
Amara saat ini sedang berhadapan dengan Abimana. Terlihat wajah keduanya bersitegang.
"Kenapa kamu ga mau kasih ke aku, semua bukti kecurangan Mas Alvin yang sudah kamu kantongi?" tanya Amara dengan kesal.
Abimana menarik nafasnya dalam. Dia berada dalam dilema. Satu sisi dia ingin Amara bahagia, tetapi di satu sisi dia juga tidak rela kalau Amara terus saja di tipu oleh Alvin.
Bukankah tidak tahu itu jauh lebih bagus? Seperti selama ini, Amara tidak tahu keculasan Alvin di belakang dia. Semua itu karena Abimana yang selalu menutupi hal itu. Tetapi karena Abimana merasa lelah menunggu sehingga dia khilaf dan menuntun Amara untuk tahu segalanya. Akhirnya Amara menangis selama berhari-hari hasil dari tahu rahasia suaminya yang berpoligami di belakangnya.
"Lebih baik kau tidak tahu tentang kecurangan suamimu yang khianat itu. Amara, pasti akan sakit sekali rasanya kalau tahu pengorbanan kita gak di anggap penting oleh orang yang kita cintai!" Amara menatap lekat ke arah laki-laki tampan di hadapannya yang sepertinya tengah menyimpan begitu banyak rahasia darinya.
Sebagai seorang wanita sudah bisa menebak apa saja yang dilakukan oleh Alvin belakangan ini. Alvin tampak mulai sibuk lagi seperti dulu. Amara sendiri bukan wanita lemah yang hanya akan menangis di pojokan melihat suaminya khianat.
"Aku sebenarnya sudah mengetahui kecurangan dia di belakangku. Aku hanya ingin tahu sejauh apa kau mengetahui semuanya. Abi, lanjutkan saja rencana kalian untuk menggugat cerai Mas Alvin. Aku gak masalah." Abimana tentu saja terkejut mendengar pernyataan itu yang di luar dugaannya.
Abimana mendekat dan memeriksa suhu tubuh Amara, memastikan bahwa wanita itu tidak sakit.
"Kamu sehat, kan?" tanya Abimana khawatir.
Amara tergelak melihat kelakuan Abimana yang menurutnya lucu. "Aku memasang GPS dan juga menyadap whatsapp suamiku. Aku juga menaruh kamera kecil di mobil yang dia gunakan. Aku tahu semuanya sejak pertama kali suamiku memulai kembali pengkhianatan dia. Aku sudah kebas rasanya dengan semua pengkhianatan dia. Aku gak merasakan sakit lagi." Amara mencoba untuk tersenyum kepada Abimana yang kini diam.
Abimana di dalam hati memberikan pujian atas kepintaran Amara. "Syukurlah! Aku senang kalau kau menjadi wanita yang kuat dan tegar. Amara, kami akan berada bersamamu untuk memperjuangkan kebebasan dari pernikahan toxic ini." Abimana tersenyum tulus kepada Amara.
__ADS_1
Amara bangkit dan mengajak Abimana untuk mulai menjalankan rencananya yang sudah dia susun selama beberapa hari.
"Eh, untuk apa kau mendekati kedua bocah itu?" tanya Abimana bingung.
Amara hanya tersenyum saja. Dia sekarang sudah berada di dekat mereka. Amara sudah bertekat untuk menjadikan mereka sebagai jaminan kebebesannya dari sisi Alvin.
Alvin selama ini menyayangi mereka berdua melebihi apapun. Amara akan menukar mereka berdua dengan tandatangan perceraian dan meminta kembali semua aset-aset yang sudah dicuri oleh Alvin selama ini.
"Aku bukan wanita lemah yang hanya akan diam melihat ketidakadilan yang terjadi kepadaku. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan semuanya kembali dari mereka, para pencuri hina. Aku gak rela semua usaha keras Ayah angkatku selama bertahun-tahun untuk membangun perusahaan itu, harus mereka curi. Aku ga ikhlas!" Abimana tersenyum mendengar hal itu.
Abimana mengangguk dan memberikan dukungan penuh kepada Amara untuk bisa menjalankan rencananya yang terdengar menarik baginya.
