Janji Naura

Janji Naura
Bertemu


__ADS_3

Reino Aditama merupakan putra dari salah seorang pengusaha sukses di bidang industri. Perawakannya yang tinggi dan tampan membuat kaum hawa terpesona hanya dengan sekali pandang. Tak dapat dipungkiri banyak sekali perempuan yang rela bertekuk lutut di bawah kaki pria itu.


"Sayang, hari ini ikut mama ya makan malam sama tante Virnie" Alina nampak berbicara dengan hati-hati karena ia yakin anaknya pasti akan menolak ajakannya.


"Tidak.. saya lelah" jawab Reino dingin. Alina menghela nafas panjang, ia yakin bahwa Reino pasti akan menolaknya.


"Ku dengar tante Virnie juga kedatangan anak perempuannya yang cantik, pintar dan juga manis. Dia baru pulang dari luar negeri loh, apa kamu ingat, dulu kalian pernah bertemu" Alina mencoba membujuk Reino yang kini tengah menatapnya dengan tajam.


"Saya sudah katakan bahwa saya tidak mau, mengerti !! dan tolong pulanglah pekerjaan saya sudah menumpuk jangan anda menambah beban saya" Reino sudah sangat lelah akan perjodohan, dengan embel-embel makan malam. Ia yakin suatu hari nanti ia pasti akan menemukan tambatan hatinya sendiri.


Alina berjalan cepat kearah parkiran mobil miliknya. Sesekali menoleh kearah perusahaan besar dibelakangnya. Rencananya untuk menjodohkan Reino dengan anak teman ayahnya telah gagal. Ia segera masuk kedalam mobilnya dan menghubungi seseorang.


"Halo.. pah.. kita gagal lagi" ucap Alina lemah.


Tak lama ia pun mengangguk dan segera menyuruh supir pribadinya untuk pulang.


*****


Dilain sisi gadis yang tengah asik membuka majalah dewasa itu nampak kaget dengan kedatangan seorang ibu muda yang kini telah duduk disampingnya.


"Apa ini?" Virnie nampak kaget melihat anaknya sedang memegang majalah dewasa. Viona dengan cepat melempar majalah itu kesembarang arah.


"Hehe.. cuci mata mom" Viona menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Virnie nampak geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya yang baru satu minggu pulang dari london.


"Apa ini kebiasaanmu disana hah?" Virnie menyipitkan kedua matanya meminta penjelasan lebih.


"Mom.. semua orang disana biasa kok melakukan itu yang penting kan aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh" Viona membela diri sambil merangkul pundak momynya.


"Justru yang tadi itu hal yang aneh-aneh pokonya momy mau sita majalah ini" Virnie mengambil majalah yang tergeletak tak berdaya dibawah tempat tidur Viona.


"Yah.. momy gak seru ahh.. pasti mau ikutan lihat juga ya klo papa gak ada" ledek Viona membuat momy nya menggetok kepala putri kesayangannya itu dengan majalah ditangannya.


"Sembarangan.. papa kamu lebih macho daripada majalah ini" Virnie menjewer telinga Viona dengan gemas.


"Aww.. sakit mom.. nanti kalo telingaku copot gimana?" rengek Viona sembari memegang tangan momy nya yang kini tengah bertandang ditelinga sang anak.


"Biarin.. beli lagi aja yang baru" jawab Virnie asal. Viona mendesis pelan sambil mengusap telinganya yang kini telah lepas dari tangan momy nya.


"Oia nanti malem tante Alina ajak kita makan malam.. katanya dia sudah kangen pengen ketemu kamu" kegiatan Viona terhenti mendengar ucapan momy nya sembari mengingat nama Alina.


"Tante Alina yang mana mom?" Viona terlihat berpikir. Lalu sedetik kemudian ia tersenyum lebar.

__ADS_1


"Oh.. yang anaknya jutek itu yang klo ditanya diem-diem bae" celetuk Viona sembari memegang perutnya.


"Hush.. jangan ngomong kayak gitu gak baik" Virnie kembali menggetok kepala Viona membuat Viona meringis kesakitan.


"Momy jadi galak ish sekarang, main getok-getok aja" Virnie nampak tak peduli, ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Viona.


"Momy.. majalahkuu..." teriak Viona dengan kencang. Namun Virnie sudah cepat berlalu.


*****


Malam hari Dikediaman Aditama sudah berkumpul keluarga Viona. Sesekali Viona memandang pak Adit dan bu Alina bergantian.


"Selamat malam, Pak Ryan dan keluarga" Adit nampak tersenyum lebar menatap satu persatu keluarga Viona. Dengan kompak mereka pun membalas salam Adit dan keluarga.


"Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu sampai-sampai saya takjub melihat Viona sudah tumbuh besar" Adit tersenyum kearah Viona membuat Viona tertunduk malu.


"Iya betul sekali pak Adit, saya yakin anak kesayangan pak Adit juga pasti tumbuh menjadi anak yang tampan dan hebat" jawab Ryan sambil tersenyum lebar.


"Ah.. anda bisa saja.. ya seperti yang kalian lihat betapa sibuknya dia sampai malam begini masih belum pulang juga" Alina menggenggam tangan Adit seraya mencoba menenangkannya.


"Namanya anak muda, sama seperti kita dulu" Ryan tertawa menatap Adit yang kini ikut tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Iya betul yang muda yang membara, kita yang sudah tua hanya bisa melipir" jawab Adit sambil menggelengkan kepalanya.


Seketika tawa mereka terhenti ketika seorang pria tinggi datang dari ruang tamu. Reino menatap sekilas pada sekumpulan orang yang sedang duduk manis di meja makan.


Ia menatap gadis cantik yang kini juga tengah menatap kearahnya.


