Jangan Takut Jadi Janda, Kita Berhak Bahagia

Jangan Takut Jadi Janda, Kita Berhak Bahagia
Bab 9. Strategi Amara


__ADS_3

Alvin tidak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Marina karena saat ini dia sedang pusing memikirkan nasibnya sendiri di hadapan Amara kalau sampai istrinya tahu soal Marina dan kedua anak mereka. Alvin sudah merinding duluan saat membayangkan Amara yang sudah tahu segala pengkhianatannya selama ini.


"Apa yang harus aku lakukan?" lirih Alvin frustasi.


Marina mulai merasa kesal dan jengkel, ketika melihat suaminya malah seperti orang linglung.


"Kamu dengar aku bicara gak, Yang?" kesal Marina sambil menarik tangan Alvin yang sontak langsung menghempaskan tangan Marina karena kaget.


"Apa-apaan kau itu?" tanya Marina kesal luar biasa.


Alvin menoleh ke arah Marina lalu minta maaf. "Kita ke rumah Mamahku dulu. Kamu untuk sementara waktu tinggal di sana sampai aku bisa mendapatkan rumah baru untuk kamu!" Alvin kemudian mengarahkan mobilnya ke rumah ibunya.


Sepanjang jalan Marina terus menggerutu panjang lebar karena merasa tidak suka kenyamanannya tinggal di rumah mewah milik kedua orang tua angkat Amara tiba-tiba di ganggu.


Sementara Alvin sama sekali tidak peduli dengan apapun yang dikatakan oleh Marina. Karena saat ini fokus dia hanya ingin mencari strategi agar bisa membodohi Amara yang selama ini amat mencintai dia tanpa syarat.


Amara sendiri saat ini sudah berada di pengadilan agama dan bersiap untuk menuntut perceraian. Amara mendapatkan dukungan penuh dari Diah.


"Jangan takut menjadi janda, kita berhak bahagia. Kau lihat lah mamah. Dulu, saat mamah bertahan menjadi istri dari ayah setiap hari hanya ada penderitaan dan air mata karena kelakuan maduku yang selalu cari gara-gara. Mama sekarang sudah bisa hidup bebas dan menjalankan kehidupan tanpa beban. Kamu lihat bukan? Perusahaan mentereng yang di miliki ayah angkat kamu, itu adalah milik mama yang Mama titipkan kepadanya untuk masa depan kamu. Mama tidak mau kamu hidup dalam kekurangan." Amara benar-benar merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh ibu kandung yang baru dia temui belum lama ini.

__ADS_1


Amara merasa memiliki pendukung dan semangat baru yang di berikan oleh Diah. Apalagi sopir pribadinya yang ternyata bukan orang sembarangan selalu membantunya tanpa sepengetahuan Amara.


Seandainya Amara tahu siapa sosok yang menyamar menjadi sopir pribadinya selama ini, dia pasti tidak akan percaya bahwa itu adalah nyata.


Amara selama ini selalu memperlakukan sopirnya dengan baik. Amara tak pernah mengeluh dengan hidupnya yang selama ini dia pikir baik-baik saja.


Acara ulang tahun keponakan suami nya benar-bener telah membuatnya membuka mata dan hati tentang siapa sebenarnya keluarga suaminya. Amara juga baru tahu kalau pria yang selama ini selalu berlaku baik terhadapnya ternyata hanyalah seorang penipu ulung. Alvin kini bahkan sudah memiliki dua anak dari istri muda yang dia sembunyikan di rumah kedua orang tua angkat Amara.


"Ya, Mah. Amara akan terus berjuang untuk mempertahankan harga diriku. Aku akan mengamankan semua aset milik ayah angkatku yang selama ini di kelola dan diberikan kepada keluarga suamiku sebagai fasilitas mereka. Aku lebih baik menjual semua itu dari pada mereka harus berbahagia dengan apa yang kumiliki. Sementara mereka selama ini tidak pernah tulus mencintai dan menyayangi aku." Amara sudah mantap dengan keputusannya dan tidak akan mau untuk dipengaruhi lagi oleh siapa pun juga.


