Janji Naura

Janji Naura
Mahardika Wijaya


__ADS_3

Mahardika Wijaya


Pewaris tunggal dari salah satu perusahaan terkemuka di bidang industri. Anak pertama dari pasangan Adi Wijaya dan Reina Utami.


Ia baru pulang dari Turki setelah beberapa tahun mengenyam pendidikan disana.


Matanya yang kecoklatan menjelajahi ruangan pribadi milik dady nya. Kakinya yang panjang sudah bertengger manis di atas meja kerja milik dady nya. Ia tersenyum sembari menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya.


"Rencana apalagi yang sudah orang tua itu lakukan" pria itu menutup matanya sembari menyenandungkan sebuah lagu dengan merdu.


Cklek.. pintu terbuka menampilkan pria paruh baya membawa beberapa lembar kertas ditangannya. Melihat perilaku putranya membuat Adi geram. Ia memukul meja kerjanya dengan keras. Pria bernama Dika itu segera membuka matanya pelan.


"Dimana sopan santunmu setelah kembali dari perguruan tinggi" Adi menatap tajam kearah Dika. Dengan santai Dika menurunkan kedua kakinya kelantai. Membersihkan meja kerja dady nya dan segera bangkit dari kursinya.


"Maaf dad.. silahkan duduk" Dika membersihkan tempat yang ia duduki tadi dan mendudukkan dirinya di kursi yang lain.


Adit hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu. Dengan kesal Adit melemparkan kertas yang berada di tangannya pada Dika.


Dika memunguti satu persatu kertas yang berserakan itu dengan malas. Membacanya sekilas dan menaruhnya dimeja kerja dady nya.


"Dady berharap kamu sudah siap dengan tugasmu setelah kembali dari Turki" Adit menatap Dika yang hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Rasanya Dika ingin segera pergi dari tempat yang begitu mencekiknya.


Adit duduk dikursinya sembari memijit kedua keningnya dengan satu tangannya. Ia menatap tumpukan dokumen yang sudah menumpuk dimeja kerjanya.


"Perusahaan kita merugi beberapa persen dari biasanya.. tugasmu adalah mengembalikan keadaan perusahaan kita seperti sedia kala" Adit menatap Dika yang kini tengah menautkan kedua alisnya.


"Dady tidak akan menjualku pada perusahaan lain kan" ejek Dika membuat Adit terdiam seketika.

__ADS_1


"Yah.. kalau kinerja kerjamu bagus itu tidak akan terjadi" balas Adit pada Dika.


Kali ini Dika yang terdiam.


"Oke.. sepakat.. tapi ingat setelah perusahaan kembali membaik jangan pernah sekalipun dady mengatur kehidupanku" mendengar ucapan Dika membuat Adit mengangguk dengan cepat. Ia menyetujuinya dengan senyum yang merekah diwajahnya.


"Istirahatlah.. malam ini akan menjadi malammu" ucap Adit sembari menutup pintu ruangannya.


Dika segera memejamkan matanya perjalanan dari Turki ke Indonesia membuat tubuhnya butuh istirahat.


*****


Malam yang ditunggu telah tiba. Para staff dan karyawan telah berkumpul di Aula yang telah dipersiapkan oleh sang Direktur. Mereka sudah tak sabar untuk bertemu dengan putra Direktur yang selama ini selalu dirahasiakan.


Tak berapa lama Adit dan Dika nampak memasuki Aula tersebut dengan langkah yang berwibawa. Semua staff dan karyawan nampak menundukkan kepala mereka. Adit tersenyum puas melihat para pegawainya. Ia menyuruh para pegawainya untuk mengangkat kepala mereka.


"Selamat malam semuanya perkenalkan saya Mahardika Wijaya putra tunggal dari Direktur Adi Wijaya" Dika tersenyum kecil setelah ia memperkenalkan dirinya. Para staff dan karyawan nampak heboh memandang wajah tampan Dika.


Apalagi dengan kemeja dan jas hitam yang melekat pas dibadan kekar miliknya membuat siapapun nampak terpesona dibuatnya.


