
Pov Amara
Saat ini aku berada di rumah kontrakan yang disewa oleh suamiku untuk di tempati ibu mertuaku dan maduku serta anak-anaknya.
Tempat yang sangat sederhana dan sempit. Aku agak miris membayangkan ibu mertuaku yang sudah biasa hidup mewah karena fasilitas yang aku berikan sejak pernikahan kami, kini harus menderita di kontrakan sempit ini.
Aku sempat berpikir akan mengembalikan rumah Ibu mertuaku yang kemarin aku sita. Aku merasa marah dan kesal kepada mereka terutama suamiku yang dengan begitu tega menghianati pernikahan kami yang sudah bertahan selama ini.
Walaupun suamiku bukan tergolong pria kaya, ketika bertemu denganku. Tetapi dia type pria pekerja keras dan baik hati. Ah, entah apa yang merasukinya sehingga dia begitu tega melakukan penghianatan padaku. Sampai saat ini hatiku masih sakit dan terluka dengan kenyataan yang baru aku ketahui.
Aku memang bodoh karena begitu percaya dengan semua yang di lakukan oleh suamiku. Selama bertahun lamanya tidak mendeteksi kehadiran wanita lain dalam hidup suamiku.
"Puas kamu? Pergi dari sini! Kami tidak ingin melihat wajahmu yang sok kaya dan sok hebat itu!" ibu mertuaku menatap wajahku dengan penuh emosi dan mendorong tubuhku agar keluar dari rumah itu.
Aku tidak banyak membantah apa yang dia katakan. Saat ini aku memang butuh udara segar untuk bisa bernafas. Rumah kontrakan itu amat kecil dan sumpek, aku kesulitan bernafas ketika berada di sana dengan raut kesedihan di wajah mereka.
'Ya Allah! Apakah aku salah ketika aku memberikan pelajaran kepada mereka yang tidak pernah menghargai pengorbanan selama ini? Kenapa mereka memperlakukanku seperti seorang pendosa?' batinku merasa sedih.
Alvin membaca surat yang di tinggalkan oleh Marina untuk dirinya. Aku bisa melihat air mata yang mengalir di pipi suaminya setelah membaca surat itu yang entah apa isinya.
'Mungkin isi suratnya hampir sama dengan pesan yang dia kirim untukku di nomorku. Ah, entah apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu saat ini. Bagaimana mungkin seorang ibu tega meninggalkan anaknya sendiri di bawah asuhan madunya?' Aku masih terus menatap Mas Alvin dan anak-anaknya yang saat ini masih saling berpelukan satu sama lain. Kesedihan begitu nampak di wajah mereka.
__ADS_1
Aku yang tidak tahan melihat suamiku yang begitu memperdulikan anak-anaknya bersama Marina, Aku memilih untuk pergi dari sana.
Aku melajukan kendaraanku menuju sebuah taman. Hati dan pikiranku sedang galau dan kalut. Aku mengalami kebuntuan untuk mengambil keputusan masalah keluarganya.
"Apakah aku akan berbaik hati untuk mengurus kedua anak itu? Apakah hatiku akan mampu?" Aku terus bermonolog dengan diriku sendiri.
Hatiku masih terasa begitu sakit dan belum mampu untuk berkompromi. Marina sekarang mungkin telah pergi meninggalkan anak dan suaminya untuk dirinya. Apakah bisa menjamin kalau suatu saat nanti Marina tidak akan pernah kembali dalam kehidupan kami sekeluarga?
"Aku tidak ingin mengambil resiko. Bagaimana kalau suatu saat nanti Marina dan Mas Alvin kembali bersama tanpa sepengetahuan aku? Ahhhh, kenapa rumit sekali?" Aku bahkan sampai meremas jemarinya dengan kesal dan penuh amarah.