Amara juga sudah menyiapkan hati dan perasaannya saat berhadapan dengan Alvin maupun ibu mertua yang selama ini selalu bermain karakter di depan dia. Pura-pura baik demi harta dan tahta.


"Tabahlah dan sabar dalam menghadapi ujian ini. Mama harap, kamu akan menemukan jodoh yang jauh lebih baik dari pada Alvin. Mama percaya bahwa wanita baik untuk pria yang baik," Diah memeluk Amara saat mereka berjalan untuk keluar dari pengadilan agama.


Amara saat ini memang dalam keadaan rapuh dan lemah. Karena Amara sadar sekali, bahwa setelah ini kehidupannya tidak akan damai dan mudah lagi.


Diah sebagai seorang ibu sudah siap untuk membantu dan menolong putrinya yang selama ini hanya bisa dilihat dari kejauhan.


Diah tidak menginginkan putrinya mengalami nasib buruk seperti dirinya yang bahkan sampai masuk rumah sakit jiwa. Amara harus hidup jauh lebih baik dari dirinya di masa lalu.

__ADS_1


Walau Diah dan Rudi Angkasa status pernikahannya hingga saat ini masih belum jelas, tetapi secara agama mereka sudah bercerai. Diah selama ini hidup dalam persembunyian dan penyamaran sebagai orang gila dengan di lindungi oleh keluarga tunangan Amara yang sejak kecil sudah di atur.


Diah benar-benar bersyukur dengan bantuan mereka sehingga dirinya bisa bangkit dan masih aman.


Diah sangat tahu kelakuan istri muda dari Rudi Angkasa yang amat jahat dan culas. Dia juga lah yang dulu membuat Diah sampai celaka dan akhirnya dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Karena di diagnosis sebagai orang sakit jiwa.


"Jadikanlah pengalamanku yang dulu yang pernah di sakiti oleh maduku dan ayahmu sebagai pelajaran. Jangan mau hidup diinjak-injak oleh orang jahat. Bangkit dan kuatlah. Mama percaya bahwa kamu wanita yang kuat." Amara hanya mengangguk.


Amara melihat ponselnya yang bergetar. Ternyata Alvin sejak tadi menghubunginnya tetapi tidak dia lihat karena sejak tadi dia lebih fokus bersama Diah.


"Angkat saja. Pastikan bahwa kamu memberikan pelajaran pada mereka." Diah sangat tahu bahwa Amara sudah banyak menderita karena kelakuan Alvin dan seluruh keluarga nya yang hanya menjadi kan Amara sebagai ATM berjalan saja.


Amara tadinya ingin pergi dati hadapan Diah, tetapi Diah mencegah, "Tidak apa-apa. Mama ingin tahu apa yang akan di bicara kan oleh suami sampah kamu itu." Amara akhirnya mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya.


Amara terlihat begitu serius berbicara dengan Alvin di telpon. Amara mengikuti semua rencana yang sudah disusun oleh dia untuk mulai menjebak Alvin. Setidaknya sampai mereka kembali bisa mengambil aset-aset yang pernah diberikan oleh Amara kepada keluarga nya Alvin.


"Baiklah, Aku akan segera pulang." setelah mengatakan itu Amara langsung menutup panggilan telepon. Diah bisa mengetahui apa yang terjadi kepada mereka melihat raut wajah Amara yang kusut.


"Tenanglah kami akan selalu bersamamu. Percaya bahwa kebenaran pasti akan menang. Jangan pernah takut dalam melawan kejahatan mereka yang selama ini sudah banyak mendzalimi kamu. Sayang, kuatlah!" Diah memberikan dukungan kepada putrinya untuk bisa melewati semua itu dengan baik.

__ADS_1


Diah tidak ingin putrinya mengalami nasib seperti dirinya di masa lalu. Hidup dalam ketakutan dan bayangan istri muda dari Rudi Angkasa yang amat jahat dan kejam.


__ADS_2