
Tinah merasa kesal saat melihat kedatangan Alvin dan Marina di rumah mewahnya. Rumah yang dihadiahkan oleh Amara untuk dirinya saat dia ulang tahun yang ke 48.
"Mah, Tolonglah Alvin untuk menampung Marina dan anak kami hanya untuk sementara di rumah ini. Alvin belum sempat untuk mencari hunian baru karena semuanya begitu mendadak." Alvin menggenggam telapak tangan Tinah dan terus membujuk ibunya agar mau menerima Marina.
Tinah tidak menyukai Amara yang tidak bisa memberi keturunan untuk Alvin. Tetapi dia juga tidak merestui pernikahan Alvin dan Marina. Bagaimana pun juga Tinah tidak menginginkan kalau sampai Alvin dan Amara bercerai. Hidup keluarga mereka bisa kacau nantinya.
Tinah sadar bahwa kehidupan keluarganya benar-benar tergantung kepada belas kasihan Amara yang kaya raya dan berhati malaikat. "Mamah hanya bisa menampung mereka satu atau dua hari. Mama tidak mau kalau sampai nanti Amara curiga. Mama tidak ingin melihat menantuku itu marah sama mama. Bagaimana kalau nanti Amara menyetop semua fasilitasnya untuk keluarga kita?" tanya Tinah kalut kepada Alvin.
"Amara memang bukan menantu sempurna, karena dia ga bisa kasih kamu anak. Tetapi dia punya hati yang baik dengan mau perduli dengan keluarga kita. Alvin! Mama sadar, kalau kita gak boleh begitu pada Amara yang begitu berjasa pada keluarga kita." Alvin dan Marina terkesiap mendengar ucapan Tinah.
Marina tentu saja tidak terima melihat ibu mertuanya seperti orang linglung sekarang karena mulai bisa membuka hati dan dapat melihat kebaikan hati madunya yang selama ini sangat Dia benci.
Marina tahu kalau posisi Amara di hati Alvin amat special dan sangat sulit untuk dia gantikan kalau dia tidak memiliki kedua anaknya. Anak yang sebenarnya bukan milik Alvin. Karena pada dasarnya Alvin itu mandul dan tidak bisa punya anak.
Rahasia besar itu terus dipendam oleh Marina dan tidak pernah diberitahukan kepada siapapun. Hasil test kesuburan milik Alvin selama ini telah di sembunyikan oleh Marina dari semua orang termasuk Alvin sendiri.
Marina sengaja meminta kepada kekasihnya di masa lalu untuk menitipkan benih di rahimnya guna menjerat Alvin sebagai sumber kehidupan nya.
"Mama, kenapa begitu tega dengan cucu sendiri? Apa mama mau Marina dan anak-anak berada di jalanan?" tanya Alvin kesal.
Alvin sendiri saat ini benar-benar sangat pusing dan frustasi karena semua kartu yang dia miliki sudah diblokir oleh Amara. Dia kesulitan untuk menyewa Hotel maupun kontrakan untuk Marina dan anaknya.
__ADS_1
Kedatangan Alvin ke rumah Tinah adalah hal putus asa yang dia lakukan. Untung saja Amara tidak menyita rumah ibunya juga. Padahal rumah itu dulu dihadiahkan oleh Amara untuk ibunya sebagai hadiah ulang tahun.
Alvin tidak tahu siapa nama di dalam sertifikat hak kepemilikan rumah itu. Karena saat itu sekretaris Amara yang mengurus semuanya. Alvin bahkan belum tahu soal pemecatan dirinya di perusahaan yang saat ini sedang dibahas oleh seluruh dewan direksi di kantor milik orang tua angkat Amara.
Saat mereka semua masih sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba saja terdengar bel berbunyi. Jantung mereka rasanya seakan berhenti berdetak. Alvin bahkan sudah pucat wajahnya.
"Siapa itu?" tanya Marina.
Dengan lunglai Tinah akhirnya mendekati pintu. Dia wajahnya memerah ketika melihat orang-orang dengan badan besar saat tidak sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Siapa, Mah?" tanya Alvin.
