Jangan Takut Jadi Janda, Kita Berhak Bahagia

Jangan Takut Jadi Janda, Kita Berhak Bahagia
Bab 16. Kenapa?


__ADS_3

Diah saat ini sedang berhadapan dengan Amara. Dia terlihat kecewa karena putrinya ternyata masih mau menerima suaminya dan kedua anak dari hasil poligaminya bersama Marina.


"Anak-anak itu di tinggalkan oleh ibunya, Mah. Marina memilih mengalah dan pergi dari kehidupan suamiku. Mas Alvin juga sudah menunjukkan perubahan yang lebih baik. Dia sekarang menjadi lelaki yang patuh dan selalu tepat waktu saat pulang bekerja. Waktunya 100% untuk kami." Diah hanya bisa menarik nafas dalam.


Walau hatinya kesal, tetapi dia tidak bisa memaksakan Amara untuk mengikuti apa yang dia inginkan, supaya anaknya membuang Alvin dan mulai menjalin hubungan serius dengan Abimana.


Diah benar-benar merasa cocok dengan Abimana yang selama ini selalu setia dan melindungi Amara. Diah ingin melihat kebahagiaan putrinya bersama laki-laki yang akan memuliakan dan mencintainya. Tetapi kalau melihat gelagat Amara yang bucin kepada Alvin, tampaknya akan sulit mewujudkan semua impiannya.


"Pulanglah, Mama ingin beristirahat dan merenungkan kembali jalan hidupmu yang entah kenapa begitu mirip dengan Mama waktu dulu. Apakah nasibmu juga akan seperti Mama? Menderita karena orang yang kita cinta?" Amara memeluk ibunya yang terus menerawang jauh.


"Maafkan Amara, Mah. Kalau Amara sudah membuat Mama kecewa. Amara hanya ingin memberikan kesempatan kepada Mas Alvin dan kedua balita itu, mereka tidak berdosa apa-apa. Mereka selayaknya tidak pantas mendapat hukuman atas perbuatan kedua orang tua mereka. Mah, Mas Alvin dan Marina menikah secara sah. Mereka bukan berzinah. Kesalahan Mas Alvin, dia menyembuhkan perihal pernikahan keduanya dari Amara." Diah semakin tersemas hatinya mendengar Amara yang ternyata bisa menerima poligami yang di lakukan Alvin di belakangnya.


Amara kemudian pulang dengan di antar oleh Abimana. Pemuda tampan itu terlihat murung setelah mengetahui keputusan Amara yang akan kembali kepada Alvin.


"Maafkan, aku!" hanya itu yang mampu diucapkan oleh Amara kepada Abimana yang sejak tadi hanya diam saja dan tidak mengatakan apapun.


Amara benar-benar tidak mengerti dengan abibanah yang sampai saat ini masih bertahan untuk menjadi sopir pribadinya. Padahal Amara sangat tahu siapa itu Abimana. Pewaris ternama yang menjadi harapan keluarga besarnya.


"Kenapa kau meminta maaf padaku?" tanya Abimana dengan suara datar dan dingin.


"Bukankah kau menunggu perceraianku dengan Mas Alvin? Aku ingat kau bilang kalau kita sudah bertunangan sejak aku bayi. Entah itu benar atau tidak." Amara hanya bisa meringis saja saat dia membayangkan kalau hal itu benar-benar terjadi kepada mereka berdua.

__ADS_1


"Lupakanlah tentang pertunangan itu dan mulailah kehidupanmu sendiri. Aku sudah punya Mas Alvin. Aku mencintai dia dan aku berharap dengan kesempatan yang kuberikan padanya akan membuat rumah tangga kami menjadi lebih baik." Ada harapan besar di dalam ucapan Amara.


Abimana melirik sekilas kepada Amara melalui kaca spion yang ada di depan matanya. Abimana selalu mencintai Amara dalam diam. Abimana akan selalu berbahagia kalau wanita yang dia cintai juga bahagia. Selam ini dirinya tidak memperdulikan kemarahan maupun rasa kecewa dari keluarga besarnya dengan semua kebodohan dirinya.


"Semua itu adalah hidupmu dan hakmu untuk mengambil keputusan yang aku percaya pasti sudah kau pikirkan dengan matang. Aku juga punya pemikiran sendiri. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku. Jangan pernah menghalangi apa yang aku lakukan untukmu. Kau berbahagialah dengan Alvin. Maka aku juga akan bahagia." Ucapan Abimana sukses membuat Amara menjadi galau.


