
"Aku ingin tahu alasannya kenapa kamu tega sekali mengusir mama dari rumahnya?" tanya Alvin terdengar gemetar suaranya karena menahan sebah di dadanya.
Amara menyuruh para pembantu untuk pergi meninggalkan mereka berdua yang perlu privasi untuk membicarakan rumah tangga mereka.
Setelah semua orang pergi Amara kemudian duduk di depan Alvin. Saat Alvin hendak mendekat ke arahnya, Amara langsung memberi kode keras untuk Alvin menjauh darinya.
Alvin sudah merasa terintimidasi melihat tatapan Amara yang penuh dengan kebencian.
"Kenapa kamu tiba-tiba berubah kayak gini? Apa salah Mas kepada kamu?" tanya Alvin berpura-pura sedih. Walau hatinya saat ini sudah kebat kebit.
Amara menatap sinis pada Alvin yang menurutnya seorang laki-laki yang tidak punya malu dan bebal. "Apakah kau menganggapku sebagai wanita bodoh? Bertahun lamanya kau main curang di belakang aku. Dua anak yang sudah kau miliki dengan wanita ****** itu. Lebih miris lagi, ternyata aku menghidupi mereka dengan menggunakan uang dan fasilitas yang dimiliki olehku. Apa kamu manusia?" tanya Amara dengan tatapan penuh amarah.
Kemarahan yang sudah dia tahan selama beberapa hari akhirnya keluar juga. Alvin gemetar karena Amara benar-benar sudah tahu soal Marina dan anak mereka berdua.
Alvin gemetar dan seakan kehilangan pijakkan. Setelah Amara tahu segalanya, dia melihat tidak ada harapan sama sekali untuk dirinya bisa bersama Amara kembali. Alvin bisa melihat Amara yang sejak tadi berusaha untuk menghindarinya dan terus menolak kehadirannya.
Alvin bersimpuh di kaki Amara dan memohon pengampunan darinya. Alvin yakin kalau masih ada cinta di hati Amara. Buktinya, sampai saat ini dia tidak melihat barang-barangnya dikeluarkan dari rumah itu oleh Amara.
Padahal Amara melakukan semua itu karena merasa semua milik Alvin di beli dengan uangnya. Jadi, Alvin keluar dari rumah itu tidak butuh membawa apapun. Alvin harus pergi dengan apa yang melekat di badan dia, sama seperti ketika dia datang ke dalam kehidupan Amara yang memang sudah kaya sejak lahir.
Walaupun Amara di titipkan, tetapi Diah tidak pernah membiarkan anaknya hidup menderita tanpa harta. Diah sengaja memberikan perusahaan kepada Budiman agar asistennya itu bisa memulai kehidupan baru bersama keluarganya sambil mengurus anaknya yang dia titipkan.
__ADS_1
"Mas mohon, sayang. Katakan sama Mas! Apa yang harus Mas lakukan untuk mendapatkan Maaf darimu? Katakan, sayang!" Alvin sudah menggadaikan harga dirinya hingga tingkat dasar.
Saat ini Alvin hanya menginginkan semua yang dia miliki kembali. Dia tidak sanggup membayangkan ibunya dan juga keluarga kecilnya yang lain harus menggelandang di jalan.
"Apa aku kau lihat butuh kamu?" tanya Amara sinis.
Alvin lemas seluruh tubuhnya. Amara bangkit tetapi Alvin langsung memeluknya dari belakang. Alvin berharap masih ada sisa cinta yang bisa dia jadikan pegangan untuk kembali merengkuh dan membujuk Amara.
Selama ini Amara begitu mudah untuk dibujuk ketika dia sedang marah dan merajuk. Tetapi Alvin lupa kalau hati wanita amatlah rumit ketika sudah terluka karena berbagi cinta dengan wanita lain.
"Pergilah! Tunggulah surat pengadilan untuk mengurus perceraian kita. Aku gak mau lagi terlibat dengan benalu seperti kalian!" Amara terlihat begitu murka kepada Alvin yang tentu saja terkejut melihat perubahannya yang begitu signifikan.
