
Amara mengerutkan keningnya saat membaca pesan yang di tinggalkan oleh Marina. Amara masih bergeming di tempat. Dia baru bangun tidur dan mendapat pesan aneh seperti itu dari wanita yang telah menjadi duri di dalam rumah tangganya bersama Alvin. Marah? Entahlah!
Amara melirik sekilas kepada Alvin yang saat ini masih terlelap di sampingnya setelah tadi malam seperti orang kesetanan dan merudapaksa dirinya yang sudah tidak sudi untuk di sentuhnya.
Tapi apalah daya seorang Amara? Kekuatan yang dia miliki tak sebanding dengan Alvin yang sedang di liputi amarah karena keluarga yang dia cintai sekarang bernasib tidak jelas.
Ibunya dan istri muda yang telah memberikan dua orang anak yang selama ini tidak bisa diberikan oleh Amara, kini tinggal di kontrakan kecil dan sumpek. Hati Alvin kesal bukan kepalang karena Amara tidak mau lagi memberikan kemurahan hatinya kepada mereka yang kini malah di anggap sebagai benalu.
"Mas, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus mau menerima anak dari wanita ****** itu?" monolog Amara dengan pedih.
Ada kemarahan dan juga keputus asaan yang saat ini dirasakan oleh Amara ketika dia memikirkan pesan yang dikirimkan oleh Marina.
Amara masih mematung di tempat. Saat dia melirik sang suami timbul niat di hatinya untuk membekap sang suami dengan bantal yang kini ada di tangan nya yang sejak tadi dia pegang.
"Seperti ini ah kalau kau mati akan jauh lebih baik!" Amara sudah bersiap akan membekap sang suami yang tiba-tiba saja membuka matanya yang terlihat sayu dan masih mengantuk.
"Sayang? Apa yang sedang kau lakukan dengan bantal itu?" tanya Alvin heran.
Amara tersentak dan seketika sadar. Amara kemudian meletakkan kembali bantal itu di tempatnya lalu pergi ke kamar mandi.
Hati Amara saat ini kacau dan tersakiti. Jujur saja Amara sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung semua penderitaan itu. "Sungguh kurang ajar dan lancang sekali wanita itu! Brengsek sekali dia. Berani sekali dia memintaku untuk merawat anaknya dan Mas Alvin. Siapa dia, huh?" Amara terus merancau dan mengeluarkan isi hatinya yang kesal.
__ADS_1
Jauh di lubuk hatinya dia ingin mengakhiri semuanya dan memulai kehidupannya yang baru. Nasehat Diah terus terngiang di telinganya. Tetapi melihat Alvin yang menggila dan siap menghancurkan segalanya membuat nyalinya menciut.
Amara sejak dulu memang tidak bisa berkutik ketika sudah berhadapan dengan Alvin yang amat dia cintai. Amara sangat ingat kalau dia setelah banyak berkorban untuk laki-laki itu hingga saat ini.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan semua lamunan Amara. Alvin tampaknya khawatir dengan keadaan Amara yang sudah terlalu lama berada di kamar mandi. "Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Alvin lagi dengan suara parau khas orang bangun tidur.
Amara segera bergegas menyelesaikan urusannya dan keluar dari sana. Alvin melihat wajah istrinya yang terlihat sembab. Alvin tahu kalau istrinya tadi habis menangis.
"Maafkan, Mas! Mas janji akan segera menceraikan Marina dan meninggalkan mereka. Sayang, Mas sadar kalau Mas sudah salah. Maafkan ya?" Alvin berusaha untuk terus memeluk Amara yang masih menangis sesegukan.
Hati wanita mana yang tidak akan terluka setelah mengetahui perselingkuhan suaminya yang sudah bertahun-tahun lamanya bahkan sampai punya dua anak. Ternyata itulah alasan Alvin selama bertahun-tahun tidak pernah meributkan soal anak lagi dengan dirinya. Ternyata karena Marina sudah memberikan semua yang dia inginkan.
Alvin bahkan tidak sanggup menahan air mata yang kini dengan lancang menerobos keluar. Sebagai seorang laki-laki Alvin tidak ingin menangis dihadapan wanita. Tetapi semua ini benar-benar telah membuat dirinya kebobolan juga.
"Marina dengan begitu percaya dirinya menyerahkan kedua anaknya untuk menjadi anakku dan menerima mereka dalam hidup kita. Apa dia kira aku akan mau?" tanya Amara dengan murka.
Alvin tentu saja terkejut mendengar penuturan Amara. "Maksudnya?"
Amara kemudian menunjukkan pesan yang tadi di kirim oleh Marina saat dia baru bangun tidur. Alvin mengerutkan keningnya dengan dalam. Berkali-kali mengulang dan terus mengulang pesan itu.
__ADS_1
Entah kenapa Amara merasa sakit hati ketika melihat Alvin yang tiba-tiba saja langsung berlari keluar kamar. Amara bisa merasakan kekhawatiran di wajah lelakinya setelah membaca pesan itu.
Karena merasa penasaran Amara pun kemudian mengikuti Alvin. Amara tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Walaupun hati Amara masih jengkel, tetapi dia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Alvin atas kedua anaknya bersama Marina setelah membaca pesan aneh itu.
Alvin hanya diam saja saat melihat Amara yang masuk ke mobilnya. Setelah memastikan semuanya siap, Alvin pun langsung melajukan kendaraannya menuju kontrakan yang kemarin dia cari secara mendadak untuk ibu dan kedua anaknya bersama Marina. Hati Alvin tidak karuan saat ini.
Walaupun Alvin sudah bersiap untuk meninggalkan Marina demi Amara. Tetapi jauh di lubuk hatinya, dia tidak mau kehilangan Marina secepat itu.
Alvin masih ingin mengulur waktu agar masih bisa melihat wajah Marina walaupun hanya sesekali saat dia menemui kedua anaknya setelah dia menceraikan wanita itu.
Tetapi semua rencana Alvin seakan buyar seketika bagaikan puing-puing yang hancur. Alvin takut kalau Marina akan melakukan sesuatu yang nekat hanya untuk memberikan solusi atas semua masalahnya.
Apa yang harus dia lakukan kalau Marina benar-benar pergi dari hidupnya? Anak mereka pasti akan sedih dan tidak akan mau berpisah dengan ibu kandung mereka. Hati Alvin mencelos walaupun hanya membayangkannya saja.
"Mas, Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Amara saat mereka masih dalam perjalanan.
Alvin hanya diam saja dan berusaha untuk fokus. Dia sadar bahwa dirinya saat ini sedang berjalan di atas bara dan berdiri di ujung tanduk. Sedikit saja dia melakukan kesalahan maka semua pasti akan hancur berantakan tanpa sisa.
Alvin masih diam dan tidak mau gegabah untuk menjawab pertanyaan Amara. Amara akhirnya diam dan mencoba untuk mengerti perasaan suaminya yang masih kalut dengan pesan Marina yang aneh.
Alvin langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah kontrakan di mana terdengar suara anak-anak yang sedang menangis dengan begitu pilu.
__ADS_1
Amara melihat ibu mertuanya sedang memeluk mereka dan berusaha untuk menenangkan dua bocah yang sedang menangis begitu pilu mencari ibu mereka yang pergi entah kemana.
"Puas kamu, Amara?" tanya ibu mertuanya dengan mata penuh amarah kepada Amara yang masih mematung di tempatnya.