Amara tidak habis pikir dengan pemikiran Abimana yang rela berkorban begitu banyak hanya untuk pertunangan yang belum jelas hasilnya.


"Aku hanya tidak ingin menyita waktumu sia-sia. Aku juga ingin melihatmu bahagia seperti ini kau yang juga ingin melihat aku bahagia." Amara akhirnya memilih untuk memejamkan matanya karena tidak tahan melihat mata elang milik Abimana yang terus menatap tajam dirinya melalui kaca spion.


"Tidurlah nanti aku akan membangunkanmu kalau kita sudah sampai tujuan." Abimana sengaja melambatkan laju kendaraannya agar mereka bisa lebih lama di mobil. Selain karena dia tidak ingin mengganggu istirahat Amara.


Abimana secara diam-diam selalu menyelesaikan setiap masalah yang datang di dalam hidup Amara dengan bantuan asistennya dan kuasanya.


Abimana adalah tipe laki-laki yang akan mencintai


seseorang dengan penuh tanpa syarat.


Saat mereka hampir sampai ke kediaman Amara, tiba-tiba ponsel Abimana berbunyi.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Bos, wanita bernama Marina itu sekarang tinggal di sebuah apartemen yang disediakan oleh Alvin. Alvin membeli apartemen itu dengan menggunakan uang perusahaan milik Nyonya Amara." Abimana terlihat mengepalkan tangannya saat mendengar laporan dari asistennya yang dia perintahkan untuk menyelidiki perihal Alvin dan Marina.


"Kurang ajar! Rupanya laki-laki brengsek itu berniat untuk mencurangi Amara. Hadi, kau awasi terus pergerakan mereka dan buatlah bukti-bukti yang tidak terbantahkan yang bisa di gunakan oleh Amara untuk menggugat cerai pria sampah itu!" Abimana kemudian menutup teleponnya setelah memberikan perintah kepada asistennya.


Abimana terlihat diam. Gerbang rumah yang ditempati oleh Amara dan keluarga kecilnya sudah ada di depan mata. Tetapi Abimana rasanya tidak rela untuk memberikan wanita yang dia cintai kepada Alvin yang ternyata kembali menipu Amara.


"Amara apa yang harus kulakukan sekarang? Aku rasanya tidak sudi untuk membiarkanmu melompat ke kobaran api yang akan membakar habis hati dan kebahagiaanmu. Kamu pasti akan sangat terluka setelah mengetahui kecurangan mereka." monolog Abimana yang merasa dilema.


Sekitar 1 jam lamanya Abimana tetap diam dengan menatap wajah Amara melalui kaca spion. Hatinya pedih melihat nasib Amara yang selalu sial dalam cinta. Ketulusannya ternyata di balas pengkhianatan yang tanpa akhir.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Abimana masih saja bingung untuk mengambil keputusan.


"Sebaiknya aku berdiskusi dengan Tante Diah. Dia pasti memiliki solusi untuk masalah ini." Abimana kemudian menghubungi Diah dan menceritakan apa yang dilaporkan oleh asistennya.


Diah tentu saja marah besar mendengar hal itu. "Aku tidak habis pikir dengan Amara yang terus saja memberikan kesempatan kepada penjahat itu. Abi, tante mohon agar kamu bisa terus melindungi Amara dari pria sampah itu. Tante benar-benar tidak rela kalau sampai Amara menangis lagi. Tante secara diam-diam akan terus memantau mereka berdua. Tante akan memberikan pelajaran kepada wanita brengsek itu. Kamu fokuslah untuk mempengaruhi Amara agar segera mengajukan gugatan perceraiannya." Diah memberikan instruksi dan sarannya kepada Abimana.


"Baiklah Tante aku akan melakukan apapun yang Tante katakan selama itu adalah untuk kebaikan Amara. Tante tenang saja!" Abimana kemudian menutup telpon dan melajukan kendaraannya untuk masuk ke dalam kediaman Amara dan Alvin.


Abimana kemudian membangunkan Amara yang masih terlelap dalam tidurnya. Amara bahkan sampai di gendong oleh Abimana ke kamarnya karena Amara yang tidak mau bangun juga.


Alvin sampai saat ini masih juga belum kembali dari pemantauan pabrik baru, setidaknya itu yang Alvin katakan kepada Amara sebelum berangkat tadi pagi. Padahal Abimana tahu ke mana perginya Alvin berdasarkan laporan Hadi.

__ADS_1


__ADS_2