"Katakan saja, apa yang harus Mas lakukan untuk mendapatkan maaf kamu?" tanya Alvin lagi.
Amara mendekat dan menatap lekat pada suaminya yang telah bertahun-tahun lamanya membersamai dirinya dalam rumah tangga yang penuh kepalsuan.
"Aku tidak membutuhkan apapun lagi darimu, Mas. Kau bisa pergi bersama dengan wanita itu dan anaknya. Aku sadar kalau aku tidak bisa membuat kamu bertahan denganku." Amara sedih tetapi dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk tetap tegar.
Alvin terus menangis di pangkuan Amara. Kedua orang yang pernah saling cinta itu kini hanya bisa meratapi segalanya. Nasib benar-benar telah mempermainkan mereka hingga ke titik dasar.
"Mas akan menceraikan Marina. Kamu jangan khawatir." ucap Alvin bergetar.
__ADS_1
Akan tetapi Amara menggelengkan kepalanya. Amara tidak mau merenggut ayah dari seorang anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua mereka yang utuh.
"Aku bisa memaafkan semua kesalahanmu. Kecuali penghianatan yang sudah kau lakukan. Maafkan aku. Pergilah, Mas. Aku gak mau melihat kamu lagi disini." Amara sudah berdiri dan bersiap untuk meninggalkan Alvin.
Tetapi Alvin sekali lagi menahan langkahnya. Alvin tanpa terduga malah membopong tubuh Amara dan membawanya ke kamar mereka. Amara yang terkejut dengan kenekatan Alvin terus berontak dan berusaha untuk melarikan diri dari Alvin.
Akan tetapi kekuatan Alvin jauh di atasnya. Apalagi Alvin yang saat ini sedang diliputi keputus asaan. Seakan ada kekuatan gaib yang semakin membuat dia memiliki kekuatan ekstra untuk memaksakan kehendaknya pada Amara.
Amara menatap Alvin dengan penuh amarah. Setelah Alvin melampiaskan segalanya, Alvin hanya bisa memeluk sang istri yang terus memukuli dadanya yang polos.
"Maafkan, Mas! Aku mohon padamu. Mas janji akan berubah dan memulai semuanya dari awal lagi. Mas akan meninggalkan Marina dan anak kami. Mas nanti hanya akan menjamin bulanan mereka saja. Aku mohon, percaya sama Mas untuk kali ini." Alvin terus berusaha meyakinkan Amara untuk mau percaya kepadanya lagi.
Amara yang pada dasarnya memang mencintai Alvin hanya bisa menangis menggugu di pelukan lelaki nya yang telah dia perjuangan begitu lama. Amara tidak pernah menyangka kalau rumah tangganya bersama Alvin akan tiba pada titik seperti itu.
Karena lelah dengan semuanya, Amara akhirnya terlelap juga. Alvin terus memandang wajah Amara yang terlihat sembab. Hati Alvin seketika mencelos saat kembali mengingat semua yang sudah dia lakukan pada Amara. Penyesalan tiba-tiba hadir dalam dirinya.
Alvin sangat sadar bahwa dia telah melukai hati Amara dengan begitu dalam. Tetapi untuk menenangkan Amara dia harus tega untuk meninggalkan Marina dan anak mereka.
Alvin tidak mau apa yang sudah dia lakukan sejak dulu menjadi sia-sia. Dia harus mengambil keputusan agar bisa mengembalikan semua seperti semula. Walaupun agak riskan tetapi masih ada yang bisa dia harapkan dari Amara yang mau membuka hati dan memaafkan dirinya.
Alvin mengucup kening Amara dengan penuh cinta. Ya! Alvin sangat tahu bahwa dia mencintai Amara. Hubungan gelapnya dengan Marina hanya di dasari nafsu dan kebutuhan akan anak yang tidak mampu Amara berikan kepadanya setelah menikah bertahun lamanya.
__ADS_1