Reino berjalan menghampiri mereka dengan sempoyongan. Dan perlahan mendekati kursi Voina. Viona yang nampak risih segera membuang pandangannya. Namun dengan cepat Reino menarik paksa tangan Viona membuat Viona tersentak kaget dan mencoba melepaskan cekalan tangan Reino.


"Reino lepaskan tangan Viona" teriak Alina yang kini telah berdiri di depannya. Semua orang menatap Viona khawatir tak terkecuali Virnie yang akan segera bangun dari duduknya namun Ryan segera menahan tangan istrinya.


"Memangnya kenapa saya harus melepaskan tangannya? bukannya ini yang kalian mau? menjodohkan saya dengan dia!" ucap Reino dengan penuh penekanan. Viona yang sudah tidak tahan segera melepaskan tangan Reino dan menamparnya dengan sangat keras.


"Memangnya siapa yang mau dijodohkan dengan anda? percaya diri sekali anda" Viona menatap tajam Reino yang hanya dibalas tawa kecil yang mengejeknya.


"Jangan sok gak tau deh.. kalian semua kan sudah merencanakan ini. Ya kan!!" Reino nampak mengendarkan pandangannya pada orang-orang disana.


"Pa.. mom.. ayo kita pulang sebelum keadaannya makin rusuh" Viona mengajak kedua orang tuanya untuk pulang.


"Terima kasih om, tante atas undangan makan malamnya" Viona segera berpamitan pada Adit dan Alina. Meninggalkan kedua orang tuanya yang masih duduk di meja makan. Viona sedikit menubruk tubuh Reino yang berdiri tepat didepannya. Membuat Reino menyunggingkan senyum kecil kearahnya.


"Ya Tuhan" Adit nampak memijit keningnya pelan. Ia sudah benar-benar malu melihat tingkah Reino yang hanya tersenyum picik.

__ADS_1


"Pak Ryan, bu Virnie kami sungguh minta maaf atas kelakuan Reino" Alina nampak tak enak hati melihat tamunya yang kini sudah bersiap untuk pulang.


"Tidak apa bu Alina, pak Adit kami maafkan, kami izin pulang" Raut wajah penuh kecewa nampak dimuka Ryan dan Virnie. Mereka pun berpamitan untuk pulang.


Sesudah orang tua Viona pergi. Adit masih terdiam ditempatnya. Ia masih tak menyangka jika Reino pulang dalam keadaan mabuk. Apa setidak ingin itukah Reino menikah?. Ia tak habis pikir dengan anak semata wayangnya itu.


"Reino kembalilah ke kamarmu" Alina nampak sabar memapah Reino menuju kamarnya namun dengan cepat Reino mengibaskan tangannya.


"Gak usah, sok peduli deh. Anda pikir anda siapa, kalau bukan karena dia.. anda sudah saya tendang ke jalanan" Reino menunjuk ayahnya yang kini sedang menahan sesak di dadanya. Alina yang melihat Adit nampak kaget dan segera menghampiri suaminya.


"Pah.. ayo kita ke kamar" Alina memapah Adit untuk masuk kekamarnya. Membuat Reino sedikit merasa bersalah. Ia segera membanting pintu kamarnya dengan keras.


"Tcih.. tamparannya begitu keras" ucap Reino sembari memegang pipinya yang memerah dan terasa perih.


Sebenarnya mabuk hanya akal-akalan Reino untuk mempermalukan ayah dan wanita yang sangat Reino benci. Ia muak dan lelah dengan segala macam jenis perempuan yang dikirimkan ayahnya untuknya.


Reino membuka kemeja yang sengaja ia buat beratakan. Melemparkannya kesembarang arah. Ia segera merebahkan tubuhnya yang telah lelah. Rasa lelahnya membuat Reino malas untuk membersihkan diri. Hingga akhirnya Reino terlelap dalam mimpi.


*****


Sesampainya dirumah Virnie yang benar-benar kesal mulai wara wiri mencari kotak obat untuk mengobati tangan Viona.


"Bener-bener keterlaluan anaknya pak Adit itu lihat nih pa tangan Viona sampai merah gini"


Virnie mengangkat tangan Viona dengan cepat.


"Aww.. sakit mom" teriak Viona membuat Virnie melepaskan tangannya dengan cepat.


"Sudahlah mom.. lagian dia juga sudah mendapatkan ganjarannya" Ryan menatap Viona yang tersenyum kecut.


"Ya.. tetep saja aku gak terima.. awas aja klo dia kemari untuk minta maaf aku gak akan pernah bukain pintu rumah ini untuknya" Virnie mulai mengoleskan obat secara gereget ketangan Viona membuat siempunya menjerit kesakitan.


"Momy.. sakiit..?" rengek Viona. Virnie segera merapihkan kotak obat yang bertengger manis diatas meja dan segera menaruhnya ketempat semula.


Viona yang sudah diobati segera pamit pada papanya untuk masuk kedalam kamar.


Setelah didalam kamar Viona nampak kesal, ia membanting bantal kearah lantai dengan kasarnya.


"Orang gila.. siapa juga yang mau dijodohin sama pria urakan kayak gitu iyuhh.." Viona mencoba mengganti bajunya yang masih melekat ditubuhnya.


Namun usahanya nihil ketika baju itu begitu sulit dibukanya. Akhirnya Viona menyerah dan segera merebahkan dirinya di kasur empuk miliknya. Sebelum tidur Viona berdoa kepada Tuhan agar ia tak dipertemukan lagi dengan orang seperti Reino.


"Jauhkan orang macam gitu ya Tuhan Aamiin"

__ADS_1


Viona menutup kedua matanya, tak lama kemudian ia sudah terlelap ke alam mimpi.


__ADS_2