Jangan Takut Jadi Janda, Kita Berhak Bahagia

Jangan Takut Jadi Janda, Kita Berhak Bahagia
Bab 7. Kaget gak?


__ADS_3

Alvin saat ini masih berada di atas ranjang. Alvin masih merasakan kelelahan setelah pertempurannya tadi malam dengan istri mudanya yang memang liar dan selalu mampu membuat Alvin menggila.


Hal itulah yang menjadi alasan Alvin menduakan cintanya terhadap Amara. Amara selama ini terlalu kalem dan terus saja menerima apapun yang dia lakukan atau berikan tanpa pernah berinisiatif untuk mengembangkan kembali benih-benih cinta di hatinya seperti dulu. Alvin bosan dan akhirnya malah mencari pelampiasan di luar sana dengan mahasiswa dari adiknya sendiri.


Alvin memang sudah gila karena dia begitu nekat melakukan hal yang akan merusak nama baiknya sendiri ketika hubungannya bersama wanita yang lebih pantas menjadi istri adiknya.


"Sayang, kamu kok masih tidur sih? Ayo bangun dong! Bukankah kamu harus segera kembali ke rumah istri tuamu? Mba Amara nanti bisa curiga denganmu kalau kau pulang terlambat." wanita seksi itu mengguncang tubuh Alvin dan terus berusaha membangunkan lelakinya yang selalu sukses memberikan surga dunia untuk dirinya.


Marina tidak berdaya saat tiba-tiba saja Alvin sudah menarik kembali dirinya ke dalam pelukannya. Alvin memang tidak pernah merasa puas untuk melakukan hubungan badan dengan Marina. Wanita yang 10 tahun lebih muda dari Amara, istri sahnya.


Marina hanya tertawa begitu bahagia melihat Alvin yang begitu tergila-gila kepadanya.


"Mas sebaiknya kau ceraikan saja Mbak Amara, sehingga aku bisa memiliki status yang jelas sebagai istrimu dan anak-anakku bisa mendapatkan hak warismu sebagai anakmu." rengek Marina di dalam pelukan suami dari hasil kecurangannya pada Amara.


Marina ini adalah anak pembantu yang bekerja di rumah Amara yang baru. Entah bagaimana caranya mereka bisa menikah dan akhirnya bisa punya anak dua dari hasil pernikahan siri mereka.


Amara yang saat ini sedang menyaksikan adegan yang ada di dalam kamar itu melalui rekaman CCTV terlihat begitu sedih dan pilu. Hatinya ngilu. Amara terlihat fokus pada layar besar yang ada di kantornya.


CCTV di rumah itu memang sengaja Abimana sambungkan langsung ke kantor Amara. Abimana ingin agar Amara melihat sendiri semua perbuatan Alvin yang begitu tega mengkhianati pernikahan mereka yang begitu suci di mata Tuhan.

__ADS_1


Abimana berharap setelah Amara melihat semua itu akan semakin membuat wanita itu yakin untuk menggugat cerai suami sampahnya.


Abimana sudah terlalu lama menunggu wanita pujaan hatinya untuk membuka hati dan mau menerima perjodohan mereka berdua yang sudah diatur sejak lama oleh kedua orang tua mereka.


"Aku gak bisa, sayang. Tolong mengertilah posisiku saat ini. Aku benar-benar dilema. Kalau aku bercerai dengan Amara, maka keuangan keluarga besarku pasti akan timpang dan kesulitan. Sayang aku mohon mengertilah dengan kondisiku saat ini." Alvin membelai wajah Marina yang terlihat cemberut.


Alvin tahu sejak lama Marina ingin menguasai dirinya hanya untuk menjadi suaminya tanpa kehadiran Amara dalam kehidupan Mereka.


"Bukankah walaupun selama ini kau menjadi kedua dalam hidupku, tetapi kau selalu menjadi prioritas aku? Apa kau lupa, sayang? Semua barang-barang yang kuberikan kepada Amara adalah bekas yang kau pakai karena kau sudah tidak menginginkannya lagi. Kamu masih mengeluh juga soal Amara? Marina! Aku mohon agar kamu menghilangkan sedikit keserakahan di dalam hatimu dan mengerti apa yang ada di dalam hidupku. Saat kamu masuk dalam hidupku, aku sudah menikah dengan Amara. Aku tidak ingin kehilangan semua fasilitas mewah yang sanggup diberikan oleh Amara kepadaku dan juga keluarga besarku." Marina semakin jengkel mendengar penuturan Alvin.


