
Viona mengendarkan pandangannya mencari sosok pria yang sedang menunggunya ditaman kota. Sesekali ia nampak memainkan ponsel ditangannya. Merasa lelah akhirnya Viona mendudukkan dirinya di bangku taman.
Pria dengan setelan kasual nampak berjalan mendekatinya. Melihat pria tersebut Viona tersenyum lebar.
"Hai girl.. apa kabar?" ucap Fero sembari mengepalkan tangannya kearah Viona.
Viona membalas kepalan tangan Fero sembari meninju kecil perut six pack milik Fero.
Fero pura-pura meringis membuat Viona tersenyum kecut.
"Baik.. kamu sendiri gimana?" tanya Viona balik
"Ya seperti yang kamu lihat.. tambah tampan, berwibawa dan mungkin tambah mempesona" jawab Fero sembari merapihkan jaketnya. Tanpa basa basi Fero segera mendudukan dirinya disamping Viona.
"Ya.. tapi sayangnya seorang Fero yang tampan, berwibawa dan mempesona ini nampaknya masih belum punya kekasih" ejek Viona membuat Fero tersenyum kecut.
"Ya mau gimana lagi perempuan yang aku suka gak pernah peka sih" jawab Fero singkat
Viona nampak terdiam. Bukannya ia tak tahu menahu soal ucapan Fero, Viona hanya merasa nyaman dengan persahabatannya saat ini.
"Oia, kenapa baru kasih kabar kalau kamu udah pulang dari London?" Fero nampak mengalihkan pembicaraannya.
"Maaf yaa.. biasa lagi ada masalah dikit" jawab Viona.
Fero mengerutkan kedua alisnya ia sungguh penasaran dengan masalah yang dikatakan Viona.
"Masalah apa?" Fero memperhatikan wajah Viona yang sedikit muram. Sadar diperhatikan Fero membuat Viona tersenyum kecil.
"Rahasia" jawab Viona sembari bangkit dari kursinya.
"Mau kemana?" Fero segera mengikuti langkah Viona yang kini sudah berjalan jauh ke arah penjual es krim.
Fero menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Dimatanya Viona masih sama seperti dulu gadis yang selalu menyimpan banyak rahasia.
Fero jadi teringat akan pertemuan pertama mereka disekolah menengah dulu. Saat itu Vionalah orang yang pertama menamparnya.
** Flashback on **
Fero Nugraha anak kedua dari salah seorang pengusaha terkenal. Pria tampan dengan kepribadian santai tersebut selalu dikelilingi teman sekelasnya.
Seperti biasa Fero yang sedang menunggu jam istirahat tiba mulai dikerubungi teman-teman dikelasnya. Fero yang sudah terbiasa tidak merasa bosan, ia malah senang dengan kehadiran teman-temannya tersebut.
"Ada murid baru guys" ucap salah satu teman Fero yang sedang asik memegang ponselnya.
__ADS_1
"Cakepkan" ia menunjukkan foto seorang gadis tengah duduk di bangku kelasnya pada teman-teman yang lainnya.
Fero melihat foto gadis itu sekilas kemudian ia mengangguk pelan. Siswa lain pun nampak bergerumul ingin melihat foto gadis itu namun dengan cepat si pemilik ponsel segera memasukkannya kedalam saku celananya.
"Enak aja.. cari tau sendiri sana" usir lelaki bernama Bowo sambil mengibaskan tangannya. Mendengar ucapan Bowo membuat siswa lainnya segera bubar.
"Dapet darimana men?" Azis menepuk pundak Bowo pelan
"Noh dari si Alan anak kelas sebelah" Bowo kembali memperlihatkan foto gadis itu kepada Fero.
"Iya.. iya.. cakep kok" jawab Fero diikuti teriakan heboh dari Bowo
"Woo hoo.. Bro.. pokoknya loe harus anterin gw ketemu doi" ajak Bowo sembari menggoyang-goyangkan tangan Fero rasanya ingin sekali Fero menolak ajakan Bowo namun akhirnya dengan pasrah Fero meng-iya-kannya.
Bel berbunyi pertanda jam istirahat telah tiba. Seluruh siswa yang ada dikelas Fero segera berhamburan keluar dari kelas.
Fero yang merasa bosan hanya bisa menggerutu dalam hati. Pasalnya semua orang yang ada dikelasnya nampak bergerumun diluar kelas gadis yang tadi ada di ponsel Bowo.
Mereka saling berdesakan ingin melihat siswa pindahan itu. Merasa gerah akhirnya Fero keluar dari kerumunan tersebut ia merasa lega dan bisa bernafas sesuka hatinya.
"Dasar si Bowo.. dia yang ngajak dia yang ngilang" Fero berdecak sebal. Ia melangkahkan kakinya menuju toilet siswa. Merapihkan rambut dan seragamnya yang sedikit berantakan.
Baru saja Fero akan keluar dari bilik toilet ia mendengar seseorang berbicara di telepon.