"Tuh kaan.. gw bilang juga apa Ra.. dia itu ganteng baangeet" Mita menggoyang-goyangkan tubuh Naura yang terdiam seketika. Membuat Mita mengernyitkan kedua alisnya.


"Ra.. loe kenapa?" tanya Mita khawatir. Naura tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum tipis kearah pria yang kini sedang tersenyum hangat memamerkan lesung pipi yang menjadi ciri khasnya. Rasanya tubuh Naura kembali menghangat.


"Untuk selanjutnya kami mempersilahkan kepada seluruh para staff dan karyawan yang sudah bekerja keras untuk menikmati hidangan yang telah kami sediakan. Nikmatilah" ucap Adit.


Adit dan Dika segera turun dari podium. Mereka nampak sibuk menerima ucapan selamat yang ditujukan kepada mereka.

__ADS_1


Pandangan Naura tak lepas dari sosok Dika yang tersenyum hangat disana. Ia ingin segera menghampiri Dika namun dengan cepat Leo mencegatnya.


"Ra.. ikut gw bentar yu" ajak Leo sembari menarik tangan Naura dengan paksa. Naura ingin menolak tapi tubuhnya diseret paksa keluar dari aula.


"Ada apa sih?" tanya Naura kesal. Leo nampak memasukkan sebelah tangannya disaku celananya. Memberikan kotak beludru berwarna merah. Tapi Naura tak mengindahkannya rasanya ia ingin segera pergi dari hadapan Leo.


"Ra.. bentar.. please.." Leo menahan tangan Naura membuat si empunya merasa kesal.


"Loe kenapa sih.. gw gak bisa diem disini lama-lama gw harus balik ke aula" Naura berusaha melepaskan cekalan tangan Leo yang terasa perih ditangannya.


"Sebentar aja Ra.. gw mau buktiin cinta gw ke elo" Leo nampak menghimpit tubuh Naura ke dinding berharap Naura bisa diam dan mau mendengarkannya.


Naura menghela nafas pelan. Ia hanya bisa diam mendengarkan curahan hati Leo. Dalam hatinya ia berdoa semoga ada seseorang yang menyadari kehadiran mereka dan menyuruh mereka pergi.


"Gw pengen loe jadi pacar gw.. gw akan berikan apapun yang loe mau please Ra.." ucap Leo dengan lirih. Naura masih terdiam sungguh ia merasa tak nyaman dengan posisinya.


"Ehem.. apa saya mengganggu?" ucap seorang pria dengan suara datarnya. Entah mengapa Naura seakan memiliki kekuatan untuk mendorong tubuh Leo yang sedari tadi menghimpitnya.


"Maaf.. maafkan kami" Naura tertunduk sembari berjalan melewati sosok pria yang sama sekali tak diliriknya sedikitpun. Dalam hatinya ia sungguh berterima kasih pada orang yang telah menolongnya. Naura segera berlari menuju Aula tanpa menoleh kebelakang ia benar-benar ingin pergi jauh dari Leo dan tempat gelap itu.


Leo yang masih terdiam hanya menatap punggung pria yang kini sudah pergi meninggalkannya.


"Tcih.. sial.. gagal lagi.." Leo berdecak sebal sembari mengacak-acak rambutnya sesekali ia meninju udara merutuki orang yang telah mengganggunya.


"Tenang Leo.. sabar.. masih ada banyak waktu.. ya.. Naura masih disini.. masih ada harapan.." Leo merapihkan rambutnya yang tadi ia buat berantakan. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


Dari kejauhan Mita nampak mengelus dadanya pelan. Meminta tolong pada Dika bukan hal yang mudah apalagi mereka baru bertemu. Tapi setelah dirinya mengatakan nama Naura entah mengapa wajah Dika nampak memucat dan meminta Mita untuk segera mengantarnya menemui Naura.

__ADS_1


Mita tersenyum tipis. Ia segera melangkahkan kakinya menuju Aula berharap Leo tak mengganggu Naura lagi.


__ADS_2