Akan tetapi Marina sangat mengenal sosok Alvin yang selama ini memang selalu menomor satukan dirinya di atas Amara sang istri sah.


"Jadi selama ini aku hanya menerima sampah yang diberikan oleh wanita ****** itu? Kamu jahat sekali, Mas! Padahal aku selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagimu maupun seluruh keluarga kamu!" tanpa terasa air mata Amara mulai menganak sungai. Hatinya semakin pedih setelah mendengar sendiri Pengakuan dari Alvin.


Amara merasakan seakan dirinya masuk ke Lorong gelap tak bertepi. Hampa dan sunyi. "Aku akan memberikan pelajaran kepada kalian semua yang selama ini sudah memanfaatkan dan meremehkan aku!" geram Amara dengan mata berapi-api.


Amara kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Alvin. "Sayang, kamu di mana? Kenapa sampai sekarang belum juga sampai ke kantor?" tanya Amara berusaha untuk bersikap normal agar Alvin tidak curiga padanya.


Amara menyetujui apa yang akan dilakukan oleh Diah, wanita yang mengaku sebagai ibu kandungnya, Diah ternyata berstatus sebagai pemilik asli dari rumah yang sekarang ditempati oleh istri muda sang suami tanpa tahu malu.

__ADS_1


"Iya, sayang. Mas saat ini sedang terjebak macet. Mas sebentar lagi akan sampai di kantor." setelah mengatakan itu Alvin pun langsung menutup telepon dan berlari ke kamar mandi meninggalkan Marina.


Marina tentu saja protes melihat Alvin yang langsung berlari ke kamar mandi tanpa perduli dengan dirinya lagi.


Padahal dirinya tadi begitu kesulitan untuk membangunkan Alvin. Tetapi, satu panggilan dari Amara sudah sukses membuat Alvin buru-buru mandi dan langsung pergi ke kantor.


Amara tersenyum sinis ketika melihat Marina yang begitu kesal karena hal itu. "Lihatlah ******! Itu adalah bukti kekuatan yang aku miliki. Walaupun kau diprioritaskan oleh suamiku, selamanya Kau hanya akan menjadi keset dan WC umum bagi suamiku. Rumahku akan selalu menjadi tempat pulangnya!" monolog Amara yang merasa puas melihat Marina yang sampai saat ini masih menggerutu karena kesal dan marah.


Alvin langsung meninggalkan rumah itu tanpa menyentuh sarapan yang sudah disiapkan oleh Marina dengan susah payah.


Marina selama ini hanya mendapatkan jatah hari Sabtu sampai Minggu di akhir bulan. Karena senin sampai jumat merupakan waktu Alvin untuk bersama Amara.


Sebulan lamanya Alvin akan berakting sebagai suami yang baik di hadapan Amara demi mampu memuaskan hasrat belanja sang ibu dan adik serta kakaknya yang bahkan sampai sekarang masih begitu getol meminta uang kepada Amara untuk kebutuhan hidup keluarga nya.


Alvin sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh keluarganya yang selalu merongrong sang istri dengan kehidupan mewah yang di paksakan. Alhasil, Amara harus merelakan uangnya bernilai puluhan juta setiap bulan selalu mengalir ke rekening ibu mertua maupun ipar-ipar benalunya.


Selama ini Amara selalu ikhlas dan memberikan semua yang mereka inginkan darinya. Amara melakukan itu semua demi baktinya kepada Alvin dan demi cintanya kepada pria itu.


Amara hanya ingin diterima dengan baik oleh keluarga suaminya makanya dia tidak sayang sama sekali dengan laba restoran maupun butik miliknya yang harus di transfer kepada mereka. Tapi kini, Amara berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi setelah dia mengetahui penghianatan dan juga kenyataan tentang keluarga suaminya yang hanya mau harganya saja tanpa mau menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarga mereka.

__ADS_1


__ADS_2