"Gimana kalo kita ajak hepi-hepi terus pas dia mabok baru deh kita makan besar" mendengar ucapan siswa itu Fero hanya mengernyitkan kedua alisnya. Ia segera berjalan keluar dari toilet menuju kelasnya.
Tanpa terasa bel telah berbunyi Bimo yang sudah kembali duduk dibangkunya hanya cangar-cengir sendirian.
"Kenapa?" tanya Fero heran
Bimo mengatakan pada Fero bahwa ia akan mengajak gadis bernama Viona itu untuk ikut ke klub bersama teman Bimo yang lain.
Seketika Fero terdiam mendengarnya. Fero teringat perkataan seseorang yang ia dengar di toilet tadi. Lamunan Fero buyar ketika seorang guru masuk memulai pelajarannya.
"Fer.. Fero.. ntar malem mau ikut kagak?" bisik Bimo sembari membalikkan tubuhnya menghadap Fero. Fero tak membalasnya ia hanya fokus pada guru yang sedang memperhatikan Bimo.
"Ehem.." deheman pak guru Yanto nampak dihiraukan oleh Bimo.
"Fer.. jawab" Bimo tidak menyadari kehadiran Yanto di belakangnya.
Fero segera mengisyaratkan matanya pada Bimo kearah Yanto.
"EHEM.." kali ini deheman Yanto terdengar lebih keras membuat Bimo segera membalikkan badannya.
__ADS_1
"Tidak boleh ada yang mengobrol selama jam pelajaran saya" tegas Yanto membuat Bimo meminta maaf berkali-kali.
"Berdiri di depan dan perhatikan papan tulis" Yanto menjewer telinga Bimo yang kini sedang kesakitan.
"Pak.. ampun pak saya minta maaf pak.. Fer.. Fero" Teriak Bimo panik. Seluruh siswa nampak tertawa kencang melihat Bimo dijewer oleh guru paling killer dikelasnya.
"DIIAAMMM..!!" seketika ruangan kelas terasa bergetar, seluruh siswa nampak menutup telinganya rapat-rapat.
Setelah dirasa sunyi barulah Yanto melanjutkan pembelajarannya. Kali ini semua siswa begitu fokus pada pelajarannya membuat pak Yanto tersenyum dalam hati.
Tanpa terasa bel sekolah telah berbunyi, seluruh siswa yang ada dikelas nampak bersiap-siap untuk segera pulang.
"Bro.. kalau mau ikut ditunggu ya di klub XX jam 8 malem okey" ucap Bimo sembari memasukkan barang-barang miliknya kedalam tas.
Fero hanya mengangguk pelan.
Bimo menepuk lengan Fero kemudian berlari keluar kelas. Melihat Bimo sudah pergi Fero menaruh tasnya dipundak ia pun bergegas untuk pulang.
Digerbang sekolah Fero nampak menatap Viona dan teman-temannya dari kejauhan membuat Viona merasa risih.
"Kenapa Vie?" tanya Margareth teman sebangku Viona. Margareth menatap arah mata Vyona yang tertuju pada Fero.
"Oh.. cowok itu, hati-hati sama cowok kaya dia biasanya dia lagi cari mangsa buat di.. aaumm" Margareth menirukan singa yang akan menerkam mangsanya membuat seluruh tubuh Vyona bergidik ngeri. Ia langsung mengajak Margareth segera pergi jauh dari sana.
Fero nampak tersenyum melihat kedua orang itu ia yakin pasti mereka sedang membicarakannya. Fero hanya berjalan santai kearah parkiran dan menaiki motor keren miliknya.
*****
Musik berdentum dengan keras membuat orang-orang yang ada disana menari mengikuti irama. Adapun yang hanya duduk diam sembari menikmati makanan dan minuman pesanannya. Fero mengendarkan pandangannya mencari keberadaan Bimo.
Dirinya sungguh merasa risih ketika beberapa wanita menghampirinya dengan godaan-godaan mautnya.
Fero menolak mereka dengan halus sembari melangkahkan kakinya dengan cepat. Dalam hatinya ia merutuki keberadaan Bimo.
Tak berapa lama Fero menemukan keberadaan Bimo yang tengah asik mengobrol dengan seseorang.
Bimo membisikkan sesuatu pada bartender sembari memberikan bungkusan kecil secara sembunyi-sembunyi. Si bartender mengangguk mengerti kemudian Bimo menyerahkan beberapa lembar uang kertas pada si bartender.
Bartender pun mulai meracik minumannya tak lupa ia membuka bungkusan kecil itu dan mengeluarkan isinya. Ia menggoyang-goyangkan gelas yang kini berada di tangannya dan memanggil pelayan untuk membawa minuman tersebut sambil menunjuk Bimo.
Melihat kejadian itu Fero hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia segera memakai topi dan maskernya setelah itu menubruk punggung pelayan yang membawa minuman tadi hingga minuman itu terjatuh ke lantai.
Fero segera membungkuk kepada pelayan tersebut sambil mengucapkan permintaan maaf. Dengan cepat Fero meninggalkan pelayan yang masih menggerutu memunguti pecahan gelas yang berserakan di lantai.
__ADS_1