
Alvin lalu mengambil ponsel dan menghubungi Marina yang sejak tadi terus menghubungi dirinya. Alvin sudah bertekad akan menyelamatkan rumah tangganya bersama Amara. Dia tidak akan membiarkan semua keluarganya kena dampak perceraiannya dengan Amara.
Alvin bukannya tidak sadar diri, bahwa hidupnya dan seluruh keluarganya selama ini tergantung dengan kebaikan hati Amara.
"Maafkan Mas, Mas ga bisa pergi kesana. Sabarlah! Mas harus membujuk Amara agar membatalkan gugatan perceraian kami. Mas gak boleh membuat Amara kesal dengan pertemuan kita. Tolong kau mengerti kesulitan Mas." Alvin berusaha membujuk dan memberikan pengertian kepada Marina.
Alvin juga mencintai Marina karena wanita itu yang telah memberikan anak laki-laki dan perempuan yang tampan dan cantik untuk dirinya.
Alvin sangat sadar bahwa dia telah tersesat begitu jauh dalam pesona seorang Marina yang liar dan nakal. Awalnya Alvin hanya berniat untuk mendapatkan seorang anak darinya. Tetapi anak pertama mereka malah perempuan, sehingga Alvin menggagalkan niatnya untuk meninggalkan Marina karena dia menginginkan seorang anak laki-laki.
Tahun demi tahun terlewati begitu saja. Semua akhirnya seakan menjadi sebuah kebiasaan karena pintarnya Alvin menyembunyikan rahasia tentang keluarga barunya dari Amara. Alvin tidak pernah mengira bahwa suatu saat nanti Amara akan mengetahui semuanya.
Alvin pada akhirnya sadar bahwa dia telah terperosok begitu dalam. Marina selalu mengancam akan bunuh diri kalau ditinggalkan olehnya. Alvin saat ini amat dilema untuk bisa keluar dari pusaran masalah yang dia ciptakan sendiri.
"Bagaimana dengan anak kita, Mas? Mereka masih membutuhkanmu. Aku tidak akan sanggup hidup jauh denganmu dalam waktu lama. Hiks hiks!" Marina terus menangis sedih.
Alvin meraup wajahnya dengan kasar. Hatinya saat ini amat bingung. Amara yang sebenarnya sejak tadi sudah bangun hanya diam saja karena dia ingin mengetahui apa yang dikatakan Alvin kepada gundik yang bertahun lamanya di sembunyikan darinya.
__ADS_1
"Jangan takut jadi janda, kita berhak bahagia." kata-kata itu terus terngiang di telinga Amara. Hatinya sakit melihat Alvin yang terlihat begitu berat untuk berpisah dengan gundiknya.
Bagi Amara, selama ini dia tidak pernah keberatan untuk menanggung hidup seluruh keluarganya Alvin yang dia anggap sebagai menabur kebaikan pada mereka. Walaupun mereka memang terkadang terkesan tidak tahu diri dan hanya memanfaatkan dirinya saja. Tetapi Amara iklas dengan semua itu.
Begitu cintanya Amara kepada Alvin. Amara selalu berusaha menutup mata dan telinga saat mendengar hal negatif tentang Alvin. Selama Alvin masih tetap berada di sampingnya dan tetap menghujaninya dengan cinta.
Amara tidak perduli. Apakah itu cinta yang tulus ataukah hanya kepalsuan saja. Bagi Amara yang penting Alvin memeluk dirinya saat tidur dan selalu melimpahkan kasih sayang untuk dirinya.
Akan tetapi perihal keluarga lain yang dimiliki oleh Alvin tanpa sepengetahuannya itu benar-benar sebuah pukulan telak untuk dirinya. Amara tidak sanggup berbagi cinta dan raga sang suami dengan wanita manapun.
"Pergilah, Mas! Aku sudah mengikhlaskanmu dan melepaskanmu. Jangan membebani dirimu sendiri dengan memaksa ada di sisiku. Aku sudah memasukkan berkas perceraian kita berdoa dan hanya tinggal menunggu jadwal sidang." Alvin terkejut ketika dia mendengar suara Amara yang kini menatap matanya dengan penuh kepedihan.