Tinah menoleh pada Alvin dan menatap putranya dengan rasa cemas berlebihan. Apa yang ditakutkan oleh Alvin tampaknya saat ini akan segera terwujud.
Alvin benar-benar bingung kalau benar rumah itu akan kembali diambil oleh Amara. Kemana dia dan Marina akan pergi? Sementara semua yang dia miliki sudah diambil oleh amarah satu persatu.
Mobil Alvin saja sudah diambil oleh sopir pribadinya sesaat ketika dia dan Marina sampai di rumah itu. Amara menelpon sopir pribadinya untuk membawa mobil itu ke rumah yang Amara tempati sekarang.
"Buka saja, Mah. Kita lihat apa yang akan terjadi." Marina memberanikan diri untuk membuka suara setelah semua orang hanya diam dan bengong.
Bagaimana pun juga harus ada seseorang untuk membuka pintu karena sejak tadi bel terus berbunyi.
__ADS_1
Tinah dan Alvin yang sudah ketakutan akan kehilangan rumah itu malah memilih untuk masuk ke dalam kamar dan bersembunyi.
"Buka pintunya! Kami diperintahkan oleh Nyonya Amara untuk mengusir kalian dari rumah ini. Rumah ini sudah dijual oleh Nyonya Amara dan akan segera ditempati oleh pemilik yang baru. Sebaiknya kalian segera pergi dengan baik-baik sebelum kami melemparkan semua barang milik kalian!" ucap seseorang di luar pintu sambil berteriak.
Tinah sampai menggigil mendengar hal itu. Tinah melirik sinis pada Marina yang sejak tadi hanya bisa diam dan memeluk Alvin dan anaknya," Bagaimana ini Alvin? Kita jadi gembel dalam semalam!" Tinah rasanya sudah sangat lemas memikirkan apa yang akan terjadi di hadapannya di masa depan.
Marina dan Alvin saling menatap satu sama lain. " semua ini gara-gara kamu yang sudah menggoda putraku sehingga dia mengkhianati pernikahannya dengan Amara. Walaupun Amara mandul, setidaknya dia bisa memberikan kehidupan mewah untuk keluarga kami. Kamu? Apa yang bisa kau berikan kepada kami, huh?" sengit Tinah dengan kesal.
Suara bel di pintu semakin kencang dan tidak mau berhenti. Pembantu terlihat membuka pintu. wanita paruh baya itu mendapatkan telepon dari Amara untuk membukakan pintu sebagai petugas yang dia kirim dalam rangka mengeksekusi rumah itu.
Amara tidak akan membiarkan wanita selingkuhan suaminya hidup berbahagia dengan harta yang dia miliki yang telah dia dapatkan dengan susah payah.
Alvin tampak begitu lemas tubuhnya saat melihat orang-orang itu mengusir mereka. "Alvin! Datangi Amara dan minta maaflah kepadanya. Mama tidak ingin menjadi gembel dan hidup susah setelah ini. Lepaskan wanita itu!" Tinah menunjuk wajah Marina dengan sengit dan penuh amarah.
Marina bahkan sampai bersembunyi di belakang punggung Alvin sejak tadi.
Kedua anak Marina terlihat ketakutan. Mereka bahkan masih menangis hingga saat ini. Alvin semakin frustasi melihat semua itu terjadi dalam hidupnya. Padahal dia belum bertemu dengan Amara sejak kemaren.
Alvin ingat bahwa dia berpamitan kepada Amara untuk pergi ke luar kota. Alvin sendiri begitu bingung dengan apa yang terjadi di dalam hidupnya saat ini.
"Kalian atas perintah siapa begitu lancang mengusir ibuku?" tanya Alvin dengan suara gemetar. Alvin masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi di hadapannya.
__ADS_1
Sejak di perjalanan menuju rumah Tinah, dia sudah berusaha untuk menghubungi Amara tetapi tidak diangkat sama sekali. Alvin amat frustasi dengan semua hal yang terjadi mendadak dan tanpa peringatan apapun untuk dirinya.