
"Mas, aku dan anak-anak di usir oleh seorang wanita paruh baya yang cantik sekali. Dia mengaku sebagai pemilik rumah yang aku tempati dan menyuruh kami untuk segera meninggalkan rumah ini. Mas, cepatlah datang kemari dan tolong kami. Hiks hiks!" Marina terlihat menangis ketika menelpon Alvin yang baru saja sampai di kantornya.
Alvin terkesiap mendengar laporan yang sangat mengejutkan seperti itu dari istri mudanya sambil menangis tersedu-sedu.
"Bagaimana mungkin ada seseorang yang mengaku sebagai pemilik rumah itu? Padahal aku tidak pernah menjualnya kepada siapapun. Setahuku rumah itu milik kedua Mertuaku yang sudah lama meninggal." Alvin mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
Marina hanya bisa terisak sambil terus menceritakan apa yang dilakukan oleh anak buah Diah ketika mengusir Marina dan anaknya dari kediamannya.
Amara hanya bisa tersenyum kecut ketika melihat Alvin yang langsung masuk ke dalam mobilnya begitu menerima telpon darurat dari Marina.
Amara memang sudah mendapatkan laporan dari orang suruhan ibu kandungnya tentang tugas yang diberikan oleh Diah kepada mereka.
"Aku tidak menyangka kalau wanita itu begitu berharga untukmu. Kau bahkan tidak peduli dengan panggilan dari para dewan direksi yang memintamu untuk segera datang ke kantor demi rapat penting." monolog Amara dengan rasa sedih di hatinya.
Akan tetapi Amara juga tidak mau terlalu terlarut dengan masalah Alvin. Amara mengunakan kesempatan itu untuk mengganti Alvin sebagai CEO perusahaan peninggalan ayah angkatnya.
Amara tidak rela kerja keras orang tua angkatnya harus di selewengkan oleh Alvin demi Marina dan keluarga besarnya. Amara membawa bukti korupsi besar-besaran yang di lakukan oleh Alvin beserta antek-anteknya di perusahaan tersebut.
"Kita harus memecat orang yang tidak kompeten dengan jabatan tersebut. Tuan Alvin selain korupsi, dia juga melakukan nepotisme dengan seenak hati mempekerjakan keluarga dari Marina dan keluarga nya sendiri. Kelakuan beliau sudah benar-benar tidak bisa di tolerir lagi." begitu ucap Amara pada saat dia memimpin para dewan direksi yang akhirnya menggiringnya untuk menggantikan Alvin sebagai seorang CEO.
__ADS_1
Setelah berhasil dengan misinya Amara pun kemudian langsung meninggalkan perusahaan dan memerintahkan kepada sekretaris Alvin untuk segera membereskan barang-barangnya lalu melemparnya ke jalanan.
Sementara itu Alvin saat ini sedang ada di depan rumah yang tadi pagi masih di tempati oleh Marina dan kedua anak mereka. "Mas, kamu tolong aku. Mereka mengusir kami seperti anjing!" Marina langsung berlari ke pelukan Alvin begitu melihat dan lelakinya datang ke sana.
Alvin tentu saja murka dengan hal itu. "Tenang sayang, Mas akan urus semua ini. Kalian tunggu dulu di mobil saja supaya anak-anak tidak kepanasan." setelah mengatakan itu Alvin kemudian langsung mendekati anak buah Diah yang tadi mengusir Marina dan kedua anaknya.
Dengan begitu jumawa dan arogan Alvin mendekati wanita paruh baya yang cantik itu yang merupakan asisten kepercayaan Diah.
"Siapa kamu yang berani sekali mengusir keluarga saya untuk tinggal di tempat ini?" tanya Alvin dengan raut wajah yang amat sangat sulit di artikan.
Amarah di dada Alvin sekarang sudah semakin memuncak ketika melihat Diah yang muncul dari hadapan Alvin. Alvin kenal Diah sebagai salah seorang investor di perusahaan mertuanya yang sekarang dia kelola.