"Mas pasti meninggalkan Marina. Sabarlah, sayang. Mas butuh beberapa hari saja untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Mas tidak mungkin pergi begitu saja dari Marina. Kamu tahu bukan? Ada anak diantara kami berdua yang tidak bisa aku tutup mata begitu saja dengan hidup dan pendidikan mereka." Alvin melupakan ponselnya yang masih tersambung kepada Marina.
Marina merasa marah mendengar hal itu. Marina tidak pernah menyangka bahwa Alvin lebih memilih untuk melepaskan dirinya dari pada meninggalkan Amara yang kaya raya.
Marina seketika lemas dan menutup telpon tanpa pamit pada Alvin. Bagaimanapun juga Marina tidak mau hatinya semakin sakit mendengar ucapan Alvin.
__ADS_1
Marina melihat wajah anak-anaknya yang terlihat pulas di atas ranjang sederhana. Ya, mereka sekarang berada di kontrakan sederhana yang di berikan oleh Alvin sebelum lelaki yang dia curi dari Amara pergi menuju rumah istri sahnya.
"Anakku, maafkan Mama yang terpaksa melakukan. Mama hanya mengingatkan kalian hidup berbahagia dan tanpa kekurangan." setelah mengatakan itu, Marina kemudian mengambil kertas dan menulis sebuah surat untuk Alvin.
Hati Marina terhiris dan penuh luka. Marina juga sangat mencintai Alvin, sama seperti Amara. Tetapi Marina sadar bahwa dirinya tidak akan pernah sanggup untuk bersaing melawan harta dan kekuasaan yang dimiliki oleh Amara yang tidak dia miliki seumur hidupnya.
Setelah menuliskan surat itu dan meletakkan di atas nakas. Marina kemudian mencium kening ke dua anaknya. Marina melihat ibu mertuanya yang sedang pulas di samping anak-anaknya.
Hati Marina mencelos. Dia benar-benar sudah tega melihat wanita yang sudah renta itu harus ikut terseret dalam pusaran derita gegara dirinya.
Walaupun dia tidak terlalu dekat dengan Tinah, tetapi Marina menganggap dia sebagai mertuanya. Alvin memang benar-benar pandai menyembunyikan rahasia. Keluarga besarnya sendiri bahkan tidak tahu soal Marina dan kedua anaknya.
"Maafkan aku, Mah. Aku berdoa semoga kalian semua bahagia setelah kepergianku dan Amara bisa kembali menerima kalian semua. Biarlah aku yang mengalah demi kebaikan semuanya." Marina terlihat meneteskan air mata dan sangat sedih.
Marina seakan tidak rela untuk melakukan apa yang sudah menjadi keputusannya. Marina tidak bisa hidup lagi karena dia mendapati kenyataan Alvin yang ternyata sudah bersiap untuk meninggalkan dirinya dan kedua anaknya yang masih kecil.
Marina lalu mengambil ponselnya dan meninggalkan sebuah pesan kepada Amara. Walaupun pedih dan sakit karena menjadi orang yang kalah, tetapi Marina tetap melakukan hal itu. Demi masa depan anak-anaknya yang gemilang yang hanya bisa di berikan oleh Amara dan Alvin.
__ADS_1
"Mba Amara, aku bernama Marina. Aku adalah adik madumu yang selama ini disembunyikan begitu rapat oleh suamimu karena takut kehilangan semua fasilitas yang sudah kau berikan kepadanya dan semua keluarganya. Aku mohon kepadamu, Mba. Tolong terimalah kedua anakku dan juga suami kita untuk menjadi bagian dari hidupmu lagi. Aku menyerah dan kalah. Aku sadar hanya dirimulah yang bisa memberikan segalanya untuk mereka karena aku bukanlah siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Maafkan aku, Mba Amara. Aku janji kepada kamu bahwa aku akan pergi dari hidup Mas Alvin untuk selamanya dan tidak akan pernah menunjukkan wajahku di hadapannya lagi maupun di hadapan anak-anak kami." dengan pedih Marina menulis semua pesan itu untuk Amara.
Marina saat ini berada di sebuah jembatan dan bersiap untuk meloncat. Marina sudah putus asa dan tidak mengetahui apa yang harus dia lakukan untuk masa depannya setelah melepaskan segalanya untuk Amara yang kaya raya.