"Padahal perceraianku dengan Mas Alvin jauh lebih mudah dari pada harus mengikuti amanah yang diberikan oleh Marina melalui pesannya untuk merawat anak mereka. Aku bukan malaikat yang akan sanggup mengasuh anak dari wanita yang sudah menjadi duri di dalam rumah tanggaku bersama Mas Alvin. Tidak ada jaminan juga bawa suamiku akan melupakan dia." Amara terus menatap jalanan yang mulai sepi.
Saat Aku masih asyik dengan pikiran dan lamunanku yang tanpa batas, tiba-tiba saja ponselku berdering.
Akhirnya dengan perasaan malas, Aku mengangkat panggilan dari Mas Alvin. "Ada apa, Mas?" tanyaku dengan lesu.
Terdengar suara Mas Alvin yang cukup khawatir dengan suaraku yang tidak ceria. "Kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Mas Alvin yang khawatir padaku yang saat ini masih melamun sendirian di taman.
Aku akhir-akhir ini memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun. Perselingkuhan suamiku benar-benar telah menguras tenagaku hingga titik terakhir.
"Aku sebaiknya shalat istikharah untuk memutuskan jalan terbaik bagi kami semua. Aku harap, hasil apapun yang akan ditunjukkan oleh Allah itu adalah hal terbaik yang akan menjadi bagian dari keluarga kami." Aku akhirnya mengambil keputusan untuk diriku sendiri.
__ADS_1
Walaupun hatiku masih ragu dan bimbang tetapi aku memutuskan untuk menerima anak Mas Alvin bersama Marina. Demi kemanusiaan dan rasa iba ku pada kedua anak kecil itu.
Akan tetapi Aku akan meminta kepada suamiku untuk menyewa baby sitter saja karena aku tidak ingin direpotkan oleh anaknya Marina. Sebaik apapun hatiku, aku tetap saja seorang wanita dan seorang istri yang mempunyai rasa cemburu dan sakit hati.
Sungguh sangat berat sekali untuk bisa menerima poligami yang dilakukan oleh Mas Alvin tanpa sepengetahuan diriku selama bertahun-tahun lamanya, akan tetapi untuk menelantarkan dua balita itu pun hatiku rasanya sakit.
"Kamu di mana sayang?" tanya Mas Alvin ketika Aku menerima panggilan nya.
"Aku saat ini sedang berada di taman, tidak jauh dari kontrakan kalian. Kenapa?" tanyaku pada Mas Alvin yang terdengar begitu lesu.
"Sayang! Tetaplah di sana agar aku bisa menjemput kamu." perintah Alvin pada Amara.
Amara tentu saja terkejut mendengar apa yang akan dilakukan oleh Alvin yang sepertinya sedang khawatir dengan dirinya.
"Aku baik-baik saja aku bisa pulang sendiri. Apa Mas lupa? Kalau aku selalu menggunakan mobilku demi kebutuhan pribadi," Mas Alvin tidak membiarkan diriku untuk pulang sendiri dari taman dan memaksaku untuk menunggu dia.
Sejujurnya saat ini aku merasa minder dengan penampilanku sendiri. Aku sangat kacau dan selama beberapa hari ini malah lebih suka menyendiri. Mas Alvin terlihat biasa saja dalam menjalani kehidupannya, walaupun masalah keluarga kami masih belum ada penyelesaian yang pasti.
Mas Alvin memaksakan diri untuk menjemputku di taman yang sudah agak sepi. "Baiklah, nanti mobil yang aku gunakan akan di jemput supirku saja." akhirnya aku hanya bisa mengalah dengan keinginan Mas Alvin yang seperti kembali seperti dulu.
Dahulu, kadang aku merasa bingung dengan suamiku yang begitu posesif. Tapi sekarang suaminya begitu tega menusuk hatinya dengan pisau yang begitu tajam. Amara benar-benar tidak mengerti dengan kelakuan suaminya yang seperti linglung dan bingung.
__ADS_1
Amara semakin merasa tidak tenang karena masalah yang sedang dia hadapi bersama sang suami yang sudah menjanjikan perubahan yang jauh lebih baik untuk pernikahan mereka di masa depan jika dia mau merawat anaknya bersama Marina.