Sejuta tanya kini menguasai benaknya. Diah tersenyum sinis pada pria yang sudah berani melakukan penghianatan dan memberikan luka untuk Putri tercintanya.
"Tentu saja aku bisa berada di tempat ini karena aku adalah pemilik Rumah ini yang sejati. Segera pergi dari sini! Aku tidak akan pernah mengizinkan kalian untuk menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" Alvin langsung mendekati Diah dan menjelaskan bahwa rumah itu milik almarhum kedua mertuanya yang sudah meninggal.
Diah tersenyum, "Aku memberikan hadiah rumah ini kepada asistenku. Karena dia sudah merawat anak kandungku yang kutitipkan kepadanya. Tapi aku masih sebagai pemiliknya karena mereka hanya memiliki hak guna bukan hak milik. Pergi kalian semua dari sini!" Diah yang sudah kehabisan kesabaran akhirnya mengusir Alvin dan Marina.
Alvin cukup terkejut mendengar kenyataan tersebut. "Jadi, Amara adalah anak ibu dan Tuan Rudi Angkasa?" tanya Alvin shock. Masih tidak percaya dengan pendengarannya.
__ADS_1
Sebagai seorang bisnisman, Alvin tentu saja mengenal siapa sosok Rudi angkasa yang sangat terkenal dan di hormati di dunia bisnis. Alvin benar-benar tidak menyangka kalau ternyata wanita yang selama ini selalu dia manfaatkan untuk kehidupannya dan keluarganya adalah anak dari seorang konglomerat di negeri ini.
Kalau mertuanya yang kaya raya saja hanya berstatus sebagai asisten dari Diah, Alvin saat ini tidak bisa membayangkan bagaimana kayanya seorang Diah yang ternyata keluarga kandung dari Amara.
Otak licik Alvin sontak langsung berhitung dan berpikir cepat. "Anda adalah ibu kandung Amara?" tanya Alvin yang kemudian langsung mendekati Diah dengan wajah sumringahnya.
Diah yang begitu mual dan muak melihat wajah Alvin yang khianat. Seakan mengingatkan dirinya dengan pengkhianatan sang suami yang juga sama bejatnya seperti Alvin.
"Tidak usah mendekatiku! Tidak mempan sama sekali! Kalian semua segera tinggalkan rumah ini. Aku sudah tidak tahan lagi melihat keberadaan kalian disini." setelah mengatakan itu, Diah langsung meninggalkan rumah dan berpesan kepada Bi Warsih untuk memastikan Alvin dan Marina meninggalkan rumah tersebut.
"Lemparkan saja semua barang mereka ke jalanan kalau tidak juga mau meninggalkan rumah ini atau laporkan saja kantor polisi, biar mereka masuk penjara karena menerobos properti milik orang lain." perintah Diah dengan sengit.
Alvin kesulitan menelan salivanya saat melihat Diah yang memperlihatkan permusuhan kepadanya pada detik pertama Dia mendekati wanita tersebut.
'Sial! Siapa orang yang sudah memberitahukan tentang Marina pada Bu Diah? Gawat! Kalau dia adalah ibu kandung Amara, maka itu artinya Amara juga sudah tahu tentang Marina dan kedua anak kami?' memikirkan tentang hal itu sontak Alvin merasa lemas seketika.
Alvin lalu masuk ke mobilnya saat melihat Bi Warsih yang hendak melaporkan dirinya ke kantor polisi. Marina juga sudah ketakutan dengan ancaman Diah.
Sedikit banyak Marina juga kenal siapa itu Diah dan Rudi Angkasa yang amat terkenal di dunia bisnis. "Mas, Sekarang kita akan pergi ke mana? Untung saja kedua orang tuaku saat ini sedang pulang kampung. Kalau tidak, mereka pasti amat murka sama kamu. Mas, pikirkan cara untuk mendapatkan tempat baru untuk kami tinggal sebelum kedua orang tuaku kembali ke Jakarta." Marina terus merengek dan menghiba di hadapan Alvin yang terlihat begitu frustasi dan kesal.
__ADS_1