"Ayo kalian ikut aku untuk bertemu dengan ibu kalian lagi." Amara berusaha untuk bersikap ramah kepada keduanya karena dia sadar bahwa mereka tidak berdosa sama sekali diantara masalahnya bersama Alvin dan Marina.
Sassy terlihat hendak menghalangi Amara yang mau membawa mereka pergi dari rumah itu. Sassy dan ibunya memang diizinkan oleh Amara untuk tinggal bersama dengan keluarga kecilnya.
Alvin tidak mengizinkan kepada ibunya untuk tinggal di kontrakan lagi setelah dia berbaikan lagi dengan Amara. Tetapi Amara juga merasa enggan untuk mengembalikan rumah yang dulu diberikan kepada Ibu mertuanya yang sekarang sudah di jual olehnya.
Amara merasa beruntung karena dia tidak terlalu termakan omongan manis Alvin dan ibunya.
"Aku hanya ingin membawa mereka berdua untuk menemui Mas Alvin di kantor. Jangan takut begitu Sassy!" Amara tersenyum lebar ke arahnya yang selama ini selalu menjadi benalu karena hobi sekali meminjam barang-barang branded miliknya dan menjadikan Amara sebagai ATM berjalan.
__ADS_1
Sassy selalu memintanya kepada Alvin tidak pernah berani secara langsung meminta kepada Amara. Alvin yang akan meminta kepada Amara.
"Baiklah, aku percaya sama Kak Amara." Sassy kemudian membiarkan kedua bocah itu mengikuti Amara. Walaupun di dalam hatinya merasakan keraguan untuk mengizinkannya.
Setelah melihat Amara dan Abimana pergi meninggalkan kediaman itu. Sassy kemudian menghubungi Ibunya dan menceritakan semuanya. Sang ibu yang saat ini sudah aktif kembali di arisan sosialita, kini mulai disibukkan dengan aktivitasnya seperti dulu.
Wanita paruh baya itu tampak biasa saja mendengar laporan dari Sassy. "Biarkan saja Amara melakukan itu, toh ingin bertemu dengan ayah mereka. Dia wanita yang sangat hebat karena mau mengurus anak dari Marina. Mama kadang merasa kasihan dengannya yang selalu saja ditipu oleh Alvin. Tetapi, Alvin adalah anakku bagaimana mungkin aku akan meninggalkan dia dan lebih membela orang lain?" Sassy akhirnya menutup panggilan telepon tersebut dan kembali ke kamarnya.
Dua pulih menit kemudian telepon Sassy bergetar karena mendapatkan telepon dari Alvin. Sassy tentu saja bingung karena Alvin yang tiba-tiba saja meneleponnya di jam kantor seperti itu.
"Ada apa?" tanya Sassy dengan nada ketus.
"Dimana kedua anakku?" tanya Alvin tanpa basa-basi dulu kepada Sassy.
Sassy tentu saja merasa heran dengan pertanyaan dari Alvin. "Bukankah Kak Amara membawa mereka berdua untuk bertemu denganmu di kantor?" tanya Sassy mulai merasa tidak enak dengan hal itu.
Terdengar Alvin yang mendengus kesal. "Amara telah menculik mereka berdua dan mengancamku untuk segera menandatangani suatu perceraian kami berdua. Amara juga menginginkan semua aset-aset yang sudah berhasil aku curi dari tangannya kembali. Sassy! Kenapa kamu begitu bodoh dengan mengijinkan Amara pergi dengan kedua anakku?" Alvin benar-benar kesal kepada Sassy yang tidak bisa dipercaya untuk menjaga kedua anaknya.
Mendengar hal itu, Sassy tentu saja tidak ingin disalahkan begitu saja. Selama ini dia sudah berusaha semampunya untuk terus menjaga mereka berdua selama mereka tinggal bersama Amara.
"Aku mana tahu kalau Kak Amara akan melakukan hal buruk seperti itu kepada mereka berdua? Dia selama ini memperlakukan mereka dengan begitu baik. Aku juga tidak percaya kalau dia bisa melakukan kejahatan padamu. Pasti karena kau sudah memicu dan memancing hal itu, bukan?" tanya Sassy dengan penuh curiga.
__ADS_1