” kata Zengran. Wajahnya memang datar tapi nadanya sangat menyebalkan.


“Cih! Hanya karena kau anak emas semua guru di sekolah ini, bukan berarti kau bisa menyombongkan diri!” ucap Gina kesal. Setelah itu, Gina dan Fira langsung pergi.


Kring! Lonceng berbunyi menandakan waktu istirahat telah selesai. Semua murid bergegas ke mejanya masing-masing. Hana langsung membereskan semua barangnya dan mempersiapkan untuk pembelajaran selanjutnya. Tiba-tiba Zegran memanggilnya.


“Hei,” Hideyoshi memanggil Hana di tengah waktu pelajaran. Hana yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Zegran. Ia sedikit kaget, Zegran tidak pernah mau mengajaknya bicara.


“Di mana kau pelajari matematika?” tanya Zegran tiba-tiba. Hana kebingungan.

__ADS_1


“Maksudmu les, gitu? Kenapa kau bertanya?” tanya Hana kebingungan.


“Tidak mungkin aku kalah darimu, bukan?” jawab Zegran seakan merendahkan Hana.


Kalimat menyakitkan itu menjadi akhir dari pembicaraan mereka. Hana berusaha untuk fokus kembali di pembelajaran meski hatinya hancur. Ia tahu, ia bukan siapa-siapa yang bisa membalas ucapan maupun Zegran itu sendiri. Sungguh miris, bukan?


Kini semua murid bersiap-siap untuk pulang. Saat ia akan pergi, secara tidak sengaja dirinya melihat Zegran membuang sebuah buku ke tempat sampah. Matanya tidak lepas dari Zegran. Di saat itu juga terlintas satu ide di benaknya.


Matanya bergerak dengan cepat, melihat seluruh ruangan. Ia menunggu semua murid keluar dari ruang kelas. Lalu, ia langsung mendekat ke arah tempat sampah itu. Dan benar saja, buku yang ada di tempat sampah itu milik Zegran. Ia menatap lekat buku itu. Apakah ia serius dengan idenya itu?


Ia membuka buku tersebut. Lalu, merobek halaman pertamanya yang berisikan identitas sang pemilik buku dan segera membuangnya. Ia mengambil buku itu dan memasukan ke dalam tasnya.


“Tidak apa-apa, Hana. Jika kau sudah memiliki semuanya, kau bisa membayar ini semua.”


***


Setelah ayahnya telah lama tidak pulang ke rumah, segala tanggungjawab yang seharusnya dipegang oleh orang dewasa kini telah berpindah tangan. Hana terpaksa mencari uang dengan sendiri, rela mengorbankan tenaganya untuk banting tulang supaya bisa menghidupi dirinya serta sang adik yang masih di bangku SD. Hana langsung menuju ke tempat kerja sampingannya setelah pulang sekolah.


“Kamu sudah sampai?” Ucap sang pemilik toko.


“Cepat ganti bajumu dan mulai bekerja, ya?” Sang pemilik memberi pesan sebelum meninggalkan Hana.


Hana langsung berganti pakaian. Dengan seragam minimarketnya, ia bekerja dengan sepenuh hati. Di sela-sela pekerjaannya, ia menyempatkan untuk membaca kembali pelajaran yang sudah ia pelajari. Ia masih melaksakan janji yang ia buat bersama sang ibu.


Ia berjanji jika apapun yang terjadi belajar tetap menjadi hal yang penting. Itulah kenapa ia tetap menjadi siswi terbaik meski waktunya dihabiskan untuk bekerja. Waktu pun berlalu. Karena ia seorang pekerja paruh waktu, upahnya akan dibagikan setelah jam kerja selesai.


“Kerjamu lebih baik dari diperkirakan, ‘ kata sang pemilik minimarket sambil mengeluarkan beberapa lembar uang.


“Karena kerjamu bagus, saya beri kamu uang bonus.” Tentu Hana yang melihat itu langsung kaget bukan main. Uang itu adalah hasil keringatnya.


“Terima kasih banyak-banyak, Pak. Saya akan terus bekerja keras,” ucapnya.


“Kamu tetap bisa kerja di sini, kok. Kamu bisa menggantikan pekerja sebelumnya,” kata sang pemilik toko.


“Kenapa dengan pekerja sebelumnya?” tanya Hana penasaran.

__ADS_1


“Dia mengundurkan diri secara mendadak. Dia juga tidak memberitahu ke saya kalau mahu mengundurkan diri. Untung kamu datang tepat dia mengundurkan diri, saya tidak perlu mencari pekerja baru lagi,” jelas sang pemilik toko.


Hana benar-benar bersyukur mendengar kabar tersebut. Ia sangat bahagia, setidaknya ada hari di mana keadaan berpihak padanya. Dengan begini, Hana tak perlu keliling untuk mencari pekerjaan lain lagi. Ia hanya perlu datang tepat pada waktunya tanpa takut kehilangan pekerjaan.


“Sekali lagi saya berterima kasih, Pak.” Hana masih belum percaya dengan kabar mengejutkan itu.


Senyuman lebar menemani Hana sepanjang perjalanan pulang. Uang yang ia dapatkan diharinya bekerja cukup untuk membeli sedikit bahan makanan. Kini, di tangannya terdapat sekilo beras serta sepuluh butir telur. Namun, senyuman itu diperindah oleh fakta bahwa ia seorang pekerja tetap.


“Lily, aku pulang!” jerit Hana.


Lily Frederika Luna yang sering disapa Lily merupakan satu-satunya keluarga yang Hana miliki. Sang adik memiliki perawakan yang berbeda dengan dirinya. Anak berumur 11 tahun itu sangat lihai dalam memotret sesuatu. Selama kakaknya tiada, hanya sebuah kamera digital yang bisa menemaninya di rumah.


Di ruang tamu, Lily sibuk melihat kembali hasil jepretannya. Itu adalah kegiatan yang tidak bisa Lily lupakan. Si sisi lain, Hana berada di dapur sedang memanaskan lauk dan mempersiapkan makan malam, sang adik langsung menghampiri Hana.


“Kak, aku nggak makan, ya?” kata Lily.


Tentu sang kakak kebingungan. Ia meninggalkan segala aktivitasnya dan mendekati sang adik. “Kenapa?” tanyanya.


“Aku sudah kenyang, Kak,” jawabnya.


“Kapan kamu makan?” Kakaknya sangat mengkhawatirkan adiknya.


“Tadi di sekolah,” jawabnya berusaha meyakinkan kakaknya.


“Itu pasti makan siang, ‘kan? Kau harus makan, Lily,” ucapnya dengan nada yang sedikit bergetar.


“Aku makan tiga porsi sekaligus. Dengan begitu, aku makan sesuai kalori yang dibutuhkan.” Adiknya beralasan.


“Perutmu tidak apa-apa, ‘kan?” Kakaknya mulai mempercayainya.


“Tentu, dong. Kakak jangan khawatir jika aku belum makan. Aku pasti makan,” ucap sang adik sambil tersenyum.


Hana tertegun melihat sang adik yang masih berusia 11 tahun itu. Meski ia kelihatan seperti anak kecil biasanya tapi cara berpikirnya seperti orang dewasa. Sejak orangtuanya meninggalkan rumah, sang adiklah satu-satunya orang yang bisa menguatkan dirinya.


Namun, ia masih tidak mengerti. Ia bertanya-tanya, seperti inikah orang dewasa menyelesaikan masalah. Meninggalkan anak-anaknya di kerasnya realita dunia, begitukah cara orang dewasa menyelesaikan masalah? Ia kehilangan rasa kepercayaannya ke orang dewasa buat pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2